
Disinilah aku, sibuk menulis catatan untuk buku perjalananku. Sudah sebulan lebih sejak aku meninggalkan rumah dan berambisi mengembara. Ada banyak kisah menarik yang sudah kutuliskan dengan detil di bukuku. Pengalaman sebulanku ternyata masih kurang untuk memenuhi setengah isi buku. Kurasa halaman terakhir ini masih akan kosong setelah aku mencapai tujuan akhirku. Duh, bodohnya aku. Dunia itu luas. Seluruh dunia tidak bisa hanya dituliskan dalam satu buku saja. Setidaknya aku memerlukan ratusan atau lebih buku kosong untuk mencatat setiap perjalananku. Kalau begitu, sebaiknya aku jaga-jaga membeli beberapa buku baru saja saat nanti sampai di kota. Jika aku bisa sampai di kota.
Sekarang aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri, enaknya harus darimana kumulai menulis kisah baruku ini? Aku menatap langit yang padat sambil mengetuk-ngetuk penaku di pipiku. Suara ketukannya yang kecil bahkan bergema menjadi lantang, tapi aku menghiraukannya.
Sebenarnya suasana di sini cukup tenang, atau bisa dibilang terlalu sepi. Tidak ada suara apapun selain ketukan penaku dan desah nafasku. Suara dari luar tak bisa masuk. Terhalang oleh langit-langit es yang mengurungku ini. Suasana seperti ini sebenarnya sangat nyaman untuk membuat fokus seseorang meningkat tajam. Sayangnya, ini lebih sepi daripada yang kuduga. Aku merasa seolah-olah menjadi satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di dunia ini.
Aku tersentak. Seperti lampu yang dinyalakan oleh sakelar. Muncul sebuah ide di kepalaku yang sedang kosong ini. Aku bisa memulai dengan menjelaskan situasiku sekarang ini. Ide yang tidak buruk juga. Aku langsung menekuk lututku untuk menjadi alas bukuku, lalu mulai menulis di ujung kiri atas halaman.
Disinilah aku. Terjebak di tempat yang asing dan tertutup. Benar-benar tertutup seperti tidak ada jalan keluar satupun. Tidak sepenuhnya tertutup, sih. Ada satu jalan yang kugunakan secara tidak sengaja untuk sampai ke tempat ini. Akan tetapi, jalan itu hanya untuk satu arah saja. Bisa dibilang aku tidak bisa kembali. Aku terkurung di suatu gua es yang berada puluhan atau mungkin ratusan kaki di bawah permukaan tanah. Aku tak bisa melihat langit malam dan tak ada lagi salju di sini.
Aku sekarang bingung. Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari tempat ini? Aku tak bisa semudah itu menggunakan sihir untuk membuka jalan karena langit akan runtuh dan menimpaku. Aku tidak tahu seberapa dalam tempatku berada sekarang. Jadi, akan sangat beresiko jika aku membuat jalanku sendiri.
Di tempatku duduk bersandar hanya ada lantai es, langit es dan dinding es. Semua yang kulihat adalah es. Tak ada hewan atau buah yang bisa kujadikan makanan. Juga tak ada kasur untuk tidur. Namanya juga terjebak, apa yang bisa kuharapkan.
Kalau tidak salah hitung, aku sudah berada di gua ini selama satu jam. Dan selama waktu tersebut, aku tidak panik. Ibuku memberitahuku untuk jangan panik jika dalam kondisi yang berbahaya. Mungkin karena kepercayaan diriku atau harapanku atau karena sudah sifatku sendiri aku tak begitu mempusingkannya. Aku bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Toh, aku tidak perlu mengkhawatirkan suhunya. Aku seratus persen kebal dingin. Bekal kueku juga masih cukup untuk tiga hari ke depan. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan. Oh, mungkin ada satu yang harus kukhawatirkan. Yaitu rasa bosan. Karena hanya berisi es, aku akan lebih cepat merasa bosan. Aku akan memikirkan masalah itu setelah aku menyelesaikan tulisanku. [Catatan: Ini PENTING!!!]
Kemudian, tentang bagaimana caraku sampai di gua ini. Yah, sebenarnya ini cukup lucu. Aku mengalami nasib sial gara-gara pertengkaran sepele. Dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan si kompas tukang menghakimi. Jadi begini ceritanya ….
Aku menengokkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, sambil berjalan di hutan yang tidak kukenali ini. Mataku menelusuri celah tiap pepohonan dan apapun yang bersembunyi di bayangannya. Berjaga-jaga jika ada sesuatu. Merasa aman, aku mengeluarkan tongkat sihir dari tas selempangku, lalu melambaikannya di udara. Berbondong-bondong sejumlah sampah yang berserakan di tanah melayang di depanku. Sampah-sampah itu masih bagian dari alam seperti: ranting kayu, daun, batu, bunga, butiran salju, dan rerumputan. Benda-benda itu bergerak berputar saat aku memutar tongkatku, lalu meliuk-liuk saat aku menggerakkan tongkatku lagi.
