Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Desa pertamaku



Setelah aku meninggalkan kelinci itu, aku justru semakin penasaran dengan Vulkoliak tersebut. Vulkoliak tidak muncul secara begitu saja dengan alami. Dengan kata lain, ada seseorang yang melakukannya.


Jika Vulkoliak itu berkeliaran disini, seharusnya penyihir yang menciptakannya tidak jauh, kecuali, Vulkoliak itu sudah lama berkeliaran sebelum aku menemukannya.


Andaikata memang ada sosok penyihir jahat yang suka mengutuk orang menjadi monster, bertanya ke penduduk sekitar mungkin salah satu pilihan yang baik. Ibu berkata, jika tak jauh dari hutan ada sebuah desa kecil. Maka kesanalah aku akan pergi.


Sebuah jembatan reyot melintasi sebuah sungai yang membeku. Sungai itu tampaknya bermuara di pesisir Laut Beku. Aku bahkan tak perlu melewati jembatan yang tampaknya tak akan bertahan lama. Aku hanya melangkahkan kakiku ke sungai yang membeku tersebut.


Tak jauh dari sungai itu, tampak sebuah desa yang lebih sepi dari yang aku duga. Desa itu terdiri dari 6-10 rumah yang mengelilingi sebuah sumur di tengahnya. Desa itu tak memiliki pagar atau gerbang atau penjaga. Desa itu benar-benar terbuka. Apakah itu wajar bagi desa kecil?


Aku benar-benar gugup. Ini pertama kalinya aku memasuki sebuah pemukiman. Ini juga pertama kalinya aku bertemu dengan orang lain. Aku bingung harus melakukan apa. Mungkinkah menyapa dengan ramah? Apa aku harus mengucapkan permisi saat memasuki desa?


Saat aku tampak seperti orang yang aneh dengan tingkah yang mencurigakan, seorang pria berjalan ke arahku. Pria itu memiliki dua kaki, dua tangan, rambut pendek, hidung, dua mata dan pakaian tebal. Ternyata seperti itu wujud orang lain. Benar-benar tampak sama sepertiku dan ibu. Aku mengagumi pria yang pertama kali kulihat itu seakan aku mengagumi seorang artis. Aku harus berani.


“P-permisi tuan, a-aku….” Orang itu tak mengacuhkanku. Ia hanya melewatiku begitu saja seolah-olah aku tak ada.


Apa suaraku kurang keras? Atau mungkin orang itu mengalami gangguan pada pendengarannya?


Aku pun memasuki desa itu dengan gugup. Aku tidak tahu apakah orang luar diperbolehkan untuk masuk. Lagipula, desa itu tampak sesepi desa mati. Tak ada kegembiraan, tak ada suara yang memecah dingin, sangat sunyi. Atau mungkin aku datang di waktu yang tidak tepat.


Di dalam desa itu, tak begitu banyak warga yang beraktivitas di luar. Aku mendekati seorang wanita gemuk yang sedang memindahkan sebuah kotak kayu ke gerobak.


“P-permisi, nyonya, bolehkah kuminta waktunya sebentar? Aku hanya ingin bertanya sesuatu….”


“Pergilah. Aku sibuk,” kata wanita itu cuek. Ia masih sibuk bolak-balik mengangkat sejumlah kotak kayunya.


Melihat ibu itu yang tampak kerepotan, aku menggunakan sihirku untuk membantunya. Aku menerbangkan salah satu kotak itu dan meletakkannya di gerobak.


Wanita itu berbalik, tapi dia tak menunjukkan wajah senang dan bersyukur atas bantuanku. “Jadi, kamu seorang penyihir?” tanyanya sinis.


“Ya, aku tinggal di ujung tebing sana,” jawabku.


“Maksudmu Tebing Penyihir? Jadi, kamu putri penyihir itu,” wanita itu mendengus.


‘Penyihir itu’ kurasa maksudnya ibuku. Syukurlah mereka mengenalnya. Aku mengangguk dengan senang. “Ya, ya. Penyihir itu ibuku. Aku dibesarkan olehnya.”


“Kami tak menganggap wanita keji itu seorang penyihir. Pergilah! Aku tak mau berurusan dengan yang namanya penyihir!”


Apa barusan dia mengusirku? Dia barusan mengatakan ibuku keji lalu mengusirku begitu saja? Kesalahan apa yang kubuat padanya? Aku bahkan membantunya memindahkan kotak-kotak itu dan ia tak berterima kasih padaku. “Kamulah wanita keji yang sebenarnya!” gumamku kesal. Aku meninggalkan wanita tak tahu diri itu. Seharusnya aku tak membantunya tadi.


