Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Pertempuran di Kota



Ini kondisi yang sangat gawat. Di kota ada banyak sekali patung yang dihias sepanjang jalan. Bahkan dengan jumlah penjaga yang ada di kota, pasti akan merasa kesulitan dengan banyaknya patung-patung es tersebut. Kami harus bergegas secepat mungkin sebelum terlambat.


Semakin aku mendekati tembok kota, aku mendengar jeritan dan suara keributan di dalam. Bergelegar suara pedang-pedang yang saling berdenting dan benda-benda keras yang hancur.


Kami melihat warga yang berlarian di kejar oleh patung es seorang ksatria yang menghunuskan pedangnya. Semua patung es meninggalkan posisinya sebagai patung dan mulai menyerang warga tak berdoa. Jalanan dipenuhi patung yang berkeliaran, para penjaga kota yang sedang bertarung mati-matian, dan para warga yang berusaha menyelamatkan diri mereka. Patung-patung tanpa emosi itu bergerak menyerang membabi buta siapapun yang terlihat. Kota damai yang baru saja kutinggal tidak jauh, sekarang menjadi kacau.


Kulihat gadis di sebelahku yang menyala bagai api amarahnya, berlari ke arah patung-patung es. Vestia menusukkan tongkat sihirnya ke tubuh salah satu patung es sampai menembus punggungnya. Lalu, di belakang patung es itu, tongkat sihir melepaskan lautan api yang menerjang patung es di belakangnya dan melelehkan mereka sekaligus, termasuk membakar rumah para warga.


“Gawat!”


Aku mengirimkan salju yang langsung memadamkan api.


“Tahan emosimu. Jangan gunakan serangan dengan daya cakup yang luas. Kau bisa melukai warga sipil dan rumah mereka, tahu!” omelku.


Vestia mencabut tongkatnya dari perut es patung. Patung itu jatuh ke belakang dan pecah menjadi beberapa bagian. “Daya cakup terlalu luas, ya? Kalau begitu….” Ia menghilangkan tongkat sihirnya di udara. Lalu, membuka jubahnya ke samping seperti seekor burung membentangkan sayap kirinya.


Aku yang berada di sisi kiri bisa melihat baju lengan panjang putih hitamnya dan rok pendek hitamnya. Lencananya memancarkan kilau emas di dadanya. Vestia meletakkan tangan kanannya di gagang sebuah pedang yang tergantung pada ikat pinggang coklatnya. Gesekan dengan sarung pedang meninggalkan suara nyaring yang membuat perhatian para patung teralihkan dari warga. Ia mengangkat pedangnya tinggi di udara untuk menunjukkan keberadaannya pada musuh-musuhnya. Bilahnya perak cemerlang sehingga memancarkan cahaya terang meskipun ada di tempat gelap. Patung-patung dari segala sisi langsung menuju ke arah pedang itu yang diangkat tinggi seperti menerima tantangan yang diberikan oleh Vestia.


Dengan seringai, Vestia berkata pada diriku dan juga musuh-musuhnya. “Bersiaplah.”


Vestia langsung melesat ketika musuh sudah dekat. Dia mengayunkan pedangnya, memainkan pedangnya dengan cepat dan lihai seperti ahli pedang yang jenius. Topi penyihirnya terlepas dari kepalanya saat dia melompat, berputar di udara, lalu menebas patung menjadi dua bagian. Dia kembali lagi berdiri untuk bergerak sambil memutar pedangnya, dan entah bagaimana kakinya berpindah dari satu titik ke titik lainnya dengan sangat cepat. Kaki, tangan, pedangnya begitu lihai menghindar sekaligus memberikan serangan. Di mataku, dia tampak seperti sedang menari. Pedang yang beradu menimbulkan percikan api. Seperti sebuah api yang sedang menari begitu indahnya di tengah salju yang terus menghujani.


Pedangnya memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil daripada pedang yang dipakai oleh penjaga kota untuk menyesuaikan penggunanya, tapi ketajamannya tidak bisa diremehkan. Dengan pedangnya, dia mampu menghadapi banyak musuh sekaligus dan tidak terlihat akan kalah. Vestia begitu mendominasi. Aku memang tidak begitu paham dengan teknik berpedang, tapi bisa kulihat bahwa Vestia bukan seorang pemula.


Vestia menempelkan ujungnya tongkat sihirnya ke bilah pedangnya. Seketika, bilahnya dilapisi oleh api yang menyala-nyala. Musuh-musuhnya langsung meleleh karena tebasan cepatnya. Es melawan api. Vestia sudah ditakdirkan untuk menang sejak awal pertarungan. Tidak ada satupun yang sanggup menggoreskan luka pada Vestia. Bahkan sebenarnya, dia tidak perlu meminta bantuanku.


