Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Kastil Es



Aku menapaki sebuah jalan di tengah hutan di luar dinding kota. Lampu obor yang padam terpasang di sepanjang jalan. Jalan setapak membawaku ke sebuah bangunan tinggi besar di balik pepohonan di tengah hutan. Sebuah kastil es seperti yang pemahat bilang. Kastil besar itu terbuat dari es sepenuhnya sehingga warnanya biru cemerlang Kastil itu menjulang tinggi melebihi pohon cemara, puncak atapnya lancip seperti tombak yang ditodongkan ke langit atas.


Ada dua orang penjaga yang berdiri di depan anak tangga es yang menuju ke pintu utama kastil. Salah satu penjaga langsung menyadari keberadaanku dan menghampiriku.


“Mohon maaf, nona. Kastil ini tidak untuk dikunjungi. Mohon untuk segera kembali ke kota,” kata penjaga itu.


“Ah, aku hanya ingin melihatnya saja, kok. Aku tidak akan masuk ke dalam. Boleh, kan?”


“Selama nona tidak masuk ke dalam kastil tidak akan melanggar peraturan apapun. Apalagi di dalam sana sangat berbahaya. Tetapi, jika nona sudah puas melihat, nona diharuskan untuk segera kembali ke kota. Meski ada penjaga sekalipun, hutan tetaplah tempat yang berbahaya.”


“Aku mengerti.”


Tanpa lama-lama, penjaga itu kembali ke posisinya menjaga pintu masuk kastil bersama teman penjaganya. Kedua penjaga itu memakai persenjataan lengkap dengan amor mereka sama seperti penjaga di gerbang kota. Mereka benar-benar serius menjaga tempat ini dan berkata kalau kastil itu memang berbahaya.


Mengecewakan, tapi cukup memuaskan bisa melihat sebuah kastil yang terbuat dari es—dindingnya, atapnya, pintunya, jendela, lampu, ukiran bahkan sampai detil-detilnya seperti bongkahan es yang diukir dengan sangat teliti. Kastil ini sudah beda kelas lagi dengan patung-patung es di kota. Mengagumkan rasanya jika ada seorang raja atau ratu yang menjadikan kastil es itu menjadi pusat kekuasaan mereka. Sayang sekali kastil ini hanya dibangun sebagai objek wisata dan sekarang ditutup.


Aku sangat menikmati kilau biru es-es di kota ini, termasuk kastil yang berdiri cantik di tengah hutan tersebut. Pandanganku langsung beralih saat sebuah rambut merah terlihat muncul dari semak-semak di sebelah kastil, bergerak perlahan tanpa menimbulkan suara ke belakang kastil.


“Vestia? Apa yang sedang dia lakukan?” gumamku heran.


Pikiranku terlibat pertimbangan mendadak saat ingin memutuskan apakah aku harus melaporkan para penjaga atau berpura-pura tidak melihatnya dan membiarkan apapun terjadi. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk kembali ke dalam hutan, lalu memutari kastil secara diam-diam sambil berupaya bersembunyi di dalam bayangan agar terhindar dari pengawasan para penjaga. Aku keluar dari semak-semak dan mendapati Vestia berada di bagian belakang kastil, mencoba untuk masuk melewati jendela kastil yang terbuka.


“Vestia!” Aku langsung berlari berusaha mencegahnya agar masuk ke dalam dan terluka. Aku tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhku condong ke depan. Aku tersandung sebuah benda keras seperti batu. Aku tak bisa mengubah ke mana arah jatuhku. Dengan singkat dan tanpa sengaja, aku menabrak Vestia yang masih berada di ambang jendela dan mendorongnya hingga jatuh ke dalam.


Aku merasakan sakit juga sesuatu yang empuk. Begitu kubuka mataku, aku mendarat di atas tubuh Vestia. Bisa kulihat wajahnya yang begitu dekat di bawahku dan bisa kurasakan tubuh hangatnya beserta detak jantungnya. Begitu mata kami bertemu dan saling menatap selama beberapa detik lamanya, dia dengan cepat langsung mendorongku sangat keras. Aku terjungkal ke belakang di lantai yang keras dengan bokongku terlebih dulu.


Vestia bangkit sambil menodongkan telunjuknya ke arahku. “Kau! Apa yang kau lakukan disini?” omelnya. Wajahnya merah padam. “Kau juga sudah mendorongku seenaknya dan… Apa, sih, yang sebenarnya kau lakukan? Mau menyerangku, ya?”


Aku bangun dan langsung diomeli olehnya. “Aku yang seharusnya menanyakan itu padamu. Kenapa kau mengendap-endap masuk ke dalam kastil? Lewat belakang pula. Tingkahmu sangat mencurigakan. Kau tahu tempat ini tidak boleh dimasukin, kan?”


