
Sontak Calvin terkejut saat melihat Zelgaro yang hanya memakai handuk sepinggang saja. Pikirannya tentu saja pergi kemana-mana. Mana lagi cuman berdua kan.
Calvin mendorong Zelgaro masuk dan menutup pintunya." Lo abis ngapain?" tanya Calvin dengan tatapan penuh selidik.
"Mandi." Singkat, padat, jelas.
"Sebelum itu?" Calvin bertanya lagi.
"Tidur," jawab Zelagro apa adanya.
"Terus adek gue sekarang mana? Kok nggak ada?" tanya Calvin saat menyadari tidak ada Agatha.
"Tunggu aja bentar lagi. Dia lagi mandi," jawab Zelagro.
"Lo nggak malu? Nggak pake baju didepan adek gue?" tanya Calvin.
"Nggak. Ngapain? Calon istri gue juga," jawab Zelgaro sembari menyandarkan kepala dan punggungnya pada sofa.
"Lo udah ngirim surat cerai kan?" lanjut Zelagro.
"Udah," jawab Calvin.
"Bagus. Gue jadi makin gampang," ujar Zelgaro denganĀ seringainya.
"Makin gampang apa Lo?" tanya Calvin menyipitkan matanya menatap Zelgaro penuh selidik. Bahaya ini kalau si Zelgaro udah mulai. Slogan Zelgaro itu Kalo Belum Dapet, Belum Berhenti.
"Deketin Agatha lah," jawab Zelgaro enteng. Terkesan santai dan tanpa beban sama sekali.
"Deketin aja kalo bisa." Zelgaro menganggukkan kepalanya mantap.
"Lo tau kan, gimana watak Om, Tante, Ayah sama Opa gue?" Astaga. Zelgaro sampai melupakan mereka. Kalau Om sama Tante Calvin mungkin masih bisa, tetapi bila Ayah dan kakek Calvin? Sepertinya dirinya membutuhkan waktu yang lumayan lama, terlebih lagi sang pujaan hati masih terjerat akan masa lalu.
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing hingga tidak lama kemudian datanglah seorang gadis dengan kemeja kebesaran setengah paha, ya.
"Agatha,"
Zelgaro tersenyum tipis saat melihat Agatha memakai kemejanya yang terlalu kebesaran pada tubuh mungil tersebut. Sedangkan Calvin, lelaki itu langsung menutupi paha adiknya dengan jaket kulit miliknya.
"Lo ya! Masa adek gue nggak Lo kasih celana. Untung geu Dateng cepet, kalo lambat? Entah gimana," omel Calvin.
"Lagian juga gue sama Agatha nggak ngapa-ngapain," balas Zelgaro.
"Gue sama adek gue pamit pulang, udah ditungguin sama keluarga," ucap Calvin sebelum meninggalkan apartemen Zelgaro.
Didalam mobil Agatha ditanya-tanya oleh Calvin. Dan jawabannya sama seperti Zelgaro. "Lain kali jangan mau kalah diajak sama dia. Dia itu bahaya." Sekiranya itulah nasihat yang diberikan oleh Calvin.
"Iya Bang."
Keduanya berbincang ringan sembari menikmati lalu lintas yang ramai pengendara. Maklum saja ini malam hari, setelah makan malam pasti banyak pengendara yang baru saja pulang dari mana-mana.
"Bunda, kapan datangnya?" tanya Agatha saat sudah melepaskan pelukannya. "Tadi sore, sayang," jawab Denia dengan senyum manisnya.
"Bunda kesini kenapa nggak bilang-bilang juga, kan biar bisa Agatha jemput,"
"Agatha udah kangen banget tahu, sama Bunda," lanjut nya.
"Jadi. Kamu nggak kangen sama Ayah gitu? Cuman sama Bunda aja?" tanya Arsen dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kangen nggak ya? Kayaknya enggak deh, soalnya Ayah nyebelin," ucap Agatha yang sontak mengundang gelak tawa.
"Bener banget tuh, Ayah kamu emang nyebelin," sahut seorang wanita paruh baya, dia adalah Tante Fara, ibu Alaxia.
"Fara!" geram Arsen.
"Beneran kamu nggak kangen sama Ayah kamu yang ganteng ini?" tanya Arsen dengan narsisme nya.
Agatha menaikkan sebelah alisnya, kalau dipikir-pikir Ayahnya mempunyai kenarsisan yang mendarah daging. "Perasaan masih gantungan Mark Lee deh dari pada Ayah." Walaupun bergumam tetapi Denia, Calvin dan Alaxia masih bisa mendengarnya.
Calvin dan Alaxia merotasikan matanya malas, disaat-saat seperti ini masih saja memikirkan yang namanya bias, kalau bukan Agatha siapa lagi? Kuyang keknya.
"Mark Lee? Siapa? Gebetan baru kamu?" tanya Denia merasa asing dengan nama itu.
"Gebetan dalem mimpi Tan," celetuk Alaxia dengan senyum miringnya. Agatha tahu senyum ini.
"Udah bahas Mark Lee-Mark Lee nya," potong Calvin.
"Cowo nggak bisa digapai gitu juga di sukain, ganteng juga enggak seberapa masih ganteng Abang." Sekarang gantian Calvin, emang duplikat ayahnya tidak gagal.
"Narsis banget, kaya Ayah," cibir Agatha.
"Biarin. Orang Abang anaknya Ayah," balas Calvin.
"Beneran nih nggak kangen? Ayah balik aja lagi ke Indonesia kalau gitu," ucap Arsen seraya berbalik. Tetapi sebelum itu Agatha sudah lebih dulu memeluknya.
"Agatha bercanda Ayah. Nggak mungkin Agatha nggak kangen sama Ayah," ucap Agatha disela-sela pelukannya.
"Dasar," ucap Arsen dengan mengacak gemas pucuk kepala putri nya yang sekarang sudah besar.
"Oma, Opa. Gimana kabarnya?" tanya Agatha setelah melepaskan pelukannya pada ayahnya.
"Opa sama Oma baik. Kalau cucu Opa yang cantik ini gimana kabar nya, hm?" tanya Opa Nagara.
"Agatha baik dong Opa," jawab Agatha dengan senyum manisnya.
"Cucu Oma makin lama makin cantik aja," puji Oma Zena yang diangguki oleh Opa Nagara.
Setelah acara peluk-pelukan melepas rindu mereka berbincang bersama tetapi tidak senang Agatha. Ia izin untuk naik keatas untuk mengganti pakaiannya, setelahnya baru kembali kebawah.