Begitu sadar, aku menikmati pertarungan Vestia. Aku tercengang melihat permainan pedang Vestia.


“Dia keren juga!"


Penyihir pertama yang kutemui ternyata juga adalah seorang ahli pedang.


Derap langkah kaki yang lebih berat bergemuruh dari belakang. Aku berbalik. Seekor kuda es berlari ke arahku. Aku melompat ke samping untuk menghindar. Ada penunggangnya yang memacu kuda itu untuk terus melaju ke depan.


“Vestia, awas!” teriakku.


Setelah mengalahkan musuhnya, Vestia langsung memasang kuda-kuda begitu patung ksatria penunggang kuda menghampirinya dengan kecepatan yang tinggi. Vestia tidak berniat untuk menghindarinya. Ia berniat untuk menghadapinya. Pedangnya dimasukkan kembali di dalam sarungnya. Vestia menunggu. Begitu kuda itu sudah cukup dekat, Vestia menarik kembali pedangnya yang berlapis api. Dalam satu tebasan diagonal, penunggang dan kuda itu terbelah menjadi dua.


Aku membeku kagum.


“Dibelakangmu,” ujar Vestia.


Tiga penunggang kuda lainnya menyusul dari belakangku. Mereka adalah patung yang seharusnya menghias air mancur. Dan sekarang hidup untuk menabrak makhluk-makhluk tak berdosa dengan kudanya.


Aku tak mau kalah dari Vestia. Aku mengayunkan tongkat sihirku dari kiri, atas lalu ke kanan membentuk setengah lingkaran. Angin muncul, menarik salju dan pecahan-pecahan es di sekitar. Mengumpulkannya dalam satu ****** beliung. Kulepaskan ****** beliung es dan salju ke arah para penunggang kuda. Mereka terhisap dan terbawa terbang, saling bertabrakan dengan penunggang kuda lainnya. Pecahan es dan angin kencang mengikis para penunggang kuda itu menjadi butiran-butiran es kecil. Setelah kulenyapkan ****** beliungnya, butiran-butiran es tersebut menyebar turun dari langit seperti serbuk-serbuk salju yang berkilauan cantik dengan warna birunya. Langit menjadi indah berkat para penunggang kuda.


Seorang penjaga menghampiri kami dari pinggir jalan. “Maaf, nona penyihir sekalian. Kami melihat kalian melawan patung-patung es dan kalian sangat kuat. Dengan kekuatan kalian, maukah kalian bekerja sama dengan kami menyelamatkan kota?”


“Tentu saja. Kami dengan senang membantu,” balas Vestia mendahuluiku. “Jumlah banyak lebih baik daripada satu orang kuat saja. Sudah selayaknya kita semua saling bekerja sama.”


Memang benar apa yang Vestia katakan. Melawan semua patung di seluruh penjuru kota hanya aku dan Vestia saja akan menjadi hal yang mustahil. Aku dan dia memiliki batasnya—tidak seperti ibuku. Kekuatan seorang atau dua orang saja masih kurang. Dibutuhkan kekuatan penuh dari satu pasukan yang terkoordinasi untuk mengalahkan musuh dalam jumlah banyak. Itulah tugas yang Vestia lakukan.


Dengan cepat dan tanggapnya, Vestia membantu para penjaga mengkoordinir pasukan penjaga yang disebarkan di berbagai sudut jalan. Meskipun bukan orang sini, tapi dia tahu ke mana arah yang harus dituju untuk disapu bersih dan berapa banyak jumlah pasukan penjaga yang harus dikerahkan dalam satu tim. Dia juga memilih jalur mana yang aman sebagai jalur evakuasi dan menyarankan untuk menambah personel di satu titik yang ramai penduduk. Vestia menunjuk-nunjuk lokasi di peta dan berkata dengan tegas. Sementara pasukan penjaga menerima masukan Vestia dengan sigap seolah gadis itu adalah pemimpin mereka.


Mungkinkah dia menghafal semua jalan dan kondisinya saat menyelidiki kota? Saat aku sebelumnya melihatnya bertanya satu per satu pada warga kota, mungkin saat itu dia juga sedang menghafal jalur kota. Mungkinkah dia sudah menghafal semuanya: jumlah patung, jumlah penjaga, tempat yang selalu ramai dikunjungi, dan jalur-jalur yang buntu dan bercabang? Apa dia sudah memprediksi akan adanya pertarungan di sini?


