
“Surat-surat nona akan selesai dalam 4-7 hari waktu kerja.”
Kata-kata itu terus membayangiku. Membuat seisi kepala dan hatiku menjerit. Aku harus menunggu berjam-jam untuk membuat surat dan sekarang aku harus menunggu berhari-hari untuk mengambil surat itu. “Kenapa!?”
Teriakanku tampaknya membuat Draff tertawa, “Memang sudah seperti itu. Nona lihat kan ada berapa banyak orang yang mengantri. Para pegawai balai kota sudah pasti kerepotan mengurusnya.”
“Tapi, aku tak bisa berlama-lama disini. Ada banyak tempat yang menungguku.”
“Kenapa terburu-buru? Apa nona dikejar waktu?”
“Tidak.”
“Bagaimana kalau nona menikmati kota ini lebih lama lagi. Sebentar lagi akan diadakan perayaan. Tinggal sementara selama seminggu disini, tidak akan masalah, bukan?” Pria itu mencoba meyakinkanku.
“Baiklah,” jawabku pasrah. Lagipula, aku juga tidak bisa pergi ke tempat-tempat lain tanpa surat itu. Aku harus memberitahu Edras soal ini.
Di tengah alun-alun yang kulewati itu, para warga sibuk membangun sebuah pohon untuk perayaan nantinya. Kotak-kotak kayu berisi bahan bangunan disusun di sekitar pohon itu. Paku, kayu, besi dan lain sebagainya. Cahaya merah seketika membara terang. Orang-orang disekitar berteriak-teriak ketika api membakar pohon perayaan yang masih dalam tahap pembangunan. Salju jatuh ke tanah, tapi asap hitam membumbung ke langit.
Pohon itu masih belum jadi setengahnya, tapi api sudah membakar seluruhnya ketika lilin yang disebuah kotak ikut terpicu. Sekarang, pohon itu lebih tampak seperti pohon api daripada pohon perayaan. Seember air yang mereka guyurkan saja tidak akan cukup untuk memadamkannya. Aku tanpa berpikir panjang, memanggil tongkatku dan mengayunkan salju di tanah serta yang masih melayang di langit untuk menimbun api. Salju itu seperti aliran air berisi butiran-butiran putih yang meliuk-liuk di udara, membelai api dengan begitu lembutnya hingga membuat api itu tertidur untuk selamanya. Pohon itu pun bisa selamat, meski beberapa bagiannya telah hangus.
Orang-orang terpaku memandangiku seolah-olah akulah penyebab kebakaran itu. Aku berada dalam kebingungan karena aku baru saja keluar dari balai kota tanpa tahu apa-apa. Aku semakin bingung dan terkejut saat mereka masih terus memandangiku, kemudian bertepuk tangan, dan bersorak.
Bahkan salju tak mampu meredam sorakan mereka yang bergemuruh ke seisi kota. “Nona itu menyelamatkan kita! Penyelamat perayaan! Penyihir penyelamat! Penyihir Salju! Hidup Penyihir Salju!” Begitu orang-orang bersorak dan berseru.
Padahal, sebelumnya saja kota ramai dengan jeritan dan api, lalu tiba-tiba ramai dalam sorakan penuh kebahagiaan dan sanjungan. Aku seperti orang linglung. Aku tak tahu apa mereka benar-benar menyorakiku atau orang lain. Aku melempar pandangan ke Draff, tapi pria itu hanya membalasnya dengan sebuah senyuman saja.
Salah satu pria tiba-tiba mendatangiku, senyumannya tampak sangat bahagia sekali. Lalu, dalam waktu sepersekian detik saja, kerumunan warga mengepungku seperti sebuah kurungan.
“Terima kasih, Nona Penyihir. Jika bukan berkat bantuan nona, perayaan mungkin akan sulit untuk diadakan,” kata orang itu.
“Bu-bukan masalah,” aku menjawab dengan gagap karena tekanan dari kerumunan warga.
“Bagaimana jika nona membantu kami membangun perayaan ini? Dengan sihir nona semua pasti akan baik-baik saja.” Pria itu menatapku dengan tatapan penuh permohonan.
“Ya! Dengan bantuan nona, semua akan lebih mudah,” tambah orang lain dalam kerumunan.
“Perayaan kali ini akan lebih meriah dengan kehadiran Nona Penyihir Salju!” tambah orang lainnya lagi.
Draff menepuk pundakku dan tersenyum ke diriku yang benar-benar bingung, “Seperti yang kubilang, jangan terburu-buru untuk pergi. Nikmati saja kota ini. Nikmati saja perayaan tahunan ini yang akan segera datang ini.”