Memangnya, apa yang telah ibu berbuat padanya? Tak mungkin kan, ibu yang selembut dan seramah ombak laut yang tenang itu berbuat keji ke orang lain. Ibu mungkin bisa saja bersikap tegas, tapi ia melakukannya karena memang harus. Ibu bukan orang yang jahat, wanita itu yang jahat. Mungkin aku harus menunjukkan wanita itu sosok ibu yang lembut.


Di sumur yang menengahi para rumah warga, terdengar suara tangisan kecil di baliknya. Aku menghampirinya dan mendapati seorang anak kecil yang duduk menangis tersedu-sedu. Kulihat salah satu lututnya terluka.


“Hei, biar kusembuhkan.” Aku menjatuhkan lututku di tanah dan mengarahkan tanganku ke lututnya. Sebuah cahaya putih yang hangat bersinar dari telapak tanganku. Seketika, luka itu tertutup rapat dan sembuh secara ajaib. “Apa sudah tidak terasa sakit? Apa yang terjadi?” tanyaku berusaha menenangkan tangisan anak itu.


Anak lelaki itu berhenti menangis, tapi tiba-tiba bangkit lalu pergi begitu saja. Aku terheran-heran. Apa kata ‘terima kasih’ tidak eksis di desa ini?


Usahaku untuk mencari informasi tidak berjalan mulus, padahal aku hanya ingin beramah-tamah saja, tapi mereka sudah pergi duluan. Aku berpikir untuk berusaha lebih keras lagi. Desa ini terlalu dekat dengan tempat aku bertemu Vulkoliak. Mereka seharusnya menyadarinya dan waspada dengan sekitar.


Oh, aku mengerti! Mereka mungkin menjauhiku karena mereka waspada dengan orang luar. Kalau begitu, mereka lebih dulu tahu dari diriku akan keberadaan Vulkoliak itu. Itu memang tindakan yang benar, tapi….


Tepat di sebelah kiriku, tak jauh dari sumur, mataku mendapati sebuah rumah dengan papan bertandakan kedai. Tak perlu memikirkannya lagi, aku harus mencoba untuk pertama kalinya sebuah suasana kedai yang katanya ramai dan hangat itu. Aku membuka pintu, dan yang kudapati justru sebaliknya.


Tempat ini tidak ramai, ini sangat sunyi. Padahal, aku bisa melihat 4-6 pelanggan di dalamnya. Tempat ini juga tidak hangat, ini dingin. Dingin karena tak ada interaksi sedikitpun yang membuat kedai itu hangat. Orang-orang disana hanya duduk sendiri di meja yang berjauhan dan berbeda, serta sibuk menghabiskan makanan mereka. Bukankah desa ini kecil? Seharusnya mereka sudah saling akrab dan tak bersikap canggung seperti yang kulihat sekarang. Ini bukan kedai, ini kuburan!


Tempat apa ini? Apa benar ini kedai seperti pada buku-buku?


Aku memutuskan untuk duduk di meja panjang yang terhubung langsung ke pelayan. Pelayan itu tak mengucapkan kata selamat datang atau menanyakan apa yang ingin kumakan padaku? Rambut pria itu pendek dan alisnya tebal dengan ujungnya yang turun ke pangkal hidung seperti air terjun. Kurasa umurnya tampak sudah cukup untuk memiliki sebuah keluarga. Pria itu hanya duduk saja sebelum akhirnya aku yang memulai pembicaraan.


“Permisi ... maaf, tuan, aku baru saja datang di desa ini. Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan saja?”


Pelayan itu menatapku dengan sinis. “Jika ingin bertanya, kamu harus memesan dulu.”


“Oh, tidak, aku tidak lapar. Aku hanya ingin bertanya saja sebentar. Setelah itu aku akan pergi,” aku berusaha menjelaskan.


“Tidak memesan, tidak ada pertanyaan,” ucapnya mengacuhkanku.


Pria ini berusaha memerasku. Aku tahu tidak ada peraturan semacam itu disini. Ia hanya ingin mengambil untungnya saja. Tapi, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. “Baiklah, kalau begitu … aku ingin memesan sepotong roti mentega. Apa disini ada?”


“Ya. Ada.” Pria itu beranjak dari kursinya dan menuju ke belakang, yang mungkin saja itu dapurnya.


Aku memilih untuk memesan yang murah saja. Roti mentega itu cukup mengenyangkan walaupun harga yang tertera di papan menu hanya sebesar 5 keping Pengrium perak.


