Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Sosok misterius dalam badai



Hari belum gelap, aku bergegas pergi menuju arah yang kompas tuju. Sebuah hutan, jaraknya 10 menit dari kota. Sejauh yang kulihat, tak ada hal aneh dan mencurigakan lainnya kecuali pepohonan dan salju. Aku tak mengatakan pada Rowan kemana aku pergi. Aku sadar tindakanku gegabah dan egois, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan.


 


Jika semua penduduk kota, termasuk Rowan membenci Elfor. Aku percaya Elfor juga sebaliknya. Maka dari itu, orang-orang yang hilang merupakan wujud pembalasan dari apa yang warga berikan padanya. Membawa salah satu yang membencinya untuk menemui Elfor akan memperburuk situasinya.


 


Beberapa saat kemudian, aku menemukan sebuah lubang gelap. Terbentuk dalam tanah salju yang lebih tinggi. Di tengahnya, lubang itu menganga, bagai pintu masuk menuju kedalaman neraka. Bahkan warna cantik salju terkikis di sekitar pintu masuknya dengan cairan legam.


 


Bau busuk sudah menyengat hidungku. Menusuk-nusuknya seperti jarum kecil. Aku harus menjepit hidungku saat memasuki gua tersebut.


 


Cairan hitam itu mengisi sepanjang jalur gua, sehitam dindingnya yang lembap dan licin. Semakin ke dalam, semakin aku tak bisa membuka mulutku untuk membalas celotehan Aeron. Aku menggunakan sihirku saat cahaya sudah meninggalkanku sendirian. Berjalan menuju kegelapan.


 


Benar-benar terasa seperti dunia lain. Aku terus merasakan perasaan yang aneh dan ngeri dengan tempat ini. Jantungku terus memompa darah ke seluruh tubuhku agar aku terus tersadar akan kemungkinan yang terburuk. Bau sangit semakin tajam, itu bahkan menusuk hingga ke belakang kepalaku. Berulang kali aku terus merasa ingin memuntahkan semua isi makan siangku.


 


Tepat sebelum itu, ujung gua sudah buntu. Di sebuah ruangan yang lebih lebar daripada lorongnya tersebut, tulang-tulang berserakan. Aku bahkan tak ingin memikirkan tulang apa itu. Beberapa tulang itu sudah tak terbentuk dan nyaris menenggelamkan sepatu botku.


 


Tak hanya tulang, aku juga menemukan sesuatu yang lain, yang langsung membuat leherku bergidik. Lukisan sesosok pria bertopi dengan memegang tongkat dan tas. Dilukis dari zat hitam yang sama dengan tulisan yang kutemukan di rumah Elfor. Hanya saja, ada coretan merah lain yang menyilang di lukisan pria itu.


 


“Siapa sebenarnya pria ini?” tanyaku menebak-nebak.


 


“Lukisan itu, bisa kau jelaskan lebih padaku,” Aeron mendesak. Tampaknya ia lebih mempedulikan lukisan itu daripada suaraku yang terdengar aneh.


 


“Tak ada yang lain, hanya topi tinggi, tongkat dan tas di kedua tangannya. Juga ada tanda silang,” aku menjelaskan ulang.


 


Setelah menemukan lukisan tersebut, aku berpikir, mungkin saja ada jejak lainnya yang tersembunyi di kuburan gua ini. Cahaya di ujung tongkat berganti biru, lalu aku mengayunkannya di udara, dari kiri ke kanan. Cahayanya mengisi ruangan. Kegelapan menyembunyikan apapun, tapi cahaya biru mengungkapkan segalanya.


 


Semua menjadi terlihat oleh mata telanjang. Dinding dipenuhi segala goresan dan tulisan yang bercahaya biru. Hingga ke langit-langit gua, makhluk yang bersembunyi dalam kegelapan itu melompat ke arahku. Terpapar oleh cahaya, makhluk itu langsung pergi setelah mendorongku ke timbunan tulang-belulang. Aku bisa merasakan cakar tajamnya yang berusaha menusukku saat mendorong tubuhku. Meskipun jubahku tak bisa ditembus, rasanya tetap sangat menyakitkan.


 


“Apa yang terjadi? Aku mendengar geraman dan suara tulang patah,” ucap Aeron yang panik.


 


“Aku tak tahu, tapi yang jelas, bukan tulangku,” balasku merintih kesakitan.


 


 


Di lapangan bersalju, aku berhenti. Jejak makhluk itu menghilang begitu saja di sini. Jika aku membiarkannya, korban akan bertambah lebih banyak. Aku berulang kali mengayunkan tongkat di udara, membongkar penyamaran makhluk itu yang bersembunyi di kegelapan.


