Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
54. Zelgaro



Tanpa mengatakan apapun Zelgaro menegakkan dirinya dan berlalu meninggalkan ruang keluarga. Bila dilihat lelaki itu akan pergi Kemabli ke kamarnya.


"Susulin sana. Dia kalau ngambek aneh," ucap Om Caiden. Agatha mengerutkan dahinya bingung apalagi ini?


"Nanti Lo bakal tahu deh," sahut Celsia.


"Jadi ... Gue harus nyusul?" tanya Agatha pada Celsia. Sang empu pun menganggukkan kepalanya. Lalu Agatha melirik kearah kedua paruh baya itu dan keduanya menganggukkan kepalanya sama seperti Celsia.


"Kenapa nggak Tante Delsya aja? Agatha takut salah," ucap Agatha.


"Kamu aja, Tante mau pacaran dulu sama suami Tante. Dadah, muachh calon mantu," balas Tante Delsya sebelum meninggalkan keduanya. Agatha dan Celsia saling pandang lalu tidak lama kemudian Celsia mengedipkan matanya dan pergi begitu saja dneagn senyuman jahilnya. Agatha tahu ini, tak perlu dijelaskan secara rinci lagi.


Dengan segera Agatha pergi menuju lantai tiga dimana  letak kamar lelaki yang tengah kesal padanya. Beberapa menit berjalan akhirnya Agatha sampai didepan kamar lelaki itu. Ia pun mengetuk pintu itu sebanyak dua kali.


"Pergi sana! Zelga lagi nggak mau diganggu!" teriak lelaki dari dalam sana. Tanpa menghiraukan teriakan dari lelaki itu Agatha segera membuka pintu itu dan terlihatlah seorang lelaki yang tengah berbaring membelakangi pintu.


"Mom. Zelga udah bilang kalo nggak mau diganggu. Mending Mommy pacaran aja deh sana, sama Daddy," ucap Zelgaro tanpa mengubah posisi berbaringnya. Sedangkan Agatha hanya diam.


Karena tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Zelgaro membalikkan badannya dan terlihatlah seorang gadis cantik disana. Dengan segera Zelgaro memalingkan wajahnya.


"Kak," panggil Agatha kepada Zelgaro.


"Ngapain kesini?" tanya Zelgaro tanpa menatap kearah Agatha.


"Disuruh sama Om Caiden," jawab Agatha apa adanya.


"Kak,"


"Hm,"


"Kakak kenapa? Kesel karena kejadian tadi sore ya?" Agatha memberanikan diri untuk bertanya.


"Nggak!" jawab Zelgaro sedikit ketus. Agatha mendekat sembari melayangkan tatapan menyelidik.


"Nggak percaya deh, soalnya Kakak jawabannya ketus gitu," ujar Agatha.


"Dibilangin enggak. Ya enggak," balas Zelgaro.


"Udah sana pergi. Atau aku bilangin ke Calvin sama Zero kalau kamu ada di mansion Ellard." Ancaman itu tidak Agatha indahkan. Gadis berpiyama beruang itu tetap disana tanpa bergerak. Ia tidak peduli akan ancaman itu.


"Nggak takut," balas Agatha dengan wajah tengilnya. Zelagro mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Sepertinya lelaki itu memang benar-benar dengan ucapannya. Kembali pada awal, ia tidak peduli akan ancaman itu.


"Nggak lama lagi Calvin sama Zero bakal dateng," ucap Zelgaro. Sang empu hanya diam sembari menatap kearah Zelgaro.


"Nggak takut."


Beberapa menit terjadi keheningan diantara keduanya hingga Agatha mengangkat bicara.


"Kak, kasih tahu deh, Kakak kenapa?" tanya Agatha.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Zelgaro.


"Gitu banget jawabnya. Bilang aja kesel kan? Dari tadi kelihatan banget loh," ujar Agatha.


Zelgaro mendengus. "Kalo iya kenapa?" ucapnya lalu setelahnya lelaki itu membalikkan badannya membelakangi Agatha.


"Sampe sekarang masih kesel?"


"Masih." Agatha menghela nafasnya pelan sembari berpikir.


"Biar nggak kesel lagi, Kakak mau apa?" tanya Agatha mencoba membujuk.


"Apa aja?" tanya Zelgaro yang diangguki oleh Agatha.


Zelgaro menunjuk kearah pipi kanannya. "Cium," ucap Zelgaro yang mampu membuat Agatha memelototkan matanya.


