
Pintu terbuka dan kami pun masuk kembali ke dalam kehangatan. “Nivalis. Ibu ingin bertanya padamu.” Tanpa basa-basi, ibu langsung menatapku setelah aku melewati ambang pintu. “Apa yang kamu pikirkan!? Bukankah ibu sudah mengatakan untuk tidak boleh ke luar!? Kamu belum siap untuk ke luar sana!” bentaknya.
Sisi ibu yang tegas akhirnya muncul. “Aku bosan!” sergahku. “Aku melihat seekor kelinci di luar, aku lalu mengikutinya … lalu … aku ….”
“Kamu bermain di luar,” potongnya.
“Ya … ta-tapi aku suka bermain di luar,” jawabku gelagapan. Aku harus mencari alasan yang tepat agar ibu tidak menghukumku. “Di luar sana tidak berbahaya. Justru aku merasa senang.”
“Tapi, pakaianmu, Niva. Apa kamu ingin terkena hipotermia?”
“Aku baik-baik saja di luar sana! Aku tidak merasakan kedinginan meski pakaianku seperti ini.”
“Baiklah …. Ibu tahu kamu sudah terbiasa dengan suhu dingin. Tapi, jika ingin keluar gunakan pakaian yang lebih sopan dan tebal.” Akhirnya ibu menyerah.
Aku akui pakaianku memang tidak setertutup pakaian ibu yang dari mata kaki hingga ke pergelangan tangan. Aku hanya memakai baju tidurku yang menutupi hingga ke paha, membuat kulitku lebih banyak terekspos daripada pakaian ibu. Lagipula, belum pernah ada orang yang kesini, jadi aku tak perlu memikirkan akan ada yang mengintipku.
Setelah ibu menceramahiku, aku pun mengganti pakaianku. Kupakai baju putih berlengan panjang dengan pita kupu-kupu hijau. Lalu dengan rok hijau gelap sebetis. Aku suka pakaian ini karena tidak menekan pada bagian lengannya. Dibuat mengembang dan longgar agar lenganku bisa dengan bebas bergerak. Di depan cermin, aku terpesona melihat diriku sendiri yang begitu cantik bagai Bunga Utara. Rambutku halus dan kulitku juga lembut. Mata menawanku bahkan sanggup membuat diriku sendiri terpana dengan sekali lirikan. Bibirku semanis krim dan madu. Tubuhku juga sempurna, tidak kurus juga tidak gemuk. Ramping namun berisi. Jika aku bisa menikah dengan diriku sendiri, sudah pasti akan kulakukan.
Apa yang sebenarnya kupikirkan barusan?
Hanya fantasi liar seorang gadis.
Aku tersentak saat ibu memanggilku, padahal aku masih belum puas mengagumi diriku sendiri. Ibu datang dari dapur dengan segelas teh hangat melayang dekat pundaknya. Teh itu mendarat di meja di mana aku duduk.
“Ada apa?” tanyaku. “Apa Ibu sekarang akan mengajariku memasak?”
Ibu tertawa ringan. “Tidak.”
Setelah kuingat-ingat lagi dan kuperhatikan, ibu pulang tak membawa bahan makanan seperti biasanya. Sangat jarang ibu kembali dengan tangan kosong. Biasanya dia akan membawakan pakaian, buku, atau barang-barang kebutuhanku lainnya.
“Ada yang ingin Ibu katakan padamu,” lanjutnya.
Mendadak suasananya menjadi lebih serius. Aku menelan ludahku saat ibu mulai duduk berhadapan denganku. Apa ibu masih marah persoalan tadi?
“Maaf,” aku langsung memulai.
“Maaf kenapa?” Ibu melemparkan wajah herannya kepadaku yang juga sama herannya.
“Bukan soal tadi?”
“Bukan.”
“Apa ada hal yang membuat ibu marah?” tanyaku cemas.
“Tidak ada.” Ibu menggeleng. “Begini, Niva, sepertinya sudah saatnya kamu pergi.”
Aku terbujur kaku seperti patung. “Pergi? Sekarang? Pergi ke mana?” Aku sangat kebingungan. Aku tidak menduga hal ini.
“Kamu ingin sekali pergi ke dunia luar, bukan? Kalau begitu, Ibu mengijinkanmu.”
