
“Aku adalah putri tunggal dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Aku bisa memilih gaun mana yang kusuka dan hidangan apa yang ingin kumakan. Ayah dan ibuku sangat mencintaiku dengan sepenuh hati. Mereka rela melakukan apapun demi sesuatu yang kuinginkan. Aku juga memiliki teman-teman yang sangat baik padaku dan selalu membantuku setiap saat. Tak ada orang manapun yang tak menginginkan kenikmatan seperti itu. Seolah-olah setiap harinya tak pernah terasa malam.”
“Kebahagiaanku tak berakhir di saat itu saja. Suatu hari, putra dari keluarga terkenal melamarku. Sebelumnya kami adalah teman masa kecil, namun semenjak besar kami jarang sekali bermain. Ia membawakan bunga favoritku dan memberikan sebuah cincin padaku. Aku menerimanya sepenuh hati. Kedua orang tuaku juga merasa sangat bahagia putrinya dilamar oleh putra keluarga kaya dan ternama.”
“Ia laki-laki idamanku. Berparas tampan dengan hidung mancung dan bibir yang manis. Matanya dapat menusuk-nusuk hatiku dengan lembut dan tak membuat luka. Wajahnya ramping dan tubuhnya tegap seperti seorang ksatria. Sejak kecil, ia memang terkenal sebagai anak yang tampan, tapi, saat melihatnya sekarang, aku tetap tak bisa berpaling. Jantungku terus berdebar tiap kali kata-katanya terucap. Wanita mana yang tak menginginkan kekasih sepertinya.”
“Kami berdua merancang pernikahan kami. Rencananya akan diadakan bulan ini. Sebelum itu, aku banyak menghabiskan waktuku bersamanya. Kami sering berkeliling di kota, hingga aku tak sadar jika sudah menjadi orang yang terkenal. Namaku selalu dipanggil-panggil dan dipuja oleh warga. ‘Nona Ilsa, istri Tuan Ardenbar’. Membayangkannya saja sudah membuatku meleleh hingga tak mampu untuk berdiri. Kedua keluarga kami sudah sering bertemu untuk saling mengakrabkan hubungan, dan semakin dekat pula mimpiku. Aku berkata pada Ardenbar, jika nanti memiliki anak laki-laki ingin kuberi nama pahlawan kerajaan, tapi jika yang lahir perempuan, aku ingin memberinya nama putri tercantik di seluruh kerajaan. Aku begitu bersemangat membayangkan masa depanku yang akan menjadi kebahagiaan terbaik selama aku hidup.”
“Suatu hari, ibuku menyuruhku untuk memberikan hadiah pada orang tua Ardenbar. Sebuah bungkusan yang berisi rangkaian bunga, manisan, dan pernak-pernik mahal lainnya. Ibuku benar-benar tahu selera keluarga bangsawan. Karena hanya berjarak 15 menit dari rumahku, aku pun membawanya dengan berjalan kaki sambil beramah tamah dengan orang-orang yang lewat.”
“Saat itu, aku terlalu sibuk memikirkan ekspresi apa yang Ardenbar lihat saat aku memberinya ini, hingga aku tak menyadari ada sejumlah orang yang terus mengikutiku dari belakang. Sebelum aku menyadarinya, orang-orang itu menyumpal mulutku agar aku tak bisa berteriak dan membawanya ke sebuah rumah yang gelap dan kosong.”
“Mereka tahu jika aku akan segera menikah dengan keluarga kaya, karena itu mereka menangkapku untuk memaksaku memberikannya seluruh harta keluarga Ardenbar. Saat kubilang tidak pada mereka, sebuah pukulan mendarat di wajahku. Mereka sebenarnya tak berniat mengambil uangku, mereka berniat menyiksaku. Mereka terus memukuliku hingga aku tak bisa berkata sepatah kata lagi. Setelahnya, aku bisa merasakan kalau pakaianku dirobek dan mereka melecehkan tubuhku seakan-akan aku adalah budak mereka. Aku tak bisa merasakan apapun lagi. Meskipun aku sudah sekuat tenaga berteriak meminta tolong, tapi tak ada siapapun yang menjawabnya. Aku hanya bisa menangis sementara mereka bebas melakukan apapun pada tubuhku.”
“Di sebuah rumah kosong yang ditinggalkan, aku terbangun di pagi harinya tanpa berpakaian, sendirian, dan ketakutan. Setelahnya, kehidupanku semakin memburuk. Kebahagiaan direnggut dari kehidupanku dan tubuhku. Pernikahan kami dibatalkan karena kejadian tersebut. Aku tak bisa melihat wajah manis Ardenbar seperti dulu lagi. Ia melihatku dengan tatapan jijik dan merendah. Berita mendadak meledak, menyebar ke mana-mana. Semua orang yang pernah menyapaku di jalanan kota tidak lagi bersikap ramah padaku, mereka bahkan menyebutku sebagai wanita pelacur.”
