Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
32. Sekian Terimanasib



Bangun-bangun udah duduk aja, ternyata punggung saja bahunya diperban.


"Gini amat," gumam Agatha meratapi nasibnya yang tidak bisa tidur dengan normal seperti biasanya.


Agatha telah sadar sedari 30 menit yang lalu. Tetapi tidak ada yang mengetahui padahal di ruangan ini ada Reiga, Arsen, Xavier, Calvin dan satu orang pria lagi yang sedikit mirip dengan Xavier. Mereka berlima sedang tertidur nyenyak karena saat ini masih pukul 2 dini hari. Mau tidur tetapi tidak bisa. Sekian terimanasib.


"Sistem," panggil Agatha pada sistem.


"Ada apa, Nona?


"Itu cowo yang tidur di deket Bang Kol siapa?" tanya Agatha pada sistem.


Sistem sudah tidak heran lagi dengan Nona-nya yang memanggil Abang nya, Calvin. Dengan sebutan 'Kol'.


"Dia adalah kembaran dari Xavier, Nona,"


Jawaban dari sistem tidak mampu membuat Agatha kaget, karena kalau kaget badannya suka terjingkat, terjungkal, terjun dan menikmati dinginnya air pegunungan yang murni. Canda. Jawaban dari sistem mampu membuat Agatha sedikit kaget.


"Siapa namanya?" tanya Agatha.


"Kembaran dari Xavier bernama Xylon Zack Amalaric,"


Anjay, sedikit ribet ya ngucapnya.


"Apa tem? Salon Zek." Aduh, apakah sesudah itu untuk mengucapkan nama Xylon?


"Bukan Salon Zek, Nona. Tetapi Xylon Zack, Xy-Lon Za-ck,"


Agatha menganggukkan kepalanya paham. Padahal mah kaga paham. Sistem pun tahu.


"Sebaiknya Nona tidur,"


Bila Nona-nya tidak tidur maka ia akan pusing delapan puluh keliling dan delapan tanjakan.


"Iye, gue tidur. Karena masih pukul 2 dini hari."


Agatha mulai memejamkan matanya berusaha untuk tidur, hingga beberapa saat kemudian Agatha tertidur pulas.


Matahari dengan perlahan naik kepermukaan, begitupun dengan mata indah yang perlahan terbuka dan memperlihatkan keindahannya.


"Selamat pagi, Nona,"


Sapa sistem pada Nona-nya yang tidak lain adalah Agatha.  Emang siapa lagi Nona-nya Sistem?


"Pagi juga, Tem," balas Agatha. Dilihatnya lima orang itu yang masih setia tertidur hingga salah satu dari mereka terbangun.


"Selamat pagi," sapa Agatha pada pria itu. Awalnya pria itu terdiam beberapa saat hingga dengan segera dia membangunkan Xavier yang berada disampingnya.


Xavier yang terusik pun terbangun.


"Ada apa?" tanya Xavier dengan pada pria yang membangunkannya


"Dia telah sadar," jawab pria itu. Sontak Xavier menatap kearah nya. Agatha pun tersenyum manis.


"Kapan kamu sadar?" tanya Xavier saat sudah berada disampingnya. Agatha terdiam lalu menjawab. "Pukul 2 dini hari."


Xavier memelototkan matanya. "Mengapa kamu tidak membangunkan aku?"


"Tidurmu sangat nyenyak sehingga aku tidak tega untuk membangun mu," jawab Agatha.


"Lalu bagaimana dengan kondisi mu? Apakah ada yang sakit? Pusing? Apakah kau ingin sesuatu? Makanan? Minuman?" tanya Xavier beruntun bak  gerbong kereta.


Agatha memutar bola mata malas saat mendengar pernyataan beruntun dari Xavier.


"Aku baik-baik saja dan tidak menginginkan apapun," jawab Agatha.


"Xavier aku akan pulang ke mansion, apakah kau ingin menitip sesuatu?" tanya pria itu pad Xavier.


"Sepertinya tidak ada," jawab Xavier.


