
Setelah perjalanan panjang melewati hutan cemara yang sangat lebat dan bersalju, aku akhirnya sampai di tempat terbuka yang luas. Jujur saja, itu adalah perjalanan yang melelahkan dan membosankan ketika semua yang kulihat hanyalah berisi pepohonan dan salju aja. Bukan bermaksud membenci Ujung Garis Beku, hanya saja aku menginginkan sesuatu yang bisa memuaskan hasrat penasaranku.
Dan saat itulah aku menemukan suatu padang bunga luas di area tak dikenal. Itu adalah padang dengan satu jenis bunga yang hanya bisa tumbuh di tempat seperti ini, yaitu bunga utara. Bunga itu berwarna putih dengan gradasi biru es. Butiran salju-salju berjatuhan dan ditopang oleh mahkotanya yang mekar cukup lebar sampai ujungnya menjuntai jauh ke bawah. Saat aku terbang dekat di atas mereka, angin dari sapuku menggoyangkan mereka dan menyebarkan aroma harumnya yang menyegarkan untuk menyambutku.
Bunga-bunga ini tampak sehat dan segar seolah-olah ada yang merawatnya, tetapi aku tahu itu tidak mungkin. Tidak ada yang mau merawat bunga di lingkungan dingin seperti di sini, kecuali mereka adalah hantu salju.
Saat aku berpikir begitu, aku melihat sesosok figur di tengah padang berwarna biru dan putih ini. Tidak, sosok itu tidak sedang menyiram bunga utara. Sosok itu justru duduk saja dalam diam di tengah padang bunga seolah tidak mempedulikan dunia di sekelilingnya.
Aku penasaran dan menerbangkan sapuku mendekati sosok itu. Ternyata itu adalah seorang pria muda yang mengenakan pakaian tebal.
“Halo, tuan,” sapaku dengan lembut. Aku turun secara perlahan sambil memperhatikan kakiku agar tidak menginjak bunga langka itu.
“Hilda, apa itu kau?” Pria itu berbalik penuh semangat begitu mendengar suaraku, lalu wajahnya menjadi kecewa dengan sangat cepat. “Oh, maaf, kupikir kau Hilda.” Suaranya terdengar begitu lemah dan sedih.
Siapa Hilda?
“Aku Niva. Aku seorang pengembara,” ungkapku. “Dan ini kompasku, Aeron.”
Akan tetapi, pria itu hanya merespon, “Oh,” dengan wajah yang tidak menunjukkan ketertarikan sedikitpun. Mengenakan jaket berbulu, pria itu duduk bersilang beralaskan sebuah kain lebar dan kembali memandang ke langit pagi yang berwarna biru.
“Sepertinya dia tidak tertarik untuk berbicara,” bisik Aeron.
“Mungkin ….” Akan tetapi, aku masih penasaran dengan tempat ini dan kenapa pria itu duduk di sini. Aku tidak tahan untuk menanyakannya langsung.
“Maaf, jika boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyaku melanjutkan percakapan.
“Oh, aku sedang menunggu kekasihku. Namanya Hilda,” jawabnya. Dia masih tidak menoleh ke arahku. “Kami berjanji untuk bertemu di sini, seperti biasanya.”
“Apa kalian pemilik padang bunga utara ini?”
Dia tertawa kecil. “Itu tidak mungkin, nona. Tidak ada yang mau merawat bunga di lingkungan dingin seperti di sini, kecuali mereka adalah—”
“Hantu salju,” sambungku.
Pria itu akhirnya menoleh padaku dan terkejut. Pandangannya terpaku, mengamatiku dari bawah hingga ke atas, lalu berhenti di mataku. “Nona, orang utara, ya?”
“Ya, aku tinggal di Tebing Penyihir. Itu desa di bagian terbarat Ujung Garis Beku.”
“Aku tidak tahu ada tempat seperti itu,” gumamnya.
“Aku juga tidak tahu ada tempat secantik ini di sini. Masing-masing dari bunga-bunga ini berdiri dengan tegak dan sempurna. Batangnya tumbuh dengan kuat dan penyebaran warna biru di mahkotanya cukup banyak. Jika dilihat dari jumlah pertumbuhannya, itu menandakan kalau tempat ini belum tersentuh oleh manusia.”
“Wow, kau ternyata tahu banyak soal bunga, ya.” Mata pria itu terkagum memandangiku.
“Itu karena Ibuku. Dia suka merawat beragam jenis bunga dan kadang menyuruhku untuk merawat bunga-bunga miliknya. Alhasil, aku jadi belajar beberapa hal tentang bunga.”
