
Ada sebuah legenda mengenai penyihir yang mengembara dan membantu banyak orang. Daripada sebuah legenda, ini lebih seperti kisah nyata yang memang terjadi. Dan sebagai catatan, itu bukan kisahku.
Kisah ini cukup terkenal pada masanya, sementara generasi sekarang mungkin jarang ada yang tahu. Sebelum era perang, sebelum sihir mulai menyebar menjadi ilmu umum yang dapat dipelajari oleh semua orang mau itu dari golongan atas atau tidak, ada satu penyihir yang cukup terkenal. Penyihir itu dikenal karena selalu membantu orang-orang yang ditemuinya dalam perjalanan. Membantu dari hal yang kecil seperti mengantarkan barang barang, meningkatkan hasil panen, mengusir hama, meramaikan acara ulang tahun anak-anak atau menyiapkan perayaan. Membunuh monster juga termasuk dalam pekerjaannya untuk membantu orang-orang. Jika ada yang terluka parah atau memiliki penyakit kronis, penyihir itu juga dapat menyembuhkannya dalam sekejap.
Wabah mematikan di suatu desa langsung hilang dalam semalam. Menyembuhkan mata seorang anak yang sebelumnya tidak bisa melihat dunia. Menyelamatkan seorang pria yang berada di ujung maut dengan membuat jantungnya berdetak kembali. Semua itu berkat keajaiban sang penyihir.
Karena terkenal dapat menyembuhkan penyakit apa saja, orang-orang segera mengenalnya dengan sebutan Penyihir Penyembuh—salah satu dari sekian namanya.
Ketika ada yang bertanya apa rahasianya, penyihir itu selalu menjawab keajaiban dan kekuatan harapan. Namun, orang-orang yang tahu, pasti akan berkata bahwa sumber dari keajaiban penyembuhan penyihir itu berasal dari sebuah permata cantik yang memancarkan warna lautan. Permata yang sekarang tergantung di dadaku.
Aku sadar bahwa permata ini memiliki peran yang sangat penting. Sebuah alat yang diciptakan untuk menyelamatkan orang-orang dari kesengsaraan. Sudah tak terhitung banyaknya orang yang diselamatkan dengan permata ini ketika masih dikenakan oleh Penyihir Penyembuh.
Aku mengeluarkan kalungku untuk memandangi permatanya. Cahaya biru permata itu yang terpantul karena cahaya bulan selalu memberiku perasaan yang sangat menenangkan. Orang-orang biasanya mendengarkan lagu, membaca buku atau memandangi rintik hujan untuk menenangkan pikiran. Kalau aku, aku hanya perlu menggenggam permata ini atau memandanginya saja sudah cukup.
Permata ini juga merupakan hadiah paling berharga dari Ibu sebelum aku memulai perjalananku. Di suatu hari ketika akhirnya aku berhasil menang darinya untuk yang pertama kalinya dalam pertarungan sihir, dia berkata dengan suara selembut angin laut di pagi hari. “Ambilah ini, Niva sayangku. Ketika kau nanti berada di tempat yang jauh, Ibu tidak bisa menjagamu, tetapi permata ini kelak yang akan menjagamu selama perjalanan.”
Aku masih ingat perasaan hangat di pipiku saat bersandar di pundaknya sambil duduk di pesisir pantai dan memandang ke arah Laut Beku yang tak berujung.
Terkadang aku merasa sangat bahagia karena mimpiku berkeliling dunia akhirnya terkabulkan, tetapi aku juga merasa sedih karena tidak akan bertemu dengan Ibu untuk waktu yang sangat, sangat lama. Entah kapan aku bisa berjumpa dengannya lagi, aku tidak bisa menjanjikan waktu tersebut.
Tidak biasanya udara dingin di Ujung Garis Beku membuatku kesepian dan menggigil, bahkan dengan syal dan sarung tangan tebalku. Kali ini, aku menekuk lututku dan memeluknya di atas sapu. Seraya pipiku bersandar pada lutut, kupandangi langit malam. Berharap aku bisa tertidur sebentar dan bangun keesokan paginya di kasur favoritku di Tebing Penyihir.