“Hari-hariku tak pernah semakin membaik. Orang tuaku menjadi susah bekerja karena kabar yang beredar. Pajak dan utang menumpuk bagaikan gunung. Kehidupan kami berputar 180 derajat dari sebelumnya. Guncangan hidupku semakin parah saat orang tuaku mengusirku, atau lebih tepatnya membuangku. Mereka tak lagi menyayangiku. Tempat terakhir untukku mendapat dukungan sudah tak ada lagi. Tak ada orang baik yang memberikanku sebuah tempat bernaung, atau sekadar bantuan kecil. Meski sudah kucoba untuk tersenyum, tapi mata dan hatiku tak pernah menginginkannya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Jika kau tanya, apa yang aku lakukan disini. Aku ingin mengakhiri hidupku. Kudengar mati membeku dapat mencabut penderitaanku secara perlahan tanpa menimbulkan rasa sakit.”
Aku terpaku pada setiap baris ucapannya, pada setiap nada sedih yang keluar dari bibirnya. Aku terpaku pada jawaban yang seharusnya tidak kuminta. Aku terpaku pada mata birunya yang sangat dalam, hingga aku tak bisa melihat pancaran keceriaan sedikitpun.
“Apa kau yakin?”
“Iya.”
“Apa kau tidak melaporkannya ke pihak berwenang?”
“Pihak berwenang apanya!?” wanita itu menyergahku dengan sinis. Salah satu ujung bibirnya ditarik ke atas. “Aku tak percaya dengan siapapun. Pihak berwenang yang kau maksud itu tak ada gunanya sama sekali. Mereka terus menunda-nunda, mengoceh padaku untuk berhati-hati, mengabaikanku karena menganggap masalah itu bisa diselesaikan tanpa mereka perlu turun tangan. Padahal aku yang menjadi korban, tapi kenapa hidupku yang justru memburuk?”
“Tapi, kenapa kau harus membunuh dirimu sendiri?” tanyaku. Aku justru heran pada diriku sendiri, kenapa aku terus memberikan pertanyaan padanya?
“Karena tak ada hal yang membuatku ingin hidup lagi. Aku bahkan tak bisa merasakan kebahagiaan lagi seperti dulu.”
Apa mengakhiri hidup sendiri adalah salah satu pilihan yang bisa kita ambil? Aku terus mempertanyakan itu pada diriku sendiri selama masa hening diantara kami berdua. Aku juga berulang kali mengetuk Aeron, berharap ia akan membantuku.
“Bagaimana dengan kisahmu, gadis asing. Apa yang membuatmu berada disini?” wanita itu melempar pertanyaan padaku yang termenung.
“Aku seorang penyihir yang berkelana ke berbagai tempat,” jawabku pasrah. Aku sempat berpikir jika seharusnya aku tak menjawabnya, tapi jika begitu aku justru terlihat kasar padanya.
“Jadi, kau seorang penyihir? Apa kau bisa menyihir kehidupanku agar lebih baik?”
“Tak ada sihir seperti itu … maaf.”
“Yah, tak masalah. Aku juga sudah menduganya.” Wanita itu tertunduk setelah mendengar jawabanku. Ia memeluk kakinya sembari memandangiku. “Setelah kuperhatikan lagi, ternyata kau gadis yang cantik. Jika kau nanti sudah menemukan seseorang yang kau cintai. Janganlah pernah kau menyia-nyiakannya. Jika kau benar-benar mencintainya, janganlah sekali-kali kau meninggalkannya sendirian bagaimanapun kondisinya, mengerti?”
Aku mengangguk pelan.
“Kita baru saja bertemu, tapi aku malah mengoceh padamu,” ia tertawa hambar. “Aku yakin kau gadis yang baik, jadi jangan cerita apapun soal ini, mengerti?”
Aku mengangguk lagi.
“Baiklah, aku sudah merasa lega karena kamu mendengarkan ceritaku. Sudah saatnya aku pergi. Kusarankan, kau juga, gadis asing. Semoga perjalananmu beruntung.” Wanita itu pun berdiri. Dari bawah, kulihat matanya sebulat tekadnya. Ia melangkahkan kakinya menuju perairan yang tak bisa kubayangkan sedingin apa. Ia semakin jauh, hingga air setinggi lututnya.
“Hei, sebaiknya kita pergi. Kita tak boleh menganggu urusan orang lain, ingat?” bisik Aeron yang akhirnya dia berbicara padaku.
“Apakah kita tidak bisa membantunya?” lirihku. Jika Aeron bisa melihat, ia akan tertawa saat melihat wajahku yang memelas.
Kompas itu benar. Sebelumnya, aku tak pernah menoleh ke belakang selama perjalananku. Karena itu, langkahku selalu maju dan tak pernah berhenti. Dengan tak melihat ke belakang, membuat tekadku seteguh batu. Ibuku juga berkata jika aku tak boleh menganggu jalannya takdir.
