
Disinilah aku. Melewati semak dan gundukan bersalju yang terus menghalangi jalanku. Tak kusangka jalanan di hutan ini begitu sulit. Tak kusangka juga, aku sudah meninggalkan rumah dan ibu. Padahal, hanya beberapa menit setelah aku meninggalkannya, sekarang aku rindu.
Hutan yang kulewati begitu rapat dan penuh. Aku harus melompat, memiringkan dan menundukkan tubuhku untuk melewati semua halang rintang. Tak jarang aku menggunakan sihir untuk membuat sebuah jalan baru. Kalau aku ini ibu, aku hanya harus jalan lurus dan membiarkan semua semak dan pohon itu menembus tubuhku.
Semua yang kulihat disini hanyalah warna putih dan salju. Itu wajar saja, karena rumahku tepat berada di ujungnya Ujung Garis Beku.
Ujung Garis Beku merupakan sebutan untuk kumpulan negara-negara kecil di utara Orelum. Total ada lima negara, termasuk Negara Bordam yang kutinggali ini. Negara-negara disini memiliki iklim yang lebih dingin daripada wilayah Orelum lainnya, serta cuaca bersalju yang nyaris abadi. Kondisi ini berhubungan dengan karakteristik geografisnya. Di sepanjang wilayah utara, tak ada satupun gunung atau pegunungan yang ada untuk menahan angin dingin dari Laut Beku.
Akan tetapi, selama beribu-ribu tahun, orang-orang disini sudah terbiasa untuk hidup di lingkungan yang esktrem. Mereka terus berkembang dan terus beradaptasi.
Langkahku semakin berat ketika tanah salju yang kupijaki semakin menebal. Di bawah pohon pinus, aku bersandar dan beristirahat sejenak. Ternyata ini tidak semudah kelihatannya.
Aku mengambil sebuah pelples yang kubawa, lalu aku menghangatkan airnya dengan sihir di kedua tanganku. “Mungkin aku akan menulis sedikit saja,” gumamku.
Kubenamkan pelplesku yang hangat dalam tanah salju sebelum aku meletakkannya kembali ke tas. Kutarik sayap jubah untuk menyelimutiku. Lalu, aku mengambil sebuah buku dengan sampul cokelat di tas selempang. Dengan pena emas berujung lancip, kutuliskan kata-kata untuk memulai halaman awal. Di dalam pena ini, sudah terisi dengan tinta cair. Jadi, aku tak perlu merepotkan diri untuk menggunakan wadah tinta terus menerus.
“Hari pertama aku berkelana.
Sebenarnya belum jauh dari rumah, tapi aku sudah merindu lebih cepat.
Aku beristirahat lebih dulu sebelum melanjutkan.
Kuharap, aku bisa menemukan hal yang menarik setelah melewati hutan ini.”
Kurasa sudah cukup. Aku pun beranjak pergi lagi. Kutinggalkan jejak di bawah pohon tanpa kuhapus, agar siapapun yang menemukannya akan mengenali jejaknya dan menjadi sebuah cerita.
Ketika aku sudah merasa lelah dan bosan dengan semua pemandangan sama yang mengelilingku ini, aku menemukan sebuah pergerakan kecil yang menarik. Sepasang telinga panjang menjulur dari balik gundukan salju di depanku.
Aku berhasil menyadarinya walaupun warnanya samar seperti salju. Aku berjinjit dengan perlahan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Melangkah dengan tenang dan hati-hati, seolah-olah aku adalah seekor serigala yang menemukan mangsanya.
Tinggal selangkah lagi aku berniat untuk melompat dan menerkamnya, tapi makhluk mungil itu justru menampakkan dirinya terlebih dahulu dengan santai.
“Hei, itu kamu!” seruku. Aku merangkak dan mendekati kelinci putih itu. “Kita bertemu sesaat yang lalu, apa kamu ingat?” aku bertanya padanya seolah-olah aku berbicara dengan manusia.
Kelinci itu melompat mendekatiku. Ia tampak tak sewaspada saat pertama kali bertemu. Aku merasa kelinci itu sepertinya mulai menyukaiku. Aku pun meraih tubuhnya dan mendekapnya seperti bayi kecil.
Aku membenamkan jari-jariku pada bulu tebalnya yang hangat. Sesuai dengan bayanganku, kelinci itu sangat lembut dan kenyal. Ia seperti bantal yang berbulu. Aku menggendongnya dengan penuh perhatian, tapi sepertinya kelinci itu tidak begitu menyukainya. Kelinci itu menendang perutku dengan kaki belakangnya dan mendarat ke tanah.
“Hei! Itu sakit tahu!” kesalku.
Apa kelinci itu baru saja mengejekku? Aku pun mengejarnya ke dalam hutan yang lebih lebat.
Semakin aku mengejar kelinci itu, aku mendengar suara geraman yang mengisi kekosongan hutan. Geraman itu semakin jelas dan semakin membuat leherku bergidik.
Di sebuah batang pohon yang tumbang, tampak seekor makhluk berbulu serba hitam yang ukurannya jauh lebih besar daripada kelinci salju. Suara geraman itu berasal darinya. Mencekam dan penuh aroma keji. Cakar hitamnya sepanjang pisau, mencengkeram batang pohon itu dengan sangat kuat. Aku tak tertarik untuk membenamkan jari-jariku di bulu hitamnya yang kasar.