“Aku tahu. Karena itu aku mengendap-endap lewat belakang. Penyelidikanku harus total. Tempat ini tidak boleh terlewatkan.”


“Tempat ini? Bukannya ini cuman kastil untuk wisata saja?”


“Entahlah.” Suaranya memelan, tidak keras seperti sebelumnya. Vestia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Setelah melihat ini, aku ragu jika tempat ini dibangun untuk hiburan semata.”


“Jadi, maksudmu kastil ini diciptakan oleh orang yang sama yang membuat duri-duri es itu?”


“Aku berharap seperti itu.”


Jendela yang kami lalui ternyata berada sangat tinggi kira-kira empat meter dari lantai yang kami pijak. Ruangan kami berada seperti sebuah ruang belakang kastil yang tidak digunakan untuk apapun selain hanya untuk menambah kemegahan. Dua pintu ada di sisi kiri dan dua pintu lainnya ada di sisi kanan. Aku tidak melihat adanya pintu besar yang berbentuk sama seperti pintu depan. Itu berarti kami ada sangat jauh di belakang atau di bawah kaki para penjaga.


“Hei, jika kau seorang investigator dan sedang melakukan pekerjaanmu, kenapa tidak meminta izin masuk secara resmi? Kau menyelinap masuk seperti penjahat, lho.”


“Aku tidak memiliki waktu untuk itu,” jawabnya cuek. Ia lanjut mengamati langit-langit, lalu berhenti di depanku. “Ditambah, aku tidak menyelinap masuk. Kau yang tiba-tiba mendorongku dengan seenaknya. Aku bisa melaporkanmu atas tindakan kekerasan dan percobaan pembunuhan. Ada luka memar ditubuhku akibat jatuh tadi yang bisa kujadikan sebagai bukti.”


“Kau ini masih saja membenciku, ya,” decakku kesal.


“Tunggu sebentar!” Tiba-tiba Aeron berteriak di dalam tasku, membuat Vestia terkesiap dan menodongkan tongkat sihirnya.


“Siapa disana? Apa kau sedang bersama seseorang?” tanyanya waspada.


Padahal aku tak ingin dia tahu bahwa aku punya kompas yang berbicara. Tetapi, semua itu percuma karena Aeron dengan bodohnya malah berkata. Setelah ini, situasi pasti akan semakin rumit karena Vestia sudah menyadarinya. Rasanya sangat mengesalkan.


“Ah, sebenarnya….” Aku menunjukkan pada Vestia sebuah kompas yang kuletakkan di telapak tanganku. “Ini Aeron. Dia… kompas yang bisa berbicara.”


Vestia membungkukkan badannya. Keningnya yang berkerut terpantulkan oleh pelindung perak yang seperti kaca. “Oh, artifak sihir?” Wajahnya begitu dekat dengan kompas dan tanganku seperti seorang ahli yang sedang mengamati benda bersejarah.


“Aku menemukannya saat di hutan. Kupikir tidak ada ruginya membawa seorang yang bisa dijadikan teman obrolan selama perjalananku. Yah, dia kompas. Jadi, dia cukup banyak membantuku—menunjuk arah.”


Aku tidak menjelaskan kegunaan lain dari Aeron karena masalah akan semakin rumit jika semakin banyak orang yang tahu bahwa kompas ini bisa menunjuk apa saja yang diinginkan.


“Menemukannya di hutan?” Mata Vestia berganti pandang ke arahku. Aku merasa tersudut oleh tatapan tajamnya, meski aku tak tahu alasannya. “Bisa kau tunjukkan surat kepemilikan artifak sihirmu?”


“Eh, ada suratnya juga?”


“Tentu saja. Kita ini hidup di zaman yang sudah lebih modern. Surat digunakan sebagai alat bukti resmi yang ditetapkan dalam aturan hukum. Kepemilikan artifak sihir harus disertai dengan dokumen yang berisi bukti kepemilikan beserta syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Artifak sihir itu benda yang harus diberi perawatan dan pengawasan khusus berdasarkan tingkatannya. Tongkat sihirmu juga harus memiliki surat resminya sendiri. Semua peralatan sihir dan bahkan identitasmu sebagai penyihir juga harus terdaftar di Ordo Sihir Kalmagistra. Jika kau tidak bisa menyerahkan semua itu, aku memiliki alasan untuk menangkapmu dan membawamu ke pengadilan sebagai penyihir tak terdaftar serta sejumlah pelanggaran yang tampak maupun—"


Vestia terus berbicara panjang lebar soal aturan tentang penyihir. Tak kusangka menjadi penyihir semerepotkan itu. Padahal aku sudah capek-capek mengurus surat identitasku, ternyata ada dokumen lainnya yang harus kuurus. Kepalaku bisa pecah sekarang juga.