Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Wanita Es



Aku tak tahu apa yang wanita itu pikirkan, sambil menatap lautan dingin yang berhias pantulan bintik bintang. Ia begitu tenang ketika ombak mencapai jari-jari kakinya yang telanjang, padahal aku saja tak kuat menahan rasa dingin dari Laut Beku.


 


Aku mengangkat topiku sedikit untuk melihat wajahnya yang tampak cantik diterpa angin kesedihan. Aku tak ingin mengakui kalau aku bisa merasakan perasaannya. Terlalu rumit bagiku yang bisa dibilang masih bayi di dunia luas ini. Begitu pula senyuman di wajahnya yang begitu merumitkan isi hatinya, entah bahagia ataupun kecewa.


 


Apa yang wanita itu ingin lakukan membuatku berpikir hingga larut dalam lautan. Bagaikan mimpi-mimpi bahagianya yang sirna ketika ombak menghantamnya dan menghancurkannya berkeping-keping.


 


Kukatakannya berulang-ulang. “Apa kau yakin?”


 


Tetapi, ia menjawabnya begitu lembut dan tenang, “Iya.” Mungkin pasrah lebih tepatnya kubilang.


 


Aku bahkan ragu jika Aeron bisa meyakinkannya, tidak, aku bahkan lebih ragu lagi jika ia mengucapkan sesuatu. Aku memang tak memaksanya mengatakan apapun pada wanita itu, tapi setidaknya aku membutuhkan bantuannya.


 


Kuputar kembali momen sebelum aku bertemu dengan dirinya. Sebelum aku mendengar kisahnya yang menyedihkan dan membuatku melihatnya seperti sosok wanita es yang dingin.


 


Malam itu, aku berjalan di pinggir tebing, berceloteh dengan Aeron tentang bagaimana rasanya mati dalam keadaan membeku. Meskipun ada Aeron bersamaku, tapi aku tetap merasa sendirian karena ia jarang berbicara. Aeron berpendapat jika rasanya seperti tidur dengan berselimut salju. Tentu saja aku tak bisa mempercayai sepenuhnya, ia adalah sebuah kompas. Mana mungkin bisa merasakan dingin yang kumaksud.


 


Bagiku yang pernah terjebak dalam bongkahan es, mati membeku adalah suatu cara mati yang paling menenangkan dan tak menyakitkan. Luka akan tertutup jika diberi es batu. Maksudku, semua dosa dan rasa bersalah akan terasa seperti belaian malaikat saat mati membeku, atau aku yang justru salah.


 


Selagi membahas hal konyol tersebut, aku melihat dengan jelas sekelebat warna putih di ujung pelupuk mataku. Berdiri di depan laut seperti ingin menantangnya. Aku bisa melihat seorang wanita dengan gaun tipis berwarna putih memandang ke ujung laut yang jauh. Di pinggir tebing tempatku berdiri, angin membawa aroma wanita itu padaku, aroma manis dari bunga lili lembah yang biasa digunakan oleh pengantin wanita saat pernikahan.


 


Aku penasaran, apakah kali ini benar-benar hantu salju atau hanya wanita biasa dengan takdir yang biasa pula? Sejak aku menuruni tebing yang tak terlalu tinggi dan curam, Aeron mulai tak berbicara sedikitpun lagi. Ia bersembunyi dalam tas ku seperti seekor kelomang laut.


 


“Permisi….” Aku memecah keheningan antara wanita itu dengan ombak laut.


 


Aku tahu kita hanyalah orang asing yang baru bertemu dan tak memiliki alasan untuk saling menjawab, tapi wanita itu menyapaku dengan senyuman lembutnya. Sangat murni dari semua senyuman yang menghiasi malam kala itu. Tapi, air mata yang membasahi pipinya berkata lain.


 


Ilsa. Ia memperkenalkan namanya padaku. Ada jarak cukup lebar di antara kami yang duduk di pinggir pantai. Aku tak ingin membuatnya merasa tak nyaman jika aku terlalu dekat dengannya.


 


 


“Maaf aku mengganggumu. Aku tak sengaja lewat dan melihatmu. Kupikir kau hantu salju atau semacamnya,” aku membuka pembicaraan agar terlihat ramah.


 


Siapa juga yang tidak penasaran ketika ada wanita bergaun putih berdiri di pinggir pantai saat malam hari? Aeron memperingatiku untuk melanjutkan perjalanan, tapi kupikir tak ada salahnya untuk mengenal wanita itu dan mengetahui kisahnya.


 


“Tak apa. Jika ada orang yang menyapaku, bukankah aku harus membalasnya?” Suara wanita itu begitu merdu bahkan saat tak bersenandung sekalipun. Jika ia membentuk sebuah orkestra dengan laut sebagai biola dan kepiting malam sebagai pemain pianonya, dewa laut pasti akan selalu datang untuk mendengarnya.


 


“Jika boleh tahu, apa yang kau lakukan disini?”


 


“Menyiapkan takdirku.”


 


Ini mengingatkanku saat bersama ibu menatap ke ujung lautan. Ibu memiliki ketertarikan pada Ujung Dunia, karena itu mimpinya. Tapi, aku tak tahu apakah wanita disebelahku ini juga memiliki mimpi yang sama atau tatapannya hanyalah sebatas merindukan punggung bulan.


 


Saat aku menanyakan takdirnya dan ia menjawabnya, saat itulah aku tersadar jika seharusnya aku tak menanyakannya.


 


“Aku ingin mati membeku di lautan.”


 


“Kenapa-”


 


“Sst!” desis Aeron yang menyadarkanku dari rasa penasaran yang mengambil alih. Aku tak perlu khawatir suara Aeron bisa terdengar oleh wanita itu, jarak kami cukup jauh ditambah ombak yang berdesir sepanjang malam.


 


Sebaiknya aku tak mencampuri urusannya lebih jauh. “Maaf, aku tak bisa membantu, tapi semoga beruntung.”


 


Tangan dinginnya tibs-tiba menarikku yang ingin segera bangkit. “Kurasa tak ada salahnya aku menceritakan ini padamu, gadis asing. Lagipula, sebentar lagi aku pun tak akan bisa bercerita pada siapapun.” Wanita itu melepaskan genggamannya. “Jadi, maukah kau menemaniku sembari aku menceritakan kisahku padamu?”


 


Aku telah takluk. Tatapannya sama seperti ibu, selembut lautan. Lautan yang membawa segala kemurnian isi hati seorang wanita. Saat aku menatapnya balik, tanpa kusadari aku sudah terseret oleh arusnya dan terbawah ke tengah lautan. Aku pun mengangguk dan duduk disebelahnya, tanpa mengindahkan bisikkan Aeron.