
Terlihat seorang gadis yang tengah duduk di balkon kamarnya ditemani dengan beberapa cemilan dan matcha dingin. Gadis itu tidak melakukan apapun selain memandangi langit biru dengan awan putih yang menghiasi nya.
"Gue bisa balik nggak ya? Gue kangen sama papah," ucap nya setelah berdiam beberapa saat.
"Gue juga kangen sama Abang, mamah, sama Celsia juga," ucap Agatha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Papah, Mamah, Abang. Tata ... Kangen, kangen banget," ucapnya dengan buliran bening yang turun secara perlahan membasahi pipi.
"Tata kangen sama pelukan Papah, Tata kangen sama masakan Mamah, Tata kangen dimanjain sama Abang, Tata kangen diajak jalan-jalan sama Celsia. Tata, Tata, Tata kangen semuanya," ucap Agatha dengan buliran bening yang kian deras. Dada nya kian sesak saat mengingat kenangan manisnya saat bersama keluarga dan sahabatnya di kehidupan dulu.
"Tata kangen, Tata udah disini hampir dua bulan, Tata pengen balik," lanjutnya diringi dengan buliran bening di setiap katanya.
"Tata pengen balik, Tata nggak mau disini. Tata disini sendiri, Tata nggak punya siapa-siapa ... Tata nggak punya temen." Sekuat-kuatnya Agatha, dia juga mempunyai sisi lemah. Sungguh dia sangat merindukan orang-orang tersayang yang ada di kehidupan dulu. Dia ingin pulang, ia tidak mau disini.
"Kamu nggak bisa pulang, tempat kamu memang disini, ini kehidupan kamu yang sebenarnya,"
Batin seseorang yang hanya didengar oleh dirinya sendiri dan tuhan.
"Tata kangen semuanya," ucap nya sedikit keras.
"Tata pengen pulang, Tata capek pura-pura kuat. Tata capek, capek banget,"
Lelah menangis Agatha akhirnya tertidur di balkon kamarnya dengan sisa-sisa air matanya. Tanpa Agatha sadari, sebenarnya sedari tadi ada seorang pria yang mendengar semua keluh kesahnya dari awal hingga akhir.
"Mengapa kau ingin kembali? Aku dan ketiga putra ku sudah nyaman dengan kehadiran mu," ucap pria itu pada Agatha yang tertidur. Kalian tentu tau bukan siapa pria itu? Xavier, pria itu adalah Xavier.
"Tolong tetaplah disini, jangan kembali," ucap Xavier dengan mengangkat tubuh mungil Agatha masuk dan menidurkannya dengan perlahan di kasur empuk.
Saat sedang asik memandangi wajah cantik sembab milik Agatha, Xavier di kagetkan dengan kemunculan seorang lelaki tampan dengan pakaian putih.
"Kau lagi?"
"****Ya aku, mengapa memangnya****?" jawab lelaki itu dengan wajah tengilnya, yang membuat Xavier kesal.
"Dasar setan," gerutu Xavie kesal.
"Aku bukan setan Xavier, lihat aku bisa berjalan dan menginjak lantai," balas lelaki itu dengan wajah masamnya.
"Sudah, sekarang ada pa kau muncul? Apakah ada sesuatu yang penting,?" tanya Xavier yang jengah.
"****Tentu saja ada****," jawab lelaki itu
"Apa itu?" tanya Xavier.
"****Kau tahu bukan, bahwa jiwa Agatha asli telah kembali, maka dari itu jagalah dengan baik, karena akan ada yang mencelakainya di masa depan. Jadi, jagalah Agatha dengan baik****," jawab lelaki itu dengan waja seriusnya.
"Tanpa kau suruh pun aku akan menjaganya," balas Xavier datar.
"Baiklah, baiklah, aku hanya memberi tahu bahwa gelang yang kau pakai berasal dari pasar sistem," ucap lelaki berpakaian putih itu sebelum menghilang meninggalkan cahaya putih yang dengan seiring waktu menghilang tanpa meninggalkan jejak.
"Pasar sistem? Apa maksud lelaki aneh itu," tanya Xavier yang entah pada siapa.
Setelah itu Xavier mendudukkan dirinya dan melihat arlojinya, sebentar lagi makan siang akan tiba.
"Aku akan kembali setelah pekerjaan ku selesai," ucap Xavier sebelum meninggalkan Agatha yang tengah tertidur pulas. Tidak lupa sebelum itu Xavier mencium kedua kelopak mata Agatha.
***
Perlahan mata sembab tersebut terbuka menampilkan mata hazel indahnya. Sang pemilik mata hazel merasa aneh karena seingatnya dia tadi tertidur di balkon dengan posisi duduk bukan di kasur.
