
Dan disinilah aku. Tinggal di rumah seorang pria yang baru saja kutemui sementara aku dilatih hingga siap. Bagaimana itu bisa terjadi? Ya, aku pun sendiri tak menyangkanya. Awalnya aku menolaknya dan ingin segera pergi dari sini. Aku masih tak bisa memercayai pria itu karena apa yang telah terjadi semalam. Tetapi, aku justru berakhir mengiyakannya dan dilatih olehnya.
Pria itu mengajariku semua hal yang diperlukan dalam bertahan hidup di alam liar. Setelah aku memikirkannya, kurasa ilmu seperti itu cukup penting bagiku yang ingin berkelana. Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, dan karena itu aku tak yakin bisa seterusnya hidup dalam dinding kota-kota yang nyaman. Dalam situasi yang terburuk, mungkin aku harus mencari tempat berlindung di alam liar.
Setelah kupikirkan juga, ada banyak hal yang tak ibu ajarkan padaku. Tapi, ibu berkata memperbolehkanku untuk keluar dari rumah dan menjelajahi dunia karena aku sudah cukup kuat. Kurasa aku harus memarahi ibu nanti.
Selama berhari-hari aku dilatih sangat keras olehnya, mengingatkanku pada latihan ibu. Pada hari pertama masih tak terlalu sulit, aku diajak berkenalan dengan hutan di dekat situ dan memahami seluk beluknya. Setelahnya, pria itu meninggalkanku dan menyuruhku untuk mencari jalan keluarnya sendiri.
Memang aku kesulitan pada awalnya, karena semua sisi hutan tampak sama bagiku. Aku pun terkena amarahnya karena menggunakan sihir untuk menerangi jalanku. Ia berkata kalau cahaya seperti itu justru akan mengundang hewan buas. Ia memarahiku begitu keras seperti dewa yang mengutuk manusia karena melanggar perintahnya. Kalau disuruh memilih, aku lebih suka amukan ibu. Kata-kata yang diucapkan pria itu selalu menusuk tepat di jantungku, seperti ‘lemah’, ‘ketergantungan’ dan ‘penakut’.
Hari berikutnya, pria itu menjelaskan cara mencari makanan di hutan. Salah satunya jamur. Ia menunjukkan padaku cara mengidentifikasi jamur yang bisa dimakan dan tidak. Jamur yang beracun biasanya memiliki warna antara merah, jingga, kuning, putih, dan abu-abu. Tapi, mengidentifikasi jamur beracun dari warnanya saja tidak cukup. Pria itu berkata kalau aku harus menjauhi jamur yang memiliki cincin di batangnya, jamur yang memiliki insang putih di bawah topinya, dan jamur yang berwarna merah. Memang aku akan melewatkan jamur yang bisa dimakan tetapi yang lebih penting aku tidak akan mendapatkan jamur yang beracun. Tempat jamur tumbuh dan aromanya juga harus diperhatikan. Ia lalu berkata jika aku tak yakin dengan jenis jamur yang kutemukan sebaiknya jangan diambil.
Memang banyak hal yang perlu kuperhatikan. Apalagi soal makanan. Aku juga harus menjauhi semua tanaman yang bercahaya, karena kebanyakan tanaman tersebut mengandung bakteri bercahaya yang berbahaya bagi tubuh manusia, seperti tanaman Pollymoon.
Kepercayaanku padanya semakin meningkat saat aku menyadari kalau ternyata ia memiliki banyak pengetahuan soal alam liar. Aku pun bertanya padanya soal itu dan ia menjawab, “Aku seorang pemburu. Wajar jika aku harus tahu banyak hal tentang alam liar.”
Ia juga beralasan soal membantuku karena hidupnya tidak akan tenang jika membiarkanku berkelana tanpa persiapan. Aku benar-benar tak tahu apakah dia itu orang yang perhatian atau tidak, wajahnya tak menunjukan hal seperti itu. Ia tampak seperti pria tua pemarah dan selalu menggurutu soal apapun. Wajah kasar dan alis tebalnya membuktikan hal tersebut.
Ia selalu memarahiku karena kesalahan yang kuperbuat, entah kecil atau besar. Seperti saat ia menyuruhku mengambilkannya jamur, aku salah dan justru membawa jamur yang beracun, amarahnya pun meledak seperti gunung meletus. Aku bahkan dikunci di luar olehnya, tetapi beberapa detik kemudian ia menyuruhku masuk kembali. Matanya berpaling dariku. Kurasa ia tipe orang yang tak bisa menahan emosi juga tak bisa menyembunyikan rasa perhatiannya.
“Badai salju akan segera tiba,” ujarnya. Ada banyak cara untuk mengetahui kapan badai salju akan muncul. Umumnya, pertanda badai salju akan datang bisa berupa hembusan angin akan lebih cepat, jarak pandang semakin menipis, dan suhu tiba-tiba turun sangat dingin. Akan tetapi, ada satu cara yang aku baru ketahui dari sang pemburu, yaitu dengan cara melihat sejauh mana kelopak Bunga Utara menjuntai.