Aku larut dalam lamunan. Tapi, suara seorang lelaki mengejutkanku. “Niva, apa yang terjadi? Kulihat tadi ada kebakaran dan timbunan salju. Apa kamu tidak terluka?” Edras terengah-engah menghampiriku.
“Aku tidak apa-apa.” Aku sempat terkejut melihat Edras disini. Kupikir dia masih sibuk dan tak bisa menemuiku.
“Siapa dia?” tanya Draff kepadaku.
“Dia temanku, namanya Edras, juga seorang pedagang. Karena kebetulan dia ingin pergi ke kota, jadi dia menawariku sebuah tumpangan.”
“Siapa dia, Niva?” sekarang giliran Edras yang bertanya kepadaku, menunjuk ke Draff.
“Dia Draff, pelayan di kedai yang menemaniku ke balai kota, buat surat-surat,” aku mulai menjelaskan lagi. “Sebenarnya aku ingin menceritakannya padamu soal ini tadi malam, tapi kamu tidak ada saat kuketuk pintunya. Jadi aku tak ingin mengganggumu.”
“Oh, maafkan aku soal itu. Tapi, aku meletakkan sebuah kue dan surat di kamarmu. Apa kamu menerimanya?”
“Ya! Kue itu sangat lezat. Di mana kamu mendapatkannya? Aku ingin mencobanya sekali lagi!” Aku terlalu bersemangat saat membahas kue itu hingga melupakan kerumunan di sekitarku.
“Aku tahu tempatnya, mau ke sana?”
“Dengan senang ha … ti …,” suaraku memelan. Aku teringat kembali dengan kerumunan itu. Aku pun lalu menjelaskannya pada Edras, bagaimana aku harus menunggu selama 4 hari lebih untuk mengambil suratku dan bagaimana aku terjebak dalam permintaan para warga. “… tapi aku tak enak menyuruhmu menunggu selama berhari-hari untukku. Karena itu …,” suaraku kembali diakhir dengan nada yang memelan lalu terputus.
Aku tak tertunduk, tapi saat Edras memegang pundakku, aku bisa melihat senyuman lembut di wajahnya. “Tidak masalah. Kamu bisa bantu mereka, dan mungkin saja kamu bisa mendapat teman baru lagi. Aku bisa menunggumu menyelesaikan urusanmu disini. Lagipula, sebentar lagi akan ada perayaan, bukan? Bagaimana kalau kita menikmati perayaan ini bersama?”
Disinilah aku. Berakhir dimana menerbangkan kayu untuk ditanam dalam sebuah pondasi, menahan pilar-pilar agar tidak roboh, membawa kotak-kotak yang berat dari satu tempat ke tempat lainnya, dan memasang bendera-bendera di pita antar atap rumah tanpa harus memanjat. Aku memutuskan membantu warga kota merancang dekorasi perayaan ini. Sebelum kedatanganku, mereka sudah terbiasa membangun dekorasinya dengan tangan mereka sendiri, tapi semenjak aku membantu dengan sihir, semua berjalan lebih cepat dan lebih aman.
Bahkan dengan hujan salju yang tidak bersahabat dan sihirku yang mempermudah segalanya, para warga tidak berpikiran untuk bersantai. Mereka juga tetap saling membagi tugas dan menjalankannya dengan penuh semangat. Draff dan Ergas juga kadang ikut membantuku. Memasangi hiasan di sepnajang lampu jalan dan bangunan. Saat aku merasa lelah, mereka bekerja jauh lebih keras. Beberapa warga yang tak bisa membantuku, memberikanku minuman segar dan makanan lezat. Padahal aku hanya ingin memadamkan api saja, aku tak menyangka orang-orang justru menganggapku seperti selebritis. Mereka menghargai bantuanku, dan memberikan hadiah atasnya.
Tentu saja aku tidak bisa menolak niat baik mereka. Makanan yang mereka berikan semua sangat lezat. Mereka tampaknya benar-benar bekerja sangat serius untuk menghadiahiku sebuah makanan. Sisi baiknya, aku tidak perlu menghabiskan sedikitpun uang.
Hari-hari berlalu sangat cepat, mungkin karena aku memiliki kesibukan jadi tak terasa sudah 4 hari semenjak aku memutuskan membantu warga kota. Pohon perayaan itu sudah hampir jadi, tersisa satu sentuhan terakhir saja.
