
Wanita itu menarikku dengan kuat. Wanita itu pasti memiliki pekerjaan yang berat. Cengkeramannya kasar. Ia terus berlari seraya menarikku tanpa memikirkan nafasnya yang terbuang, hingga kami mencapai pasar. Wanita itu tak berhenti sekalipun untuk menarik nafas, ia menatapku dan menunjuk-nunjuk ke arah kekacauan di pasar.
“Di sana, nona. Lihatlah!” desaknya tak berhenti sebelum aku melihatnya. “Aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Kami takut jika itu kutukan atau semacam sihir yang berbahaya, karena itu kami tak berani membersihkannya.”
Aku menuju sudut yang dia tuju. Di belakang sebuah kios dengan tenda biru dan para warga yang melingkarinya seperti sebuah pertunjukan berada di tengahnya. Semua mata tertuju ke bawah. Aku membuka barisan dengan tanganku dan menemukan sebuah noda hitam di tanah bersalju.
Begitu kental dan amis, sama seperti darah tapi berwarna hitam. Noda darah hitam itu menarik perhatian banyak kerumunan. Mereka datang pagi-pagi bermaksud untuk berbelanja di pasar, tapi justru menemukan cairan hitam aneh yang pekat.
Aku mencolek cairan itu dengan tongkat sihirku untuk memeriksa reaksi yang ditimbulkan saat terpapar energi sihir. “Kurasa ini tidak mengandung racun atau semacamnya, lihatlah ….” Kemudian aku menggunakan jariku sendiri untuk mengujinya. “… tidak terjadi apa-apa. Sama seperti darah biasa. Kapan kau menemukannya?”
“Sudah sejak awal hari, saat para pedagang mulai menyiapkan barang dagangan mereka,” jawab wanita itu.
Ini memang darah biasa, bau yang sama dan tekstur yang sama. Akan tetapi, siapa atau apa yang memiliki darah sehitam arang itu? Dari yang kutahu, beberapa jenis naga memang memiliki darah berwarna hitam, tapi jenis itu tidak tinggal di daerah beriklim dingin seperti di sini. Kalaupun memang ada naga atau makhluk lain yang terluka, para warga seharusnya sudah melihatnya. Keributan seharusnya terjadi sejak makhluk itu muncul.
Aku mendongak ke langit. “Tempat ini, apakah hewan liar sering masuk ke sini?”
“Burung hanya hewan liar terakhir yang kulihat.”
Aku beralih ke tempat yang sepi lagi untuk membicarakan masalah ini pada Aeron. “Bagaimana menurutmu?”
“Sebaiknya kau pikirkan dulu masalah yang sebelumnya, ingat? Kau menambah beban pikiranmu lagi,” ujar kompas itu.
“Kau tak penasaran?”
Pikiranku sama seperti gang buntu tempatku berdiri. Aku tak ingin melakukannya, tetapi entah mengapa aku mengaitkan kasus orang-orang yang hilang tersebut dengan jejak darah hitam. Aku percaya kedua hal ini saling berkaitan. Bukannya lebih membuka kemungkinan yang lebih mendekati, aku justru semakin dibuat bingung dan semakin tak tahu harus melangkah ke mana.
Aku pun kembali ke cairan yang masih menggenang seperti tinta hitam yang bocor di sebuah kertas putih. Aku terus memandangi refleksiku sendiri di cairan tersebut. Orang-orang mulai membicarakannya, tetapi tidak membicarakan kehadiranku, Sang Penyihir Salju. Itu sangat menyedihkan.
Aktivitas kembali dilanjutkan seperti biasanya. Mereka berdagang juga sekaligus bergosip. Saat mereka membicarakan tentang gadis yang hilang, aku mulai mendengarkan. “Pasti gadis itu yang selingkuh. Ketika si lelaki mengetahuinya, gadis itu kabur dan hilang, aku yakin itu.”
“Menurutmu si lelaki itu yang membunuh orang-orang?” Pelanggan itu tertarik dan membuka pembicaraannya lebih panjang.
“Ya, kesedihannya menjadi amarah, amarahnya menjadi nafsu membunuh. Ia membunuh siapapun yang ia temui saat malam itu dan menyembunyikannya seolah-olah mereka hilang dalam badai salju.”
Aku melirik ke belakang dan pedagang lain muncul, bergabung dalam pembicaraan yang asyik tersebut. “Bukan, bukan lelaki itu. Itu hantu salju! Mengintai siapapun yang keluar saat malam badai seperti hantu. Hantu Elfor!”
“Apa yang membuatmu yakin itu Hantu Elfor?” tanya si pelanggan.
“Karena aku melihatnya sendiri. Memakai jubah hitam dengan mata merah seperti orang yang tak tidur berhari-hari. Kau lihat cairan hitam disana? Itu darahnya.”
“Nona Nivalis!” Rowan muncul memecah pembicaraan yang membuatku ikut terlarut di dalamnya.
“Ada apa?”
“Lelaki itu ingin berbicara.”