
Setelah masalah yang cukup rumit berpusat pada kesalahpahaman semata itu selesai, aku kembali ke kota untuk menikmati waktu sendiriku lagi. Berulang kali aku berharap dalam hatiku semoga tidak ada masalah terjadi kembali. Besok aku sudah harus pergi, karena itu aku sebisa mungkin menikmati waktuku di kota ini sebelum aku melanjutkan perjalanan.
Kilau dari serutan es-es cantik yang menggunung dihidangkan di depan mataku. Aku sejenak sempat kagum dan semangat tapi setelah kupikir lagi, ini agak konyol. Di salah satu kafe yang kukunjungi, ada ukiran sebuah makanan yang baru pertama kali kulihat di papan menu depan kafe. Ukiran dari papan itu dibuat sangat besar melebihi papan menu terus diwarnai sedemikian rupa dengan warna yang sangat mencolok, dan diletakkan di pinggir jalan sehingga siapapun yang lewat akan otomatis melihat menu andalan tersebut dan tertarik untuk mencobanya. Walaupun terlalu mencolok dan ada kemungkinan dilirik oleh para pesaing bisnis mereka, tapi bisa kubilang trik pemasaran kafe tersebut sangat hebat, karena aku salah satu yang jatuh sebagai korbannya.
Aku baru saja lewat sehabis pulang dari pantai dan langsung melihat ukiran yang seperti gunung es dalam sebuah mangkuk besar. Ukiran itu diletakkan di dekat papan menu dan dipasang tulisan “Hadir dengan rasa baru!” di atasnya. Otakku langsung berpikir kalau itu sudah pasti makanan dan bukannya gunung es besar secara harfiah. Nama menunya saja “Es Gunung”, siapa yang tidak tertarik untuk mencoba makanan unik tersebut. Tanpa basa-basi, aku langsung masuk ke dalam toko dan memesan satu porsi es tersebut pada pelayan. Kira-kira aku baru duduk lima menit di meja luar, salah seorang pelayan datang dengan semangkuk besar es ditangannya.
Benar-benar es. Bukan makanan berbentuk es, tapi es sungguhan.
“Ini hidangan andalan negeri kami yang paling terkenal. Selamat menikmati.” Begitu kata si pelayan sambil tersenyum ramah dan langsung kembali ke dalam untuk melayani pengunjung lainnya.
Di meja bundar dengan payung terpasang di atasnya, ada sebuah mangkuk yang cukup besar untuk dipegang dengan dua tangan. Mangkuk itu berwarna biru transparan seperti es dengan ukiran yang mempercantik luarnya, sementara di dalamnya adalah es yang kumaksud. Es sungguhan ini tampak seperti serpihan kristal-kristal es yang diparut lalu ditumpuk hingga membentuk gunung. Seolah-olah mereka mengambil serpihan es langsung dari duri-duri es di sekitar mereka lalu meletakkannya dalam mangkok dan menamainya dengan nama yang menarik. Sebenarnya, tidak hanya ada es saja. Di bagian atasnya ada cairan kental dan harum berwarna hijau yang mengalir seperti lelehan lava gunung berapi. Ini yang mereka sebut sebagai rasa baru. Mereka menyebutnya rasa melon. Melon tidak tumbuh di sini, jadi mungkin mereka mengimpornya dari negara lain.
Namanya benar-benar sesuai dengan tampilannya. Lalu, bagaimana dengan rasanya?
Aku mengambil sendok perak yang pelayan itu berikan padaku bersamaan dengan Es Gunung. Aku menyerok bagian pucuknya agar dapat merasakan rasa melonnya lebih kuat, lalu kumasukkan dalam mulut. Sensasi beku langsung menjalar ke atas, membuat kepalaku terasa sangat sakit seperti ditekan ke dalam. Aku mengalami otak beku dalam sekali suapan.
“Wajahmu sangat lucu!” Aeron tertawa terbahak-bahak melihatku yang memijat-mijat kepala sambil menunggu otak beku mereda. “Bagaimana rasanya?”
“Dingin,” rintihku menjawab.
“Kau bilang tahan dingin, tapi kenapa tidak tahan makan makanan dingin?”
Akhirnya rasa sakit di kepalaku lenyap. “Bagian tubuh luarku yang tahan dan bagian dalamku tidak.” Aku menjawab dengan kesal.