Sapu membawaku terbang di bawah langit. Saat itu langit lebih cerah dari biasanya, bintang menyebar seperti butiran salju yang menyangkut pada jubahku. Di sekitar bulan yang bersinar pucat di langit hitam pekat, lintasan cahaya terang terbentuk begitu indahnya saat satu bintang melesat keluar dari jalur orbitnya. Mataku mengikuti ke arah mana bintang itu jatuh. Namun, telingaku menangkap sesuatu yang lain dari arah bawah.
Di malam yang sunyi, suara melecut yang lantang adalah satu-satunya suara yang terdengar. Suara itu merambat melalui udara, berasal dari sebuah kereta dagang yang sedang melewati padang salju di bawah kakiku. Tampaknya kereta itu sedang mengalami kendala, karena kulihat sang pengemudi terus memecut kudanya berkali-kali namun keretanya tidak segera bergerak.
“Salju sialan! Tariklah yang kuat, kuda bodoh! Aku harus bergegas, tahu!” teriak pengemudi itu, mengumpat pada segalanya.
Penasaran, aku menyetir sapuku untuk turun ke bawah menuju kereta dagang itu.
“Inilah yang membuatmu lama sampai di tempat selanjutnya,” gumam Aeron tidak senang.
“Halo,” sapaku pada sang pengemudi, mengabaikan ucapan Aeron. Aku mengatur ketinggian terbang sapu sehingga aku sejajar dengan posisi pengemudi itu.
“Penyihir? Jarang sekali ….” Dia memandangku dengan ekspresi terkejut yang berlebihan, seolah tidak pernah melihat penyihir sebelumnya. Aku tidak bisa menyalahkannya, penyihir memang jarang di Ujung Garis Beku. Mungkin hanya aku dan Ibuku saja.
Aku menoleh ke belakang dan melihat keempat roda kereta itu tenggelam dalam salju yang tebal. Ketebalan salju itu sudah mencapai ketinggian kaki-kaki kuda dan hampir menutupi seluruh roda kereta. Memaksa kuda-kudanya menarik kereta keluar hanya akan menjadi percuma. Selain itu, padang salju tebal ini cukup luas, sehingga mau bagaimanapun, kereta itu tetap akan tenggelam jika masih ingin melewati padang salju.
Kemudian, aku mendapatkan ide. Aku mengarahkan sapuku ke depan kuda, lalu turun dari sapu dan melenyapkannya. Begitu menginjak salju, kakiku langsung merosot masuk ke dalam.
“Apa yang mau kau lakukan, nona?”
Terjebak di tengah padang salju ketika malam hari bukanlah sesuatu yang bagus. Udara dingin bisa menyebabkan hipotermia dan ada kemungkinan bertemu dengan makhluk liar seperti serigala atau troll. Aku melihatnya, dan kupikir tidak pantas aku membiarkan pengemudi itu terjebak di sana.
“Aku akan membantu mengeluarkan keretamu.”
Walaupun aku bilang mengeluarkan keretanya, tetapi lebih tepatnya aku menyingkirkan salju dari keretanya. Aku mengarahkan tongkatku untuk menyapu salju di sekitar yang menahan roda dan kaki kuda, membuangnya dan menyebarnya ke langit, menjadi bulir-bulir salju yang mengguyur dengan perlahan.
Setelah keretanya terbebas, aku berbalik menghadap jalan yang masih tertutup salju. Aku berbisik, “Havinda!” dengan suara yang selembut angin sepoi-sepoi sambil menodongkan tongkat sihir ke depan dengan kedua tanganku.
Sebuah energi sejuk terkumpul ke ujung tongkatku. Angin dari segala penjuru mengalir dengan lembut untuk bersatu di tongkatku. Perlahan hanya aliran angin tipis saja, namun semakin kencang lalu berkumpul membentuk pusaran angin. Begitu sudah cukup banyak energi yang terkumpul, aku meluncurkannya dengan sekuat tenaga. Seketika, pusaran bola angin terhempas dari tongkatku. Angin kuat bertiup ke belakang, mengibarkan rambutku dan tubuhku ikut tersentak. Pusaran bola angin itu melesat dengan kencang seperti bola meriam, mengikis dan membelah salju hingga membuka jalan lurus. Lalu, memudar dan lenyap setelah menabrak sebuah pohon di ujung jalan dan membuat pohon itu roboh.