Aku menunggu pelayan itu dengan sabar. Aku menunggu cukup lama padahal aku hanya memesan satu roti yang diolesi mentega saja. Apalagi suasana sepi di kedai ini yang ikut membuatku canggung. Untuk mengatasinya, aku mengambil bukuku lagi dan menuliskan ceritaku selama di desa ini.


“Masih di hari pertama.


Malam ini, aku mengunjungi desa pertamaku.


Ini cukup buruk, menurutku.


Pertama, ibuku di ejek oleh wanita jelek yang tak tahu berterima kasih.


Kedua, aku membantu anak kecil tapi diabaikan begitu saja.


Dan sekarang, aku dipaksa untuk memesan makanan untuk sebuah pertanyaan.


Sangat konyol, bukan?”


Tak perlu menunggu lama lagi, pelayan itu datang. Aku bisa merasakan kalau dahiku berkerut-kerut keheranan. Bagaimana tidak, ia datang memberikanku steik daging yang tidak kupesan.


“Maaf, tuan, sepertinya anda salah orang. Aku tidak memesan ini.”


“Tidak. Kamu sebelumnya bilang memesan steik daging-”


Aku menyerahkan steik itu ke pelayan tersebut. “Kubilang, aku memesan R-O-T-I-M-E-N-T-E-G-A. Ambil kembali steik ini!” sergahku mulai kesal.


“Apa kamu serius!?” ia menatapku marah. Suara kerasnya membuat semua orang di kedai itu memperhatikanku. “Jika pesanan sudah datang, kamu harus membayarnya. Itu peraturannya!”


Aku tak peduli lagi dengan pertanyaan yang ingin kuajukan. Aku tidak peduli lagi tentang Vulkoliak itu atau warga desa disini. Aku pergi dari tempat ini.


Saat aku ingin pergi, sebuah genggaman yang kasar dan kuat menahan lenganku. Pelayan itu mencengkeram lenganku dengan kuat. “Kamu harus membayarnya. 20 Pengrium perak! Atau…” Ia lalu mendekati wajah jeleknya ke dekatku. “Kamu bisa membayarnya dengan hal yang lain,” bisiknya membuatku merinding.


Aku merogoh tasku dengan menyerahkan 20 Pengrium perak padanya dan segera pergi. Pria itu aneh! Wanita itu aneh! Anak kecil itu juga aneh! Seluruh desa ini aneh! Aku tak tahan lagi. Lebih baik aku meninggalkan tempat ini untuk selamanya.


Kenapa semua orang disini bersikap aneh sekali? Apakah orang luar sepertiku layak untuk diperlakukan seperti ini? Lalu, bukankah ibu berkata padaku kalau dia sering mencari bahan makanan di desa ini? Apa ibu juga diperlakukan sama sepertiku? Atau desa yang di maksud ibu itu berbeda? Seharusnya aku bertanya pada ibu sebanyak-banyaknya. Aku tak ingin kejadian seperti ini terulang kembali di tempat lainnya yang akan ku kunjungi kelak.


Aku tidak keberatan jika ada penyihir jahat yang mengutuk mereka semua menjadi Vulkoliak. Ini tempat yang tidak akan kukunjungi untuk kedua kalinya. Aku sudah muak.


“Permisi, nona. Apa nona baik-baik saja?”


“Apa maumu!?” aku membentak saat ada orang lain yang menepuk pundakku.


“Lalu?”


“Mohon terima ini,” ia menyerahkan 20 Pengrium perak padaku. “Pelayan kedai itu berbuat salah pada nona. Jadi, dengan ini, kuharap aku bisa mengganti kerugian yang nona alami.”


“Untuk apa? Kamu tidak berbuat apapun padaku. Seharusnya pelayan itu yang harus merasa bersalah!”


“Kumohon, nona. Jangan menyalahkannya. Anggap saja hadiah ini sebagai permintaan maafnya,” ia masih berusaha keras memohon padaku.


Aku mengamati lelaki itu dengan heran. “Katakan. Kenapa kamu membelanya?”


“Karena pelayan itu … ayahku.”


Aku baru menyadarinya. Lelaki ini berbeda dengan yang lainnya. Ia yang memulai percakapan dan ia pula yang merasa bersalah. Ia lebih ramah daripada 3 orang yang kutemui sebelumnya. Kurasa tak masalah untuk berbicara dengannya.


Lelaki ini baik, tapi aku masih bertanya-tanya padanya, “Kamu tahu yang ayahmu lakukan itu salah, tapi kenapa membelanya? Kenapa kamu tak memarahi ayahmu?”


“Itu karena … mereka terpaksa melakukannya.”


Terpaksa? Jawaban konyol macam apa itu. “Apa maksudmu dengan terpaksa?”