Ranting-ranting itu saling menyusun dan menjadi sebuah figur. Batu kecil menjadi kepala mereka. Ada tiga figur manusia kecil yang kubuat. Ada yang memakai bunga sebagai mahkotanya dan ada yang memakai daun lima jari sebagai jubahnya.
Kompas yang kuletakkan di saku bajuku bertanya saat aku sibuk membentuk bentuk-bentuk dari sampah, “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku bosan. Jadi, aku sedang mengadakan pertunjukan kecil-kecilan dari bahan-bahan seadanya menggunakan sihirku.”
“Pertunjukan boneka sihir? Kurasa akan kaku jika digerakkan dengan sihir.”
“Kau berpikir begitu karena kau belum melihatnya,” ucapku mencoba menghiraukannya dan melanjutkan hiburan ala kadar tersebut.
“Kalau kau bosan, kenapa tidak terbang saja dengan sihirmu langsung ke kota? Sihirmu dapat melakukan itu, kan?”
“Tidak. Dari dulu, mau bagaimana pun aku berusaha, entah apa penyebabnya aku selalu kesulitan saat terbang dengan sapu sihir. Sihir memang bisa melakukan banyak hal, tapi berat kukatakan, tidak semua hal dapat diselesaikan dengan sihir. Lagipula, mengembara tanpa menggunakan sapu sihir membuatku bisa lebih menikmati dan mengagumi setiap detil dunia dengan lebih jelas,” jawabku.
“Pintar juga bicaramu. Kau hanya merasa malu pada dirimu sendiri yang merupakan putri seorang penyihir hebat tapi tidak bisa menggunakan sihir terbang, kan? Akui saja!” desaknya.
Aku yang sibuk berjalan sambil menggerakan alur pertunjukan dengan sihirku hanya bisa tersenyum mendengar protesannya. Mau bagaimana lagi, semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Makanya itu aku menjadi penyihir nomor dua setelah ibuku. Jika aku tidak memiliki kekurangan, maka aku sudah melampaui ibuku. Sangat menyenangkan rasanya, tapi sangat disayangkan, kenyataan tidak seindah itu.
“Kau mungkin tidak bisa melihatnya karena keberadaanmu yang kecil, tapi ada banyak hal yang layak untuk diapresiasi dalam diriku daripada yang dicela. Seperti wajahku, kulitku, mataku, ram-”
Sungguh, aku terkejut. Tak bisa kupercaya dia tiba-tiba menasehatiku dengan begitu panjang selayaknya ibuku. Apa yang telah merasuki benda mungil itu?
Berikut setelahnya, bisa dibilang kami terus mengoceh satu sama lain. Dia terus mengurusi soal kekuranganku sementara aku membela diriku sendiri. Sejujurnya, pembicaraan ini memang tidak ada gunanya bagiku. Pada akhirnya, aku akan terus maju melangkahkan kakiku dan tak akan pernah melihat ke belakang lagi. Aku merasa dengan membawa perasaan bahagia akan membantuku lebih menikmati hidup. Akan tetapi, nada bicara yang benar-benar menusuk membuatku tak bisa diam hanya mendengarkannya begitu saja.
Kami terus menimpali masalah yang sangat tidak begitu penting seperti anak kecil. Setelah kupikir-pikir lagi, ini benar-benar tidak berguna sama sekali. Aku bisa saja memasukkannya kembali ke dalam tas dan menutup telingaku sendiri, tapi tak kulakukan. Semua balasan yang kami berikan terasa receh dan menggelikan. Untungnya, pertengkaran ini berhasil mengalihkan perhatianku daripada pertunjukan sihirku. Saking perhatianku teralihkan, aku sama sekali tak sadar saat aku menginjak sesuatu yang seharusnya tidak aku injak. Pasir salju yang kukira permukaan tanah yang padat, ternyata memiliki ruang di bawahnya. Aku yang terlalu sibuk mengurusi ucapan si kompas kehilangan keseimbangan dan terperosok jatuh ke bawah tumpukan salju palsu. Aku tergelincir dan meluncur di sebuah lorong es panjang yang terus membawaku semakin dalam. Sambil menahan topiku agar tidak lepas, aku berteriak. Teriakanku saling memantul dan kembali ke telingaku sendiri. Dan akhirnya, aku berhenti berteriak saat aku mendarat dengan sangat keras di tempat yang tampaknya ujung dari perosotan es tersebut.