Mulut si pengemudi menganga lebih lebar daripada saat pertama kali melihatku. “Wow, kau luar biasa, nona. Terima kasih."
“Tidak perlu berterima kasih.” Aku tersenyum dan mengibaskan rambutku dengan percaya diri. Rasanya senang bisa mendapat pujian setelah cukup lama mendengar cemoohan dari kompas.
Tiba-tiba, dari gerbong kereta itu yang tertutup tirai kain putih di belakang kursi si pengemudi, muncul seorang pria lainnya yang memiliki rambut cokelat. “Hei, apa yang terjadi? Kenapa keretanya berhenti?” Pria itu marah terhadap pengemudi. Lalu, matanya menemukanku dan terdiam. “Seorang penyihir?”
Dengan wajah yang bersalah dan tergesa-gesa, sang pengemudi segera mengambil tali pengemudinya. “Terima kasih atas bantuannya nona. Tapi, maaf, kami tidak ada waktu lagi. Seorang wanita terluka parah dan kami harus mengantarnya ke rumah sakit di kota.”
Kota berikutnya itu berarti kota yang akan aku tuju saat ini. Kalau tidak salah, jarak kota itu masih cukup jauh dari sini. Tidak akan cukup waktu untuk mengantar seseorang yang sedang terluka, terutama dengan suhu udara yang dingin ini.
“Tunggu sebentar!” cegahku sebelum pengemudi itu memacu kudanya. “Bisakah kulihat kondisinya? Aku bisa membantu.”
Di dalam gerbong kereta yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang dagang, ada pria tersebut yang berambut cokelat dan pria lainnya yang sedang memegangi tangan seorang wanita dengan erat. Wanita itu terbaring tak sadarkan diri di lantai kayu dengan darah merembes dari lehernya. Pria berambut cokelat itu terlihat sedang menekan buntalan kain di leher sang wanita untuk menghentikan pendarahan.
“Apa yang terjadi?” tanyaku panik. Aku bergegas berlutut di samping wanita itu.
“Wanita ini diserang serigala saat mencari kayu bakar,” ungkap pria berambut cokelat. Ia lebih muda daripada pria satunya yang memegangi tangan si wanita.
Kondisi wanita itu memang tampak mengerikan. Bekas gigitan dan cakaran memang dapat terlihat di tubuhnya, terutama di tubuh bagian atas dan wajahnya. Dengan jumlah darah yang keluar begitu banyaknya, sudah pasti mereka tidak akan sampai ke kota tepat waktu.
“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” Pria yang tampaknya adalah orang terdekat wanita itu terlihat dipenuhi emosi. Dia memakai pakaian tunik sederhana berwarna putih. Matanya yang pucat menunjukkan kesedihan dan keputusasaan saat menatapku.
“Tenanglah, aku di sini untuk membantu,” ucapku dengan lembut, berusaha menenangkan pria itu.
“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, nona. Namun dengar, kami tidak memiliki peralatan yang cukup untuk melakukan operasi di sini. Satu-satunya cara adalah membawanya ke rumah sakit yang memiliki peralatan lebih lengkap.” Meskipun tangannya dipenuhi darah, pria berambut cokelat itu bersikap cukup tenang, seolah-olah dia sudah biasa dengan hal seperti ini.
“Percayakan saja padaku,” ucapku sambil memegangi tangan pria berambut cokelat, mengisyaratkan dia untuk melepaskan kain yang menekan luka.
Meskipun bingung, pria itu menyingkirkan kainnya. Ada bekas gigitan di area leher dan dadanya yang terkoyak parah. Saking parahnya, daging, urat, dan jaringan lainnya yang rusak sampai dapat terlihat jelas di mataku. Nafas wanita itu semakin lemah tiap detiknya.
“Apa kau yakin?” tanya Aeron.
“Ya.”
