
Unit Mesin Humanoid Penjaga Khusus. Nama itu terus terngiang-ngiang di kepalaku seperti kepingan teka-teki yang menyimpan misteri. Mesin itu berdiri tegak di depanku. Tingginya kurasa lebih dua kali lipat tinggiku. Seluruh struktur tubuhnya sudah pasti adalah logam, berwarna perunggu dan sudah berkarat. Ada baut di seluruh tubuhnya dan bentuk mesin lain yang kutidakmengerti.
Selayaknya manusia, dia memiliki anatomi tubuh yang fungsional seperti lengan dan kaki. Kedua lengannya lebih panjang dari kakinya, bahkan hampir menyentuh lantai. Lengan itu pasti ditenagai oleh sistem yang mumpuni sehingga menghasilkan kekuatan yang setara monster raksasa.
Cahaya kuning yang terletak dalam tempurung kepala bulatnya juga cukup membuatku tertarik. Mungkin cahaya itu adalah inti mesinnya atau mungkin hanyalah organ penglihatannya saja. Atau mungkin lebih sederhana dari yang kuduga, yaitu sebuah lampu penerangan. Apapun itu, mesin itu menimbulkan beragam pertanyaan dariku.
“Apakah manusia kecil sedang kesulitan?”
“Seperti yang kau lihat, aku terjebak disini. Aku tak bisa kembali ke permukaan.”
“Begitu. Aku mengerti. Aku … juga terjebak di gua es. Sama … sepertimu, manusia kecil.”
Hanya perasaanku saja, atau memang suara mesin itu sedang rusak. Ada jeda di tiap ucapannya. Berbicara soal suara, aku penasaran bagaimana mesin itu bisa menciptakan suara yang terdengar seperti suara manusia dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan lancar selayaknya manusia.
“Suara itu, apakah kau sendiri yang menciptakannya? Atau ada seseorang dibaliknya yang mengirimkan gelombang frekuensi untuk diterima oleh sistemmu, lalu dikeluarkan agar terdengar seperti berasal darimu?”
“Tebakanmu yang pertama benar. Aku … menciptakan dan mengolah sendiri suaraku berdasarkan segala jenis input yang penciptaku telah berikan pada sistemku. Sistemku menerima … suara dari luar, menyimpannya, lalu memilah dan menyusunnya sehingga membentuk miliaran susunan kata-kata yang bisa dikombinasikan. Dengan sistem tersebut, Unit Humanoid dapat belajar secara otomatis dan cepat. Mau itu melalui pengalaman berupa komunikasi langsung dengan manusia atau hanya dengan mendengarkan saja,” jelasnya.
Otak manusiaku mengganggap itu adalah hal yang sangat luar biasa. Itu seperti memiliki bayi yang pintar. Pada awalnya, hanya bisa mendengarnya saja. Lama-kelamaan semua yang ditangkap oleh telinga akan disimpan dalam otak dan akan diproses untuk dipahami. Memiliki kemampuan dalam mengolah kata lalu memilih dengan tepat respon yang diberikan saat melakukan kegiatan komunikasi denganku. Bagiku, mesin itu tidak jauh berbeda dengan perkembangan manusia.
“Di dalam tubuhku, mesin-mesin kecil yang lebih kompleks dan komponen-komponen … saling bekerja seperti mesin … dengan ditenagai oleh … sebagai pusat atau sumber … bagi manusia ini adalah jantung.”
Beberapa kalimatnya tak terdengar olehku, teredam karena rasa penasaran yang membawaku fokus mengitari makhluk mesin itu. Bagian belakangnya tidak jauh berbeda dengan bagian depannya. Ada bekas goresan dan karat di lapisan luarnya. Namun, karat yang membuat kulitnya berwarna kuning kecoklatan itu justru membuatnya terlihat sangat kuno. Di bagian pinggangnya tidak menyatukan bagian tubuh atas dan tubuh bawah, seperti dipisah oleh piringan logam yang berlapis tiga. Piringan tengah berukuran lebih kecil daripada dua piringan lain yang mengapitnya. Piringan itu mengingatkanku pada roda gigi pada mesin jam. Tetapi, aku tak yakin apakah fungsi piringan itu sama dengan roda gigi atau hanya pemisah saja. Piringan-piringan lain juga ditemukan di pergelangan lengan, bahu, dan lutut. Masing-masing memiliki jumlah piringan yang sama.
“Ah begitu, ya, aku mengerti ....” Aku mengangguk-angguk seolah aku mengerti.
“Bagaimana denganmu, manusia kecil?”
Aku tersentak, dikejutkan oleh bagian tubuh atas robot itu yang berputar 180 derajat ke belakang menghadapku, sementara bagian kakinya tidak bergeming. Jadi seperti itu fungsi sebenarnya dari piringan tersebut.
“Eh, aku? Aku … maksudku, namaku Niva.”
“Begitu, ya. Nama manusia kecil adalah Niva. Aku mengerti. Nama Niva sudah tersimpan dalam dataku sebagai identitas individu. Kalau begitu, sekarang … kita adalah teman.”
“Kau benar. Kita berteman sekarang. Salam kenal, ya … Spelator.”
“Omong-omong, bagaimana Niva bisa terjebak di sini?”
