Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Pembuktian



Setelah menyelesaikan segala urusan di kota, kami pun menyewa penginapan untuk beristirahat. Di ranjang milikku, aku duduk sambil menyelimuti tubuhku selimut dari penginapan.


Kami melepas semua barang kami, seperti topi, jubah, syal dan tas selempang untuk melepaskan beban di tubuh kami. Kehangatan api dari perapian di antara kasur kami dan selimut membuat tubuhku yang lelah menjadi lebih rileks.


“Kau membuatku sangat penasaran ….” Tiba-tiba Vestia berkata saat api berkertak-kertak di tengah kami. Entah ditujukan padaku atau pada perapian yang ditatapnya. “Kekuatan sihirmu itu sudah ditingkat penyihir elit padahal kau masih muda. Bagaimana cara kau melakukannya?”


Aku sedikit bingung. Wajahnya yang disinari cahaya merah dari api tidak menunjukkan sedang bercanda. “Dengan mengeluarkan sihir seperti biasa…?” jawabku apa adanya.


Mata Vestia beralih dari api ke arahku. “Apa kau serius? Kau bahkan tidak kesulitan saat melakukan sihir tanpa tongkat. Kebanyakan penyihir berbakat saja lebih memilih menggunakan alat untuk mengeluarkan sihir daripada melalui tubuh secara langsung. Mengontrol sihir tanpa media itu sulit, lho. Apalagi jika bukan belajar dari guru yang berpengalaman. Darimana kau belajar sihir?”


“Ibuku. Dia penyihir terkuat. Wajar saja aku menjadi penyihir yang kuat karena dididik olehnya.”


“Hah?” Alis Vestia terangkat satu. ““Jangan bercanda! Penyihir terkuat hanya ada satu. Dan itu adalah gelar resmi yang dimiliki oleh pimpinan ordo yaitu Penyihir Agung Saulmandria. Itu gelar kehormatan yang diakui oleh seluruh dunia dan bukan untuk diberikan ke sembarang orang yang tinggal di antah berantah,” sanggahnya.


“Aku tidak tahu siapa itu Penyihir Agung Saulmandria, tapi aku yakin Ibuku jauh lebih kuat.”


“Dengar, ya. Jika Ibumu penyihir terkuat, aku pasti sudah tahu siapa dia. Sudah pasti banyak orang yang mengenalnya. Kau juga pasti dikenal karena sebagai putrinya. Para tetua pasti sudah memberikan posisi di ordo pada Ibumu dan kalian tidak mungkin tinggal di sini lagi. Pokoknya jangan mengada-ngada, deh.”


Aku menanggapinya dengan santai. “Kalau begitu, Penyihir Agungmu itu atau para tetuamu itu pasti belum pernah bertemu dengan Ibuku.”


Matanya memancarkan aura persaingan. Dia tidak berniat untuk menyerah. “Apa kau tidak terlalu membanggakan Ibumu? Memangnya siapa sebenarnya Ibumu?”


Jika dia berniat tidak menyerah, maka aku juga. “Satu-satunya penyihir terhebat dan wanita yang paling kusayangi, namanya Aena. Ibuku punya tubuh yang tak tembus pandang. Tidak ada yang bisa melukainya atau menyentuhnya. Dia juga punya salah satu permata sihir dan usianya sudah ratusan tahun. Ibuku adalah setengah Ardus. Kekuatan Ardus mengalir di darahnya. Dia bisa mengendalikan cuaca dan alam sesuai hatinya. Penyihir agungmu itu mana mungkin—”


“Tunggu!” Vestia tiba-tiba berdiri dari kasurnya. Selimutnya merosot. Matanya terbeliak tidak percaya menatapku. “Kau bilang Ardus? Permata sihir dan usianya ratusan tahun?”


Aku mengangguk kaku saat melihat reaksi terkejutnya. “Iya. Aku sudah mengatakannya barusan.”


Vestia lalu mendekatiku cepat-cepat seolah dikejar oleh waktu. Dia membungkuk dan menatapku sangat dekat. Tangannya mencengkeram bahuku seolah berusaha menahanku untuk terus menatap mata merahnya.


“Kau sedang tidak berbohong, kan? Berbohong itu dosa besar, lho. Kau akan menanggung konsekuensinya jika bohong.”


“Untuk apa aku berbohong?”


Tiga detik, lima detik dia terus menatap mataku tanpa berkedip. Dia terus mendelik seolah sedang berusaha membaca pikiranku. Cengkeramannya di bahuku semakin kuat. Seiring detik berlalu, semakin dekat pula wajahnya.


Apa aku berkata sesuatu yang melanggar hukum? Aku yakin aku berkata jujur tanpa menyinggung apapun.


Kepala Vestia tergantung ke bawah, bersama dengan nafas mengesahnya. Vestia melepaskan cengkeramannya, lalu kembali ke kasurnya untuk merogoh sesuatu di tasnya. “Apa kau tahu tentang Permata Sihir?”


