
Perasaan yang sama kurasakan kembali, Aeron atau kompas ajaib itu tertawa saat aku menceritakan kisahku. Ia tertawa begitu puas padahal dirinya hanyalah sebuah kompas kecil yang bisa kuhancurkan kapan saja. Aku sekalipun tak merasa bahwa cerita hidupku lucu.
“Apa yang kau tertawakan?” Aku mendekatkan kompas itu ke wajahku, berharap ia bisa melihat wajah kesalku. “Aku bisa membuangmu kapan saja tahu!" gertakku.
“Aku bertaruh kau tak bisa.”
Kompas itu benar. Aku membawanya karena pastinya kompas ini akan sangat berguna untukku nantinya. Kemampuan menunjuk hal yang paling diinginkan benar-benar sangat membantuku. Aku bisa menemukan beri dengan mudah, ikan di sungai, atau tempat untukku bernaung. Tak hanya itu, ia juga bisa menjadi teman mengobrolku dikala bosan. Membuangnya akan sangat merugikanku.
Akan tetapi, kompas itu selalu membuatku kesal, ia selalu mengejekku sepanjang langkah. Aku ingin dia lebih menghormati pemiliknya, yaitu aku. Daripada menghina dan menertawakanku.
“Maaf, maaf. Tak kusangka kau membutuhkan waktu selama itu untuk mengalahkan ibumu, bahkan ibumu sendiri yang mengubah latihannya menjadi lebih ringan. Kalau tidak, mungkin kau tak akan pernah bisa mewujudkan mimpi.”
Tak bisa kupercaya kompas itu mengejekku.
“Edras juga berkata seperti itu,” aku mendesah.
“Siapa Edras?”
“Dia orang yang kutemui di desa, teman pertamaku. Dia juga yang memberikanku bros bintang ini.”
“Percuma kau mengatakannya, aku tak bisa melihat,” ungkap kompas itu. “Aku hanya bisa berbicara, mendengar, juga menunjukkan arah. Ingat itu baik-baik! Aku akan tersinggung jika kau masih melakukannya.”
Aku merasa nyaman jika ada seseorang yang bisa kuajak bicara. Perjalanan yang panjang jadi tak terasa melelahkan sama sekali. Udara dingin yang menggigil pun kini terasa hangat. Kukira dia akan terus mengoceh setelah kejadian di pantai, tapi kurasa dia tak mempermasalahkannya lagi. Ia justru bisa tertawa lepas.
“Hei, apa kau tak marah lagi soal sebelumnya?” Kucoba untuk menanyakan langsung padanya.
“Masalah itu sudah lewat, tak ada yang bisa dilakukan lagi,” jawabnya. “Tapi, jangan kau ulangi lagi."
Dia tak bisa melihatku, aku menggeleng. “Iya,” jawabku berbohong. “Bagaimana denganmu? Kau bilang akan menceritakan kisahmu setelah kuceritakan milikku.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Ah, kau benar. Kisahku ya … jadi … aku rasa tidak."
“Itu salahmu sendiri. Seharusnya pikirkan dengan baik-baik kalau ingin menceritakan kisahmu, gadis bodoh. Aku juga memiliki privasi, jadi aku tak mau menceritakannya padamu,” jawabnya seperti anak kecil yang menggerutu.
Kompas ini benar-benar membuatku kesal. Ingin rasanya kulempar ke lautan yang dingin dan dalam, beruntungnya aku ini gadis yang baik. Aku juga harus mengurungkan niatku karena di depanku sebuah kota sudah menungguku. Kota dengan tembok yang tertutup salju itu sekilas mengingatkanku tentang Pondorian. Kuharap warga di sana juga sama baiknya.
Penjaga gerbang menghentikanku, dengan segera aku menyerahkan surat-surat yang untuk mendapatkannya butuh waktu sangat lama. Setelah membacanya, penjaga itu menyerahkan kembali suratku dan mempersilahkanku untuk masuk. Penjaga lain muncul di balik gerbang dan menatapku dengan terkejut. “Kau … penyihir yang membantu perayaan di Pondorian, bukan?”
“Kau mengenalku?”
“Ya, tentu saja. Nama Nona Penyihir Salju sudah terdengar kemana-mana. Katanya ada gadis penyihir dengan rambut putih perak yang menyapu api dengan belaian saljunya. Gadis penyihir itu juga menghukum para bandit dengan membekukannya menjadi bongkahan es. Penyihir Salju itu nona, kan?”
Aku tentu saja merasa senang, tetapi juga merasa tak percaya namaku bisa sampai ke negeri lain. Tak sekalipun terbesit dalam pikiranku untuk menjadi selebritis. Mendengar orang asing menyebutkan namaku dan mengetahui ceritaku, itu pengalaman yang luar biasa. Aku merasakannya di dadaku dan aku bisa tahu itu adalah perasaan kebanggaanku pada diriku sendiri.
“Nona benar-benar cantik seperti yang diceritakan. Mataku hingga tak mempercayainya.” Penjaga itu beralih ke teman penjaganya yang baru saja memeriksa suratku dan menepuk pundaknya. “Hei, apa yang kau lakukan? Dia Penyihir Salju yang terkenal, kita bisa mempercayainya ….”
Mereka mulai berbisik, namun aku tahu kalau itu adalah pujian. Teruslah memujiku. Biarkan diriku mendengar segala sanjungan indahmu tentangku. Biarkan kata-kata indah yang keluar itu masuk ke telingaku dan menyatu ke dalam jiwaku, menjadi satu dengan kenyataannya. Aku tak akan pernah bosan mendengarnya.
Penjaga itu lalu kembali ke depanku, “Nona Penyihir Salju ….”
“Panggil aku Nivalis.”
“Baiklah, Nona Nivalis. Kami tak enak meminta ini padamu, tapi mendengar semua kisahmu, membuat kami berpikir. Sebenarnya kami membutuhkan bantuanmu nona,” ucapnya menjadi lebih serius.
“Tentu saja. Kau mengenalku dengan baik, aku tak bisa berkata tidak. Apa yang bisa kubantu?”
“Bisakah Nona Nivalis membantu kami menemukan warga kota yang telah menghilang? Kami sudah berusaha melakukannya, tapi tak mendapatkan kemajuan sedikitpun.”
Kata-kata indah itu buyar seketika dalam pikiranku, juga hatiku. Aku menatapnya untuk memastikan apakah dia sedang bercanda atau tidak. Tetapi, yang kulihat dia tak berkedip sekalipun. Justru matanya menatap dengan penuh harapan padaku. Sebuah keyakinan yang diletakan melalui matanya lebih kuat hingga mampu menghilangkan pujian-pujian yang bersemi.