
“Tak kusangka penyihir sepertimu benar-benar takluk dengan mudah. Aku tidak salah memanggilmu gadis bodoh.”
Aku ingat satu kutipan di buku yang kubaca. “Seseorang tidak akan dapat mempengaruhi orang lain dan juga tidak dapat dipengaruhi.” Apapun yang kompas bodoh itu bicarakan soalku, aku tidak akan dengan mudah terpengaruh.
Siapapun pasti tidak akan menolak setumpuk emas berkilau tanpa perlu bergerak banyak. Pemuda bernama Charley itu menjanjikan padaku setengah dari hadiah yang dia dapatkan. Itu berarti aku mendapatkan setidaknya 25 Pengrium emas hanya menjadi model untuk lukisannya saja. Sudah menjadi logika umum manusia yang memerlukan banyak kebutuhan untuk menerima uang dengan sedikit pekerjaan. Jika ada yang menolak kekayaan di depan mata, aku ragu itu bukan manusia.
Perjalananku akan sangat sangat panjang sekali. Sihir memang bisa memberikan perlindungan bagiku secara fisik, tapi tidak dengan uang. Setidaknya aku memerlukan simpanan uang sebanyak mungkin untuk perjalanan internasional. Tidak usah munafik. Semua hal di dunia butuh uang. Tempat tinggal, pakaian, makanan, bahkan hiburan memerlukan yang dinamakan uang untuk mendapatkannya. Aku harus menerimanya atau tinggal di hutan tanpa apapun atau siapapun.
Begitu Charley mengatakan soal hadiahnya padaku, aku langsung menerimanya saat itu juga tanpa terkecuali. Dia senang akupun senang. Aku percaya diri akan memenangi perlombaan ini. Semua berkat kecantikan yang kumiliki ini. Terima kasih dunia, terima kasih dewa, terima kasih Ibu, dan terima kasih diriku.
“Aku tak memiliki mata, tapi aku tahu sekarang wajahmu pasti mengatakan kalau tidak ada yang bisa mengalahkan dirimu, kan?” ucap sebuah kompas di meja rias.
“Kau sendiri?” Aku melompat di atas kasur segera setelah aku melepas sepatu, topi dan jubahku. Mempunyai kenalan orang sini, ternyata sangat berguna juga. Aku jadi tahu mana penginapan yang harganya tidak sesuai dengan kenyamanan dan mana penginapan yang benar-benar ramah untuk seorang gadis penyihir pengelana sepertiku. “Apa kau tidak tertarik dengan kota ini? Kota dimana lukisan menjadi nilai dari seseorang. Aku ingat perkataan Ibuku soal tak ada nilai yang pas untuk menggambarkan manusia.”
“Aku benci saat secara tiba-tiba kau memberiku pertanyaan yang aneh. Seperti ada sesuatu yang salah darimu,” jawab kompas.
Aku merentangkan tanganku ke atas meja rias dengan masih berbaring nyaman di kasurku. Kuambil kompas dan kubawa menghadap wajahku. “Apa semua kompas pada dasarnya cerewet sepertimu? Tinggal jawab saja apa susahnya!” kesalku.
“Kompas yang bisa bicara hanya aku seorang.”
“Iya iya, aku mengerti! Sekarang jawab pertanyaanku!”
“Sebenarnya kau yang cerewet.” Dia bergumam padahal aku mendekatkan dia persis di depan wajahku. Mana mungkin aku tidak mendengarnya. “Kalau kau bertanya aku tertarik atau tidak, jawabanku tidak! Puas?”
“Jawab disertai alasannya!” tegasku.
Terdengar helaan nafasnya sebelum menjawab. “Aku tidak bisa memikirkan apapun tentang alasannya. Hanya saja, kota ini, para pelukis dan lukisannya tidak membuatku merasa seperti kau saat melakukan sihir. Memang kota ini unik, penuh warna, atau semacamnya. Tapi, jika kau berbicara soal ketertarikan, tidak baik memaksakan seseorang untuk menyukai hal yang sama dengan yang kau sukai.”
Aku juga ikut menghela nafas. “Padahal aku tidak sedang memaksamu. Aku dari dulu sangat ingin belajar melukis. Lukisan Ibuku luar biasa, kau tahu? Rasanya aneh jika seorang putri tidak mewarisi bakat dari Ibunya.”
Entah karena topik obrolan kita atau aku hanya merindukan Ibuku, aku kembali teringat kebersamaanku dengan Ibuku di Tebing Harapan. Saat badai salju seperti umumnya mencegahku bermain di luar, aku hanya bisa menghitung dengan bosan benih-benih salju yang berjatuhan dari angkasa melalui jendela kacaku.
Aku sudah memikirkan banyak hal untuk dilakukan hari ini bersama Ibuku. Sayangnya, cuaca mengutukku. Kesalnya. “Kenapa Ibu tak mengubah cuacanya saja menjadi terang?”
“Apa maksudmu, sayang? Ibu hanyalah seorang Ibu. Ibu bukan dewa yang bisa mengubah cuaca seenak hati.” Suara lembut di belakangku, menyelamatkanku yang hanyut dalam kebosanan. Menatap bulir-bulir salju sambil mendengarkan suara Ibuku sangat nikmat—seperti sensasi menyegarkan yang menyapu stress dan segala kegundahannya.
