Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Kota yang suram



Kota ini tampak ketakutan. Takut akan sesuatu yang mengancamnya. Jalanan sepi meskipun masih dalam suasana Perayaan Bintang Utara. Hiasan-hiasan di gantung, dan pohon perayaan di hias sedemikian cantiknya, tetapi tak ada sedikitpun kegembiraan yang sama saat aku di Pondorian. Aku melihat wajah para warga kota itu pucat, bahkan di bawah cahaya lampu jalan yang bersinar terang. Beberapa pemilik toko menutup tokonya karena suatu alasan yang tidak jelas.


Beberapa orang menunjukan respon gelisah berlebihan saat kupanggil atau kusentuh. Tubuh mereka gemetaran setengah mati dengan keringat yang bercucuran. Sejauh dari yang kutahu, mereka itu takut.


“Bagaimana menurutmu?” tanyaku pada Aeron. Aku berbaring di kasur penginapanku, memandangi kompas itu yang kuletakkan di sebelahku.


“Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kenapa membantunya? Apa kau seorang detektif atau penyihir?”


“Aku penyihir, Aeron. Meskipun begitu aku tetap ingin membantunya.”


“Tapi, itu bukan masalahmu. Itu juga bukan masalahku. Kalau kau merasa tak memahaminya atau bingung harus melakukan apa, tak usah malu, tolak saja,” ujarnya.


Setelah kuperhatikan lagi, pantulan di kompas itu tak menyilaukan mataku. Mulus dan berkelas. Ukiran aneh di belakang hingga melebar ke sisi sampingnya juga tampak seindah ukiran di dinding dan pintu penginapanku. Penginapan mewah yang dipesan khusus oleh penjaga itu untukku. Mereka benar-benar melayaniku disini.


“Aku sudah memikirkannya, Aeron. Semua orang yang kutemui sebelumnya selalu membantuku. Mereka sangat baik. Aku tak ingin terus-terusan menjadi pihak yang dibantu, aku juga ingin mengerahkan semua tenagaku untuk membantu mereka. Aku ingin membantu mereka mencari orang-orang yang hilang,” jawabku dengan lembut agar ia bisa mengerti maksudku.


“Apa kau yakin bisa menemukan mereka?” Aeron masih tak percaya.


“Karena itu aku ingin kau juga membantuku mencarinya. Kau mau kan?” Aku membalik kompas itu, mengarahkan muka kompasnya untuk menghadapku, walaupun aku tahu dia tak bisa melihat wajahku. “Apa yang membuatmu begitu benci jika aku berusaha menolong orang?”


Ia tak menjawabku. Aku merasa dia tak ingin membahasnya. Rahasia yang tak ingin diceritakannya padaku. Aku kembali meletakannya dan duduk di tepian kasur. Tepat saat aku ingin beranjak, Aeron berkata, “Aku akan membantumu.”


Aku dengan cepat mengambilnya. “Benarkah?”


“Ya, tapi untuk kali ini saja. Beda dengan mencari hewan, benda mati atau lainnya, kalau kau ingin mencari seseorang, gambaranmu harus detil. Nama, umur, rambut, wajah, pakaian, semakin lengkap maka semakin baik. Tak boleh ada kecatatan sedikitpun karena aku tak akan bisa menemukannya, mengerti?”


Kata penjaga itu yang bernama Rowan, ada 8 orang yang dilaporkan hilang dalam 2 bulan terakhir. 2 gadis muda, 2 wanita dewasa, 1 anak kecil dan 3 pria dewasa. Tak ada semacam pola disini dan mereka hanya memiliki satu kesamaan. Menurut saksi mata, mereka semua dikabarkan hilang saat malam badai. Untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai kondisi khusus dan karakteristik lengkap mereka, satu-satunya cara adalah menanyakan pada orang-orang yang dekat dengan mereka.


Lukisan wajah mereka terpampang tak hanya di dinding-dinding setiap bangunan, tapi juga di ruangan rumah jaga milik Rowan. Aku mengamatinya dengan cermat satu per satu dan memastikannya terekam dalam pikiranku.