Seratus persen ini benar-benar es asli tanpa rekayasa. Kupikir ada rasa es yang berbeda dan unik, nyatanya sama saja dengan es yang disimpan di lemari es. Rasa melonnya juga bukan melon murni, seperti ada campuran rasa manis gula yang sangat kuat dan rasa lainnya yang tidak bisa kupikirkan. Kupikir mereka membeli melon utuh lalu mengolahnya langsung untuk menjadi perasa, tapi ternyata ini sirup melon biasa yang sudah jadi secara instan. Secara harfiah, aku sedang memakan es batu yang dilumuri sirup melon. Setidaknya aku bisa merasakan makanan unik yang tidak pernah terpikirkan di kepalaku sebelumnya.
“Ingat, di kota orang, membuang barang buatan mereka itu berarti kau tidak menghargai mereka. Pokoknya harus dihabiskan!” Aeron tampak gembira sekali saat menyiksaku.
“Mau coba?” Kutodongkon satu sendok es lagi ke arah kompas yang kuletakkan di sebelah mangkuk Es Gunung.
“Bodoh! Sekalipun aku punya mulut, aku tidak akan memakannya.”
“Yakin? Tidak mau disuapi olehku?”
“Tidak!”
Tepat bersamaan saat sendok masuk ke dalam mulutku dan memulai otak beku kedua, terdengar suara tangisan anak kecil dekat kolam air mancur yang membeku di tengah perempatan jalan. Jaraknya cukup jauh dari tempat dudukku, tapi bisa kulihat anak laki-laki itu menangis sambil berdiri memegang sebuah kotak kayu. Pasir salju terus merembes keluar dari lubang di bawah kotak bersamaan dengan sejumlah kepiting salju.
Tak lama, seorang dengan jubah, topi runcing dan rambut merah menghampiri anak yang sedang menangis. Ia melepaskan satu sarung tangan tebalnya untuk menambal lubang di kotak kayu, lalu membantu mengumpulkan kepiting-kepiting salju untuk dimasukkan kembali ke dalam kotak terarium milik anak itu. Senyum anak itu kembali dengan cepat setelah kepitingnya kembali semua dan pasir saljunya tidak lagi berjatuhan. Gadis yang membantunya memberikan usapan di kepala sang anak kecil.
“Ah, sisi lainnya yang muncul di kondisi tertentu,” ucap Aeron.
Aku terlalu fokus melihat kejadian barusan sampai-sampai aku tak sadar jika esku sudah sampai setengahnya. Mengalihkan fokusku ternyata mencegah otakku mengalami rasa beku akibat es. Sedikit demi sedikit kuhabiskan sisa esnya walaupun sudah tidak ada rasa apapun lagi selain rasa dingin dan tidak ada lagi kandungan yang berarti karena hanya es.
Di tengah upayaku untuk menghabiskan es, mataku kembali melirik ke gadis yang baru kukenal itu. Tahu-tahu, aku ketagihan untuk terus mengamatinya, entah karena alasan apa. Setelah gadis itu membantu sang anak kecil, dia menghampiri salah seorang pria yang sedang duduk di kursi pinggir jalan menikmati pagi sambil merokok. Terjadilah sebuah percakapan antara gadis berambut merah dengan si pria perokok itu. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarnya, tapi percakapan itu berlangsung cepat.
Dari gerak bibir yang bisa kulihat, setidaknya ada lima interaksi yang terjadi. Umumnya, yang pertama adalah si gadis memberi salam, kedua si pria membalasnya dan memberikan izin untuk melanjutkan percakapan, ketiga si gadis menjelaskan maksudnya atau bertanya sesuatu, yang keempat si pria menjawab, dan terakhir si gadis berterima kasih, pria itu tidak menjawab apapun lagi tapi melanjutkan menghisap rokoknya.
Jangan-jangan gara otak beku pikiranku menjadi sangat lancar? pikirku.
Tidak hanya satu orang saja, gadis itu terus berpindah satu per satu ke orang lainnya hingga akhirnya ia tampak lenyap di pandanganku. Tidak perlu dipertanyakan lagi, gadis itu pastinya sedang bertanya-tanya ke orang untuk penyelidikannya. Namun, ada yang membuatku sangat terkejut hingga aku tak bisa melepaskan pandanganku adalah ekspresi gadis itu yang sedikit berbeda saat berhadapan dengan orang lain daripada saat denganku. Aku merasa dia sedikit lebih tenang dan tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya. Aku juga terkejut karena dia ternyata bisa tersenyum.