“Begitu, ya. Aku merasa senang untukmu,” katanya sambil tersenyum. “Ngomong-ngomong, namaku Danny.”
Aku menyadari ketika pria itu memperkenalkan namanya wajahnya terlihat lebih cerah dan penuh semangat daripada sebelumnya. Dia juga lebih terbuka dan mulai menunjukkan senyuman padaku. Apakah topik tentang bunga yang menjadi pemicunya?
“Bagaimana denganmu, tuan, apa kau juga menyukai bunga dan karena itu kau berada di tempat ini?” tanya Aeron.
“Begitulah. Lebih tepatnya, aku suka bunga karena Hilda.” Kemudian, Danny menyerahkan padaku sebuah foto dari saku bajunya. Itu adalah foto seorang perempuan berambut pendek dengan senyuman paling bahagia. “Dia sangat mencintai bunga lebih dari siapapun yang pernah kukenal. Dia hafal semua jenis bunga dan aromanya.”
Terdengar sangat familiar. Aku juga mengenal satu orang dengan ciri-ciri seperti itu.
“Tiga tahun yang lalu, di tempat inilah aku bertemu dengannya untuk yang pertama kalinya,” ungkapnya sembari mengambil foto itu dariku dan memandanginya dengan dalam.
Sambil mendengar ceritanya, aku duduk di alasnya. Bukan aku yang merasa ingin duduk di sebelahnya, tetapi pria itu yang menawarkannya padaku dengan menepuk bagian alas yang kosong. Bagian yang kududuki sekarang seharusnya yang menjadi tempat perempuan itu.
“Kami lalu berkenalan. Dia membagikan makanan yang dia bawa dan menawarkanku duduk bersama di alasnya. Rasanya seperti piknik yang menyenangkan, bukan?” Ia memasukkan fotonya ke sakunya, lalu terkikik saat menatapku.
Aku tidak akan bilang itu piknik yang menyenangkan, terutama dengan udara dingin yang menusuk. Akan tetapi, pria itu sepertinya senang dengan hal itu, jadi aku membiarkannya saja.
“Dia bercerita padaku kalau bunga utara ini dan alam di Ujung Garis Beku membuatnya tenang dan damai. Dia datang ke sini untuk melepas stress akibat keluarganya yang terlalu ketat padanya dan selalu memaksakan segala hal. Saat aku mendengar ceritanya itu, aku yakin dia berasal dari keluarga bangsawan.
“Dia juga berkata kalau dirinya merasa sangat lega karena aku mendengar ceritanya. Padahal saat itu hujan salju, tetapi dia bisa tersenyum sangat lebar daripada kebanyakan Orang Utara. Saat itulah perasaan cinta di dadaku tumbuh dan mekar seperti bunga, dan aku langsung mengungkapkan perasaanku saat itu juga.”
Itu perkembangan yang sangat cepat. Pria ini mengambil tindakan lebih cepat daripada badai salju datang di Ujung Garis Beku.
“Tentu saja dia menerimaku dengan sangat bahagia. Namun, karena dia tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, kami saling berjanji untuk bertemu kembali di tempat ini setiap enam bulan sekali. Dia memberiku fotonya supaya aku bisa terus mengingatnya.”
“Enam bulan sekali? Itu waktu yang sangat lama. Kenapa enam bulan sekali?” tanya Aeron.
“Dia bilang itu ada hubungannya dengan pekerjaan keluarganya.”
Aku jadi penasaran dengan pekerjaan keluarga perempuan itu.
“Setelah itu, kami pun terus bertemu selama tiga tahun sampai sekarang. Setiap kami bertemu, kami selalu mengobrol sangat panjang karena waktu kami bertemu hanya sedikit saja. Kebanyakan obrolannya adalah tentang bunga-bunga, tentang bagaimana bunga utara ini yang menarik perhatiannya karena memiliki fungsi yang unik bagi Orang Utara. Kau pasti tahu, kan?” Dia mencoba mengujiku.
“Tentu saja. Bunga utara digunakan orang-orang untuk menentukan kapan badai salju akan datang. Semakin bagian ujung mahkotanya menjuntai ke bawah, itu berarti badai salju semakin dekat. Pola pergerakannya itu disebabkan karena bunga utara mampu beradaptasi dan tumbuh untuk menyerap udara dingin, lalu mengumpulkannya di ujung mahkotanya. Semakin dingin, maka ujung makhkotanya akan semakin berat dan semakin turun sampai menyentuh tanah dan berakhir terlepas dari batangnya,” jelasku dengan serius seperti seorang ahli.