“Ya …, tapi, kenapa sekarang? Sesaat yang lalu, Ibu memarahiku karena bermain di luar rumah, dan sekarang Ibu justru menyuruhku pergi. Kenapa? Dan juga, cara Ibu mengatakannya seolah-olah terkesan mau mengusirku.”
“Ibu bilang kalau kamu itu sudah kuat sejak dulu, kan. Kamu itu tak perlu mengalahkan Ibu untuk menjadi kuat. Justru ketakutan Ibu selama ini jika kamu terluka di luar sana yang membuatmu terkurung disini, dan tak bisa menjadi lebih kuat lagi,” ungkap wanita di depanku itu.
“Tapi, aku suka disini.”
“Tapi, apa kamu ingin tinggal disini untuk selamanya, dan melepas mimpimu seperti Ibu?”
“Bagaimana kalau Ibu ikut saja denganku?” aku langsung melontarkan ide yang baru saja masuk ke kepalaku. “Kita bisa berkeliling bersama dan impian Ibu mencari ujung dunia juga bisa terwujud.”
“Tidak bisa. Mimpi Ibu sudah lama hilang ditelan waktu, Niva. Bagi Ibu, dunia berputar terlalu cepat. Kamu juga tidak bisa selamanya bergantung pada Ibu. Suatu saat nanti, kamu harus bisa hidup sendiri, menemukan orang yang tepat, membangun rumah, dan memiliki keluarga, lalu menghabiskan waktu tua bersama dengan orang yang kamu cintai.”
Aku menunduk ditemani rasa gelisah dan bingung. “Tapi, aku belum siap untuk pergi.”
“Ibu juga belum siap untuk melepaskanmu. Ibu masih takut jika Niva terluka di luar sana.”
Aku mematung lagi. Mau bagaimana lagi. Aku memang sebongkah patung. Diam di aliran waktu. Keberadaanku tak berarti selain sebuah pajangan. Tak banyak yang bisa kulakukan selain berdiri tanpa melakukan sesuatu, seperti patung.
“Kalau begitu, bisakah ditunda dulu beberapa hari? Aku harus memikirkannya kembali,” ujarku lelah. Aku sudah lelah dan ingin segera membaringkan tubuhku di kasur yang empuk.
Dalam taman bermain pikiranku, segala bentuk manifestasi yang mewakili bagian dari diriku saling berebutan mengambil permainan-keputusan. Mereka semua memilih permainan itu dengan mudahnya. Ada yang mengambil jungkat-jungkit, ayunan lalu ada yang bermain bersama dengan alat seadanya, ada juga yang berlarian mengelilingi taman. Di situlah aku yang asli, hanya berdiam memandangi mereka bermain dengan puas. Tak lama kemudian mereka semua kelelahan dan pergi. Aku pun memutuskan untuk pergi juga.
Aku membuka mataku dengan tak bersemangat. Aku hanya terlelap dalam badai salju. Berpura-pura tidur pada awan kelabu yang kubenci itu. Awan itu pasti senang melihatku seperti ini, ia merayakannya dengan menurunkan hujan salju yang lebih lebat lagi.
Kasurku tak lagi terasa empuk. Aku sudah tidur menghadap ke sisi lainnya, berputar searah jarum jam, atau tidur tengkurap, tapi semua posisi sama saja. Aku memutuskan untuk menghadap jendela yang membeku karena es. Dengan jari-jariku, kubentuk es di kaca itu menjadi sebuah gambar Bunga Nivalis yang meneteskan salju. Dari tetesan itu tercipta seorang bayi yang tumbuh menjadi gadis cantik yang kesepian.
Sejak tadi, ibu tak datang mengetuk pintu kamarku dan memeriksaku. Entah apa yang ia lakukan. Mungkin meratapi dirinya sendiri. Mungkin meratapi putrinya yang sudah …. Apa yang kupikirkan? Kuusir semua pikiran negatif yang mengerumuniku dengan sebuah gelengan dan tepukan.
Jendela kamarku memisahkan kasur dan sebuah rak 2 tingkat yang terisi dengan buku yang tersusun rapi. Aku memandangi begitu lama setiap punggung buku yang beragam itu. Aku menarik buku berwarna merah marun dengan sihir ke arahku. Seraya berbaring aku membaca buku itu lagi.