Aku salah tanggap. Kukira dia orang yang ceroboh dan tergesa-gesa. Ternyata Vestia adalah orang yang penuh perhitungan. Dia mungkin melakukan itu karena atas dasar kepercayaannya bisa menemukan penjahat yang dia incar disini. Dia percaya akan bertemu sang penjahat dan merasa harus menyiapkan segalanya jika situasi yang dia percayai akan datang.


Kalau benar begitu, dia benar-benar membuatku kagum sampai aku hanya fokus padanya saja, dan tidak fokus ke peta. Aku melirik keningnya yang masih merah. Sebaiknya kusembuhkan keningnya sebelum wajahnya semakin rusak.


Sesuai dengan apa yang sudah dirapatkan. Kami semua berpencar untuk melaksanakan misi masing-masing. Aku dan Vestia yang memiliki kekuatan sihir dipisah agar membagi ratakan kekuatan pada tim-tim yang tidak memiliki cukup pasukan dan tenaga untuk melawan. Akan sia-sia jika dua pengguna sihir diletakkan di tim yang sama.


Kami semua pun bekerja cukup keras untuk menghabisi patung-patung es di sepanjang jalan. Tidak hanya menghadapi para patung es, kami juga menyelamatkan para warga yang terjebak. Aku menyembuhkan para warga yang terluka. Vestia berada di garis paling depan untuk mengalahkan patung es yang terlalu kuat untuk dihadapi para penjaga.


Setelah cukup banyak tenaga yang dikerahkan, akhirnya kami sudah menghabiskan semua patung yang tersisa di kota. Kami bekerja sama dengan para penjaga kota untuk menyelamatkan warga dan mengalahkan patung-patung. Akibat banyak tangan yang saling membantu, kota kembali menjadi aman. Meskipun korban jiwa tetap tidak terhindarkan, tapi setidaknya korban yang berjatuhan berhasil diminimalisir.


Warga-warga yang sembunyi di rumah dan gang-gang gelap, perlahan memberanikan diri untuk keluar setelah pertarungan berakhir. Perlahan hanya satu, kemudian menyebar, dan akhirnya tepuk tangan serentak memenuhi seisi kota. Para warga mengelilingi kami dengan sorak-sorai dan perasaan gembira karena telah menyelamatkan kota mereka. Perasaan yang sama saat di Pondoriam muncul kembali di hatiku. Perasaan lega dan terharu saat berhasil menyelamatkan kebahagiaan orang-orang.


Salah satu warga mendekatiku. “Terima kasih, nona penyihir. Terima kasih telah menyelamatkan kami.”


“Tunggu. Apa yang—!” Vestia menatap heran padaku. Tapi, warga sudah mengerubunginya sehingga dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Aku bahkan tidak bisa melihat Vestia lagi saking ramainya.


Aku keluar dari kerumunan dan mengambil topi runcing Vestia yang terjatuh. Kutepuk topi itu dari salju.


“Apa kau yakin?” tanya si kompas di dalam tasku.


Aku memilih untuk membiarkan Vestia yang menerima sanjungan-sanjungan itu. Lagipula, dia lebih pantas menerimanya daripada aku. Semua yang aku ucapkan pada warga itu benar.


Menjadi terkenal mungkin ada enaknya, tapi entah kenapa aku tidak merasa iri saat melihat dia dikerumuni para warga yang begitu bahagia dan melontarkan beribu-ribu pujian padanya.


Sambil menunggu sang pahlawan selesai menerima tepuk tangan, ucapan terima kasih, dan tanda tangan, aku beranjak pergi ke satu tempat. Satu tempat yang menjadi pusat pemikiranku kali ini. Di tempat itu, adalah sumber penyebab dari kekacauan ini.


Sambil membawa topi Vestia, aku berdiri di sebuah rumah dengan pagar perunggu. Halamannya kosong. Tidak ada es yang sedang dipahat padahal sore hari belum tiba. Tidak ada pecahan bekas pahatan es di lantai. Bagian dalam rumah itu juga gelap gulita seperti tidak ada orang. Tidak ada bekas kehidupan di tempat ini padahal tidak begitu lama aku pergi. Rumah ini terasa suram dan tak memberikan kesan nyaman selayaknya rumah pada umumnya. Aku merasa seperti berdiri di depan rumah yang salah.


“Dia tidak ada.”


“Maksudmu si pemahat?”


“Dia bilang dia yang memahat semua patung es ini. Keluarganya yang telah menjadi pemahat untuk patung-patung es di kota. Dia mungkin tahu sesuatu.”


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi memang sungguh aneh. Tidak hanya fenomena yang terjadi, tapi juga karena perasaan yang kurasakan saat ini. Aku merasa gelisah entah kenapa.