Berdiri di tengah kota, pohon buatan itu tampak seperti cemara raksasa dengan lampu-lampu menghiasi dahan-dahannya. Pohon itu lebih tinggi 2 kali lipat daripada balai kota yang merupakan bangunan terbesar disini. Aku yakin, pohon itu tampak terlihat jelas dari desa atau mungkin rumahku di ujung tebing.
Pernah kubaca dalam sebuah buku tentang Perayaan Bintang Utara ini. Dikatakan perayaan ini adalah perayaan tahunan di Orelum yang diadakan saat bintang utara tampak bersinar lebih terang daripada bintang lainnya. Di setiap daerah, perayaan ini selalu menggunakan pohon cemara sebagai salah satu unsur yang tak boleh dilupakan. Di puncak pohon itu, nantinya akan diletakkan sebuah bongkahan batu yang dibentuk menyerepuai bintang. Dan saat bintang utara bersinar, batu itu akan beresonansi sehingga memancarkan cahaya yang sama pada bintang ke penjuru kota
Aku tak tahu alasan kenapa pohon cemara yang selalu identik dengan perayaan perayaan, jadi saat senggang kupuaskan rasa penasaranku ini dengan menanyakannya pada Draff. Ia lebih tua daripada Edras, jadi kupikir dia lebih tahu banyak hal.
“Ada satu cerita yang terkenal, tapi aku tak tahu ini benar terjadi atau sebuah karangan. Seperti yang semua orang tahu, peradaban manusia pertama terletak di Benua Orelum yang dingin. Jadi, pada masa peradaban pertama itu, ada seorang pria yang yang tersesat di hutan. Sekarat dalam rasa lapar dan dingin yang membekukan tulang. Setelah lama menyusuri hutan, ia akhirnya mendapati satu-satunya danau yang tidak membeku di tengah hutan. Saat pria itu ingin meminum air danau itu, ia melihat sebuah cahaya yang bersinar terang di permukaan danau. Sebenarnya cahaya yang pria itu lihat berasal dari batuan yang beresonansi dengan bintang utara, tapi ia justru mengira cahaya itu hanya ada di atasnya saja.”
“Saat pria malang itu mendongak ke arah langit, sebuah cahaya putih bersinar sangat terang. Begitu putih, hingga salju pun tampak seperti noda hitam baginya. Dari posisinya, cahaya itu tampak berada tepat di puncak pohon cemara. Karena penasaran, pria itu berusaha memanjat pohon itu untuk melihat cahaya lebih dekat. Saat ia sudah berada di pucuk pohon, ia baru menyadari bahwa cahaya itu berada lebih jauh dari jangkauannya. Ia pun merasa kecewa dan putus asa. Namun, ada pemandangan lain yang pria itu lihat dari atas pohon. Sebuah pemukiman dengan api yang hangat dan makanan hangat yang menunggunya. Pria itu pun bergegas kesana dan akhirnya ia pun diselamatkan oleh warga pemukiman tersebut.”
Di malam berikutnya, orang-orang sudah berkumpul mengelilingi pohon itu. Aku berdiri di pinggir jalan bersama Edras, melihat para warga dari belakang kerumunan. Pada malam itu, tepatnya sekitar jam 7, aku menyaksikannya dengan kedua mataku sendiri, sebuah titik putih kecil di langit hitam perlahan bersinar terang. Cahayanya merekah seperti bunga yang akan mekar. Kilauannya benar-benar lebih terang dari cahaya bintang manapun di langit malam itu. Batu yang ada pada puncak pohon pun benar-benar bercahaya sesuai yang ada di kisah. Berbagai macam karangan bunga terlempar di udara saat dua cahaya saling bersapa satu sama lain. Warga yang melempar karangan bunga itu bersorak penuh kegembiraan. Entah mengapa, aku juga bisa merasakan kegembiraan mereka.
Kota Pondorian menjadi lebih cantik saat malam, dengan lampu-lampu indah di langit maupun di pohon. Dekorasi bendera dan kreasi bunga kertas hijau-kuning juga menghiasi sepanjang jalanan. Sebelumnya hanya ada lampu dan kursi saja, tapi sekarang tampak lebih ramai. Karangan bunga dibentuk memanjang lalu diikat dari ujung atap rumah ke atap rumah lainnya, ini memiliki makna jika semua orang saling terikat dan saling terhubung. Dari tempatku berdiri, aku juga bisa melihat para pemain musik jalanan dan pertunjukan hiburan di dekat pohon.
Ini pertama kalinya aku merasakan sebuah perayaan. Sesuai dugaanku, rasanya benar-benar menghangatkan dan ramai. Aku bisa melihat para warga yang saling berpelukan, sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan, dan sebuah keluarga yang memandangi bintang utara.