“Haha, Hilda juga menjawab panjang seperti itu. Kalian benar-benar mirip.”
Entah kenapa, saat pria itu tertawa rasanya hatiku ikut lega. Padahal, dia hanya orang asing bagiku.
“Satu-satunya bunga yang tumbuh di lingkungan keras, menjadi harapan bagi orang-orang yang tinggal di tanah yang sama. Itulah kenapa Orang Utara menjadikan bunga ini sebagai simbol harapan. Karena hal itulah, Hilda menyukai bunga utara,” lanjut pria itu.
“Hei, tidak hanya bunga utara yang bisa tumbuh di sini, kau tahu? Apa Hilda tidak memberitahumu sama sekali tentang bunga tetes salju?” tanyaku, cemberut dengan kesal.
“Ah, setelah kuingat-ingat lagi, Hilda memang pernah menyebutkannya sekali dua kali. Tapi, karena bunga tetes salju tidak punya padang bunganya sendiri, kami tidak menjadikan bunga itu sebagi topik obrolan utama. Eh, tunggu sebentar, bunga tetes salju ….” Pria itu menunduk dan mulai berpikir, dengan sangat terlambat. “Namamu dari bunga tetes salju? Wow, aku sama sekali tidak menyadarinya.”
“Itu benar. Sebagai pecinta bunga, kau setidaknya harus menghormati bunga tetes salju juga. Itu adalah bunga kecil yang tangguh. Ia dapat bertahan sepanjang musim dingin dan tidak membeku sedikitpun. Ketika bunga itu mekar dengan sempurna, itu tandanya musim semi akan tiba. Oleh karena itu, bunga itu juga layak menjadi sebagai simbol harapan.”
“Kau terlalu bersemangat, Niva,” gerutu Aeron, lelah.
“Nona benar. Itu bunga yang luar biasa juga.” Danny mengangguk setuju.
Gara-gara Ibu, aku jadi sangat sensitif soal bunga, apalagi soal namaku.
“Ah, ngomong-ngomong, terima kasih sudah mendengar ceritaku, nona. Hilda benar, rasanya memang melegakan saat bisa menceritakannya ke orang lain. Maaf juga karena telah mengganggu perjalanamu. Tidak usah sungkan untuk melanjutkan,” ungkapnya. Dia lalu kembali menatap langit seperti semula.
Ada sesuatu yang aneh. Ekspresinya kembali dingin seperti sebelumnya. Aura cerah di wajahnya pudar seperti bunga yang sudah layu karena tidak mendapat nutrisi. Senyumannya juga hilang, membuatnya menjadi pribadi yang sangat berbeda. Saat menatap langit, dia sebenarnya tidak benar-benar menatap langit. Meskipun begitu, matanya masih memancarkan harapan.
“Kapan kekasihmu akan tiba?” tanyaku.
“Aku tidak bisa memastikannya. Dia hanya mengatakan tanggalnya saja, tetapi tidak dengan waktunya. Biasanya dia datang saat pagi sekali, dan terkadang larut malam. Ketika dia datang lebih dulu, dia menungguku sampai aku datang. Karena itu, hari ini aku berangkat pagi sekali untuk menunggunya.”
Lalu, mataku mendapati ujung sepatu botku tersentuh oleh ujung makhkota bunga utara yang menjuntai. Saking menjuntainya sampai makhkota itu seperti tertekuk ke bawah. Bertepatan dengan itu, aku merasa kedinginan tidak seperti biasanya. Kulitku menggigil dan bulu kudukku berdiri. Saat itu, aku langsung menyadari ada sesuatu.
Dengan spontan, aku segera bangkit dan mengentakkan tongkatku ke tanah. Seketika, tercipta sebuah lapisan cahaya yang mengurungku dan Danny seperti cangkang telur. Sesaat setelah itu, datang dari balik pepohonan seperti seekor monster berbulu besar yang membawa udara dingin yang membekukan tulang, adalah badai salju itu sendiri. Dengan kecepatan yang tidak normal, badai itu menerjang padang bunga, menuju ke arah kami.
Sayangnya untuk badai salju, pelindungku telah menolaknya dengan sangat kokoh. Suara gemuruh dan deru angin kencing memenuhi sekeliling pelindung seolah berusaha menghancurkannya. Namun selama aku ada di sini, badai itu tidak akan bisa masuk.
