Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
20. Konseran Di Mansion



Terlihat seorang gadis yang tengah berdiri diatas sofa dengan memegang sebuah mic dan di samping nya terdapat sebuah speaker, lalu tidak lama setelah itu terdengar suara dari sang gadis.


"Tetetetengtetengteteng"


"Aku hanya pelarian~"


Banyak para maid yang berlalu lalang berhenti untuk melihat konser dadakan tersebut.


"Disaat kau butuh, kau datang~"


Lanjut gadis itu tanpa memperhatikan sekitar nya yang mulai ramai akan maid yang menontonnya.


"Habis manis sepah nya di~ buang"


"Aku hanya, pelarian~"


"Azeek, gue nggak hapal lagi," ucap nya lalu memperhatikan sekitar yang ternyata lamayan banyak orang dan salah satunya adalah suaminya.


"Sat, sangking asiknya, gue ampe nggak nyadar," gumam nya lalu secara perlahan turun dari sofa.


"Suara mu bagus, Agatha." Kalian tentu tahu tempe soal mereka berdua, Xavier dan Agatha.


"Hehe," sedangkan Agatha hanya tersenyum paksa.


"Kalian bubar, dan kembali bekerja," titah Xavier pada para maid yang berkumpul.


"Selain membaca kau suka menyanyi?" tanya Xavier seraya mendudukkan dirinya disamping Agatha.


"Nggak terlalu suka sih, tapi suka," jawab Agatha yang membuat Xavier terdiam beberapa saat untuk mencerna jawaban yang Agatha berikan padanya.


"Tumben udah pulang, biasanya juga siang," ucap Agatha.


"Aku pulang sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal," balas Xavier. Lalu Agatha hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan.


"Oh, yaudah kalo gitu." Setelahnya Xavier menegakkan dirinya dan berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun, Agatha pun hanya acuh dan mulai mengotak-atik handphone berlogo Apple nya.


"Aih, males lah, capek juga nyanyi melulu," ucap Agatha seraya berbaring disofa dan melemparkan handphone berlogo Apple itu di meja.


"iPhone loh,"


Ucap sistem yang mampu didengar oleh Agatha.  "Bacot Lo, tem," balas Agatha.


Tidak lama kemudian terlihat Xavier yang turun dengan membawa sebuah map, mungkin itu yang di bilang oleh Xavier tadi. Agatha berpikir dari pada dia bosan berada di mansion terus, mending ikut Xavier.


"Xavier, gue ikut ya," pinta Agatha pada Xavier yang sedang berjalan kearah nya.


"Tidak biasanya kamu ingin ikut, ada apa?" tanya Xavier merasa bingung, karena biasanya gadis itu tidak akan mau pergi keluar mansion, kecuali bosan.


"Gue bosen main handphone sama baca novel terus." Nahkan benar bukan, bahwa tidak akan keluar kecuali sedang bosan.


"Baiklah, kau boleh ikut." Sontak ucapan dari Xavier mampu membuat Agatha berdiri dengan wajah berbinarnya.


"Ayo," ajak Agatha.


"Tunggu, ganti dulu pakaian mu, itu terlalu terbuka," ucap Xavier dengan memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Agatha. Baju kaos oversize dipadukan dengan celana jeans pendek diatas lutut. Apanya yang terlalu terbuka coba?


"Ganti atau tidak ikut," ucap Xavier saat Agatha akan protes. Dengan terpaksa Agatha naik menuju lantai tiga mengganti pakaiannya menjadi lebih tertutup.


Tidak membutuhkan waktu lama Agatha telah keluar menggunakan pakaian yang lebih tertutup. Baju kaos putih dilapisi dengan kemeja hitam, dipadukan dengan celana kulot jeans dan sepatu putih, tidak lupa juga sling bag putih untuk meletakkan handphone dan benda lainnya.


       ****


Saat ini Agatha telah berada di lobby kantor perusahaan milik Xavier. Agatha sempat berlari kecil untuk mengejar Xavier yang sudah berjalan lebih dulu dari dirinya.


"Xavierr, jangan cepet-cepet jalannya!" seru Agatha dengan berlari kecil mengejar Xavier.


"Aku sudah berjalan pelan Agatha, kau saja yang lambat," balas Xavier dengan menghadapkan dirinya kearah Agatha.


"Serah, " timpal Agatha lalu pergi begitu saja dari hadapan Xavier.  Tapi beberapa saat kemudian Agatha datang kembali.


"Kenapa?" tanya nya kepada Agatha.


"Nggak tau jalannya," jawab Agatha dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Tanpa mengatakan apapun Xavier menarik pelan pergelangan tangan kanan Agatha yang membuat para karyawan disana melongo, pasalnya baru pertama kali ini Xavier membawa seorang perempuan apalagi hingga memegangnya.


Agatha saat ini tengah terduduk bosan di sofa ruang kerja Xavier. Sedari tadi Agatha berdecak karena kebosanan, ia jadi ingin pergi jalan-jalan deh.


"Xavier," panggil Agatha yang jawab dengan deheman saja oleh Xavier.


"Laper, pengen nyemil," ucap Agatha.