Aku tak tahu harus berkata apa, tapi mataku sudah terlanjur buram karena air mata. Aku sekarang berada jauh dari rumah dan aku bersyukur bisa merasakan perasaan ini. Jika aku terlalu tergesa-gesa untuk pergi, aku pasti akan menyesalinya. Ini pengalaman pertamaku. Pengalaman yang akan selalu kukenang. Pengalaman yang tak bisa kulupakan. Suatu hari nanti, setelah aku kembali dari perjalanan panjangku, aku ingin menikmati perayaan ini bersama ibu.
“Niva, ini untukmu.” Sebuah kotak putih yang sama dengan yang di kamarku disodorkan padaku.
“Sudah kubilang padamu, beri tahu saja tempat kamu mendapatkan kue ini, biar aku saja yang membelinya,” aku memarahi Edras yang memberikan kotak berisi kue madu.
“Tidak apa. Lagipula, membagikan hadiah juga merupakan bagian dari perayaan. Lihat?” Edras menunjuk ke orang-orang yang saling membagikan hadiah satu sama lain setelah berpuas-puas bersorak. “Orang-orang berkeyakinan bahwa saling berbagi hadiah adalah suatu bentuk rasa syukur dan ucapan selamat karena tetap bertahan selama iklim yang dingin.”
“Ada hal seperti itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya?” kesalku juga terkejut. “Maaf, aku tidak mengetahuinya. Aku akan segera membelikanmu hadiah.”
Lenganku tiba-tiba diraih oleh lelaki itu saat aku ingin pergi membeli hadiah. “Tidak usah. Aku tidak meminta apapun.”
“Tapi-” ucapanku terpotong saat dia mendorong kotaknya ke perutku.
“Bagaimana kalau kita makan kue ini bersama? Aku akan menganggapnya sebagai hadiah dari Nona Penyihir Salju yang terkenal.”
Mau tak mau aku menyetujuinya. Kami beranjak ke meja dan tempat duduk yang memang sengaja diletakkan di luar, hanya khusus untuk perayaan ini saja. Setelahnya, kami pun melahap kue itu bersama hingga habis. Tapi sebenarnya, aku lah yang lebih banyak melahap kue itu hingga cepat habis daripada Edras.
Sejumlah orang yang lewat memanggil namaku, “Terima kasih, Nona Penyihir Salju.” Dan itu terus terjadi selama kami menghabiskan kue madu. Aku sedikit malu tapi juga merasa bangga dengan nama julukan ‘Penyihir Salju’ untukku.
Tak lama kemudian, Draff datang bersama dengan seorang wanita dewasa dan gadis yang tampaknya seumuran denganku. Kurasa itu, istrinya dan putrinya yang pernah ia ceritakan padaku.
“Halo Nona Niva, Tuan Edras, ini istriku dan putriku,” sapa Draff sembari memperkenalkan mereka. “Tak kusangka putriku ini ternyata penggemar beratmu sekarang. Tapi, dia pemalu, dia ingin meminta tanda tangan nona.”
Aku melemparkan pandangan ke Edras, dan ia pun mengangguk. Gadis itu menyerahkan sebuah buku yang mungkin saja itu buku hariannya. Aku lalu menuliskan huruf N yang sama saat di balai kota di salah satu lembaran yang ditunjuknya. “Terima kasih,” ucap gadis itu malu-malu sambil menutupi sebagian wajahnya dengan bukunya. Tapi, bisa kurasakan kalau gadis itu sangat bahagia. Aku terkejut karena sebuah huruf saja bisa membuat orang lain senang.
“Dan juga, ini hadiah untukmu, nona. Kudengar dari Tuan Edras, kalau nona sangat menyukai sup krim jamur dan roti mentega. Jadi kubuatkan untukmu.” Pria itu menyerahkan dua kantung yang di dalamnya ada kotak makanan.
Aku menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih. Tapi, maaf aku tak bisa menyiapkan hadiah untukmu,” sesalku.
“Hadiah nona sudah kuterima dengan baik. perayaan ini adalah hadiah yang nona berikan padaku, pada kami. Jika, nona tidak ada disini, perayaan kali ini mungkin tidak akan berkesan.”
Aku juga bersyukur bisa ada di sini. Aku juga berterima kasih pada Edras, Draff dan semua warga kota yang sangat baik padaku, pada warga yang selalu memberikanku makanan dan minuman saat diriku kelelahan. Lalu, pada orang-orang dulu yang menciptakan perayaan ini, kuucapkan rasa terima kasihku.