“Mungkin ini kasus pembunuhan biasa?” tebakku yang masih samar.


“Kurasa tidak. Motifnya tidak jelas dan korbannya terlalu asal. Seolah-olah pembunuhnya menyerang siapapun yang ia temui. Kedua korban pria adalah penjaga kota, sama sepertiku. Untuk apa membunuh mereka? Saat, badai pun para penjaga kota tidak akan berkeliaran di jalanan. Aku tidak memahami apa tujuan dibalik membunuh mereka, jika memang ini pembunuhan,” sanggahnya.


“Entahlah, mungkin dendam.”


“Tidak mungkin, aku mengenal para korban. Mereka adalah orang yang baik. Semua warga disini tak pernah menunjukkan kebencian satu sama lain. Kami selalu bersikap ramah dan baik pada siapapun, bahkan kami tak akan pernah memulai suatu keributan,” jelas penjaga itu. “Kami sudah menanyakan semua saksi mata yang mengklaim melihat para korban sebelum hilang, mereka berkata tidak melihat aktivitas yang mencurigakan, teriakan atau jejak pembunuhan di sekitar. Saat itu badai, Nona Nivalis, kebanyakan orang akan memilih diam di rumah.”


“Jadi, maksudmu mereka hilang begitu saja dalam badai salju?” tanyaku memastikan apakah dipikiranku sesuai dengannya.


“Itu lebih masuk akal daripada diserang oleh monster.”


“Monster?”


“Hanya omong kosong para warga kota biasa. Tak usah dipedulikan.”


Penjaga itu lalu mengajakku untuk menemui para saksi atau keluarga korban. Setelah 2 penjaga yang dinyatakan hilang tanpa ada yang melihat atau seorang pun ketahui, satu pria dilaporkan hilang oleh istrinya sendiri. Wanita itu adalah ibu rumah tangga biasa dan pekerjaan suaminya adalah penebang kayu. Terakhir kali ia bertemu suaminya, saat suaminya berpamitan untuk bekerja.


“Untuk apa bekerja saat badai salju sedang liar-liarnya?” tanyaku pada wanita itu yang datang menghidangkan dua teh untukku dan Rowan.


“Aku juga memikirkan hal yang sama sepertimu. Aku sudah melarangnya tapi Gustaff tetap bersikeras ingin menebang kayu,” wanita itu membalasnya dengan tegar. Sudah hampir 2 bulan semenjak kehilangan suaminya, ia pasti menahan kesedihannya saat berbicara dengan kami. Matanya terkadang berair-air.


Wanita itu menggeleng heran, “Tidak. Gustaff juga salah satu korban! Aku bisa pastikan bukan dia yang menyebabkan orang-orang hilang.”


“Apa ada informasi lain, seperti … umur, warna kulit, mata, rambut dan pakaian yang terakhir dikenakannya.”


“Suamiku berumur 48 tahun, kulitnya sedikit lebih gelap dariku, matanya biru dan rambutnya keriting. Saat berpamitan, ia memakai pakaian merah dengan celana biru. Apa semua itu bisa membantu menemukannya?”


“Aku tidak tahu. Tapi, aku berharap sama sepertimu, nyonya. Terima kasih atas kesediaannya.”


Setelah keluar dari rumah istri korban, aku bergegas pergi ke suatu gang yang sepi, meninggalkan Rowan disana. Aku mengeluarkan Aeron dan mencoba menggunakan semua informasi yang kudapatkan untuk mengetahui lokasinya. Kepingan-kepingan perlahan menyatu menjadi sebuah gambaran utuh, sebuah sosok pria seperti yang disebutkan muncul dalam bayangan benakku. Aku membuka mataku dan piringan penanda itu segera berputar menunjukkan arahnya.


“Dimana? Aeron, di mana pria itu?” tanyaku tak sabar.