Kisah ini hanyalah sebuah lembaran kecil dari perjalanan panjangku. Jika aku tak bisa menahan diriku saat ini, maka aku tak akan pernah bisa menghadapi rintangan yang menungguku kelak. Begitulah yang seharusnya terjadi, aku terus menatap ke depan dan melangkah ke depan. Aku tak boleh terjebak dengan apa yang mengikatku di belakang. Itulah yang selama ini terus kulakukan.
Namun, entah kenapa rasanya sangat sulit. Aku justru berhenti saat langkah ke 3 menuju tujuanku selanjutnya. Aku membeku bukan karena udara dingin, tapi karena sejumlah pertanyaan yang membelengguku. Apakah memang seperti ini yang takdir inginkan? Apakah ia tak berhak memiliki hidup yang bahagia? Apakah salah jika aku ingin menariknya dari jurang kesedihan? Apakah salah jika aku sangat ingin membantunya?
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku … akan menolongnya.”
“Kau bukan malaikat. Ada kalanya kau tak perlu mencampuri urusan orang lain. Wanita itu sudah membulatkan tekadnya, ia memahami akan pilihannya sendiri. Kau yang bisa melihatnya, seharusnya kau tahu,” jelasnya. Meski Aeron hanya sebuah kompas di dalam tasku, tapi ia sangat cerewet.
“Maafkan aku, Aeron. Aku tak ingin menjadi seperti kekasihnya yang pergi meninggalkannya begitu saja.”
Aku pun berbalik, tapi aku tak menemukan apapun di lautan. Aku mengedarkan pandangku untuk mencarinya. Saat itu, awan membuka sinar bulan yang menerangi permukaan laut. Cahaya bulan itu menerangi sebuah gaun berwarna putih di dalam lautan. Kukeluarkan tongkat sihirku dan memutarnya. Seketika, gelembung air raksasa terangkat dengan wanita itu berada di dalamnya. Aku menarik gelembung itu ke pinggir pantai. Gelembung itu pecah dan mengalir ke lautan untuk bersatu kembali.
Kusandarkan wanita itu pada sebuah dinding tebing dengan atap yang menjorok. Detak jantungnya masih terasa, ia hanya pingsan. Seperti yang si pemburu itu ajarkan, aku harus membuat kehangatan Ilsa tetap terjaga. Kubuat api unggun disebelahnya dengan sihirku. Gaun wanita itu basah kuyup dan tak lama lagi akan membeku. “Jangan lihat!” tegurku ke Aeron. Aku pun melepas pakaiannya.
“Apa yang kau bicarakan? Aku kan tak bisa melihat!”
Aku mengambil pakaian ku yang lain di tas, lalu memakaikannya ke wanita itu. Terakhir, aku menyelimuti tubuhnya dengan salah satu selimut tebal pemberian si pemburu padaku. Tubuhnya masih dingin, tapi tak lama lagi akan kembali hangat. Aku yakin dengan ajaran sang pemburu pasti akan menyelamatkan nyawa wanita itu.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tidak mungkin kau akan membawanya selama perjalanan kan?”
Meski sudah kubuang air yang memenuhi paru-parunya, ia masih tak sadarkan diri. Ucapan Aeron benar, tapi aku juga tak bisa meninggalkannya seperti ini. Aku lalu memberinya sebagian Pengrium milikku dan sejumlah roti kering untuknya. Sebelum pergi, kutinggalkan sebuah surat untuknya.
“Maafkan aku karena telah menyelamatkanmu.
Kuberikan padamu selimut, makanan, dan uang. Gunakanlah sebaik mungkin.
Pergilah ke Bordam. Warga disana akan menjamumu dengan ramah, percayalah.
Carilah kehidupanmu yang baru disana. Kau layak mendapatkannya. Jika masih
tak menemukannya, teruslah ke barat hingga mencapai sebuah tebing bernama
Tebing Penyihir. Itu rumahku. Di sana kau akan menemukan ibuku
yang sangat baik. Ibuku pasti akan merawatmu.
Terima kasih karena terus bertahan hingga saat ini.
Tertanda,
Gadis asing.”
Hanya seperti inilah caraku membantunya. Aku yakin masih ada banyak orang yang baik padanya dan tak akan meninggalkannya sendirian. Aku yakin hidupnya akan lebih bahagia di luar sana. Ia mungkin akan menemukan keluarga baru atau teman baru yang lebih setia.
“Apa kau sungguh yakin dengan semua ini?” Aeron masih tak melihat keyakinanku.
“Aku harus yakin.”
Kudengar dengusan Aeron yang kencang meskipun ia hanya sebuah kompas saja. “Kau benar-benar gadis yang bodoh.”