“Tunggulah sebentar. Badai ini tidak akan lama,” kataku.
Badai salju yang tiba-tiba muncul ini adalah hal yang normal di Ujung Garis Beku. Terkadang, saat kau berjalan santai di jalan setapak, muncul badai salju tanpa peringatan dan terkadang badai tersebut akan tiba-tiba hilang dengan sangat cepat seolah hanya sedang bertegur sapa denganmu saja. Kadang dalam seminggu sering muncul dan kadang sebaliknya. Kadang hanya berlangsung beberapa menit dan kadang ada yang sampai berhari-hari. Seperti itulah, kehidupan di sini. Orang-orang melakukan segala cara untuk dapat bertahan dari badai salju, termasuk dengan memelihara bunga utara di rumah mereka untuk memprediksi kapan badai akan datang.
Kemudian, aku membuka telapak tanganku yang satunya, mengeluarkan kobaran api sedang untuk menghangatkan kami berdua selagi menunggu badai itu pergi. Aku mempertahankan tongkatku tegak lurus, menjaga lapisan sihir pelindung agar tidak rusak.
“Setelah ini, sebaiknya segeralah kembalilah ke rumahmu. Kau tidak akan aman di sini dengan badai ini,” saranku, tetapi sepertinya pria itu tidak mendengarkan. Dia hanya membenamkan wajahnya saja dalam lututnya yang ditekuk.
“Tuan, sebaiknya kau mendengar gadis ini. Dia ada benarnya,” imbuh Aeron membantuku.
“Maaf, aku tidak bisa. Jika aku pergi dan Hilda datang ke sini, aku akan melewatkan kesempatanku untuk bertemu dengannya. Karena itu, aku akan tetap di sini,” ungkapnya dengan tegas. Tatapannya sangat serius akan hal itu.
“Bagaimana jika kekasihmu tidak datang sama sekali?” Pertanyaan menohok itu datang dari Aeron.
Danny tidak langsung menjawabnya. Dia justru kembali memandangi foto kekasihnya sejenak lalu berkata, “Dia pasti akan datang. Selama apapun itu, dia pasti akan datang. Aku percaya itu.”
“Bagaimana jika persediaanmu habis dan kau tidak bisa pergi ke kota membeli makanan karena harus menunggu di sini?” Giliran aku yang bertanya. Hatiku mulai terasa panas karena kegigihan pria itu.
“Kalau begitu, aku akan meminta bantuanmu, nona. Kau seorang penyihir, bukan? Aku ingin kau mengurungku dalam es sehingga aku bisa menunggu Hilda sampai kapanpun aku mau, tanpa takut aku kelaparan atau diterjang badai.”
“Jangan!” Tanpa sadar, emosiku terlepas dan membentaknya.
Danny terkejut dan menatapku dengan ketakutan, namun tak lama dia menghiraukanku lagi. Dia kembali memandangi foto itu seolah hanya foto itu saja yang ada di pikirannya. Dia tidak mempedulikan suaraku yang meninggi atau deru kencang badai di luar.
“Maaf, tapi kau tidak boleh melakukan itu,” ujarku setelah mengatur kembali ketenanganku.
Aku tidak akan melakukan seperti yang diucapkan olehnya, terutama ketika aku teringat dengan diriku yang dulu berada dalam bongkahan es.
“Dengar, tidak bisakah kau menunggunya di kota? Apa tempat kalian bertemu hanya di sini saja?” tanyaku lagi.
“Setelah aku mendengar ceritanya untuk yang pertama dan terakhir kalinya, aku memutuskan untuk tak mau menanyakannya lebih lanjut soal kehidupannya. Aku takut itu akan membuatnya semakin tidak nyaman. Oleh karena itu, kami tidak pernah membahas apapun selain bunga. Hilda juga tidak pernah bertanya tentang kehidupan pribadiku dan dia tidak merasa ingin pergi ke kotaku atau menginap di suatu hotel. Inilah satu-satunya tempat dimana aku bisa bertemu dengannya. Tidak ada yang lain.”
Itu menyebalkan. Kenapa itu sangat menyebalkan? Apa sebenarnya yang diinginkan perempuan itu? Aku tidak pantas menyimpulkan hal ini, tetapi bagiku perempuan itu terkesan seperti tidak mencintai Danny sedikitpun. Mungkin dia hanya menganggap Danny sebagai tempat curhatnya saja, tidak lebih dari itu.