Piringan kompas itu tak henti-hentinya berputar seperti kincir angin. Tak menunjukan arah sekalipun.


“Apa yang terjadi? Apa gambarannya masih kurang lengkap?”


“Bukan, keberadaan orang itu sudah tidak ada lagi. Aku hanya bisa menunjukkan arah pada sesuatu yang benar-benar ada di dunia ini. Ketika keberadaannya tidak ada, bagi makhluk hidup itu berarti mati, maka aku tak bisa menunjukkannya,” jelasnya. “Lebih baik, kita pilih kemungkinan yang terburuk. Pria itu sudah hilang selama 2 bulan. Ia tak mungkin bertahan di luar sana, kecuali ada penginapan mewah dan makanan hangat di tengah hutan.”


Rasanya sulit menerimanya, meskipun begitu, aku menyetujui pendapat Aeron. Jika memang semuanya bernasib sama, maka aku harus menyiapkan diriku. Aku ingin sekali mengabari penjaga itu bahwa aku menemukan mereka yang hilang dengan keadaan selamat. Merasakan kebahagiaan keluarga mereka yang telah lama menanti. Namun, jika takdir sudah menetapkannya seperti itu, aku tak bisa berbuat banyak.


Aku beranjak dari gang dan Rowan sudah memanggilku. Ia tampak gelisah karena aku meninggalkannya. Ia takut jika aku menjadi salah satu korban yang hilang tersebut. Konyol sekali. Aku tidak akan hilang semudah itu.


Selagi berjalan, Rowan menjelaskannya profil para korban padaku, “2 wanita dewasa yang menjadi korban adalah warga biasa. Tak ada rekam pelanggaran yang pernah mereka buat sekalipun. Berbeda dengan sebelumnya, kedua wanita ini tak memiliki keluarga yang tersisa. Tak memiliki seorang anak dan suami mereka juga sudah meninggal-”


“Rowan, maafkan aku jika penyelidikan ini tak membuahkan hasil seperti yang kau inginkan. Aku tak ingin membuatmu kecewa,” potongku. Aku tak hanya harus menyiapkan diriku sendiri, tapi ia juga.


“Tidak apa, Nona Nivalis. Anda mau meluangkan waktu untuk membantu penyelidikan ini saja sudah membuat kami bersyukur. Meskipun jika hasilnya memang buruk, bukan berarti kami akan membenci nona.”


“Terima kasih.”


“Kalau begitu aku lanjutkan. Korban yang terbaru adalah seorang gadis berusia 18 tahun. Menurut orang tuanya, gadis itu pergi ke rumah kekasihnya, setelah itu tak ada kabar apapun lagi tentangnya.”


“Bagaimana dengan kekasihnya, si lelaki, apakah kau pernah berbicara dengannya?”


“Tidak, dia menolak berbicara dengan kami.”


“Kalau begitu kita menuju ke sana. Mungkin ada informasi yang dia ketahui.


Kami berjalan tak lama, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku, dari depan, seorang wanita berlari ke arahku, “Nona Penyihir! Tolong bantu aku, kumohon.”


Rowan memegangi wanita itu dan menahannya, “Nona Nivalis sedang sibuk saat ini.”


“Kudengar penyihir yang membantu warga Pondorian datang ke sini. Kumohon. Hanya nona yang bisa menyelesaikannya.” Wanita itu memaksa.


Aku tak bisa menolaknya. Jika itu memang hal yang sangat serius, aku harus membantunya. “Bisakah kau pergi sendiri? Aku tak akan lama,” pintaku ke Rowan. “Tanyakan tentang nama lengkap, umur, pakaian terakhir, warna mata dan rambut, semua karakteristik yang bisa di dapatkan dari gadis itu. Semakin lengkap semakin baik.”


“Aku mengerti. Aku akan mencari tahu dua korban wanita lainnya dulu. Rumah mereka tak jauh dari sini, seharusnya aku bisa mendapatkan informasi lengkapnya dari tetangganya,” angguk penjaga itu.