"Yang lain deh Kak. Masa cium pipi sih,"


"Yaudah kalo gi—" Ucapan Zelagro terpotong akibat ciuman secepat kilat itu pada pipi kanannya. Sejenak Zelgaro terdiam lalu menatap kearah Agatha yang saat ini pipinya muncul rona merah.


"Udah ya, aku keluar dulu," ucap Agatha. Namun sebelum itu Zelgaro lebih dulu menarik lengan Agatha yang membuat gadis itu duduk dipangkuannya. Sontak Agatha memunculkan ekspresi yang terkejut. Saat mencoba untuk turun, sang empu malah memeluk nya dengan erat.


"Kak, lepas. Nanti kalau dilihat sama Celsia, bisa-bisa dipoto," ucap Agatha sembari mencoba untuk turun dari pangkuannya.


"Dari tadi," ucap Zelgaro yang membuat Agatha mengerutkan keningnya. Apa maksud lelaki ini?


"Coba liat ke pintu." Agatha menurut dan melihat kearah pintu, disana terlihat ada Celsia dan dua lelaki tinggi yang berada di belakangnya, salah satu dari lelaki itu Agatha mengenalinya.


"Alamak. Habislah awak," lirih Agatha saat melihat Abangnya, Calvin.


"Turunin." Bukannya menurunkan Agatha, ia malah menggendongnya dan berjalan kearah pintu. Zelagro membuka pintu itu dan mempersilahkan ketiga orang itu masuk. Sedangkan Agatha? Gadis itu menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Zelgaro.


"Kak, turunin. Malu tauu," pinta Agatha namun tidak didengarkan oleh sangat empu.


"Udh diem, kalau nggak diem nggak boleh pulang," ucap Zelgaro yang membuat gadis yang berada digendongannya terdiam.


"Ini udah mau tengah malem. Lebih baik Lo berdua nginep disini, besok pagi lepas sarapan baru balik ke mansion Lo," ucap Zelgaro sembari mendudukkan dirinya disofa single yang ada disana tanpa melepaskan Agatha.


"Gimana?" tanya Calvin pada Zero. Sang empu yang ditanya pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


"Lo bisa tidur dikamar yang ada disebelah kamar gue. Dan Lo tidur disebelah kamar Calvin," ucap Zelgaro. 


"Lo berdua udah makan malem?" kini giliran Celsia bertanya pada keduanya. Keduanya pun menganggukkan kepalanya pertanda sudah.


"Yaudah kalo gitu kita keluar," ucap Calvin. Setelah kepergian Calvin dan Zero kini tinggal lah Celsia.


"Ngapain masih disini?" tanya Zelgaro kepada adik sepupunya itu.


Celsia menyengir. "Nungguin Agatha, kan gue tidurnya sama Agatha," jawab Celsia.


Agatha pun menurunkan badannya namun hal itu ditahan oleh Zelgaro. "Kamu belum izin sama aku," bisik Zelgaro.


"Tapikan ..."


"Gue bilangin Tante Delsya Lo, kalau nggak bolehin gue tidur sama Agatha," ancam Celsia. Hish, dasar adik sepupu pengaduan.


"Udah sana jalan duluan, biar gue nyusul sama Agatha," suruh Zelgaro. Yang disuruh pun menurut dan mulai berjalan duluan, sedangkan Zelgaro dan Agatha menyusul.


"Kak turunin," pinta Agatha namun tak digubris sama sekali oleh Zelgaro.


"Kak~" rengek Agatha.


"Diem. Atau aku cium," ucap Zelgaro yang membuat Agatha diam. "Nyebelin," gumam Agatha yang dapat didengar oleh Zelgaro.


Beberapa menit berjalan akhirnya ketiganya telah sampai didepan kamar Celsia, tanpa permisi dan diperbolehkan oleh sang penghuni kamar Zelgaro segera masuk ke kamar itu.


Zelgaro menurunkan Agatha dengan perlahan dikasur king size itu. "Tidur," ucap Zelgaro sembari menepuk-nepuk pelan punggung sang empu. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama gadis berpiyama beruang itupuj tertidur, karena saat dalam perjalanan menuju kamar Celsia, ia sempat mendapati bahwa gadis dalam gendongannya menguap beberapa kali.


"Gue keluar, besok pagi gue bakal kesini lagi buat jemput dia," ucap Zelgaro sebelum meninggalkan Celsia. Sedangkan Celsia hanya mengangguk saja.