Buku itu berisikan pengenalan negeri-negeri terkenal yang cocok untuk berwisata. Bab awal menjelaskan tentang negeri di Benua Livadia yang terkenal dengan hamparan padang bunganya yang luas dan cantik. Suhunya tidak seekstrim disini, karena itu bunga disana lebih beragam. Selanjutnya Alderia, sebuah kerajaan hutan terluas dan terbesar yang dipimpin oleh seorang ratu cantik yang memancarkan aura menawan. Lalu ada juga negeri kepulauan yang dihuni oleh ras manusia setengah naga. Negeri itu sangat kaya akan budaya yang unik dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Kemudian, negeri padang pasir yang sunyi serta misterius dan terakhir negeri yang selalu tertutup salju.
Hanya sebuah tulisan saja sudah membuatku kagum dan ingin sekali mengunjungi negeri-negeri tersebut. Itu mimpi terbesarku. Aku penasaran bagaimana tulisan itu menjadi gambar nyata yang bisa kulihat dan kurasakan sendiri sensasinya. Aku ingin meninggalkan jejak di setiap perjalananku yang akan kuceritakan pada ibuku.
Kalau begitu, kenapa aku masih mempertimbangkannya? Apa keinginanku sebenarnya hanyalah mimpi palsu? Atau mungkin, aku hanya tak ingin pergi ke luar dari sini?
Kutanya pertanyaan itu pada diriku sendiri, terus berulang kali hingga kepalaku seakan-akan ingin pecah. Kepalaku serasa pecah saat bunyi gemerincing salju yang menabrak jendela kaca semakin menjadi-jadi, lalu seketika senyap. Aku membuka jendela.
Salju tiba-tiba mereda, seolah mengijinkaku sekali lagi untuk melihat dunia di luar sana. Laut biru yang gelap dan dalam membentang luas sejauh mata memandang. Melukis dunia dengan warna birunya yang berdampingan bersama langit kelabu. Laut tak tenang seperti biasanya, ia bergolak saat aku memperhatikannya. Kulihat cakrawala luas yang menarik segala indera di seluruh tubuhku.
Suara ombak perlahan berbisik di telingaku, memanggilku dengan desiran lembutnya. Awalnya seperti bisikan, lama kemudian menjadi sebuah nyanyian dari samudera. Semilir angin laut yang sejuk membelai wajahku dan mengacak rambutku. Angin itu berkunjung ke kamarku, lalu membungkus tubuhku seolah-olah kami sudah saling mengenal. Angin itu juga membawa aroma laut yang menyegarkan, dingin dan sejuk. Bisa kulihat juga, pilar-pilar cahaya menembus awan suram. Menopang langit agar tidak runtuh. Memberi sebuah kehangatan dengan warna cerahnya pada wajah laut dan diriku.
Betapa tak bisa kujelaskannya dengan kata-kata untuk menarasikan panggung biru itu, untuk mendengarkan lagu yang menghantui itu, untuk melihat gelombang sirip di kejauhan itu, dan untuk merasakan apa yang kurasakan dalam waktu yang sesingkat aku bernapas.
Apa ini yang ingin dunia tunjukkan padaku? Sensasi aneh namun kusangat menikmatinya, seperti aku menikmati setiap rasa pada makanan favoritku. Memberi kepuasan tersendiri bagi hati labil yang masih meraba-raba ini.
Aku menutup jendela dan kembali ke tempat di mana aku bisa memulainya. Kulihat ibuku memandang keluar jendela depan rumah. Aku tak bisa melihat wajahnya dari belakang, jadi aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
“Ibu,” panggilku.
Wanita berwajah anggun itu berbalik dan menghampiriku. “Maafkan Ibu, Niva, tapi sebaiknya….”
“Aku akan pergi ke luar,” ucapku serius. “Aku pergi ke luar bukan karena Ibu yang memaksaku, tapi karena memang itu apa yang aku inginkan.”
“Apa kamu yakin?”
“Aku bohong kalau aku berkata aku tidak takut, tapi itu mimpiku. Itu layak dicoba. Dan aku tak ingin melepaskan kesempatan yang ada di depan mataku ini,” ungkapku.
Ibu tersenyum melihatku. “Kalau begitu, tunggu sebentar,” katanya.
Ibu lalu menuju bengkel sihirnya yang terletak di sisi kananku. Ruangan itu bersebelahan dengan dapur. Setelah lama kutunggu kehadirannya dan kutunggu jawabannya, ibu kembali dan menerbangkan sebuah jubah hitam dengan topi runcing ke arahku.
“Apa ini jubah penyihirku?” Aku mengambil jubah itu. Meraba kain jubah yang halus dan memakaikan topi besar itu di kepalaku.