Suara lembut Ibu memaksaku memejamkan mata sambil bersandar di jendela. “Ibu penyihir terkuat, kan? Permata Sihir Ibu saja bisa menciptakan kehidupan. Bukan hal yang mustahil untuk Ibu mengubah cuaca.”
“Alam punya aturannya sendiri. Mengubah cuaca berarti melanggar peraturan alam. Dan kau tahu apa yang akan terjadi jika melanggar peraturan, kan? Ibu tahu badai ini membuatmu bosan. Bagaimana kalau kau mengikuti apa yang Ibumu nikmati saat seperti ini?”
“Menikmati?” Aku berbalik ke belakang dan melihat wanita tercantik dalam hidupku sedang duduk manis di sebuah kursi dengan tiga kaki. Dia tersenyum lembut saat tangannya memegang sebuah kuas yang dicocolkan ke palet cat lalu dioleskan pada kanvas putih di depannya. “Melukis? Kurasa itu membosankan,” gumamku cuek.
Aku bisa melihat tatapan Ibuku yang seolah memaksaku dengan lembut. “Kemarilah.”
Saat itu aku tak mengerti apa maksud dari Ibuku mengajariku seni lukis. Yang kutahu dia mengajariku dengan sepenuh hati selama kurang lebih enam bulan.
Mau berapa kali aku menggerakan tangan dan kuas di kanvas, gerakanku tidak seindah gerakan tangan Ibuku yang seperti menari dengan gemulai tanpa membuat kesalahan sedikitpun. Mau sebanyak apapun warna yang kucampurkan ke dalam satu lukisan, tak membuat lukisanku seindah dan sehidup lukisan Ibuku yang tampak seperti pantulan langsung dari dunia. Sebanyak apapun kertas kanvas yang kuhamburkan, tetap tak sebanding dengan hasil satu kanvas milik Ibuku. Berapa kali aku menyelesaikan lukisanku dan meletakkan di sebelah lukisan Ibu, lalu melihatnya dengan seksama kedua lukisan tersebut, rasanya tetap aku langsung tahu mana yang mahakarya dan mana yang sampah. Meskipun begitu, Ibu masih terus mengajariku tiap bulannya selama enam bulan hingga akhirnya berhenti.
Setelah menyelesaikan lukisan terakhir, dia menatapku. Tersenyum kecut tapi matanya masih memancarkan kilauan cantik yang dingin. “Kau payah, Niva. Kau masih tidak mengerti mengikuti apa yang Ibumu nikmati.”
Jika waktu itu Ibuku bertanya padaku, aku juga menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama. Mengesalkan rasanya tidak mendapatkan jawaban yang kuinginkan—seperti mendapati diriku terjebak di dalam badai salju untuk kesekian kalinya. Aku tidak masalah jika badai itu hanya berlangsung sementara. Namun, badai yang berkecamuk di hatiku kali ini tidak. Ini bukan seperti badai salju yang merusak dan menimbun seluruh dataran dengan dingin yang membeku, tapi badai yang menutup semua mata dan tujuanku. Membuatku tersesat hingga akhirnya berhenti di tengah jalan.
Aku tidak masalah jika aku dianggap berlebihan. Mau bagaimana lagi? Itu semua hanyalah keluh kesah yang dialami oleh seorang anak yang tak bisa menjadi sesuai keinginan orang tua.
Sekali terjadi lalu kemudian menjadi masa lalu, mungkin aku bisa menyimpannya dalam hati dan menganggapnya sebagai kenangan. Atau aku juga bisa melupakan hal tersebut dan terus melangkah. Tapi, untuk kedua kalinya itu benar-benar menusuk hatiku dan melumatkan rasa percaya diriku seperti kertas yang basah. Di depan lukisanku sendiri, aku merasa sangat malu sekarang.
“Kau payah, nona. Ini mungkin kejam, tapi kau benar-benar tak memiliki bakat melukis sama sekali. Alangkah baiknya, jika nona tak menyentuh kuas lagi.” Dia mengucapkannya dengan wajah datar sambil memperhatikan lukisan sebuah langit milikku.
Sebelumnya, aku tak mengira kalimat itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang memuji-mujiku. Dia memang mengundangku ke rumahnya untuk membantunya melanjutkan lukisannya. Dan aku sendiri yang menawarkan diri untuk mencoba kemampuan melukisku. Entah apa yang merasukiku, aku merasa tertantang saat melihat banyak sekali lukisan beragam bentuk dan warna di rumah laki-laki tersebut—sama seperti lukisan ibuku yang terpampang di seluruh rumah. Aku merasa seperti ada gejolak di hatiku yang membangkitkan keinginanku untuk melukis setelah sekian lama kubiarkan terpendam. Tentu saja aku tak bisa diam begitu saja saat ada aliran energi yang disebut rasa semangat ini mengalir dengan liar di dalam tubuhku. Seketika, aku langsung mengatakan ingin melukis pada Charley.