Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Latihan yang sia-sia



Salju meliuk-liuk turun dari langit kelabu yang tampak bersedih. Tampak butiran kecil berwarna putih yang menyangkut di rambutku yang juga berwarna putih keperakan. Jariku masih bisa menghitung butiran salju yang turun dari langit pucat itu. Langit yang tak pernah berubah semenjak penciptaan dunia. Begitulah kata ibuku. Ibuku yang saat ini sedang melepaskan bongkahan batu es ke arahku dengan sihirnya. Aku harus menghindarinya jika tidak ingin merasakan sakit.


Sudah 2 jam berlalu sejak latihan dimulai dan aku masih belum bisa membalikkan keadaan. Bukan, ini bukan latihan. Ini penindasan. Kenapa? Karena aku harus menggunakan tongkat sihir yang memiliki batas. Jika saja aku diizinkan untuk tidak menggunakan tongkat, aku yakin, aku pasti akan mengamuk habis-habisan. Tanpa membaca kitab takdir sekalipun, dalam kondisi saat ini, aku sudah tahu kalau ujung-ujungnya pasti akan kalah.


Bongkahan es yang sebesar kepalan tangan itu terus menghujaniku tanpa memberikanku waktu untuk napas. Mungkin ibu tidak ingat kalau aku ini seorang manusia? Fisikku ada batasnya, tidak sepertinya yang setengah Ardus-ras paling mulia dan kuat di Aima-dunia.


“Sebentar!” jeritku. Aku sudah terengah-engah menghindari semua serangan yang berdatangan. Kepulan asap menyembul dari mulutku yang membuka menutup.


“Dalam pertempuran tak ada waktu untuk istirahat!” balas ibuku enteng.


Memangnya pertempuran apa yang harus kuhadapi? Aku sudah nyaman tinggal di ujung dunia ini. Walaupun dingin selalu menusuk, tapi bersama ibuku selalu membuatku hangat.


Salah satu bongkahan es meleset dari jalur serangannya dan menabrak dinding tebing yang curam. Tebing itu menjulang tinggi memayungi kami, bagaikan gunung yang menjorok ke lautan.  Aku pun melingkarkan tongkat sihirku tepat di atas kepalaku. Lingkaran transparan secara ajaib tercipta dan menahan pecahan tebing.


Ini sudah diluar batas. Aku bisa saja tak selamat hanya karena latihan sia-sia ini.


“Aku menyerah!” teriakku. “Latihannya selesai sampai disini saja.”


Ombak dari Laut Beku memecah lapisan es dan terangkat di udara seperti gelembung raksasa. Yang kulihat seperti meteor air dingin yang meluncur ke arahku. Sepertinya ibu tak mendengarku. “Latihan akan selesai jika seranganmu berhasil mengenaiku,” begitu kata ibuku.


Alasan lainnya yang membuktikan kalau aku pasti akan kalah, karena ibuku adalah penyihir terhebat yang pernah kutemui. Memang aku belum pernah melihat orang lain selain ibuku, tapi dari kisah hidupnya yang selalu diceritakan padaku sebelum tidur dan kemampuan sihirnya yang dapat memanipulasi alam berskala gila, aku sangat yakin kalau ibuku adalah penyihir terkuat di dunia.


Dan tentu saja, aku penyihir terkuat kedua setelah ibuku!


Gelembung raksasa itu bisa kuubah menjadi kepingan-kepingan salju murni yang cantik tapi menyakitkan. Sebening kristal dan secantik kupu-kupu. Kubuat kepingan salju kupu-kupu itu dan menerbangkannya ke arah ibuku. Hasilnya? Tentu saja sia-sia.


Alasan terakhir yang sudah menyusun kekalahanku ini adalah tak ada yang bisa menyentuh ibuku. Semua yang ada di dunia ini tak bisa menyentuhnya. Petir tak membuat ibuku gentar, badai tak kan membuat ibuku terhempas, ombak tak kan mampu menyeret ibuku. Waktu hanya akan mengalir melewati tubuhnya seolah-olah ibu bukanlah sosok yang berjalan di dunia nyata. Aku ragu kalau kematian bisa menjemputnya.


Memang tak bisa dipercaya. Ibuku yang sekarang ada di hadapanku itu tak memiliki wujud nyata. Dia seperti hantu salju. Samar dalam badai, dengan sekejap membuatmu terpesona lalu hilang begitu saja.