“Maaf, Ibu tak membuat jubah itu sesuai dengan warna favoritmu, tapi kubuat jubah dan topi itu agar dapat melindungimu dari ancaman sihir. Topi itu juga dapat membantumu bertahan dalam cuaca ekstrim,” kata ibu.
“Tidak apa. Terima kasih.” Aku senang saat memakai jubah dan topi yang kuinginkan itu. Aku mengibarkan jubah itu dan merekatkan topi runcingnya di kepalaku. “Aku menyukainya.”
“Baiklah dengan ini, Ibu resmikan kamu sebagai seorang penyihir sejati.”
Aku menunggu. Upacara peresmian seorang penyihir sangat penting dan sakral, jadi aku harus menahan rasa senangku dan menjalani upacara dengan penuh hormat. Tapi, tunggu, kenapa ibu hanya tersenyum kepadaku?
“Apa sudah selesai?” tanyaku heran. Aku melirik ke belakang ibu berusaha mencari barisan lilin yang beterbangan membentuk sebuah simbol dan cangkir emas berisi minuman mistis yang harus kuminum untuk memperkuat energi sihirku. Tak ada apapun di belakang ibu.
“Selesai apa?”
“Upacara peresmiannya!”
Ibu tertawa keras. “Tak ada upacara peresmian, Niva. Apa yang membuatmu berpikir harus mengadakan sebuah upacara untuk mengangkat seorang penyihir?”
“Tapi, di buku….”
Ah, sial! Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku begitu percaya pada sebuah buku yang bisa kita ubah isinya sesuka hati? Seharusnya kutahu upacara itu hanyalah untuk membuat cerita lebih mendramatisir saja. Bodohnya mimpi Niva kecil.
“Memang, pada masa dulu, beberapa budaya melakukan upacara untuk mengangkat seorang penyihir baru. Tapi, sebenarnya itu tak diperlukan. Sihir itu sudah ada pada diri kita semua tanpa perlu melakukan ritual sekalipun. Semua yang ada pada cerita dulu, hanyalah fakta yang diubah. Sama seperti jubah dan topi runcing, penyihir sebenarnya tidak memerlukan itu semuanya.”
“Jubah dan topi juga!? Kenapa!?” aku terkejut.
“Asal usul kenapa penyihir memakai jubah dan topi sebenarnya dari Venefika, Ibuku. Dia memakai jubah dan topi itu untuk bersembunyi dari para warga, tapi warga justru mengagumi cara berpakaian Sang Penyihir Agung dan mulai menjadikannya pakaian untuk penyihir,” jelas ibu.
Venefika dikenal sebagai Sang Penyihir Agung. Dia yang mengawali sihir, mengajarkan sihir dan banyak membantu umat manusia mencapai kejayaannya. Dialah penyihir terkuat yang pernah ada sebelumnya. Namun, karena penyerangan dari kerajaan jahat 600 tahun lalu membuatnya tewas. Dewi Sihir itu juga merupakan Bangsa Ardus asli, yang darahnya sekarang diturunkan ke ibu.
Setelah aku mendengar penjelasannya dari ibu, aku merasa sedikit menyesal menjadi seorang penyihir.
“Tak perlu bersedih. Mau seperti apa pun penampilanmu jika kamu bisa menggunakan sihir sesuai kehendakmu, kamu sudah bisa disebut sebagai penyihir,” ucap Ibu yang tampak menyemangatiku.
“Ya, kurasa Ibu benar.” Aku kembali bersemangat.
Mimpiku akan segera tiba, tapi sebelum itu masih banyak yang harus aku siapkan untuk memulai perjalananku. Ibu lalu membantuku menyiapkan barang-barang yang diperlukan dan meletakannya pada tas selempang biru gelap. Aku ingin membawa buku-buku yang sangat penting untuk membantuku dalam perjalanan. Tapi, semua buku sangat penting bagiku dan aku tidak bisa membawa semuanya. Aku pun memutuskan mengambil sebuah buku dengan isi yang kosong. Buku ini akan membantuku untuk mencatat semua perjalananku kelak.