Makhluk itu tampaknya sibuk dengan sesuatu. Ia memasukkan kepalanya di lubang pada batang pohon yang seukuran kepalaku. Saat ia mengangkatkan kepalanya, tampak moncong panjang penuh taring tajam dan darah segar. Matanya semerah darah yang mengalir.
Memiliki tubuh seperti serigala, namun berdiri dengan kedua kakinya seperti manusia. Di tangan kirinya, ia mencengkeram tubuh seekor kelinci putih yang sudah terkoyak. Aku menahan mualku saat melihat seluruh organ dan darah kelinci itu menodai salju yang putih.
Monster itu menyadari keberadaanku. Sekarang, ia memandangiku dengan tatapan haus darahnya. Dalam jarak yang semakin dekat, aku tahu kalau monster itu lebih tinggi 2 kali lipat dari ibuku.
Aku gemetaran. Tapi, aku harus menggerakkan tubuhku. Saat makhluk itu mengarahkan cakarnya, aku dengan cepat memanggil tongkat sihirku dan menciptakan sebuah kristal es yang terbang lurus menembus jantungnya. Kurasa makhluk itu telah tewas. Ia terbaring di sebelahku dengan sebuah lubang di dadanya.
Aku menatap malang ke makhluk itu. Ini pertama kalinya aku membunuh makhluk hidup dengan kedua tanganku sendiri. Meskipun tubuhnya tampak seperti monster yang mengerikan, tapi ia tetaplah makhluk hidup yang tak bersalah.
Seekor Vulkoliak tercipta akibat campur tangan sihir. Kata ibu, ada sebuah sihir yang mampu untuk mentransformasi tubuh manusia. Vulkoliak ini sebelumnya adalah manusia biasa sama sepertiku, namun ada ahli sihir jahat yang mengubahnya menjadi makhluk yang haus darah.
Walaupun bentuknya sama, Vulkoliak tidak seperti Manusia Serigala yang lahir akibat mengonsumsi tanaman beracun Wolfsbane. Manusia Serigala masih bisa kembali menjadi bentuk manusianya, tapi Vulkoliak tidak. Manusia Serigala masih memiliki kesadaran penuhnya, sementara Vulkoliak lebih brutal dan beringas. Makhluk ini bertindak hanya dengan insting liarnya saja.
Meskipun begitu, aku juga tidak ingin mati. Aku bukanlah orang yang naif ketika seekor monster yang dulunya manusia berusaha untuk menyerangku. Aku pun sadar, kalau aku ingin keluar dari rumahku yang nyaman, aku harus bertahan hidup dan siap untuk menghadapi hal-hal yang berbahaya. Aku tidak peduli dengan bagaimana nasib orang itu sebelumnya, aku hanya ingin hidup dan mewujudkan mimpiku sendiri.
Aku mengayunkan tongkatku untuk menimbun tubuh Vulkoliak itu dengan tumpukan salju. “Maaf, atas segala kemalangan yang menimpamu.”
Kubuat tempat peristirahatan terakhir untuknya. Hanya inilah satu-satunya yang bisa kulakukan.
Tak jauh dari sana, kelinci putih yang kukejar tampak mengendus-endus tubuh kelinci lainnya yang sudah tak berbentuk. Tampak satu kelinci lagi di dalam lubang yang mati kehabisan darah. Sekarang aku mengerti. Dua kelinci yang mati itu adalah keluarganya.
Kelinci putih itu tampaknya memintaku untuk menolong mereka. Ia berusaha menuntunku sejak di rumah. Tapi, aku terlambat untuk menyadari niatnya. “Maaf, kelinci kecil.”
Mungkin inilah yang ibu maksud tentang bahaya di dunia luar. Alam mengambil alih dan semua berjalan sesuai kehendaknya. Pemangsa akan memangsa makhluk yang lebih lemah darinya dan menjadi penguasa. Yang lemah tertindas dan bersembunyi dalam bayang-bayang. Takdir berjalan pada setiap makhluk hidup. Sementara, aku hanya gadis biasa yang mengikuti takdir itu. Aku tak bisa mengubahnya untuk kepentinganku sendiri.
Aku meninggalkan kelinci itu yang meratapi nasib keluarganya. Ia sekarang sendirian, sama sepertiku. Tapi, kami memiliki nasib yang berbeda. Aku tidak akan menilai jalan apa yang akan dipilih sang kelinci di dunia yang kejam ini. Ia mungkin hanya berdiam diri disana menunggu keluarganya untuk bangun atau terus melanjutkan hidupnya dengan kesendirian. Ia tak bisa menggunakan kekuatan sihir sepertiku untuk melawan, tapi ia memiliki kaki-kaki yang lincah untuk mengelak bahaya. Aku bisa saja membawanya dalam perjalanan, tapi kurasa, itu bukan yang takdir inginkan untuk seekor kelinci.
Aku meninggalkan kelinci itu seperti aku meninggalkan ibuku. Aku tidak akan menoleh ke belakang untuknya. Karena aku tahu, itu akan membuatku tertahan dalam perjalanan ini.