Setelah menguatkan diriku, aku melepaskan sarung tanganku dan meletakkan kedua tanganku di dada wanita itu, seolah sedang memberikan tekanan pada jantungnya. Kemudian, kupejamkan mataku dan mulai mengembuskan nafas. Muncul cahaya kebiruan dari telapakku yang bersinar selayaknya lampu paling terang. Sensasi sejuk dan lembut menyebar di telapakku dan aku yakin wanita itu juga bisa merasakannya. Ketika cahaya itu mengabur seperti terserap ke dalam tubuh sang wanita, daging dan jaringan tubuhnya perlahan teregenerasi. Seolah-olah waktu dibalikkan, tenggorokannya yang terputus tersambung kembali dalam kedipan mata. Lalu, kulitnya kembali tertutup dan seketika seluruh luka di tubuhnya hilang, hanya menyisakan bekas darah di bajunya.
Wanita itu terbatuk-batuk dan akhirnya sadar dengan cepat. Terharu, pria yang terus memegangi tangannya langsung memeluknya kuat-kuat, tanpa peduli wanita itu masih merasa sakit atau tidak. Sementara pria satunya hanya bisa membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.
Aku pun keluar dari kereta, memberikan waktu bagi pria dan wanita itu. Kuambil kain lap dari tasku dan membersihkan noda darah di kedua tanganku. Lalu, kupakai kembali sarung tanganku.
Padahal, beberapa saat yang lalu saat aku masih di udara, hatiku terasa panas dan dipenuhi kekesalan seolah ada api yang membakarnya. Namun sekarang, di dalam hatiku hanya ada perasaan bahagia dan lega, terutama saat melihat pria dan wanita itu berpelukan.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Aeron.
Sesuai ucapannya, aku memang bisa merasakan sedang tersenyum saat ini. Kugenggam permataku melalui baju dan masih bisa kurasakan sensasi sejuknya yang belum hilang setelah kupakai. “Aku senang bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” jawabku.
Bagiku menyelamatkan orang lain memberiku kebahagiaan tersendiri. Aku begitu puas saat melihat orang lain bahagia karena sesuatu yang penting bagi mereka telah diselamatkan. Karena itulah fungsi sebenarnya dari permata ini, yaitu memberikan harapan untuk orang lain.
“Nona!” panggil seseorang. Saat aku berbalik, itu adalah si pengemudi. “Aku melihat apa yang kau lakukan. Tadi itu luar biasa. Tidak hanya membersihkan jalan, tapi juga menyembuhkan orang lain,” pujinya dengan senyuman penuh syukur.
“Terima kasih.” Pujian benar-benar membuat hatiku melambung setinggi langit.
Lalu, pria berambut cokelat keluar dari gerbong, melompat dan menghampiriku. “Kondisi wanita itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada pendarahan di dalam ataupun bekas luka di kulit. Fungsi tubuhnya, detak jantungnya, dan nafasnya sangat normal, serta respon saraf juga bekerja dengan baik. Itu memang pemandangan paling luar biasa yang pernah kulihat sepanjang hidupku sebagai seorang dokter.”
“Oh, pantas saja kau terlihat cukup tenang tadi. Ternyata kau seorang dokter.” Itu menjelaskan banyak hal.
Untuk seorang dokter, dia terlihat cukup muda. Mungkin usianya di sekitar 25 tahunan atau lebih tua atau malahan lebih muda. Sungguh misterius. Dia mengenakan mantel abu-abu dengan kancing emas yang terukir sebuah gambar anjing.
Jujur saja, di antara pria-pria di sini, hanya si dokter itu yang menarik perhatianku. Senyuman lembutnya begitu menawan dan tutur katanya sangat ramah. Matanya yang tajam, memberikan kesan cerdas. Cara berpakaiannya dan gayanya juga cukup berwibawa. Semua karakteristik itu seolah saling bersatu padu dan membentuk kesatuan aura yang unik darinya. Kudengar aura seperti itu memang diperlukan oleh seorang dokter. Mungkin itu semacam permainan pikiran agar pasien merasa tenang karena mengira ada seorang malaikat yang sedang menemani di sisi mereka.
“Begitulah ….” Kenangan itu jadi teringat kembali.