Tanpa mengatakan apapun lagi Agatha berjalan keluar menuju ruangan Andri yang terletak di sebelah ruangan Xavier.


"Bang Andri, anterin Agatha jajan dong," pinta Agatha pada Andri yang sedang sibuk pada pekerjaannya.


"Sebentar, saya menyelesaikan ini dulu." Agatha menganggukkan kepalanya pelan lalu mendudukkan dirinya disofa yang disediakan.


Saat ini Agatha dan Andri tengah berada di pedagang takoyaki. Mereka berdua sudah berada disini hampir satu jam dan baru mendapatkan empat menu makanan. Mengapa? Tentu saja karena mengantri.


Setelah membeli takoyaki Agatha mengajak Andri menuju pedagang sosis bakar. Agatha membeli beberapa porsi, kebetulan disebelah pedagang sosis bakar ada penjual roti bakar jadi Agatha memesannya tiga porsi.


"Masih ada lagi yang ingin dibeli?" tanya Andri kepada Agatha.


"Masih ada, aku belum beli minuman," jawab Agatha seraya melangkahkan kaki nya menuju penjual es cendol. Agatha membeli dua tempat, lalu saat sedang menunggu pesannya Agatha tidak sengaja melihat sebuah penjual bando bertelinga kucing dengan lampu warna warni yang menghiasi nya.


"Bang tungguin sini ya, aku mau kesana dulu," ucap Agatha pada Andri. Tanpa mendengar balasan dari asisten pribadi suaminya, Agatha segera melangkahkan kakinya menuju penjual bando tersebut.


"Harganya berapa pak?" tanya Agatha pada penjual tersebut.


"20 ribu aja neng," jawab penjual tersebut. Agatha mengambil tujuh bando dengan warna berbeda. Putih dua, pink dua, coklat satu dan abu-abu satu.


Saat melihat-lihat Agatha tidak sengaja melihat sebuah topi yang menarik perhatiannya, jadi Agatha membelinya dua, warna putih satu dan hitam satu.


Setelah membayarnya Agatha segera menuju Andri, setelahnya mereka berdua pulang kembali ke kantor perusahaan Xavier.  Saat dijalan Agatha memakai bando nya, ia juga memberikan sebuah bando berwarna abu-abu kepada Andri, dengan pasrah Andri memakainya.


Saat memasuki lobby para karyawan dibuat menahan tawa saat melihat asisten pribadi pribadi yang terkenal tidak jauh beda dinginnya dengan Xavier memakai bando telinga kucing. Tetapi mereka lebih terpokus lagi pada gadis yang sedang memakan es krim nya tanpa memperhatikan jalan didepannya. Hingga ada seorang perempuan yang menabraknya dan membuat es krim nya jatuh.


"Bangsat! Es krim gue," umpat Agatha lantang dengan wajah geram nya.


"Kalo jalan liat-liat dong, es krim gue jadi jatoh tuh," ucap Agatha pada perempuan didepannya.


"Lo tuh yang liat-liat, jangan cuman es krim doang," balas perempuan itu lantang. Sontak hal itu membuat Agatha menatap perempuan itu tajam.


"Wah ngajak war ya, Lo?" tanya Agatha dengan menaikkan lengan kemejanya.


"Jelas-jelas gue jalannya pelan terus di tuntun sama bang Andri." Agatha berkata dengan menunjuk kearah Andri.


"Disini elo yang salah, liat, laporan yang mau gue anterin jadi kotor kena es krim Lo," ucap perempuan itu dengan menunjuk sebuah kertas yang terkena es krim.


"Dih, elo ya, yang salah bukan gue," ucap Agatha tidak mau kalah.


"Lo," ucap perempuan itu dengan menunjuk wajah Agatha. Yang sontak membuat Andri maju.


"Tangan Lo baru terasi," ucap Agatha yang membuat mereka menahan tawa. Saat perempuan itu akan membalas ucapan Agatha, tapi lebih dulu terdengar suara seorang pria yang membuat perempuan tersebut terdiam.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru saja datang. Sontak semua karyawan segera bubar dan kembali pada pekerjaan mereka.


"Itu tuh, masa nyalahin gue, padahalkan gue nggak salah, dia nya aja tuh yang jalan nggak liat-liat makanya nabrak gue. Terus es krim gue jatoh," adu Agatha pada Xavier.


"Salah Lo ya, bukan salah gue," sahut perempuan itu.


"Gue nggak salah." Tekan Agatha dengan mengeluarkan aura dinginnya. Yang membuat perempuan itu terdiam bahkan Xavier dan Andri pun. Seakan menyadarinya Agatha segera menghilangkan aura dinginnya.


"Sudah ayo kita naik, urusan dia biar aku aja nanti," ucap Xavier lembut.


"Tapi, es krimnya ..." Cicit Agatha dengan menundukkan kepalnya. Xavier tersenyum kecil lalu berucap. "Nanti kita beli lagi."


Agatha menuruti dan mengikuti Xavier, sebelum menjauh dari sana Agatha masih sempat-sempatnya melemparkan tatapan sinis pada perempuan tadi.


*


*


*


*


*


*


*


***


1247 Kata


***