“Ceritanya memalukan. Aku hanya tak fokus dengan jalanku saja, lalu tak sengaja melangkah ke lubang dan jatuh ke sini.” Sebenarnya ceritanya lebih panjang daripada itu, tapi lebih baik tak kuceritakan saja. Kugenggam sangat erat kompas di tangan kiriku seolah-olah aku ingin meremuknya. Sebenarnya ini salah kompas yang malah mengurusi kehidupanku.
“Terjatuh? Apakah Nivalis terluka? Luka sekecil apapun harus segera diobati sebelum menjadi infeksi serius. Aku … bukan Unit Mesin Humanoid Tenaga Medis, tapi aku akan membantu Niva. Itulah … fungsi dan tujuan teman.”
“Terima kasih, tapi aku tidak terluka sama sekali.” Kupikir-pikir lagi, aku memang tidak merasakan sakit, memar atau lecet sedikitpun di tubuhku. Padahal, meluncur dan mendarat di es keras seharusnya cukup menyakitkan. Mungkin aku hanya sedang beruntung saja. “Bagaimana denganmu …,” giliranku tuk bertanya—menggali informasi. “… teknologi secanggih dirimu, kenapa bisa terjebak di tempat seperti ini? Lalu, di mana tuanmu yang telah menciptakanmu itu?”
Mesin itu tidak segera menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba, bagian kakinya berputar mengikuti bagian tubuh atasnya yang menghadapku. “Tuanku … sudah meninggal karena hipotermia dan kelaparan. Sama sepertimu, tuanku juga terjebak disini bersamaku. Namun sayangnya, karena tubuh manusia … lebih rapuh dan lemah dari mesin, dia meninggal lebih dulu sebelum mematikan fungsiku."
Cahaya inti miliknya bersinar di depan wajahku. Cahayanya tidak seterang sebelumnya, sesaat berkedip dan menjadi cahaya remang yang sulit menjangkau bayangan di bawah topiku. Walaupun lebih masuk akal perubahan intensitas cahaya itu karena menurunnya daya yang diperlukan, tapi aku menangkapnya sebagai gambaran bahwa robot itu sedang bersedih. Sebuah mesin memiliki emosi layaknya manusia. Sungguh mengejutkan.
“Kau … dan tuanmu terjebak disini?”
“Itu benar. Hanya tersisa aku sendiri. Tapi, sekarang ada Niva. Aku senang karena aku tak sendiri lagi.” Entah mengapa, aku sedang mengimajinasikan Spelator yang tersenyum lebar.
Seluruh piringan berputar, terdengar seperti suara gesekan benda logam berat dan seperti suara dengusan banteng versi yang lebih berat dari dalam tubuh Spelator. Tampaknya sesuatu terjadi di dalam tubuh Spelator. Komponen-komponen mesin menyala dan bekerja, saling memberikan dorongan dan putaran, tarikan dan lepasan yang kemudian diteruskan dalam proses panjang nan rumit sehingga menghasilkan tenaga yang membuat fungsi tubuhnya kembali aktif dari masa istirahatnya sebelumnya. Baru satu kakinya melangkah tapi sudah menciptakan getaran hebat. Spelator terus melanjutkan berjalan ke arahku. Aku menyingkir saat Spelator lewat. “Ikuti aku … Niva,” ajaknya. Dengan langkah beratnya, ia menuju ke lubang besar yang diciptakan olehnya untuk menemuiku. Aku tanpa menunggu lama menyusulnya di belakang.
Kulihat bekas bongkahan es besar maupun kecil yang berceceran karena pukulan dari Spelator. Tembok es setebal satu meter yang sebelumnya menjadi pemisah ruanganku dengan lorong di depan menjadi tak berdaya di hadapan sang mesin tersebut. Ambang temboknya masih menyimpan retakan yang menjalar tinggi sampai ke langit-langit gua. Retakan itu bukan pertanda baik. Jika terjadi sesuatu yang menimbulkan guncangan atau benturan, retakan pasti akan bertambah parah dan membuat langit-langit gua menimpaku. Aku hanya perlu mewaspadai atasku dan bersiap siaga jika terjadi sesuatu.
“Jadi, kau yang menyebabkan gempa di sekitar sini akhir-akhir ini?” Aku memandangi punggung makhluk besi itu seolah-olah itu adalah wajahnya.
“Maafkan aku jika perbuatanku menciptakan … gangguan di atas.”
Sebuah mesin raksasa dan seorang gadis muda yang terjebak di kedalaman gua es, bersama-sama menelusuri lorong panjang yang dingin dan sunyi. Tema itu akan cukup menarik jika dibuatkan sebuah novel petualangan. Suatu kehormatan bisa menjadi tokoh utama dan membagikan pengalamanku.
Tapi, sejujurnya, aku tidak menyangka ada lorong panjang berselebahan dengan ruangan tempatku jatuh. Lorong yang kami tempuh ini memiliki tinggi dan lebar yang cukup luas bahkan bisa menampung dua Unit Mesin Humanoid secara beriringan. Keluasannya membuatku berpikir lorong ini seolah-olah memang diciptakan untuk Spelator. Akan tetapi, tekstur lantai dan dindingnya yang tidak rata membuktikan kalau lorong ini sebenarnya tercipta secara alami. Semakin jauh ke dalam, bagian langitnya mulai terlihat banyak batuan es yang meruncing ke bawah, stalaktit. Meskipun, tajam dan berbahaya, tapi tetap menjaga kemurnian gua es yang berwarna biru segar ini. Warna biru ini memberikan suasana dingin sekaligus menenangkan dibungkus dalam keindahan yang sekaligus membawa bahaya.