
“Cukup!” Telingaku sudah tidak kuat mendengar, otakku sudah tak mampu memproses, dan hatiku sudah terlalu sakit menerima semua informasi yang memusingkan tersebut. “Aku sama sekali tidah tahu menjadi penyihir semerepotkan itu. Bisakah kau memberiku sedikit keringanan?"
Vestia melepaskan tanganku yang menahan mulutnya. “Percuma saja memohon. Aku hanya alat untuk menegakkan keadilan. Aku tak bisa menolak apa yang salah di depan mataku. Mau itu raja atau orang asing sepertimu, jika sudah melanggar hukum maka harus menerima akibatnya. Kau tidak bisa menghindar dari hukum. Jangan semakin menolaknya yang akan mempersulit dirimu sendiri nantinya.”
Dia memberi nasihat yang positif padaku, tapi entah mengapa aku tak ingin menerima nasihat semacam itu darinya, meskipun itu positif. Aku tak mau berakhir di dalam penjara. Aku hanya ingin melakukan perjalanan yang bebas. Apakah tidak bisa?
“Maaf menganggu pembicaraan kalian. Tapi, aku ingin bertanya satu hal.” Aeron tiba-tiba menyela ditengah-tengah tatapan judes Vestia dan ketidakberdayaanku. “Sebenarnya ini yang ingin kubicarakan dari tadi. Nona berambut merah, kau bilang kau adalah investigator, bukan?”
“Memangnya kenapa?” balasnya dingin sambil menatap rendah ke arah kompas di tangan kiriku.
Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Aeron, tapi aku yang sudah pasrah mengangkat tanganku cukup tinggi hingga Aeron berada di garis pandang Vestia. Ini bukan pembicaraan tentangku. Aku tidak bisa berharap apapun lagi.
“Investigator bekerja jika ada laporan atau permintaan dari orang, bukan? Tapi, kota ini, warga di sini tidak terlihat seperti membutuhkan bantuan dari seorang investigator. Jika aku boleh menyimpulkan, kedatanganmu sendiri atas dasar keinginan pribadimu sendiri untuk menangkap seseorang yang kau anggap jahat. Maaf, nona, bagiku kau bukan seorang investigator, tapi kau itu tidak jauh berbeda dengan seseorang yang main hakim sendiri. Dan orang seperti itu juga bisa dibawa ke pengadilan, lho. Penyeranganmu terhadap Niva bisa dijadikan sebagai bukti bahwa kau telah menyerang orang tak bersalah tanpa ada prosedur secara resmi.”
Kulihat tangan Vestia yang mengepal erat, lalu terbuka kembali dengan lemas. Aku terkejut. Semua yang dikatakan Aeron itu masuk akal. Aku tidak percaya Aeron yang sebelumnya senang mengejekku, kini sedang membelaku. Hatiku semakin lega rasanya dan aku merasa sangat bersyukur karena memutuskan membawa kompas ini dalam perjalananku.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan padaku? Menangkapku dan membawaku ke pengadilan?” geram Vestia. Hawa di sekelilingnya terasa kuat. Aeron berhasil membuat gadis itu marah betulan.
“Jika kau melepaskan kami dan melupakan ucapanmu sebelumnya, kami tidak akan membawamu ke pengadilan. Keadilan bagi kedua pihak, bukan?”
Aeron mengerikan. Ia tak main-main. Berurusan dengannya kurasa akan menjadi hal yang sulit.
“Hmph! Kurasa aku tidak memiliki pilihan lain.” Vestia membalas dengan penuh lagak.
Kurasa itu jawabannya iya. Akhirnya suasana kembali cair dan aku bebas untuk yang kedua kalinya. Kompas itu benar-benar cerdik dari dugaanku. Ia bisa menemukan kelemahan Vestia yang tak kusadari dengan cepat, lalu menggunakannya untuk menyerang balik dan membuat Vestia harus menerima tawaran yang tak bisa ditolaknya. Jika aku tak membawa Aeron, mungkin aku akan menerima akhir yang buruk.
Vestia yang kalah kedua kalinya tidak mengucapkan kata apapun lagi dan memutuskan untuk diam. Ia berbalik memunggungiku seolah sudah melupakan semua yang barusan terjadi. Tiba-tiba, ia terpeleset lantai licin saat melangkahkan kakinya. Aku reflek menangkap bahunya.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku. “Hati-hati. Lantai di sini licin.”
“Aku benci tempat ini!” gerutunya.
Aku memegang kedua bahunya, lalu membantunya berdiri. “Kau bukan orang sini, kan? Kau terlihat kedinginan dan kesulitan saat berjalan di lantai licin. Wajar saja, sih. Ujung Garis Beku bukan tempat yang normal untuk dikunjungi orang luar sepertimu.”
“Ujung Garis Beku?”