Aku pun berdiri di depan rumah dan melihat langkah yang akan kuambil ke depan. Sebelum itu, ibu berpesan padaku, “Ingat, Niva, dunia di luar sana tidak seperti buku yang selalu menggambarkan hal-hal indah saja. Di luar sana, penuh tidak hanya bahaya saja, tapi apapun yang bisa melukai Niva, luar dan dalam. Dunia luar itu tidak selembut bulu kelinci dan belaian ibu. Meskipun tak ada Ibu, Niva tak perlu khawatir. Niva adalah gadis yang kuat. Niva itu bunga mekar di musim dingin.”
Hm, padahal aku belum pernah merasakan belaian ibu.
“Setelah kamu keluar dari pagar itu, Ibu tidak akan bisa lagi membantumu. Selama di perjalanan, kamu akan banyak bertemu orang-orang yang unik, juga tempat yang unik. Kamu bisa meminta bantuan mereka jika perlu. Itu wajar. Jadi, Niva tidak perlu takut. Tapi, berhati-hatilah, karena tidak semua orang akan bersikap baik padamu.”
“Baiklah, akan kuingat itu.”
“Satu hal lagi.” Ibu mengeluarkan sebuah kalung dengan permata bening dan mengalungkannya padaku. Batu permata itu cukup bening hingga tampak seperti kristal es yang cantik. “Kalung ini berisi kekuatan sihir Ibu untuk membantumu. Tapi, ingat ini baik-baik! Gunakan hanya jika kamu benar-benar berada dalam situasi yang gawat. Gunakan jika kamu merasa begitu dekat dengan kematian. Dan jangan sampai kalungmu dicuri orang lain, mengerti?”
Jika ibu berkata demikian, kurasa kalung ini berisi kekuatan yang sangat besar. Rasa penasaranku berkata ingin mencobanya, tapi aku harus menahannya saat waktu yang tepat sesuai dengan pesan ibu.
“Aku mengerti,” jawabku.
“Kamu sudah menjadi gadis penyihir yang kuat. Ibu sangaaatttt bangga padamu.”
Dalam momen perpisahan ini, aku ingin bertanya sesuatu, aku ingin meminta hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya, meskipun aku tahu kalau itu tidak akan pernah terjadi. “Apa aku tidak bisa meminta sebuah pelukan perpisahan?”
“Maaf ….”
Yah … apa yang bisa kuharapkan.
“Kalau begitu, apa ibu masih akan menungguku disini saat aku pulang nanti?” aku bertanya sekali lagi.
“Tentu saja. Ibu tidak sabar mendengar semua ceritamu.”
“Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Ibu.” Senyuman lembut Ibu membuatku bersemangat kembali. Aku tidak boleh bersedih. Aku harus menahan semua kesedihan itu dan meninggalkan ibu dengan senyuman ceriaku.
Aku sekarang sudah melewati pagar. Salju mengguyur topi runcingku, tapi aku akan baik-baik saja. Aku melambaikan tanganku pada ibu di rumah.
“Saat aku pulang nanti, aku ingin Ibu memasakan sup krim jamur dan roti mentega yang sangat banyak untuk menyambutku. Lalu, aku akan menceritakan semua kisah perjalananku pada ibu hingga larut malam. Ibu harus mendengar semuanya. Aku akan menceritakannya sedetil dan sejelas mungkin. Saat aku tidur, aku ingin Ibu menemaniku seperti dulu saat aku kecil. Lalu, aku ingin kita berlatih lagi. Akan kutunjukkan kekuatanku yang sudah berkembang. Aku akan merindukan, Ibu.” teriakku dari kejauhan. Aku ingin suara keinginaku tersampai di hatinya.
“Baiklah, ibu tak sabar untuk itu. Ibu juga akan merindukanmu,” ibu berteriak dan membalasku juga. Aku bisa merasakan keinginanku tersampaikan padanya melalui teriakan itu. Aku ingin bersama ibu setelah semua ini selesai.
Disinilah aku. Berdiri di depan hutan yang belum pernah kumasuki. Dunia macam apa yang aku temukan kelak di luar sana. Apapun itu semoga memberikanku cerita saat aku kembali ke rumah.
Aku menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan debaran jantungku. Akhirnya, aku mulai meletakkan langkah pertamaku di dalam hutan yang sunyi dan hanya salju. Aku tak ingin menoleh, karena aku tahu, jika aku menoleh sekali lagi, aku tidak akan bisa melangkah maju lagi. Ini adalah langkah terjauhku dari rumah selama aku hidup.
Aku sekarang akan melihat seluruh dunia dalam mimpiku dengan mata kepalaku sendiri. Aku sudah siap.