“Lagi mikir apa?” Tiba-tiba Aeron bertanya padaku, membangunkanku dari lamunan.
Aku terkejut sekaligus kagum karena mangkuk di depanku kini sudah kosong. Itu berarti aku secara tanpa sadar menghabiskan es polos tersebut. Betapa beruntungnya aku tak perlu merasakan sakit di otakku. Karena es sudah habis, aku bisa kembali melanjutkan berkeliling kota.
Setelah kuamati, es di kota ini tidak hanya duri es raksasa itu saja. Es disini sudah seperti warisan budaya. Sebuah komoditas unggulan yang tidak akan ditemukan di tempat manapun dan menjadi sebuah identitas mereka. Tidak hanya ada hidangan khas dari es saja, tapi ada banyak es yang bisa kutemukan di sepanjang jalan. Dekorasi es tampil dalam berbagai bentuk di setiap tempat: di atas rumah, di pagar rumah, di halaman, bahkan hadir dengan benda kecil seperti perhiasan es juga ada.
“Oh, nona pengembara!”
Aku mendengar suara seorang pria renta seperti memanggilku, tapi setelah kulihat sekeliling hanya bisa menemukan orang-orang lewat tanpa memperhatikanku dan deretan rumah berpagar di sepanjang kiriku.
“Di sini, nona!”
Suara itu berasal dari salah satu rumah. Berpagar perunggu dengan halaman yang cukup lebar. Di balik pagar, ada seorang pria tua yang melemparkan sebuah senyuman tipis padaku. Di depannya ada sebuah bongkahan es setinggi 6 kaki yang beberapa bagiannya seperti memiliki bentuk familiar. Begitu sadar, aku langsung mendekati pagar itu untuk melihat lebih jelas patung es yang sedang dibuat.
“Jadi, kau yang memahat patung-patung es itu?”
Pria itu terkekeh. “Itu benar. Keluargaku adalah seorang pemahat es. Aku telah memahat es sejak muda dan banyak hasilnya bisa kau temukan di sepanjang jalan. Yah, walaupun tidak semuanya aku yang memahat, sih.”
“Patung-patung ksatria es buatanmu sangat indah. Aku sangat menyukainya.”
“Benarkah?” Pria itu tertawa lagi sambil mengusap bagian belakang kepalanya. “Terima kasih, nona. Aku jadi malu. Ah, bodohnya aku. Masuklah, nona. Jangan sungkan.”
Aku mendorong gerbang perunggu ke dalam dan diizinkan untuk melihat salah satu patung yang sedang dibuatnya. Pemahat itu berkata kalau patung es yang dia kerjakan adalah pesanan dari seorang pelanggan. Pelanggan itu memintanya membuat sebuah patung berdasarkan bentuk anaknya yang akan segera berulang tahun. Pria itu menunjukkan padaku sebuah foto dari pelanggannya sebagai contoh, itu adalah foto anak kecil yang sebelumnya kulihat menangis di jalanan.
“Berapa lama patung ini akan selesai?” tanyaku. Pandanganku terus tertuju setiap detil ukiran dan pahatan di patung yang sudah dilakukan pria tua itu sejauh ini. Bagian kepala, lengan sampai pinggangnya sudah terlihat jelas bentuknya walaupun belum halus, sedangkan bagian kakinya masih berupa bongkahan es persegi panjang.
“Tergantung. Tapi, kalau dikira-kira, sore sudah selesai. Harus selesai. Karena besok adalah ulang tahun anaknya. Kalau terlambat, aku akan mengecewakan pelangganku.”
Walaupun sudah berkeriput, tapi dia masih menunjukkan semangatnya. Tubuhnya yang sudah rapuh bukan menjadi alasan untuk dia terus bermalas-malasan. Tangannya yang memegang pisau pahat juga sama kokohnya dengan seorang ksatria yang memegang pedang dan perisai. Mungkin karena menjadi pemahat adalah apa yang dia inginkan maka dia tidak bisa berhenti melakukannya hanya karena sudah tua. Aku pun pasti tidak akan berhenti mengembara meskipun usiaku sudah ratusan tahun.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku sudah menganggu waktu anda.”
“Ah, tidak, kok. Aku yang memanggil nona. Oh iya, tunggu sebentar. Sebelum nona pergi, setidaknya nona harus menerima sesuatu dariku terlebih dulu.”
“Tidak usah—” Pria tua itu langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengindahkan ucapanku. Aku terpaksa menunggunya.
