Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
45. Bertemu Teman Lama



Terlihat dua orang gadis cantik yang sedang berbincang santai hingga dua orang lelaki datang menghampiri mereka berdua.


"Agatha," panggil salah satu dari lelaki itu.


"Maaf, siapa ya?" tanya Agatha kepada lelaki itu.


"Kau lupa? Aku Kelvin," jawab lelaki bernama Kelvin itu.


"Aku tidak mengingat dirimu, sungguh," ucap Agatha.


"Sebelumnya, Agatha mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia, jadi wajar dia tidak mengingat mu," kata Celsia.


"Ah seperti itu ya," gumam lelaki itu.


"Sudah hampir siang, maukah kalian makan siang bersama kami?" Kelvin bertanya kepada keduanya. Sontak keduanya menatap satu sama lain dan mengangguk.


"Kami menerimanya, dan tolong gunakan bahasa santai saja," ucap Agatha.


"Baik,"


Mereka berempat pergi menuju restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh tempat mereka bertemu tadi. Restoran ini sudah cukup ramai pengunjung karena sudah waktunya makan siang.


Sembari menunggu makanan yang mereka pesan. Keempatnya berbincang ringan. Agatha dan Celsia juga sudah berkenalan dengan teman Kelvin, nama lelaki itu Jayden, tetapi lelaki itu menyuruh keduanya untuk memanggilnya Jay saja.


"Gimana kabar Om sama Tante?" tanya Kelvin. Karena memang sudah lama dirinya tidak bertemu dengan keluarga dari teman lamanya ini, dikarenakan dirinya yang dulu melanjutkan pendidikannya di Korea, kebetulan ada acara makanya dirinya kembali ke negara kelahirannya.


"Kabar Ayah sama Bunda baik," jawab


Agatha seadanya.


Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seorang lelaki yang terus memandangi mereka terutama Kelvin dan Jay dengan tajam. Tidak tahu mengapa hatinya panas saat melihat Agatha tertawa bersama kedua lelaki itu.


"Mengapa Tuan Muda memandangi mereka sedari tadi?" tanya Alex, sekretarisnya kebetulan asistennya juga memiliki tugas lain jadi mereka hanya berdua.


"Tidak apa!" jawab lelaki itu ketus. Sontak Alex mengurutkan alisnya. Sepertinya Tuan Muda nya ini menyimpan sesuatu.


"Tidak biasanya Tuan Muda Zelgaro seperti ini." Ya lelaki yang bersama Alex adalah Zelagro.


Entah mengapa semakin lama Tuan Muda nya semakin menatap tajam kedua lelaki yang sedari tadi Tuan Mudanya tatap dengan tajam. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi Tuan Mudanya itu berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju meja mereka. Alex tidak mengikutinya, ia akan memperhatikan dari jauh saja.


Sampai dimeja yang ditujunya, Zelgaro segera menarik pelan tangan seputih susu itu. Saat adik sepupunya kan menghentikannya segera ia memberikan tatapan setajam pisau yang membuat adik sepupunya mengurungkan niatnya.


"Eh, Kak, aku mau dibawa kemana?" tanya Agatha yang bingung. Namun pertanyaannya tidak dijawab sama sekali oleh Zelagro.


Mereka berdua menaiki lift menuju lantai tiga gedung apartemen.


Zelagro menempelkan sidik jarinya dan pintu pun terbuka. Agatha sudah tidak bertanya lagi, karena percuma, entah apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu. Tidak sampai disitu ternyata Zelagro membawanya menuju kamarnya dan merebahkan tubuh mungil Agatha lalu Zelgaro ikut merebahkan dirinya sembari meletakkan wajahnya pada ceruk leher Agatha.


Agatha mematung beberapa saat, hingga ia tersadar dan berusaha melepaskan namun Zelagro malah mendekapnya. Semakin ingin dia melepaskan maka sekalian erat pula dekapannya. Satu-satunya yang terbaik adalah pasrah.


"Kak, sebenarnya Kakak kenapa? Ada masalah?" tanya Agatha. Zelagro diam tanpa menjawab pertanyaan Agatha.


"Kak, serius deh, Kakak kenapa?"


"Aku nggak papa," jawab Zelagro masih setia diceruk leher Agatha.


Setiap kali nafas Zelagro mengenai lehernya Agatha menjadi merinding sendiri.


"Nggak papa gimana, mukanya kusut gitu tadi,"


Kali ini Zelagro mengubah posisinya yaitu meletakkan wajahnya pada belahan dada Agatha. Sang empu berusaha menyingkirkan namun tak bisa.


"Aku cemburu tahuuu, pas kamu lagi ngobrol sampe ketawa lepas gitu sama cowo lain," gumam Zelagro yang terdengar kurang jelas karena teredam. Namun Agatha dapat mendengar kata cemburu.


"Kak Zelgaro cemburu?" tanya Agatha.


"Emm,"


"Ya ampun Kak. Kok bisa sih, itu karena apa?" tanya Agatha.


"Kamu tadi ngobrol sampe ketawa sama dua cowo itu," cetus Zelgaro.


"Mereka Kan cuman temen aku Kak, jadi wajar dong," balas Agatha dengan mengacak rambut Zelagro.


"Nggak wajar kalau menurut aku." Kini wajah Agatha dan Zelagro hanya menyisakan jarak beberapa centi saja. Agatha menelan salivanya susah payah.


"K-kak,"


"Apa hm?" tanya Zelagro sembari tambah mendekatkan wajahnya pada Agatha.


"Jauhan dikit," jawab Agatha.


"Kalau aku nggak mau gimana?" bisik Zelgaro.


"Harus ma—" Ucapan Agatha terpotong karena ...