“Ah, itu sebutan untuk kami yang tinggal di sini. Kalau tidak salah, sebutan untuk orang luar itu Tanah Musim Salju Abadi, kan?"
Vestia memasang wajah tanpa minat dan ekspresinya. Atau mungkin dia tidak tertarik karena sibuk menggosokkan kedua tangannya di depan mulutnya. Udara yang sangat dingin seperti ini memang tidak cocok untuk orang luar.
Lalu, kami menapaki salah satu tangga es untuk menuju ke lantai atas. Tiap anak tangganya sangat licin, jadi aku melangkah perlahan dengan tangan kiriku pada pegangan tangga.
Tanpa berbicara apapun, kami sampai di lantai atas. Tiga pintu berukuran luar biasa besar ada di depan kami. Pintu yang paling tengah berukuran sedikit lebih besar karena bingkainya yang dibentuk menyerupai dua gading yang saling bersilangan. Sementara dua pintu di sisinya lebih kecil tapi memiliki sebuah simbol di atasnya.
Tampaknya Vestia menunjukkan ketertarikan pada simbol di atas pintu tersebut.
“Aku tahu simbol ini,” gumamnya. Dia membuka jubahnya dan mengambil sebuah buku di tasnya.
Dengan susah payah, dia membuka halaman bukunya yang bersampul hijau kusam, lalu mengangkatnya tinggi saat sudah menemukan halaman yang dia cari. Di halaman itu, ada sebuah simbol tanda panah yang ujungnya menghadap ke bawah, sama seperti yang terukir di atas pintu.
“Apa maksudnya itu?” tanyaku.
“Aku pernah menemukan simbol yang serupa di banyak tempat.” Dia menurunkan bukunya, lalu membaca tulisan di halaman tersebut. “Dan artinya juga banyak: menunjukan arah, lokasi harta karun, dunia bawah, kedamaian, sesuatu yang berlawanan dari kekuatan, atau keputusasaan. Tidak ada arti pasti yang berkaitan dengan kastil es ini. Apa aku melewatkan sesuatu?”
Awalnya, aku hanya ingin melihat-lihat kastil mumpung aku sudah berada di dalamnya. Tetapi, kurasa aku sekarang jadi ikut menyelidiki kastil ini bersama Vestia. Aku tidak akan benar-benar serius melakukan penyelidikan selayaknya penyelidik berpengalaman. Aku hanya berniat untuk mengikuti Vestia saja sambil berkeliling kastil sampai akhirnya kami keluar nantinya.
Gadis itu juga tiba-tiba menganggapku seolah aku ini rekannya. Dia lupa bahwa sebelumya dia sudah menyerangku karena mengira aku penjahat dan masih berusaha membawaku ke pengadilan. Aku bahkan yakin dia masih menyimpan kebencian padaku sampai sekarang.
“Tidak tahu,” jawabku dan Aeron serempak.
“Aku yakin simbol ini bermakna sesuatu.” Vestia terus bergumam meskipun bukunya sudah dikembalikan ke dalam tasnya, dan kami sekarang berdiri di depan pintu bergading es.
Pintu itu sangat besar. Bahkan terlalu besar bagi orang dewasa. Aku lebih percaya jika seorang raksasa yang membuat kastil ini. Gading gajah yang menjadi bingkainya memberikan kesan primitif. Menggunakan gading gajah sebagai dekorasi juga terlalu aneh bagi daerah beriklim dingin. Gajah bisa juga melambangkan kebesaran dan kekuatan. Namun, di daerah beriklim sedang menganggap gading gajah sebagai bentuk kemewahan karena gading adalah barang yang sulit dicari selain hanya ada pada hewan-hewan tertentu.
Selagi aku berpikir, Vestia meletakkan tangannya pada gagang pintu lalu seenaknya memutarnya tanpa sopan santun. Terdengar bunyi ceklik dari dalam. Tak kusangka pintu itu tidak terkunci. Belum sempat aku menyuruhnya berhenti, dia langsung mendorong pintu ke dalam. Sebelah daun pintu tersebut terbuka tidak penuh. Vestia menempelkan topinya di dada dan melewati pintu dengan memiringkan tubuhnya. Aku mengikutinya masuk ke dalam dengan cara yang sama.
Kami masuk di sebuah ruangan yang besar dengan satu kursi tinggi terbuat dari es. Tidak perlu dipertanyakan lagi, ini ruang singgasana. Ruangan utama dan terpenting di dalam sebuah kastil.
“Apa kita boleh masuk?” bisikku ke Vestia. Padahal aku tahu tidak ada siapapun di dalam sana.
“Kita ada di sini saja tidak boleh,” timpal si kompas yang sudah kumasukkan ke dalam tasku sejak di bawah tadi.
“Tempat ini mencurigakan. Aku harus menyelidikinya.” Vestia masih teguh dengan pendiriannya.