Kepingan salju yang kubuat sepenuh hati dan tenaga, terbang menembus langsung tubuh ibu begitu saja. Sebuah serangan yang sia-sia. Aku sudah kelelahan sekarang. Sejak latihan ini dimulai, aku memang tak memiliki kesempatan sekecil apapun. Dibandingkan ibuku, keberadaanku hanyalah butiran salju dalam badai dahsyat.


Aku membuang napas saat bongkahan es terbang ke wajahku. Selanjutnya sudah jelas. Aku kalah … dan pingsan. Ingin sekali rasanya menang. Selama 17 tahun aku hidup, yang selalu kurasakan adalah bongkahan es menyapaku dengan sedikit kasar.


Aku terbangun dengan rasa nyeri di kepalaku. Rasa sakit yang selalu kurasakan setiap hari. Wanita yang tak mengenal ampun itu tersenyum saat aku memijat kening merahku. Senyumannya lembut selayaknya lautan. Duduk di pinggir pantai di bawah bayang-bayang tebing, menatap ke cakrawala tak berujung di depan. Aku mengikutinya.


“Apakah aku sekarang sudah menjadi lebih kuat?” tanyaku memecah deburan ombak dan es.


“Ibu tak pernah menganggapmu lemah, Niva,” ucapannya juga begitu lembut dan selalu membuatku tenang. Aku suka sisi ibu yang lembut, bukan sisi yang suka membuat putrinya hampir mati. “Sejak dulu, kamu sudah menjadi gadis yang kuat.”


Itu kisah yang menyedihkan. Maksudku saat pertama kalinya aku ditemukan. Ya. Aku bukan putri kandung ibu. Aku adalah seorang bayi yang lahir dari bongkahan es. Begitulah kenyataannya. Ibu menemukanku di sebuah padang salju yang dikelilingi hutan pinus lebat. Kristal es menarik perhatian ibu yang tak sengaja menemukannya. Aku berada di dalamnya, membeku seperti sebuah daging yang diawetkan.


Dengan sihirnya, ia melelehkan bongkahan es tersebut. Ibu terkejut tak percaya, bahwa diriku masih hidup dan bernapas setelah terbebas dari kurungan yang dingin. Seketika menangis dalam selimut di tengah padang salju yang lebat. Sendirian dan kedinginan. Tubuh lembutku bahkan perlahan berubah menjadi pucat. Sepucat salju. Suara rengekanku teredam angin yang menusuk. Tampaknya hewan-hewan liar pun tak peduli dengan tangisanku, begitu juga dengan orang tua asliku yang entah bagaimana caranya membuatku berada dalam es. Kehidupan awalku sudah dimulai dengan kemalangan.


Hanya wanita itu yang peduli padaku dengan kehangatan selimutnya. Meski tahu kalau dirinya tak bisa menyentuhku, dia tetap merawatku hingga aku menjadi seorang gadis yang cantik. Dialah ibuku yang sesungguhnya.


“Butuh 2000 tahun bagimu untuk mengalahkanku.” Tipikal ibu yang sangat percaya diri.


2000 tahun itu waktu yang lama bagiku yang seorang makhluk sementara di dunia yang sementara. Ibu memberitahuku kalau umurnya pun tak mencapai angka tersebut. Darah setengah Manusia-Ardus tidak membuatnya berumur panjang, tapi benda ajaib yang bernama Permata Asua lah dimana dia mendapatkan umur 800 tahunnya.


Ibu berkata kalau benda itu terpasang di tongkat sihirnya, tapi dia tak pernah memakai tongkat sihirnya sama sekali. Jadi, aku sampai sekarang belum pernah menyaksikan secara langsung kehebatan permata sihir yang dikatakan bisa menciptakan sebuah kehidupan.


Kami terdiam sekali lagi di depan ombak yang semakin tenang, sedangkan awan memilih untuk berlayar mengelilingi dunia. Aku melirik ibu yang duduk disebelahku, menatap ke titik laut yang tak tercapai. Padahal, matahari tak pernah berkunjung sekalipun di Ujung Garis Beku, tapi wajah putihnya begitu cerah hingga menyilaukan mataku. Aku ingin sekali bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya dan merasakan dekapan hangatnya. Mungkin itu perasaan yang tak akan pernah bisa kurasakan seumur hidupku.


Aku penasaran apa yang dilihatnya. Meski sudah kusipitkan, aku tak bisa melihat apapun di sana. “Ibu lihat apa?” tanyaku.