Sejauh yang kuingat, aku pingsan saat itu. Bangun-bangun, aku sudah terjebak di dalam gua es tanpa ada jalan keluar. Aeron yang sebenarnya telah membangunkanku. Dari kesadaranku yang perlahan muncul sampai aku sepenuhnya bangun, dia terus meneriakkan namaku dengan panik.
Begitulah kisah dari apa yang sebenarnya terjadi dibalik gadis penyihir pengembara yang terjebak di dalam gua es.
“Kenapa kau tersenyum?”
“Bukan urusanmu,” jawabku singkat. Aku sedang tersenyum sekarang sambil menyelesaikan catatanku untuk saat ini.
Aku menutup bukuku lalu menengadah ke langit-langit gua sambil menghela nafas sedang. Telingaku tak menangkap bunyi satupun selain yang berasal dari diriku. Sulit menerima rasanya, tapi aku sempat membayangkan akhir perjalananku berakhir di gua ini. Apapun yang kupikirkan saat ini, tak membawaku keluar dari gua ini.
Setelah kuperhatikan lagi—karena hanya itu saja yang bisa kulakukan—gua ini ternyata tampak cantik. Pantulan warna biru esnya seperti memberiku ketenangan yang abadi. Aku merasa seperti ada di bawah laut sekarang.
Ada pepatah yang mengatakan, hal yang paling indah akan muncul saat akhir hidupmu semakin dekat. Aku tidak pesimis. Aku hanya melihat apa yang bisa kulihat sekarang.
Sambil membayangkan bunyi jam berdetik di telingaku, aku mengangkat Aeron ke dekat wajahku. Logamnya yang masih mengkilap terasa sangat dingin. Saat aku membuka penutupnya, terlihat bahwa utara ada di sebelah kananku sekarang. “Aku penasaran, apa kau bisa merasa mengantuk?” Pertanyaan itu muncul begitu saja karena aku merasa ingin tidur saat ini.
“Lagi-lagi, pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul dari mulutmu,” gerutunya. “Jawabannya tidak. Aku kompas. Aku hanya menunjuk arah yang kau mau. Yang membuatku berbeda aku bisa berbicara. Aku bisa terus-terusan mengulanginya jika kau lupa.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin mengobrol,” ucapku pelan. Kupejamkan mataku dan berharap saat aku bangun nanti, aku ada di kamarku.
Muncul sebuah getaran yang semakin lama semakin terasa jelas. Aku langsung membuka mata dan melihat langit, dinding dan lantainya yang ternyata bergetar. Bahkan tubuhku juga ikut bergetar. Jantungku ikut diguncang seperti berada dalam bola kaca mainan. Kemudian, getaran yang sangat besar terasa dari balik dinding es di depanku. Ada sebuah jeda di antara getaran itu. Seperti sebuah pola. Kalau tidak salah, ini seperti saat aku meninju dinding rumah. Getaran berikutnya menciptakan sebuah retakan di dinding. Retakan semakin menyebar menciptakan celah. Celah berangsur-angsur terbuka dan aku melihat sebuah cahaya. Di dinding depanku, terbuka sebuah lubang berukuran besar akibat benturan beruntun tersebut. Dan getaran itu berlanjut tapi lebih terasa di lantai. Aku melihat kaki yang sangat besar. Lebih besar daripada kaki manapun yang pernah kulihat. Kaki itu terasa sangat berat sehingga menyebabkan getaran hebat saat berpijak.
Aku langsung menghunuskan tongkat sihirku ke depan. Tak lama kemudian, pemilik kaki itu menampakkan dirinya dari balik debu dan reruntuhan es. Apa yang kulihat adalah bentuk dengan dua tangan dan dua kaki. Dengan bentuk menyerupai manusia, tapi memiliki struktur yang sangat berbeda. Struktur itu sangat familiar bagiku. Tubuh makhluk raksasa itu terdiri dari yang namanya mesin baja. Ya. Aku tidak salah lihat. Mesin baja yang berbentuk manusia raksasa dan mampu bergerak, bahkan menghancurkan dinding es.
Saat makhluk itu bergerak mendekat, bisa kulihat cahaya kuning terang di bagian tubuh atasnya. Cahaya itu berbentuk bulat, tersimpan di dalam lapisan baja seperti kuning telur dalam cangkangnya. Walaupun gerakannya kaku seperti boneka, tapi aku bisa hancur dalam sekali pukulannya seperti dinding es tersebut jika aku tidak melakukan sesuatu.
“Identifikasi … manusia. Gadis. Umur … tidak diketahui. Nama … tidak diketahui. Ancaman … tidak berbahaya.”
Tiba-tiba, makhluk itu mengangkat lengan bajanya ke arahku, lalu membuka keempat jari tangannya. Entah mengapa dan bagaimana, tapi aku merasa seperti ia sedang mencoba bersalaman denganku.