Ruangan itu berbentuk lingkaran dengan singgasana berada di ujung tengah. Di kedua sisi singgasana ada patung es ksatria yang lebih besar seperti sedang menjaga sang pemilik singgasana, tiga patung di sisi kiri dan kanan, dan dua lainnya menjaga pintu yang baru saja kami masuki. Masuk akal sekali banyak patung ksatria yang dibangun di ruang singgasana. Cahaya masuk dari sepasang jendela tinggi di kiri dan kanan ruangan tapi tak begitu banyak. Cahaya membuat jendela, langit-langit dan lantai memantulkan kelap-kelip biru yang semakin mempercantik ruangan.
Pandanganku yang sibuk mengamati seisi ruangan lagi-lagi berhenti pada gadis di sebelahku.
Dari samping, dia tetap saja memberikan kesan hangat padaku meskipun sifatnya yang bertolak belakang. Semakin kuperhatikan, rambut dengan gaya kuncir setengahnya terlihat sangat rapi dan tidak kusut. Rambut sedangnya bagaikan bunga merah dalam buket yang diikat (dikepang) dengan sebuah pita merah. Sebuah buket tidak akan lengkap dengan pita tersebut.
Bertemu dengannya lagi untuk yang ketiga kalinya membuatku berpikir ini bukan suatu kebetulan lagi. Kami bertemu di kolam, lalu di pantai, dan sekarang di kastil es. Apa mungkin takdir berencana mempertemukan kami? Atau sebenarnya pemahat itu yang sebenarnya punya rencana mempertemukanku dengan Vestia? Karena dia sudah dua kali merekomendasikan sebuah tempat untuk kukunjungi dan dua kali aku bertemu dengan Vestia karenanya. Antara aku harus bersyukur atau menyesal.
Kami berdua fokus pada apa yang ada di depan kami. Pandangan serius mata Vestia sejajar lurus dengan singgasana tersebut seolah dia sedang menatap seorang raja yang duduk di sana.
“Singgasana itu tampak mencurigakan.” Sambil mendekati singgasana, Vestia memicingkan matanya. Simbol yang sama terukir di sandaran singgasana. “Simbol apa sebenarnya ini? Ayo! Pikir! Dapatkan sesuatu, otak! Pasti ada sesuatu. Harus ada!” Vestia terus bergumam pada dirinya sendiri sambil membuat keningnya berkerut.
“Jangan paksakan dirimu. Mungkin memang ini tempat wisata saja. Ayo, keluar! Sebelum para penjaga itu menemukan kita," ujarku mencoba membujuk Vestia agar menerima apa yang berbeda dari harapannya.
Aku pun segera meraih tangan Vestia, lalu menariknya. Seolah tidak mendengarku, Vestia sedikit demi sedikit maju dan terus membungkukkan badannya hingga wajahnya berjarak sangat dekat sekali dengan simbol tersebut. Tanganku ikut terseret oleh kekuatannya, aku berusaha melepaskan genggamanku tapi dia yang sibuk mendekati singgasana tidak berniat melepaskannya. Aku menahan diri di belakang dengan kakiku. Tiba-tiba, kami saling tarik menarik tanpa niat sungguhan untuk melakukan tarik-tarikan. Aku lengah. Kakiku terpeleset ke depan. Tangan kami terlepas, aku tejatuh ke belakang. Sementara Vestia menabrak singgasana akibat tarikan yang tiba-tiba terlepas.
“Hei! Kau sengaja, ya, melepasnya!?” Vestia langsung berdiri dan membentakku yang masih terbaring di lantai, tanpa menunjukkan kesakitan. Keningnya merah berdarah akibat menabrak kursi es yang keras tersebut. Bagian dudukan singgasana terlihat sedikit hancur dan retak.
“Kau yang terlalu ngotot!” Aku tak mau mengalah.
“Tapi, aku yang terluka disini!”
Seolah merespon pertengkaran kami, gelang pemberian pemahat yang kukenakan tiba-tiba bergetar. Getarannya semakin kuat padahal aku tidak melakukan apapun, lalu kalung itu pecah. Kepingan es-esnya menghambur ke mana-mana.
Aku terdiam menatap lenganku sendiri yang tergores sedikit. Darah menetes keluar dari pergelangan tanganku. Kami semua bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Hei, apa kau melakukan sesuatu?” tuduh Vestia padaku.
Aku bangkit kemudian langsung menghadapnya seolah ingin menantangnya. “Tentu saja tidak! Untuk apa aku menghancurkan gelangku sendiri?”
Tiba-tiba Vestia mendorongku kuat. Sebuah pedang terayun di antara kami. Patung es yang sebelumnya berdiri diam di sebelah singgasana tiba-tiba dapat bergerak bebas selayaknya makhluk hidup.
Patung itu bergerak kaku mengayunkan pedangnya. Ia menatap kami seolah-olah kami adalah penyusup yang harus dimusnahkan.