“Justru itu yang sulit dipercaya.” Dia mengambil sebuah lempengan logam seperti medali berwarna perak, lalu melemparkannya padaku. “Permata Sihir adalah sembilan artefak sihir terkuat yang diciptakan oleh salah satu Ardus. Saking kuatnya, kesembilan permata itu tidak bisa berada di tempat yang bersamaan karena akan menciptakan gesekan energi sihir yang bisa meledak kapanpun. Karena itu, dipilihlah sembilan orang untuk menjaga dan menyimpan permata sihir itu yang disebut sebagai Pemegang Permata Sihir. Tapi, itu cerita lama. Sekarang para pemegang sudah mati dan Permata Sihir sudah dihancurkan semua agar tidak ada lagi yang ingin menguasainya. Itu sejarah yang sudah umum.”


Medali itu memiliki sebuah ukiran berupa tiga figur wanita dan satu pria yang berdiri berjejer ditengah sebuah lingkaran dengan sembilan permata. Ketika aku mengamatinya, aku bisa tahu salah satu wanita itu adalah ibuku meskipun berupa siluet saja. Aku bisa merasakannya dan aku yakin itu ibuku. Lalu, tiga orang lainnya berarti adalah saudara dan saudari ibuku.


“Tidak. Ibuku masih hidup, kok. Permatanya juga masih ada. Dia pernah menunjukkannya padaku.”


“Tidak mungkin. Jika permata itu masih ada, ordo sudah pasti menyimpannya. Ditambah Ras Ardus sudah tidak ada lagi di dunia sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka semua memutuskan pergi mengisolasikan diri di tanah antah berantah di tengah lautan yang sangat jauh. Tidak ada kabar apapun lagi tentang mereka.”


Kenapa dia ngotot sekali? Apa dia sedang mencoba untuk menghina ibuku? Aku tidak masalah jika dia menghinaku, tapi aku tidak terima jika ibuku yang dihina. “Aku selama delapan belas tahun hidup dengan Ibuku. Aku tidak bodoh!” balasku. Aku tidak peduli lagi dengan selimutku yang longgar.


Vestia menyeringai mengejek. “Kau tidak percaya? Akan kubuktikan padamu.” Ia mengambil pedangnya yang disandarkan pada dinding. Pedang itu dihunuskan padaku.


“A-apa yang ingin kau lakukan?” tanyaku gelisah.


Dengan pedang yang memiliki batang silang berbentuk sayap itu dia mendekat lagi ke arahku. Ini kedua kalinya dia mendekatiku, tapi kali ini dengan sebuah pedang. Bilah tajamnya diarahkan padaku. Aku menatap matanya dan melihat kesungguhan. Aku menahan bahunya, tapi itu justru membuatku terdorong ke belakang. Tubuhku menjadi tak berkutik padahal ada sebuah pedang tajam menuju ke arahku.


Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat. Kilau perak bilahnya sudah di depan mataku.


Tiba-tiba, dia tersenyum. Aku tidak mengerti. Tapi, dia tersenyum puas saat kubuka kembali mataku. Setelahnya, bisa kurasakan sensasi perih dan sesuatu yang mengalir di pipiku. Aku menyentuh pipiku dengan tanganku. Cairan merah menempel di jari-jariku. Baunya seperti besi. Itu terjadi sangat cepat, bahkan aku tidak merasakan apapun sebelum akhirnya darah mengalir keluar dari pipiku.


“Kau—!” Suaraku bergetar, tapi aku sadar itu karena marah dan rasa takut.


“Sudah kubuktikan,” ucapnya.


Vestia menurunkan pedanganya, lalu menyentuh pipiku yang terluka. Tangannya terasa hangat walaupun kasar. Cahaya kuning muncul yang tidak hanya menambah kehangatan tapi juga ketenangan. Rasa perih itu hilang. Lukaku sembuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia melakukan itu sambil tersenyum seolah telah mencapai sebuah kemenangan?


“Seorang Ardus memiliki darah emas, sedangkan darahmu itu warna merah. Kau bukan Ardus. Itu berarti Ibumu juga bukan. Ibumu manusia,” jelasnya.


Jadi, dia sedang membuktikan darahku. Kebingungan masih tetap memenuhiku meskipun dia sudah menjelaskan maksudnya. Aku memang manusia dan darahku memang merah. Aku tidak pernah bilang kalau aku ini Ardus. Yang Ardus adalah ibuku. Dan aku bukan anak kandungnya. Aku hanya ditemukan lalu diadopsi oleh ibu. Namun, setelah kupikirkan, aku tidak pernah melihat darah ibu. Memang, dia tidak bisa dilukai. Tapi, bagaimana jika ibu memang seorang manusia?


Tidak mungkin.


“Baiklah, karena sudah terbukti. Tidak ada yang perlu diributkan lagi,” ucapnya dengan santai.


Sifat keras kepalanya muncul lagi. Tapi, jika ingin diteruskan, justru akan menjadi sia-sia saja bagiku. Aku tidak memiliki apapun yang bisa membuktikan kalau dia salah. Aku sendiri baru sadar bahwa selama ini masih banyak misteri tentang ibuku yang tidak aku ketahui. Aku tidak tahu mana yang benar dan bukan. Aku hanya percaya satu hal bahwa ibuku tetaplah ibuku.