“Sebenarnya ini terjadi saat aku kecil. Desa ini sebelumnya sangatlah ramah dan penuh kehangatan. Pengelana yang datang di sambut dengan baik, gelak tawa mengisi setiap rumah, tak sesunyi seperti sekarang, tetapi itu sebelum seorang penyihir datang,” kata lelaki itu.


Aku mulai mendengar ceritanya baik-baik saat sebuah kata ‘penyihir’ disebutkan. Kata itu merujuk pada satu-satunya di pikiranku, ibuku. Ibu sudah hidup sangat lama, jika berkaitan dengan masa lampau dan penyihir, otomatis aku akan memikirkan ibuku.


“Apa penyihir itu seorang wanita?”


“Wanita? Maksudmu penyihir yang tinggal di Tebing Penyihir itu?”


“Ya, itu ibuku.”


“Oh, bukan dia. Penyihir ini seorang pria. Dengan topi tinggi hitam dan setelan jas hitam. Pria itu membawa tongkat jalan dengan kepala serigala di gagangnya. Penampilan yang aneh untuk Orang Utara. Warga desa mengira jika pria itu adalah pengelana. Tetapi, saat para warga menjamunya dengan keramahan, penyihir pria itu mengutuk semua orang untuk menjadi dingin dan kejam. Dan seperti sekarang, semua warga desa tidak akan bisa bersikap ramah lagi. Termasuk ayahku.”


Penyihir yang mengutuk orang. Tampaknya memang penyihir ini orang yang jahat. Dan juga penjelasan lelaki itu tentang tongkat serigalanya membuatku berpikir. “Apa dia yang mengutuk orang-orang menjadi Vulkoliak?”


“Vulkoliak? Aku tak tahu. Tapi, yang jelas, warga kami tak ada satupun yang berubah menjadi monster, hanya sifatnya saja yang berubah.”


Sulit dipercaya, tapi penjelasan itu membuatku memahami kondisi desa. Bukan berarti aku harus memaafkan sikap mereka padaku. Mereka seharusnya berhati-hati dengan orang luar yang datang. Jika tidak ada yang menjelaskan hal ini, aku mungkin tertelan oleh kemarahanku sendiri dan bisa saja aku melukai warga desa.


Urusanku dengan desa ini sudah selesai. Aku pun menerima Pengrium lelaki itu. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan kuambil hadiah permintaan maafmu.”


“Jika aku boleh tahu, nona penyihir mau pergi kemana?”


“Sebenarnya, aku ingin berkelana ke berbagai tempat, jadi aku akan pergi ke timur terlebih dahulu.”


“Kalau begitu, bagaimana jika aku mengantar nona? Aku seorang pedagang.”


Aku berpikir. Selama aku berkelana, adanya transportasi akan menjadi lebih mudah. Lagipula, tidak buruk juga ada seorang teman yang menemani perjalanan. “Berapa yang harus kubayar?”


“Tidak perlu bayar. Aku berniat untuk memberikan nona tumpangan gratis.”


Astaga, lelaki ini sangat baik. “Baiklah, aku mau,” kujawab dengan penuh semangat.


Setelah aku menunggunya di luar desa, terdengar sebuah hentakkan langkah kaki dan suara derakan roda. Kulihat dua ekor kuda coklat yang menarik sebuah kereta dengan tenda putih. Lelaki itu melambaikan tangannya padaku di kursi depan. Ia lalu mengulurkan tangannya padaku. “Biar kubantu.” Sungguh lelaki yang baik.


Aku meraihnya tangannya yang kasar untuk naik ke kursi yang tinggi itu, lalu duduk di sebelahnya. Lelaki itu segera memacu kudanya ke jalan setapak yang lebar. Topi runcingku tampaknya terlalu lebar, jadi agar topiku tidak menganggu lelaki itu, aku melepasnya dan meletakkannya di pangkuanku.


Kami melewati hutan yang sangat panjang. Karena sudah larut malam, hutan itu menjadi sangat gelap dan aku selalu merinding jika memikirkan ada hantu atau monster lainnnya yang mengintai di hutan itu. Beruntungnya, kereta ini memiliki satu lentera yang tergantung di atasku dan satu lagi menjulur ke depan di antara kuda. Aku masih bisa melihat sepasang kuda coklat yang tak kenal lelah dan lelaki di sebelahku.


Lelaki itu tampak muda dan segar dengan tunik putihnya. Rambut pendeknya berwarna hitam. Kurasa umurnya sekitar 20 tahun dilihat dari wajahnya. Entahlah, aku hanya asal menebak. Tangan lelaki itu kasar, jadi aku tahu kalau ia pasti sudah berpengalaman menyetir kereta ini. Mungkin hanya rambutnya saja yang mirip dengan ayahnya, selain itu tidak. Aku bahkan terkejut saat ia mengatakan kalau pelayan kedai yang mengjengkelkan itu ternyata adalah ayahnya.