Malam ini kupuas-puaskan makan segala makanan, minum segala minuman, dan bersenang-senang segala kesenangan. Aku berkeliling kota bersama Edras hingga ke sudut tersempit pun. Kulihat ada semacam kios permainan, dimana aku harus menembakkan sebuah anak panah kecil ke dalam sasaran yang berputar untuk mendapatkan berbagai macam hadiah. Tapi, entah mengapa semua lemparanku meleset, padahal aku tidak pernah meleset saat menembakkan sihir ke arah ibuku sebelumnya. Atau mungkin karena diriku yang sudah mengantuk. Mata dan tubuhku mendadak seberat batu. Aku tak bisa menahannya lagi.
Suara bising di luar memaksaku membuka mataku. Aku terbangun dalam kondisi kebingungan. Kenapa aku tiba-tiba ada di kamarku? Bukankah aku sedang marah-marah karena lemparan anak panahku tak mengenai target? Kuliha topi dan jubahku diletakkan di kursi sebelah. Apakah aku ketiduran? Aku memeras otakku yang masih pagi, dan muncul gambar samar-samar seseorang membopongku. Itu pasti Edras. Aku telah merepotkannya lagi.
Pagi ini seharusnya sudah 6 hari berlalu sejak kedatanganku. Aku lupa untuk memeriksa surat-suratku karena aku terlalu sibuk membantu warga. Karena hari ini kosong, sebaiknya aku bersiap-siap untuk segera mengambil surat tersebut. Belum sempat bangkit dari kasurku, aku sudah terlanjur diam mematung. Aku melongo pada tumpukan kotak-kotak beragam warna mengisi hampir setengah kamarku.
Aku segera pergi ke kamar Edras dan mengetuk pintunya. “Edras! Bangun! Kenapa di kamarku banyak sekali kotak!?” panggilku panik.
Pintu terbuka dan Edras muncul dengan wajah mengantuknya. “Ada apa?” tanyanya lemas.
Karena terlalu malas untuk menjelaskan, aku menarik lelaki itu ke kamarku untuk menunjukkan setumpuk kotak yang hampir menyerupai sebuah bukit. “Lihatlah!”
“Oh, itu dari para warga yang ingin berterima kasih padamu. Karena kamu tertidur, jadi aku yang menerimanya dan meletakkan kotak hadiah mereka disini,” lelaki itu mengusap matanya dan menguap seraya menjelaskan.
Aku merasa senang akan semua hadiah ini, tapi aku sangat menyayangkannya karena tak bisa membawanya semua. Perjalananku akan sangat panjang, dan aku ragu bisa terus membawa hadiah-hadiah itu tanpa rusak atau lecet sedikitpun.
“Setidaknya bangunkan aku. Tidak sopan memasuki kamar gadis tanpa izin!” aku melipat tanganku dengan kesal.
“Jangan salahkan aku. Aku sudah mencoba membangunkanmu saat kamu mulai tertidur di jalanan.”
“Baiklah, aku tahu, aku minta maaf. Lalu, bagaimana dengan kotak-kotak ini? Aku tidak bisa membawa semuanya dalam perjalananku.”
“Bagaimana jika aku mengantarnya ke rumahmu.” Mata lelaki itu masih setengah terbuka saat berbicara padaku, tapi setidaknya, kata-katanya masih bisa kupahami walau yang keluar agak membuatku bingung.
“Apa maksudmu rumahku? Bukankah ada pelindung sihir di sekitar rumahku?”
“Tenang saja, aku akan berbicara pada ibumu baik-baik. Setelah aku mengantarmu ke tujuanmu selanjutnya, aku akan kembali ke desa terlebih dulu. Karena itu, aku berpikir untuk membawanya langsung ke rumahmu. Bagaimana?"
Aku menghembuskan nafas, tak ada pilihan lain. Lelaki itu mungkin saja melantur tapi idenya tak bisa kuhiraukan begitu saja. Memang lebih baik membawanya kembali ke rumahku daripada mengembalikannya ke para warga. Tak ada ide lain yang terlintas dipikiranku, jadi aku mengiyakannya saja.
Aku pun menuju ke balai kota setelah membereskan semua barang-barangku di penginapan, sementara Edras menuju istal untuk mengambil kereta dagangnya. Lalu, aku akan melanjutkan perjalananku. Aku sangat menikmati berada disini.
“Baik, ini Surat Kependudukan dan Surat Izin Berkunjung nona. Silahkan tanda tangan untuk konfirmasi pengambilan surat-surat nona. Terima kasih. Semoga hari nona menyenangkan.”
“Akhirnya surat-suratku!”