Step Mother Transmigration

Step Mother Transmigration
10. Dekapan Hangat Xavier



"Tidak mau!" teriak Arshaka di ujung anak tangga. Tidak lama kemudian terlihat seorang lelaki menuruni tangga menyusul Arshaka. Dia adalah Xalzero.


"Ayolah Shaka, aku tidak tahu," bujuk Xalzero pada Arshaka.


"Bilang saja sendiri," balas Arshala ketus.


"Aku tidak berani, maka dari itu aku menyuruhmu," timpal Xalzero.


"Ck, dasar, kau yang butuh bukan aku. Jadi, bilang saja sendiri," ujar Arshaka.


"Nanti akan ku belikan makanan kesukaan mu, bagaimana?" bujuk Xalzero pada akhirnya.


"Baiklah." Arshaka mulai berjalan menuju Agatha yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Oppa, Oma, Daddy dan Adiknya.


"Mommy, Abang tidak bisa mengerjakan tugasnya, jadi dia meminta untuk Mommy ajarkan!" seru Arshaka yang sontak membuat Xalzero naik keatas.


"Dasar adik sialan," umpat Xalzero sebelum naik.


"Lalu mana dia?" tanya Agatha yang tidak melihat keberadaan Xalzero.


"Itu dia," jawab Arshaka sembari menunjuk ujung anak tangga yang kosong tidak seperti tadi yang ada Xalzero.


"Abang sudah naik," ucap Zaqiel.


"Panggilkan kemari Abang mu," suruh Agatha yang segera dilaksanakan oleh Arshaka. Tidak lama kemudian datanglah dua orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Xalzero dan Arshaka.


"Mengapa tidak bilang tadi setelah makan malam, bila ingin Mommy ajarkan," ucap Agatha setelah Xalzero mendudukkan dirinya di sebelah Agatha.


"Aku lupa bila ada tugas, maka dari itu aku tidak bilang kepadamu setelah makan malam tadi," balas Xalzero yang memang benar, bila tidak di ingatkan oleh temannya tadi saat menelpon, sudah di pastikan besok Xalzero akan dihukum oleh guru killer itu.


"Baiklah, mana yang tidak kau mengerti, biar Mommy ajarkan." Xalzero segera membuka bukunya dan memperlihatkan tugas yang diberikan oleh gurunya.


Agatha pun mulai mengajarkan tugas yang diberikan oleh gurunya, tidak sulit untuk mengajar Xalzero, karena Xalzero tipikal seorang anak yang mudah mengerti dan memiliki ingatan yang tajam. Hanya dalam dua puluh menit, sepuluh soal yang menurut Xalzero sulit telah selesai.


Mereka semua yang berada memperhatikan dari pertama hingga akhir interaksi ajar mengajar antara Agatha dan Xalzero. Reiga dan Geisha sedikit kagum dengan Agatha yang begitu simple saat mengajarkan Xalzero, dan pastinya itu mudah dimengerti.


"Kau sangat pintar dalam matematika," puji Reiga yang melihat Agatha dengan sangat mudah mengerjakan soal tersebut.


"Tidak seperti suamimu yang sangat sulit mengerti bila tentang matematika," lanjut Reiga mencibir Xavier yang senang duduk anteng meminum tehnya.


"Ingat, Papa juga seperti itu," balas Xavier menatap Reiga.


"Tidak ya, kau saja," ucap Reiga dengan menatap Xavier sinis.


"Dasar, tua bangka tidak mau mengalah," balas Xavier menatap Reiga sinis.


"Kalian sama saja, jadi jangan menjatuhkan satu sama lain," ucap Geisha menengahi mereka, bila tidak ditengahi pasti perdebatan itu akan semakin panjang.


"Tidak," ucap Xavier dan Reiga bersamaan.


"Mengapa kau mengikuti ku?" tanya Reiga dengan melemparkan tatapan sinis nya.


"Aku mengikuti mu? Yang benar saja, justru Papa yang mengikuti ku," sungut Xavier.


"Sudahlah! Kalian itu sama, tidak ada bedanya," seru Agatha yang jengah mendengarkan perdebatan antara anak dan ayah itu.


"Maksud mu? Aku tidak mau disamakan oleh tua bangka itu," kata Xavier menatap Reiga.


"Kau---" Ucapan Reiga terpotong oleh ucapan Agatha.


"Dasar, kalian itu sama. Sama-sama sudah tua, jadi jangan menghina satu sama lain," potong Agatha yang membuat mereka berdua terdiam. Lalu tidak lama Xavier berujar.


"Tidak ya, aku tidak tua sepertinya," ujar Xavier.


"Tidak tua darimana? Umurmu sudah 35 tahun," balas Agatha yang sebenarnya tidak dari hati hanya di bibir saja.


"Maksud mu?" tanya Xavier pada Agatha.


"Kau sudah tua, kenapa?" jawab Agatha.


"Aku tidak tua, bahkan wajahku masih terlihat seperti umur 20 tahun," balas Xavier.