Aku melirik ke belakang dan desa itu sudah lenyap dalam kegelapan. “Hei, apa tak masalah, kamu meninggalkan desa itu? Bagaimana jika ada Vulkoliak lainnya?” tanyaku pada lelaki itu yang sibuk memegang tali kudanya.


“Tenang saja, meskipun mereka bersikap dingin, mereka sudah sering menghadapi serigala atau beruang. Kemampuan mereka dalam bertahan hidup tidak bisa diremehkan.”


“Jika kutukan itu menyebar ke seluruh penduduk bahkan ke keturunan mereka, tapi kenapa kamu berbeda? Kamu tidak dingin padaku, kamu justru ramah dan baik,” heranku.


“Mungkin karena saat penyihir pria itu datang, aku sedang tidak berada di desa.”


“Begitu ya…,” ucapku dengan ujung yang mengambang.


Dengan kemampuanku yang sekarang, aku tak bisa mengangkat sihir kutukan itu, tapi seharusnya itu mudah bagi ibu. Lalu, kenapa ia tak mengangkatnya? Apa ibu belum tahu akan kutukan itu?


Aku tersadar saat benang merah tiba-tiba terhubung di pikiranku. Dan satu-satunya yang bisa menjelaskan benang merah itu adalah lelaki di sebelahku.


“Apa para warga dulu pernah meminta bantuan ke ibuku, maksudku, penyihir di tebing?” aku menyimpulkan ini atas perkataan wanita desa itu yang mengatakan kalau ibuku adalah wanita yang keji.


“Hm. Pernah. Mereka sudah sering meminta bantuan ke Penyihir Tebing itu. Tapi, semua permintaan mereka ditolak. Bahkan saat para warga dikutuk, penyihir itu tutup mata. Ia lalu membuat lapisan pelindung yang mengelilingi rumah tebingnya untuk mencegah kami masuk.”


“Apa kamu tahu alasan penyihir itu tidak membantu para warga?”


Lelaki itu menatapku dengan heran, “Bukankah nona putrinya? Seharusnya nona lebih tahu dariku.”


Aku juga menanyakan hal yang sama. Ibu merahasiakan banyak hal padaku. Hidupnya lebih lama dariku, jadi, kurasa itu wajar untuk tidak menceritakan semua hal yang pernah ia alaminya. Namun, setelah aku terlibat dengan salah satu rahasianya ini, aku justru semakin penasaran.


“Sebelum kedatanganku ke desa, apa Penyihir Tebing itu datang terlebih dulu?”


Lelaki itu menggeleng. “Tidak. Kami sudah lama tidak melihatnya keluar.”


Sudah kuduga! Ibu mencurigakan! Lihat apa yang telah ibu perbuat, desa pertama yang kukunjungi malah memberiku pengalaman yang buruk. Aku sekarang malu melihat diriku sendiri, aku malu melihat lelaki di sebelahku itu. Ibu tahu? Ibu membuat ayah lelaki itu bersikap buruk padaku. Dan putranya malah memberiku hadiah permintaan maaf.


“Aku putri Penyihir Tebing yang keji itu. Apa kamu tidak marah padaku?”


“Ah, tidak.” Sambil menyetir kudanya, ia masih bisa merespon pertanyaanku. “Dari ekspresi nona, nona benar-benar tidak tahu perbuatan Ibu nona. Jadi, aku tidak bisa marah begitu saja atas perbuatan yang tidak diketahui.”


Entah mengapa, mendengar ucapannya, aku seketika merasa lega. “Kamu benar-benar lelaki yang baik.”


“Terima kasih, nona.”


“Jadi, k-karena aku … belum pernah memiliki t-teman sebelumnya … bi-bisakah kita … bisakah kita berteman?” tanyaku gelagapan, juga masih merasa malu.


“Ya, tentu saja.”


Aku tersenyum puas. Aku merasa seolah-olah mencapai sebuah titik kemenangan. Semua kekesalanku sebelumnya yang menumpuk bagai gunung api, seketika hilang. Aku merasa sangat gembira. “Benarkah? Kalau begitu, jangan panggil aku nona lagi, panggil aku, Niva.”


“Baiklah, Niva, panggil aku Edras,” lelaki itu tersenyum ke arahku.


Tak bisa kupercaya. Aku akhirnya memiliki teman!


Ibu, aku mendapatkan teman pertamaku!