 


Aku melihat ke arah langit yang kini pucat. Mengaburkan pucuk-pucuk pohon seolah menelannya. Salju turun semakin lebat, dan saat itu aku tahu kalau badai salju sudah tiba. Pandanganku semakin buram, aku tak ada pilihan lain untuk menggunakan kompas. Penunjuk di kompas itu terus bergeser ke kanan searah jarum jam, aku mengikutinya. Lalu, dengan cepat berganti ke arah kiri, berlawanan jarum jam. Aku segera menodongkan tongkat sihirku.


 


Makhluk itu mengincarku. Mengintaiku dari bayang-bayang badai salju dan pohon yang lebat. Aku bisa merasakannya, perasaan yang sama dengan yang dikatakan kekasih Elis. Makhluk itu disekitarku, bergerak dengan sangat lincah melewati sudut pandangku. Jika mataku tak bisa mengikuti gerakan makhluk itu, maka aku harus mempercayai Aeron.


 


Penunjuknya sekarang mengarah ke selatan, tepat di belakangku. Aku menarik nafas sebentar, lalu dengan cepat berbalik dan mengarahkan bongkahan es tepat ke perut makhluk itu yang melompat ke arahku. Makhluk itu masih bisa bergerak meskipun telah menerima seranganku dan menabrak pohon dengan keras.


 


Aku menumbuhkan semacam duri es di sepanjang jalannya, dengan refleksnya yang sangat cepat, makhluk itu berhasil menghindarinya. Aku bisa melihat cakarnya yang panjang terjuntai dari lengannya. Cakarnya itu diarahkan kepadaku seperti menghunus pedang. Angin dan butiran salju berputar menjadi sebuah arus saat kuputar tongkatku dengan cepat. Makhluk itu seketika terombang-ambing di udara seperti terbawa arus laut, berputar, dan terjatuh melewatiku.


 


Kesempatanku satu-satunya sebelum makhluk itu kembali melarikan diri. Kubuat salju di sekitarnya menjadi genangan air. Lalu, dengan sihirku, aku membekukan genangan air itu, termasuk makhluk itu hingga menjadi sebuah bongkahan es besar.


 


Meski dalam dinginnya es, yang membekukan waktu, udara disekitarnya masih menyengat tenggorokanku. Jika saja aku lebih lemah, mungkin aku tak akan bisa berdiri lagi untuk melihat makhluk ini menghabisiku. Sekilas, makhluk itu memang tampak seperti manusia biasa, namun tubuhnya kurus kering, dan kulitnya hitam. Matanya semerah darah, bulat dan menonjol keluar, tatapannya penuh nafsu haus darah. Barisan giginya tidak seperti manusia, lebih mirip makhluk buas.


 


Tubuhnya lebih pendek dariku, tapi lebih gesit. Selama pertempuran tersebut, aku sempat berpikir bahwa makhluk ini datang dari kegelapan itu sendiri. Namun, setelah menemukan secarik kertas yang ikut membeku dalam es, aku menarik kembali kesimpulanku tersebut. Kertas itu berisi nama-nama warga kota yang dilaporkan hilang dan dicoret dengan warna merah. Bukti itu membuatku percaya bahwa makhluk itu adalah Elfor.


 


Elfor adalah seorang penyihir. Aku berasumsi jika ia menggunakan semacam sihir yang merubahnya menjadi seperti monster, dan membunuh siapapun yang telah bersikap kasar padanya. Jika benar, sihir semacam itu benar-benar luar biasa, tetapi juga begitu mengerikan. Atau mungkin, sosok pria berbaju hitamlah yang mengubahnya menjadi seperti ini. Aku ingat dengan coretan biru di dinding gua, bertuliskan peringatan dan pesan agar tak berurusan dengan pria berbaju hitam tersebut.


 


“Apa kau akan memberitahu penjaga itu mengenai hal ini?”


 


“Tak ada yang menyukai Elfor. Mereka tidak akan peduli dengannya, atau malahan mereka akan semakin membencinya. Aku tidak akan berkata ini ulah Elfor, aku hanya akan memberitahu tentang penemuan tulang-belulang itu. Dengan begitu, mereka bisa memakamkan para korban dengan layak,” jawabku.


 


“Lalu, bagaimana dengan makhluk itu … Elfor. Apa yang akan kau lakukan padanya?”


 


“Aku akan mengakhirinya dan menghapus semua jejaknya.”