“Apa mungkin….” Jantungku langsung berdegup kencang begitu si kompas mengucapkan pikirannya, “… pemahat itu adalah si penjahat?” yang sama seperti apa yang kupikirkan saat ini.


Akan tetapi, untuk apa dia membuat patung yang bisa hidup dan melukai para warga? Apa alasannya dia melakukan itu? Aku tidak menemukan dia memiliki kebencian pada orang-orang. Malahan dia justru merasa bahagia dan bangga pada apa yang dikerjakan olehnya.


“Permisi.”


Seorang pria tua entah muncul darimana mengejutkanku di sebelahku. Wajahnya begitu keriput sampai matanya tidak bisa terbuka lebar. Yang menggenggam tangannya adalah seorang anak kecil yang waktu itu.


“Sebelumnya kuucapkan terima kasih pada nona yang sudah menyelamatkan kota kami. Jika tidak ada nona dan temannya, kota damai ini akan jatuh dalam keputusasaan.”


“Sama-sama,” jawabku.


“Apa ada yang bisa saya bantu, nona? Kulihat dari tadi nona memandangi rumah kosong ini. Apa nona ingin membeli rumah ini?”


“Oh, tidak. Tunggu—­” Aku terkejut. “Rumah kosong katamu?”


“Ah, iya. Rumah ini sudah tidak ada yang menghuninya sejak penghuni pertama. Mereka kenalan ayahku. Mereka adalah sepasang suami istri. Namun, mereka sudah meninggal dalam suatu kecelakaan bahkan sebelum putra mereka lahir. Dan sekarang, tidak ada siapapun yang hidup untuk dapat menerima warisan mereka.” Pria itu memandang rumah kosong dengan tatapan sayu. Lalu, beralih lagi kepadaku. “Oh, iya, sang istri adalah seorang penyihir sama sepertimu, nona. Dan sang suami adalah seorang pemahat es.”


“Dan sekarang mereka menghantui rumah ini untuk selamanya. Hiii…,” tutur sang anak kecil yang memasang wajah menakuti-nakuti padaku.


“Sudah, jangan menakuti nona penyihir,” omel pria itu pada sang anak kecil yang sepertinya adalah cucunya. Dia lucu, tapi aku tak bisa ketawa karena kegelisahan ini.


“Apa kau tahu siapa yang memahat patung-patung es ini dan kenapa patung-patung es ini bisa hidup?” tanyaku.


“Tentu saja sang suami. Hanya dia seorang yang bisa memahat es sebagus itu. Kalau soal patung es yang tiba-tiba hidup, aku sungguh tidak tahu. Mungkin benar yang dikatakan cucuku, roh mereka masih gentayangan dan merasuki patung-patung itu. Tapi, kenapa sampai menyerang para warga, ya?”


Kepada siapa pertanyaanmu itu harus terjawab? Aku juga tidak tahu siapa yang harus diberikan pertanyaan. Aku tidak tahu siapa yang bisa menjawabnya. Dan aku tidak tahu apakah pertanyaan ini sangat penting bagiku sampai aku harus memusingkannya.


Sebelum berbalik pamit, pria itu sekilas memberikan sebuah senyuman kering membuatku teringat dengan si pemahat. Senyuman itu memberikan perasaan tidak nyaman akibat informasi yang baru saja kudapatkan. Itu semakin menambah daftar pertanyaan di otakku. Aku tidak tahu harus berkata apa saat ini. Hatiku dipenuhi kegelisahan hanya karena kejadian yang akan kutinggalkan nantinya seiring aku berpindah tempat.


Aku seharusnya mengajak Vestia.


Semakin lama aku disini, semakin tidak nyaman aku berada disini. Aku ingin segera pergi dari kota ini sebelum aku terlibat semakin jauh. Sudah cukup peranku sampai sini. Aku hanya ingin menikmati sebuah perjalanan yang damai, bukan menyelesaikan masalah yang tidak ada kaitannya denganku.


Tekadku sudah bulat dan aku memutuskan untuk pergi. Pengalaman di kota ini juga sudah cukup memuaskan sampai aku tidak perlu menunggu besok untuk pergi. Mau bagaimanapun, aku tetap akan mengingat kota ini.


Aku kembali menemui Vestia di tengah jalan sebelum melanjutkan pergi. Kerumunan tampaknya sudah lebih sedikit dari sebelumnya.


“Hei, dari mana saja?” tanya Vestia mendekatiku.


Kuberikan topi runcing miliknya. “Mencari informasi,” jawabku.


“Dapat sesuatu?”


“Tidak.”