"Aku titip martrabrak keju dan satu cup boba rasa green tea," ucap Agatha yang membuat pria itu sedikit kebingungan. Xavier yang mengerti pun memberitahu. "Martabak."


"Bisa tolong bangunkan ayah dan papa?" tanya Agatha pada Xavier.


"Tentu."


Xavier segera membangunkan keduanya. Tidak perlu bersusah payah keduanya telah bangun hanya dengan dua kali panggil.


"Putriku, apakah kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?" Beruntung pertanyaan dari ayahnya tidak bak gerbong kereta seperti Xavier.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang sakit. Ayah Kan tahu bila putri ini sangat kuat," jawab Agatha dengan senyuman manisnya.


"Syukurlah bila tidak apa-apa." Arsen berkata dengan  mengusap lembut pucuk kepala Agatha dengan sayang.


"Syukurlah, pasti kedua wanita itu sangat senang," ucap Reiga.


"Sudah pasti, mungkin bila tidak dipaksa untuk pulang pasti akan menjaga mu semalaman penuh tanpa tidur," lanjut Reiga.


"Benarkah?"


"Tentu saja." Agatha hanya terkekeh pelan.


Obrolan mereka berlanjut hingga sarapan Agatha tiba dan juga pemeriksaan Agatha.


  


    ***


Siang harinya Agatha kembali sendiri, tidak sih tadi sempat ada Bunda, Mama dan Zeline, hanya saja Bunda dan Mamanya pergi bertemu seseorang sebentar. Sedangkan Zeline pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli cemilan.


Hingga beberapa saat kemudian Zeline datang dengan membawa sekantong plastik cemilan serta seorang gadis cantik yang berada dibelakangnya.


"Dia Elyana temanku. Kebetulan kami bertemu tadi saat berada di kantin rumah sakit," ucap Zeline.


"Selama kenal Elyana, aku Agatha," ucap Agatha kepada Elyana dengan senyuman manisnya.


"Elyana, kak," balas Elyana dengan membalas senyuman Agatha.


Elyana terus memperhatikan Agatha yang sedang memainkan ponselnya. Agatha menyadari itu. "Ada apa Elyana?"


"Tidak, aku hanya bingung mengapa bisa Kakak mendapatkan luka tusuk sangat banyak seperti itu, pasti itu sakit," jawab Elyana.


"Ini sudah menjadi takdirku. Rasa sakit ku hilang saat melihat orang yang aku sayang baik-baik saja. Bahkan bila dengan nyawa pun aku rela bila untuk orang tersayang ku." Kalimat awal yang diucapkan oleh Agatha mampu membuat Elyana dan Zeline kagum, tetapi tidak dengan kalimat akhirnya.


Kedua gadis itu terdiam setelah mendengar kalimat akhir dari Agatha. Menurut Elyana Agatha adalah seseorang yang baik hati, ramah dan mudah akrab.


Pintu ruangan itu terbuka  menampilkan seorang pria tampan yang mirip dengan Xavier. Agatha tahu siapa pria itu, Xylon. Agatha telah tahu nama pria itu dari Xavier.


"Maaf terlambat membawakan titipan mu tadi pagi," ucap Xylon.


"Ah, tidak apa yang terpenting titipan ku kau bawakan," balas Agatha dengan senyum lebarnya.


Agatha kemudian membuka kantung plastik itu, terlihat sebuah kotak persegi panjang dengan gambar martabak keju kesukaannya. Segera Agatha membukanya dan memakannya.


"Apanya kalian mau? Ini sangat enak," tanya Agatha pada mereka bertiga.


"Tidak terimakasih, kak,", jawab Elyana tidak dengan Zeline yang mengambil satu potong martabak.


"Makanlah, aku masih kenyang," jawab Xylon.


"Baiklah." Agatha menghabiskan martabak keju itu dibantu oleh Zeline, bila dihabiskan sendiri Agatha tidak akan bisa karena Xylon membelikan nya dua porsi.


*


*


*


*


*