Tanpa memedulikanku, ia melanjutkan, “Aku tahu penyihir memang bisa melakukan keajaiban yang luar biasa dengan ilmu sihir, tapi aku belum pernah melihat sihir semacam itu sebelumnya. Biasanya pengobatan penyihir tidak jauh berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Tidak ada pengobatan yang instan, tapi tadi itu ….” Ia mengembuskan nafasnya panjang seolah sedang berusaha mencerna banyak hal. “Awalnya, aku pikir kau menciptakan sebuah sel baru yang kemudian menempelkannya ke sel yang rusak. Namun, sekarang aku sadar. Entah bagaimana caranya, sihirmu bukannya membuat sel baru, tapi meregenerasi seluruh sel lama yang rusak dalam waktu yang sangat cepat, memulihkannya hingga utuh untuk membangun kembali fungsi normal. Kalau boleh tahu, bagaimana caramu melakukannya? Apakah itu semacam sihir yang berkaitan dengan waktu?”
Wow, pria itu benar-benar telah berpikir terlalu keras.
Aku pun mengeluarkan dan menunjukkan kalungku padanya. “Itu karena permata ini. Permata ini memberiku kekuatan untuk menyembuhkan luka apapun.”
“Permata sihir?” Mata pria itu terbelalak.
Pria pengemudi penasaran, menengok dari belakang si dokter.
Entah kenapa, pengungkapan permataku terasa seperti membuat si dokter semakin terbebani. Dia menurunkan mukanya seolah sedang memikirkan sesuatu. “Jadi, begitu. Ini sungguh luar biasa! Pengobatan regeneratif adalah pengobatan masa depan. Dengan teknologi manusia sekarang, itu masih sangat mustahil. Namun ….” Ia menghentikan kalimatnya dan melirik ke arah permataku. “… permata milik nona bisa menjadi kuncinya. Permata itu adalah penemuan yang sangat penting untuk peradaban dunia. Sebuah obat untuk segala penyakit. Dengan satu permata itu, ribuan nyawa … tidak, seluruh nyawa bisa terselamatkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dunia akan berubah ke arah yang lebih baik dengan kekuatan permata itu.”
“Ngomong-ngomong, soal berharga, memangnya seberapa berharganya permata itu?” Pria pengemudi terlihat tidak tertarik dengan ide si dokter, karena itu dia menanyakan hal yang lainnya.
“Untuk saat ini, tidak ada nilai yang setara dengan permata itu, tapi jika kau memanfaatkan kekuatan penyembuhannya untuk bisnis, kau mungkin bisa mendapatkan kekayaan seumur hidup.”
“Benarkah?” Seketika, pandangan mata pengemudi dipenuhi cahaya yang berbinar-binar. Bisa kubayangkan air liur menetes dari mulutnya.
“Aku tidak berniat untuk menjualnya!” sergahku sambil memasukkan kembali kalungku ke dalam kerah baju.
“Tunggu sebentar!” Seolah tidak berhenti, muncul lagi pria yang terakhir, keluar dari gerbang sambil berteriak. “Aku ingat sekarang!” serunya memandangku begitu antusias. “Penyihir yang mengembara dan selalu menyembuhkan orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan. Itu pasti nona, bukan? Nona pasti Sang Penyihir Penyembuh, bukan?”
“Apa?” Tidak, itu bukan aku!
“Penyihir Penyembuh?” ucap si dokter dan pria pengemudi secara bersamaan, dan mereka menatapku dengan jauh lebih terkejut lagi dari sebelumnya.
“Aku juga ingat kisah itu! Pantas saja kau bisa menyembuhkan orang.” Si pengemudi ikut bersemangat.
“Ya, itu memang menjadi masuk akal. Tapi, bukankah itu kisah lama? Aku tidak tahu kalau Penyihir Penyembuh semuda ini,” timpal si dokter, mengamatiku dari kaki lalu ke atas dengan heran.
Hei, aku memang masih muda!
“Mungkin saja dia menggunakan permatanya untuk membuat dirinya awet muda,” duga si pengemudi.
Tidak ada hubungannya aku yang muda dengan kekuatan permataku!