"20 tahun dari Hongkong," timpal Agatha.


"Sudah, diamlah," ucap Agatha saat Xavier akan berbicara. Lalu setelahnya Agatha diam dan tidak lama kemudian Agatha bertanya kepada Zaqiel dan Arshaka.


"Zaqiel dan Arshaka ada tugas?" tanya Agatha pada Zaqiel yang dijawab dengan gelengan pelan oleh Zaqiel dan Arshaka.


"Kalian kembalilah ke kamar, dan tidur. Besok sekolah," suruh Agatha yang dipatuhi oleh mereka.


Setelah kepergian Arshaka dan Zaqiel, kedua mertua Agatha menyusul naik untuk tidur, karena sudah hampir larut. Begitu juga dengan Xavier dan Agatha yang kembali ke kamar, tentunya Agatha tidak kembali ke kamar kesayangannya.


"Gue mau tidur di sofa," jawab Agatha seraya meletakkan selimutnya di sofa.


"Lebih baik kau tidur disini, bila kau tidur sana, saat bangun tubuhmu akan terasa sakit," balas Xavier.


"Ini kamar Lo, masa Lo tidur di sofa," timpal Agatha.


"Siapa bilang saya akan tidur di sofa?" tanya Xavier dengan menaikkan alisnya sebelah. Yang membuat Agatha mengurungkan membuka novel yang ada di tangannya.


"Lah, terus, maksud lo kita tidur seranjang gitu?" tanya Agatha pada Xavier yang dijawab anggukan oleh sang empu.


"Di batesin guling tapi ya," ucap Agatha yang dibalas anggukan oleh Xavier.


Agatha mulai meletakkan satu guling di sampingnya disambung guling kedua. Setelah dirasa cukup Agatha mulai membuka novelnya yang sempat tertunda tadi dan mulai membacanya.


Sedangkan Xavier mengecek beberapa email yang dikirim oleh asistennya. Hingga selesai mengecek semua email Agatha belum juga tidur dan masih membaca novel yang lumayan tebal itu. Xavier melihat jam pada tabletnya yang menunjukkan pukul 22. 45


"Mengapa kau tidak tidur? Ini sudah larut," tanya Xavier pada Agatha yang sedang asik membaca novelnya.


"Belum ngantuk dan novel nya belum tamat," jawab Agatha masih tetap pokus pada novelnya.


"Kau bisa melanjutkan membacanya besok, ini sudah larut, jadi tidurlah," suruh Xavier yang membuat Agatha menatap


"Satu bab lagi deh tidur," ucap Agatha.


"Tidak ada, tidurlah," balas Xavier mengambil novel Agatha dan menyembunyikannya di belakang tubuh nya.


"Xapierrr, minta novel nya, itu belum tamat loh," pinta Agatha dengan tampang memelasnya berharap Xavier mengembalikan novelnya.


"Tidak, tidurlah, ini sudah larut, Agatha," tegas Xavier.


"Nggak," balas Agatha.


"Tidur Agatha," ucap Xavier dengan menarik Agatha dan mendekapnya sembari menepuk-nepuk pelan punggung Agatha.


Sedangkan Agatha tertegun sejenak dan manahan napasnya sejenak. Bagaimana tidak saat ini wajah Agatha terletak tepat pada dada bidang Xavier.


"Dekapannya anget, sama kayak punya ayah," batin Agatha.


Karena jujur saja, Agatha sangat rindu dengan dekapannya ayahnya. Dulu setiap pulang dari syuting pasti Agatha akan disambut dengan dekapan dan senyum ayahnya, berbeda dengan sekrang. Status nya disini bukanlah sekrang single melainkan seorang istri.


Saat Agatha mencoba memberontak Xavier malah mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Agatha.


"Lepas oyy, gue mau baca novel," ucap Agatha teredam, karena posisinya wajah Agatha berada tepat di dada Xavier.


"Tidak akan, bila di lepas pasti kau tidak akan tidur dan mengambil novel mu yang lain," balas Xavier masih dengan menepuk-nepuk punggung Agatha pelan.


Agatha yang diperlakukan seperti itupun lambat laun mulai tertidur, dan tanpa sadar Agatha memeluk tubuh kekar Xavier.


Xavier tersenyum tipis saat melihat wajah menggemaskan Agatha saat tidur. Lama memandangi wajah cantik Agatha Xavier pun memutuskan untuk tidur, sebelum itu Xavier sempat mencium pucuk kepala Agatha.


"Wanginya sangat khas, sepertinya inia akan menjadi wangi kesukaanku," gumam Xavier sebelum menyusul Agatha menyelami alam mimpi.


*


*


*


*


*


***


1113


***


Segini dulu wkwk, semoga suka dan nggak bosen sama alurnya.


Aku ucapin makasih buat komen kalian yang positif, sehat selalu.


bila ada kesalahan atau typo dalam penulisan tolong di komen.


Bantu ramein ya kak, bang.


See you next part