"Siapa yang mindahin?" tanya Agatha pada dirinya sendiri.
"Yang memindahkan anda adalah Xavier, Nona,"
Padahal Agatha tidak meminta jawaban dari sistem loh.
"Kapan dia datang?" tanya Agatha.
"Tidak lama setelah anda tertidur, Xavier datang dan memindahkan anda,"
Jawab sistem yang tentunya bohong seribu persen.
"Ooh, bagus deh," balas Agatha.
"Maafkan saya Nona,"
Setelah itu Agatha segera beranjak dari posisi duduknya dan menuju kamar mandi, ia akan mencuci muka baru itu turun.
Saat sampai di lantai dasar Agatha tidak menemukan seorang pun, kemana perginya kedua orang tuanya?
"Bi Imah, Bunda kemana ya?" tanya Agatha
"Ibu Denia sedang pergi keluar, Non," jawab Bi Imah.
Agatha segera pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong. Saat sampai di dapur langsung sama dia memakan-makanan yang ada, ia sedang tidak mood untuk memasak.
Setelah selesai makan Agatha membereskan peralatan makannya, setelah selesai Agatha kembali lagi ke kamarnya.
***
Terlihat seorang wanita paruh baya yang menolong seorang lansia yang akan menyebrang jalan.
"Ayo Bu, saya bantu," ucap wanita paruh baya itu.
Selang beberapa menit wanita paruh baya dan lansia tersebut telah sampai di sebrang jalan.
"Terimakasih, nak," ucap lansia tersebut dengan senyum simpul.
"Sama-sama, Bu," balas wanita paruh baya tersebut.
Beberapa saat terdiam, lansia tersebut berucap sesuatu yang membuat wanita paruh baya itu membeku selama beberapa saat.
"Jiwa putri mu yang tertukar telah kembali. Putri mu telah kembali usai kecelakaan dua bulan lalu." Setelah wanita paruh baya tersebut tersadar ternyata lansia tersebut sudah tidak ada.
"Putri ku telah kembali," lirih nya dengan air mata yang perlahan turun membasahi pipi.
"Putri ku telah kembali, terimakasih tuhan kau telah mengembalikan putri ku,"
***
Terlihat seorang pria tampan yang tengah memasuki rumah bernuansa Eropa dengan tangan yang membawa sebuah kantung plastik putih yang berisi beberapa makanan pedagang kaki lima dan kantung satunya berisi minuman favorit istri kecil nya.
Pria itu dengan segera menuju kamar istri kecilnya yang berada di lantai atas. Saat sampai segera pria itu masuk, tetapi saat masuk ia tidak seorang pun disana, kemana istri kecilnya?
"Seperti nya dia berada di balkon, disana adalah tempat favoritnya, entah di mansion atupun di sini," gumam pria itu.
Pria itu segera melangkahkan kaki nya menuju balkon, dan benar saja disana terlihat istri kecilnya yang tengah asik memandangi langit biru sembari sesekali bergumam.
"Papah, Tata kangen," gumam istri kecilnya. Gumaman ini adalah kesekian kalinya telah di gumam kan. Apakah serindu itu istri kecil nya pada kehidupannya dulu?
Perlahan pria itu membuka pintu balkon yang hampir sempurna tertutup.
"Agatha," panggil pria itu lembut, namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Agatha masih tidak membuyarkan pusat perhatiannya pada langit biru yang cerah.
"Agatha, lihatlah aku membawa makanan yang kamu suka," ucap Xavier memperlihatkan dua kantung plastik. Yang lagi-lagi tidak di hiraukan oleh Agatha.
"Xavier, menurut Lo, gue bisa balik nggak?" tanya Agatha setelah lama berdiam.
"Pulang kemana? Bukankah ini rumah mu," tanya Xavier pura-pura tidak tahu.
"Ke dunia gue," jawab Agatha.
"Kau ingin pulang?" tanya Xavier pada Agatha yang sedang memandanginya dengan tatapan kosong.
"Banget, gue pengen pulang, gue kangen sama Papah, Mamah, Abang juga Celsia," jawab Agatha dengan tersenyum getir.
"Gue kangen banget," sambung nya.
"Kau tidak bisa pulang, karena ini adalah tempat asal mu," ucap seorang wanita dari pintu balkon.
*
*
*
*
*
***
1107 kata
***
Hallo ...
Makasih buat yang udah baca,
Bila ada kesalahan ataupun typo dalam penulisan mohon di komen.
bantu ramein ya
see you next part