Tidak lama kemudian, pria itu kembali. Langkahnya cepat menuruni anak tangga beranda rumahnya seolah tidak takut terpeleset salju dan pecahan es. Ia mendekatiku dengan senyuman ramah sambil menyerahkan sebuah kalung es.
“Setiap orang yang mengunjungi negeri kami setidaknya harus merasa bahagia sama seperti kami. Nona harus memiliki kenangan yang indah dan memuaskan di sini. Es-es yang berkilauan ini akan mengingatkan nona bahwa kebahagiaan dapat ditemukan di tempat terpencil dan terdingin sekalipun. Mohon terimalah.”
Tentu aku tak bisa menolaknya begitu saja. Apalagi di saat aku sampai di tempat yang lebih hangat, kalung ini pasti akan meleleh. Tetapi, aku tidak akan mengatakannya. Aku menerima kalung itu dan langsung kupakai di lengan kiriku. Sebuah bintang es tergantung di kalung yang disusun dari bola-bola es kecil, diikat dalam sebuah tali putih.
Setelah puas memberikan senyumannya padaku, pria itu melemparkan senyumannya kepada duri-duri es yang timbul di balik atap-atap rumah warga. “Es-es ini yang telah memberikan kami kehidupan sehingga kami tidak perlu sengsara lagi di tempat seperti ini. Terutama keluargaku yang sepenuhnya menggantungkan hidup sebagai pemahat es. Jika es ini tidak ada, mungkin tidak ada senyuman yang terpancar di jalanan. Tidak ada lagi orang seperti nona yang akan datang berkunjung, dan aku mungkin tidak akan pernah menemukan apa yang kusukai.”
Aku teringat kembali dengan ucapan Vestia soal fenomena duri-duri es ini yang menurutnya aneh. Teorinya mengatakan kalau es-es ini diciptakan oleh seseorang. Mau dipikir bagaimana pun, menurutku juga itu lebih masuk akal daripada tercipta secara alamiah.
“Apa es ini sudah ada sejak berdirinya kota?” tanyaku penasaran.
“Kebanyakan warga berpendapat seperti itu. Ayahku berkata kalau es ini tiba-tiba saja muncul di antara bangunan tanpa membuat orang-orang keheranan. Tidak ada catatan, tidak ada yang melihatnya dan tidak tahu kapan es-es ini muncul seolah sudah ada sejak dari awal. Begitu ada yang sadar, mereka tidak mempertanyakannya. Dengan kata lain, masih misteri. Entah seorang manusia yang menciptakannya atau dewa, kami tidak peduli. Karena es ini memberi kami kebahagiaan dan itu sudah cukup bagi kami.”
Senyumannya semakin lembut seperti salju yang menghujani pundaknya dan topiku. Sebagai orang yang tinggal di tempat dingin, kami tidak begitu peduli mau salju itu menumpuk di topi atau di pundak atau menyangkut di rambut. Tanpa sadar, tiba-tiba kami sudah terbiasa dengan hal seperti itu dan melanjutkan aktivitas. Sama seperti orang-orang yang dikatakan pria tua itu.
Saat melihat senyumannya, aku langsung tahu bahwa es-es ini benar-benar memberikan dampak yang besar tidak hanya pada dirinya, tapi juga orang-orang lain, dan mungkin itu termasuk diriku. Kebahagiaan itu memang hal yang sulit dicapai di tempat seperti ini. Aku juga sudah merasa bahagia saat seorang wanita seperti Aena yang menjadi ibuku, tanpa perlu mempedulikan asalku dan alasan kenapa ibuku tak bisa disentuh.
“Di dekat hutan di sebelah timur, ada kastil es,” tuturnya tiba-tiba. “Sebenarnya kastil itu dulunya adalah salah satu tempat wisata, namun kini sudah ditutup karena banyak orang yang terluka akibat tergelincir lantai esnya yang licin. Yang tidak diperbolehkan jika masuk ke dalamnya, sih, tapi kalau cuman dilihat dari luar saja tidak akan ada masalah. Kujamin, meskipun hanya dari luar saja, tapi kastil itu akan menjadi tempat yang berkesan buat nona. Soalnya, itu juga tempat yang berkesan bagiku saat muda.”
Menemukan dan menikmati hal yang baru juga adalah keinginanku. Tentu saja aku tidak akan melewatkannya.
“Terima kasih atas sarannya, lagi.”