Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
40. Senyum Manis



Bila di Amerika sedang berbahagia maka di Indonesia sedang dilanda penyesalan tak terkecuali Xavier dan kedua orang tua Agatha. Saat ini Geisha sedang berada di depan pintu ruang CEO. Tanpa mengetuknya Geisha langsung membuka pintu itu dan terlihatlah dua orang dewasa berbeda jenis yang sedang bermesraan.


"Sungguh brengsek kau Xavier! Kau rela membuang sebuah berlian berharga demi sebuah sampah yang sama sekali tidak berharga!" teriak Geisha dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah pernah Ibu mu ini mengajarkan mu hal-hal seperti ini Xavier?! Apakah pernah?" tanya Geisha dengan amarah yang meluap-luap.


"Ma, sedari awal pun Mama sudah tahu bahwa Xavier tidak mencintainya," ucap Xavier tanpa beban.


"Tidak mencintainya? Lalu apa semua arti perlakuan yang selama ini kau berikan! Xavier!" bentak seorang pria paruh baya di belakang Geisha.


"Kau telah melukai tiga hati perempuan sekaligus Xavier! Apakah kau pikir perlakuan mu ini hanya melukai hati Agatha saja?! Bila iya maka kau salah, kau juga melukai hati Ibu mu dan juga ibu dari Agatha!"


"Aku tidak peduli Pa, semua perlakuan yang aku berikan selama ini hanyalah bualan semata," ucap Xavier.


"Tidak peduli kau bilang? Awas saja bila suatu hari nanti kau menyesal. Jangan pernah mencari Aku dan Istriku!" ucap Reiga.


"Ibu sangat kecewa padamu Xavier, semoga penyesalan cepat mendatangi mu agar kau sadar bahwa kau telah membuang sebuah berlian berharga." Itulah kata-kata terakhir dari Geisha sebelum meninggalkan Xavier.


"Sudahlah jangan memikirkan ucapan keduanya," ucap wanita yang kini telah duduk kembali di pangkuan Xavier.  Kalian tentu sama tahu siapa wanita itu. Wanita itu adalah Angel.


"Aku tidak memikirkannya honey," balas Xavier dengan mengecup singkat bibir Angel.


...  ***...


Disebuah mansion besar terlihat dua bersaudara yang sedang bertengkar sengit, keduanya saling melemparkan tatapan tajam.


"Zaqiel duluan yang tidur di paha Mommy,"


"Aku duluan!"


"Aku!"


"Aku!"


"Aku!"


"Aku!"


"Aku duluan Zaqiel!" seru Arshaka.


"Aku duluan Bang Shaka!" seru Zaqiel.


"Aku duluan," ucap seorang lelaki tampan yang langsung saja membaringkan tubuhnya disofa dengan bantalan paha Agatha. Tentu hal tersebut mampu membuat Agatha terkejut.


"Om Zelgaro!" seru keduanya dengan keras.


"Apa?" Zelgaro bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Minggir! Kita berdua yang mau tiduran disitu!" ucap keduanya bersamaan.


"Enggak ya, Om duluan yang tiduran disini," balas Zelgaro.


"Engga!" balas keduanya sembari menarik tubuh Zelgaro agar beranjak dari paha sang Mommy. Namun nihil usaha keduanya tidak membuat tubuh Zelgaro bergerak sedikitpun.


Saat melihat kedatangan gadis tersebut Zelgaro dengan segera beranjak dari paha Agatha dan mendudukan dirinya.


"Eh, Kak Alaxia," ucap Agatha.


"Eh, iya, btw udah puas belum mesra-mesraannya? Nona Muda Alaxia yang cantik ini sudah panas soalnya," tanya Alaxia dengan ekspresi yang berubah-ubah seiring dengan setiap perkataannya.


"Siapa yang mesra-mesraan coba? Nggak ada kok. Iya kan Kak Zelgaro?" tanya Agatha.


"Belum, seharusnya Lo dateng nya satu jam kemudian biar gue puas." Sontak jawaban dari Zelgaro membuat rahang Alaxia jatuh. Woi! Si kulkas pintu seribu! Kok bisa gini? Wah jangan-jangan pintunya rusak lagi makanya rada eror gini.


"Yaudah deh gue naik lagi aja," ucap Alaxia seraya melangkahkan kakinya menuju lift yang akan langsung terhubung pada lantai 2, 3, 4 dan 5. Untuk lantai 2 hingga 4 ada ruang kamar, dan ruang santai, tempat bermain, ruang kerja, ruang latihan. Lalu pada lantai 5 adalah rooftop dan juga sebuah kolam berenang yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. 


"Kak! Kak Xia! Kok naik sih! Mana Arshaka sama Zaqiel dibawa lagi," panggil Agatha dengan berteriak.


"Gara-gara Lo nih, Kak Alaxia, Arshaka sama Zaqiel jadi naik kan," ucap Agatha dengan menggembungkan pipinya yang membuat Zelgaro mencubit pelan pipi chubby itu.


"Jangan dicubit! Pipi gue bukan gue cubit yang di cubit-cubit," mata Agatha.


"Abis nya gemesin deh, makanya di cubit-cubit," balas Zelgaro. Entah mengapa bila bersama dengan gadis didepannya ini Zelgaro menajdi lebih banyak berbicara.


"Udah ya, udah, nanti pipi gue bisa lebar kalau Lo cubitin melulu," ujar Agatha.


Zelgaro melepaskan tangannya dari pipi Agatha, terlihat pipi Agatha yang memerah akibat cubitan dari Zelgaro tadi.


"Lo udah move on sama suami Lo itu?" tanya Zelgaro tiba-tiba.


"Belum sih tapi lagi nyoba, semoga berhasil." Agatha menjawab dengan memandangi langit-langit ruang tamu.


"Kalau udah move on bilang." Sontak ucapan tersebut membuat Agatha menolehkan kepalanya kearah Zelgaro yang saat ini tengah memperhatikannya.


"Buat apaan coba?" tanya Agatha merasa bingung akan ucapan yang dilontarkan oleh Zelgaro.


"Biar keluarga Ellard punya Nyonya besar, soalnya posisi Nyonya besar yang baru masih kosong," jawab Zelgaro tanpa beban.


"Si anjir, kan banyak tu cewe cantik-cantik di sini. Ngapain milih gue?" ucap Agatha tak habis pikir.


"Gue nggak mandang dari segi fisik ataupun keluarga, gue lebih mandang ke nyaman. Selama ini gue nggak pernah deket sama cewe manapun selain temen-temen dan Lo. Diantara mereka gue merasa nyaman tapi bukan kayak rasa nyaman gue sama Lo," kata Zelgaro dengan memandangi wajah cantik, imut sekaligus tegas itu.


"Tunggu dulu deh. Bukannya gue nggak mau, tapi gue nggak mau kalo Lo jadi pelampiasan gue, karena saat ini surat cerai gue masih diurus sama bang Calvin," balas Agatha.


"Tapi Lo nerima guekan?" tanya Zelgaro penuh harap.


"Gue nggak bisa nerima Lo sementara waktu, gue butuh waktu buat ini semua." Agatha menjawab tanpa menolehkan kepalnya..


"Gue tunggu, sampe Lo bisa nerima semua ini," ucap Zelgaro sungguh-sungguh.


Agatha tersenyum kecil saat mendengar ucapan Zelgaro. Sedangkan Zelgaro yang melihat senyum dari Agatha pun ikut tersenyum. Jujur saja Agatha sempat terpaku akan senyuman manis Zelgaro.


...***...