“Jadi, apakah itu benar, kau si Penyihir Penyembuh yang terkenal itu?” Semua pria menatapku dengan keinginan yang sama bahwa aku diharapkan menjawab rasa penasaran mereka. Akan tetapi ….
Mereka terlalu bersemangat sampai salah menduga.
“Aku bukan Penyihir Penyembuh. Aku Penyihir Salju,” jawabku dengan lantang supaya tersampaikan dengan jelas ke telinga para pria itu. “Penyihir Penyembuh itu Venefika.” Walaupun sebenarnya, Ibuku juga mendapatkan julukan yang sama karena ia mengulangi apa yang dilakukan Venefika. Bisa dibilang sebagai tugas yang diwariskan. Tentu aku harus menyebutkan nama Venefika sebagai Sang Penyihir Penyembuh yang asli.
“Ah, Dewi Sihir, ya? Kalau itu, sih, baru masuk akal.” Pria pengemudi dan pria bertunik sederhana saling menatap dan tertawa pecah, seolah tidak merasa malu.
Pria-pria ini. Padahal baru saja beberapa saat yang lalu mereka panik dan berusaha buru-buru pergi, tetapi sekarang mereka sangat santai. Yah, itu tandanya mereka baik-baik saja.
Sementara, pandangan si dokter masih terpaku padaku. “Coba pikirkan sekali lagi, nona. Permata itu bisa menjadi kunci penting keselamatan orang-orang. Apa kau sama sekali tidak bisa melihat bagaimana permata itu bisa menciptakan dunia tanpa ada yang mati?”
Apa maksud dokter itu aku disuruh untuk memberikan permataku? Aku sama sekali tidak akan melakukannya. Walaupun masa depan yang diucapkan pria itu kedengarannya sangat indah, namun aku tidak bisa memberikan benda berharga yang menjadi penghubung antara aku dan Ibu. Namun, jika aku melihat di sisi lainnya, aku juga bisa menyelamatkan semua orang dari seluruh dunia. Jika Venefika atau Ibu, mereka pasti akan melakukannya tanpa pikir panjang. Jika aku ….
“Maaf, kurasa aku tidak bisa melakukannya.” Aku benar-benar tidak bisa memutuskannya. Keuntungan pribadiku atau keuntungan semua orang? Itu benar-benar pilihan yang sulit.
Mungkin saja nanti. Ya, mungkin saja nanti setelah perjalananku selesai, aku akan menyerahkan permataku. Itu lebih baik.
“Begitu, ya.” Ekspresi pria itu lembut, mungkin karena dia sudah memperkirakan bahwa aku akan menolaknya.
“Ngomong-ngomong, kau itu dokter, bukan? Jika semua orang tidak ada yang sakit, bukankah kau akan kehilangan pekerjaanmu?” Aeron tiba-tiba ikut bergabung dalam percakapan.
“Oh, siapa ini? Kompas yang bisa berbicara?”
“Ah, dia teman perjalananku. Maaf, kami tidak memperkenalkan diri. Namaku Niva dan dia Aeron,” jawabku.
“Begitupun kami. Aku Georg, dan yang di dalam adalah istriku, namanya Sophia.” Pria bertunik sederhana berbicara duluan, mengungkapkan namanya dan nama wanita itu yang ternyata adalah istrinya.
“Aku Johann. Seorang pedagang.”
Yang memperkenalkan diri selanjutnya adalah si pengemudi.
Seolah sudah menjadi kewajiban, orang-orang mulai bergilir memperkenalkan nama mereka masing-masing, menyisakan si dokter yang belum. Semua orang yang sudah mengungkapkan nama memandang ke arah yang sama, menunggu giliran si dokter. Dokter itu tertawa kecil saat ditatap oleh orang-orang. “Semua orang menungguku, ya.”
“Tentu saja, kami sendiri juga tidak tahu namamu. Kami hanya tahu kalau kau sedang pergi liburan saja,” terang Georg.
Pergi liburan? Mungkinkah itu alasannya dia tidak membawa banyak peralatan medisnya?