“Aku tahu ini tidak masuk akal, namun apa lagi yang bisa kulakukan? Bagaimana bisa aku melupakannya dan meninggalkannya jika aku saja masih sangat mencintainya. Dia masih membutuhkanku untuk mendengarkan semua ocehannya tentang bunga. Untuk itu, aku akan tinggal di sini jika itu diperlukan, entah sehari, sebulan, atau setahun. Jika dia mencariku, dia pasti akan datang ke sini. Di tempat kami biasa bertemu.”
“Hanya karena kau mencintainya, bukan berarti kau harus melakukan segala hal untuknya. Itu terlalu berlebihan, terutama jika kau masih memiliki batas. Apa kau sadar kalau kau sudah dibutakan oleh cinta?” Aku tidak pernah merasa sekesal ini dengan orang asing sebelumnya.
“Aku tidak peduli. Apapun yang kalian katakan, aku akan tetap menunggunya. Aku akan menunggunya sampai salju di Ujung Garis Beku lenyap dan menumbuhkan banyak bunga-bunga baru. Sampai saat itu tiba, aku akan menunjukan bunga-bunga itu pada Hilda. Dia pasti akan senang. Jadi, aku tidak akan pergi, nona. Aku tidak akan pernah pergi.”
Badai salju pun akhirnya mereda, menunjukkan langit cerah yang membentang di atas kami. Di luar pelindung menjadi sangat tenang setelah kepergian sang badai. Badai memang telah pergi, tetapi pria itu tidak.
Aku tidak tahan dengan kegigihannya. Jadi, aku pergi.
Orang-orang sepertinya yang merasa cinta mereka sangat besar hingga rela melakukan apapun untuk orang yang mereka cintai, walaupun orang tersebut belum tentu mecintai mereka juga. Ungkapan orang-orang tentang cinta itu buta, tentang cinta bisa membuat orang melakukan apapun memang benar adanya, dan itu bisa mengarah ke hal yang baik atau tidak sama sekali.
Sedangkan, Janji yang Danny dan Hilda buat itu justru membebani salah satu dari mereka.
“Jika pria itu tetap tidak mau pergi, biarkan saja. Itulah keputusan yang dia ambil, entah apapun konsekuensinya. Kau hanya terlalu memikirkannya,” ucap Aeron padaku.
Namun, aku masih belum mengerti sama sekali. “Kenapa begitu?”
“Kau yang suka baca novel romantis, seharusnya kau yang lebih tahu!” Ia meninggikan suaranya.
“Fiksi dengan kehidupan nyata itu beda! Aku tidak bisa menggunakan logika cerita fiksi di dunia nyata," sanggahku. "Lagipula, aku belum pernah merasa mencintai laki-laki lain. Jadi, aku tidak mengerti."
“Tidak harus tentang kau yang mencintai laki-laki lain. Bisa juga sesuatu yang kau sukai. Misalnya, kau yang sangat menyukai sihir. Kau berkata sudah berlatih siang dan malam dari kecil untuk menguasai sihir. Dan apa konsekuensi yang kau dapat? Kau kehilangan banyak waktu bermainmu, kau terluka saat berlatih sihir, kau menjadi sering sakit-sakitan, tetapi apa kau merasa menyesal? Tidak! Kenapa? Karena kau menyukai sihir.”
Cinta seharusnya tidak bekerja seperti itu. Cinta seharusnya saling memahami satu sama lain. Aku memikirkan tentang kenapa orang-orang bisa menjadi seperti budak dihadapan cinta mereka. Menjadi budak dan jatuh cinta itu seharusnya dua hal yang berbeda.
Namun, kurasa Aeron ada benarnya. Aku menjadi tergila-gila dengan sihir karena aku sangat mencintai sihir sehingga aku mengabaikan hal yang lainnya. Aku sebenarnya tidak jauh berbeda dengan para budak cinta itu.
Pada akhirnya, seperti itulah sosok manusia. Keinginan untuk mencintai itu yang membuat manusia bisa terus melangkah ke depan. Jika aku berusaha mengambil cinta orang tersebut, aku justru akan membuatnya semakin parah.
Ketika aku menggenggam kompasku dan memikirkan tentang perempuan bernama Hilda itu, aku melihat jarum kompas menunjuk ke suatu arah. Aku mengikutinya dan aku menemukan sebuah kereta yang melewati hutan. Di dalam kereta itu, tampak seorang perempuan yang sedang memandang keluar dari jendela dengan senyum paling bahagia.
Sepertinya, aku memang sudah terlalu banyak berpikir dan terlalu tenggelam dalam kekesalanku sendiri.