“Ujung dunia, Niva sayangku.” Jawabannya membuatku berpikir.


“Bukankah rumah yang kita tinggali sudah di ujung dunia?”


Ia hanya tersenyum mendengar ucapanku. Jika benar ada ujung dunia di luar sana, dari sorot matanya, aku bisa tahu kalau ibu ingin pergi ke tempat itu. Seperti aku yang sejak dulu bermimpi ke dunia luar. Tapi, demi aku yang bahkan tak bisa menggunakan sapu sihir ini, ibu harus meninggalkan mimpinya. Ia pasti merasa kecewa seperti aku juga kecewa pada diriku sendiri.


Ibu melayangkan batu pantai ke arahku. Aku menangkapnya. “Latihan terakhir, Niva.” Ibu juga mengambil batu lain untuknya. Sebuah sihir berbentuk sinar silinder muncul dari jari telunjuknya dan mengukir sebuah huruf di batu itu. A untuk Aena. “Jika kau bisa melempar batu itu hingga ke ujung dunia. Ibu akan meresmikanmu sebagai seorang penyihir sejati dan memberikanmu segala sesuatu yang penyihir perlukan.”


“Sungguh!?” Mataku berbinar kegirangan. Sudah kunantikan selama bertahun-tahun untuk mendapatkan jubah impianku dan topi cantik yang menghiasi kepalaku. Jika ibu meresmikanku sebagai seorang penyihir sejati, berarti ibu mengakui kemampuanku dan akhirnya memperbolehkanku berkeliling dunia.


“Tapi … jika kamu kalah, kamu harus menuruti semua permintaan ibu untuk selamanya. Dan satu hal lagi…” Ibu terdiam sejenak, membuatku mati penasaran. “…kamu boleh menggunakan tanganmu.”


Sudut bibirku meninggi. Melempar batu hingga ke ujung dunia? Dengan kedua tanganku, justru akan semakin mudah. Aku hanya harus melemparkannya sejauh mungkin tanpa menimbulkan sebuah percikan air.


Aku dengan sihir yang sama mengukir permukaan batuku membentuk huruf N untuk Nivalis, namaku. Lalu, kubangkit dan kuarahkan batu itu ke depan di antara telapak tanganku yang terbuka. Kufokuskan seluruh tenagaku pada batu di telapakku. Cahaya putih perlahan berkumpul seperti lebah yang mengerumuni madu. Bisa kurasakan konsentrasi energi sihir mengalir dari jantungku lalu merambat melalui lengan hingga tiba di telapak tangan. Sedikit demi sedikit terisi penuh dan semakin penuh. Darahku memanas.


Kuhembuskan napas. Seketika batu milikku terlontar dalam kecepatan yang tinggi, menciptakan angin kencang yang mengibarkan rambut sepunggungku. Membelah angin, laut dan ombak yang menerjang. Semakin jauh hingga keberadaannya menjadi lebih kecil dari tanda titik, lalu lenyap dalam mata. Kurasa itu sudah cukup untuk sampai di ujung dunia. Aku berkacak pinggang dengan penuh percaya diri.


Ibu bangkit setelah menyaksikan ekspresi riangku. Dari senyuman liciknya, aku tahu kalau ibu ingin menghancurkan kebahagiaanku bagaikan es yang ditabrak ombak.


Ia lalu melepaskan sihir yang sama denganku, namun dengan proses yang lebih cepat tanpa ada waktu jeda sepertiku. Dalam kedipan mata, batu itu langsung lenyap di kejauhan. Aku tidak terkejut.


Bahuku terkulai menyadari kekalahanku. Lagi. “Baiklah, aku akan menuruti-”


“Selamat. Kamu menang, Niva.”


Kali ini aku terkejut.


Memang benar batuku hilang dalam penglihatan, tapi bisa saja itu tercemplung di lautan yang lebih jauh lagi di depan mata. Aku tidak secepat dan sekuat ibu dalam melontarkan batu. “Apa Ibu sedang mengerjaiku? Bagaimana Ibu tahu kalau batuku mendarat di tempat yang kita tidak ketahui? Bagaimana Ibu tahu kalau batu Ibu terjatuh di laut?”


“Siapa bilang batu Ibu tidak mencapai ujung dunia? Ibu juga menang. Kita berdua menang!” Ibu tertawa ringan. Ketawanya justru membuatku kesal. Tapi, lebih baik aku menerimanya. Kami berdua yang menang.