Bunga Utara adalah salah-satu tanaman khas benua Orelum, selain Bunga Tetes Salju. Tanaman itu memiliki ciri unik, dimana ia akan semakin mekar jika suhu di sekitarnya semakin dingin. Semakin bunga itu mekar, maka kelopaknya akan semakin menjuntai kebawah. Jika sudah seperti itu, maka badai salju akan segera muncul.
Latihan terpaksa dihentikan. Sembari menunggu badai salju, pria itu memberikanku selimut dari kulit binatang dan segelas susu panas untuk menghangatkanku. Syukurlah selain sifatnya yang pemarah, ia masih memahami apa yang kubutuhkan.
“Apa kau tak ingin meminta tolong warga desa mencari putrimu?” tanyaku yang duduk dengan kaki di atas kursi sambil mendekap susu panas. Aku lalu mengamati kulit-kulit binatang yang tergantung di sepanjang dinding ruang utamanya.
“Sudah terlambat. Saat itu, aku sedang berburu tapi karena badai salju yang lebat, aku terjebak selama beberapa hari. Mungkin putriku khawatir padaku dan mencariku, tapi dunia malah mengambilnya dariku.” Meski kayu membuat api terbakar begitu terang, tapi wajahnya tetap redup.
Aku tak ingin membuatnya terus bersedih, meski aku ragu air mata bisa menetes di wajah garangnya. Aku merapatkan selimut yang membungkusku dan menyeruput susu panas sedikit demi sedikit. Ujung lidahku memerah karena panas yang membakar.
“Selimut yang kau kenakan adalah kesukaan putriku. Hangat, katanya.” Pria itu terus memandangi kobaran api tersebut, meskipun tak ada lagi bongkahan kayu yang tersisa di tangannya.
Memang menghangatkan, tapi jika boleh kubilang selimut ini sedikit kasar di kulitku. “Apa karena itu kau mengkhawatirkanku dan membantuku? Kau berpura-pura menganggapku sebagai putrimu,” ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutku yang kepanasan.
Pria itu hanya berdiri dan tak menjawabnya. Ia melirikku sebentar sebelum pergi ke ruangan di sebelah kirinya. Sementara aku masih menikmati segelas susu dibalik selimut hangat, dan ditemani suara api yang memercik dalam malam badai.
Setelahnya, latihan terjadi seperti biasanya. Tak ada yang berbeda. Ia tetap memarahiku ketika aku melakukan hal yang salah atau melupakan hal yang terpenting dalam bertahan hidup. Ia berkata kalau aku harus menjaga suhu tubuhku tetap hangat, meskipun Orang Utara tahan dengan iklim dingin, ada suatu titik dan kondisi yang tetap akan mempengaruhiku dalam berkelana. Seperti berendam di air dingin, berada di puncak gunung, atau terjebak dalam gua es.
Sihir memang akan mempermudah semua itu, tetapi aku harus memahaminya betul-betul jika kemungkinan yang lebih buruk terjadi. Aku baru diizinkan menggunakan sihir saat menemui ancaman yang diluar fisikku atau yang berkaitan dengan sihir, tapi selama masih bisa diselesaikan tanpa sihir, aku tak diperkenankan memakainya.
Latihan telah berlangsung selama satu minggu, dan latihan lapangan yang paling melelahkan. Aku harus menulusuri hutan untuk mencari apa yang ia tugaskan padaku. Kebanyakan gagal, dan ocehannya selalu menyapaku setelah aku kembali. Setiap hari, setiap saat. Meskipun istirahatku cukup, tapi tubuhku tetap terasa sakit semua. Apakah begini rasanya jika aku memiliki seorang ayah? Kalau benar, aku lebih memilih tinggal bersama ibu.
Sebuah jejak berbentuk seperti dua buah telur dengan ujung lancip tampak masih segar di tanah bersalju. Jejak-jejak itu terus menuju melewati semak-semak di depanku. Hari ini, pemburu itu hanya menyuruhku untuk melacak jejak rusa saja. Katanya, aku belum siap untuk berburu.
Aku pun menyusuri semak-semak, pandanganku terus terpaku ke jejak kaki seperti hanya itu saja yang bisa kulihat. Terlalu fokus, hingga aku tak menyadari ada sesuatu yang membuatku tersandung dan terjatuh ke depan.
Kulihat benda yang sebagiannya tertanam dalam salju itu lebih berkilau daripada perhiasan manapun yang pernah kulihat. Bukan ranting ataupun batu, benda itu terbuat dari logam dan berbentuk lingkaran. Di bagian belakangnya terukir sebuah bentuk dan simbol aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Saat aku membuka penutupnya, piringan putih dengan sebuah penunjuk bergerak ke kiri dan ke kanan dibalik sebuah kaca, dengan tanda-tanda di setiap sisinya. Benda itu adalah kompas. Bisa kurasakan mataku melebar sebesar kompas itu. Tetapi, aku syok bukan karena kompas perak itu, tapi karena cairan merah hangat yang menetes dari telapak tanganku.