“Mau bagaimana lagi, aku baru saja tiba di desa kalian dan tiba-tiba mendapat kabar bahwa istrimu diserang serigala. Aku tidak sempat berkenalan dengan seluruh warga, tahu!” Dokter itu mengerucutkan bibirnya, berlagak seperti anak kecil yang sedang menggerutu. “Baiklah, sudah saatnya aku memperkenalkan diri. Namaku Mephaust. Aku seorang dokter dari negeri yang jauh dari sini.”
Dan begitulah bagaimana kami saling memperkenalkan diri. Tanpa sadar, begitu kami sudah mengenal nama masing-masing, obrolan terus berlanjut dengan sendiri dan tahu-tahu berlangsung cukup panjang. Kami bercerita banyak hal yang menarik tentang pengalaman masing-masing. Kami tertawa cukup puas di tengah malam, seakan-akan suasana malam yang dingin dan bersalju tidak menghentikan kami. Setelah itu, aku merasakan persahabatan yang agak aneh mekar diantara kami. Entah bagaimana, rasanya kami menjadi teman yang cukup akrab. Takdir memang cukup aneh.
Oh, dan wanita bernama Sophia itu ikut di tengah pembicaraan kami. Dia tampak cukup sehat untuk mengobrol, tetapi mukanya masih pucat dan perlu perawatan lebih lanjut. Untuk itu, kuserahkan pada si Dokter Mephaust.
“Baiklah, sudah saatnya kami kembali ke desa.”
“Tidak ke kota?” tanyaku.
Kemudian, Dokter Mephaust menjelaskan, “Tujuan awal kami ke kota adalah untuk membawa Nyonya Sophia ke rumah sakit. Tapi, karena dia sudah sembuh berkat kau, kami tidak punya alasan lagi untuk ke sana.”
“Aku mengerti.” Padahal, ikatan di antara kami yang baru terbentuk membuatku sangat ingin pergi ke kota bersama mereka. Dan yang paling menyedihkannya lagi, aku dan mereka harus sudah berpisah supaya aku bisa melanjutkan perjalananku. Inilah hal yang berat dari melakukan perjalanan, yaitu berpisah dengan seseorang atau tempat yang sudah membuatku merasa nyaman sampai tidak mau pergi.
“Terima kasih atas segalanya nona. Semoga beruntung dengan perjalananmu,” ucap Johann si pengemudi.
“Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa istriku,” ucap Georg.
“Maaf, aku tidak bisa memberimu sesuatu yang layak saat ini, tapi tolong, terimalah apel ini sebagai ucapan terima kasih atas kebaikanmu yang telah menyelamatkanku,” ucap Sophia, menyodorkan sebuah apel segar berwarna merah kepadaku.
“Hei, itu apel untuk dijual!” tunjuk Johann.
“Sebenarnya, kau tidak perlu memberiku apapun, tapi terima kasih. Aku akan menerimanya dengan senang hati,” ucapku mengabaikan si pengemudi dan menerima apel itu.
“Aku sebenarnya penasaran jalan apa yang kau pilih dengan permata itu. Sebagai orang yang memegang benda yang akan mempengaruhi dunia, kau memegang tanggung jawab yang penting, nona. Aku berharap beban itu tidak akan membuatmu menyesali keputusanmu. Hanya itu saja yang ingin kukatakan. Anggap saja sebagai anjuran dari dokter.”
Pria itu tersenyum. Itu senyuman yang ditujukan oleh seorang dokter untuk memberi semangat kepada pasiennya.
“Terima kasih, dokter.”
Kemudian, kereta kuda itu pun pergi ke arah sebaliknya. Bayangannya dan suara derap langkah kaki kudanya lambat laun sirna di kejauhan, meninggalkanku di tengah padang salju.
Mungkin seperti inilah yang dirasakan para Penyihir Penyembuh saat mereka melakukan perjalanan mereka menolong orang. Mungkin Ibu memberiku permata ini tidak hanya agar aku terlindungi, tetapi agar aku bisa merasakan dan memahami apa yang dirasakan para Penyihir Penyembuh di masa mereka. Dengan begitu, aku tahu apa yang aku tuju dan apa yang bisa membuatku merasa tidak menyesal nantinya.