Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Peninggalan Masa Lalu



Spelator yang berjalan di depanku terus menuntunku mengikuti lorong yang lebar ini. Walaupun sepanjang perjalanan aku hanya diberi pemandangan bagian belakangnya, tapi selalu saja rasa penasaranku ini membuatku untuk tetap terus memandangi dua komponen di belakang bahunya yang berputar dan memompa ke dalam. Dua komponen itu seukuran dan memiliki bentuk yang sama seperti ember.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku dan … tuanku terjebak di sini, tapi kami terjebak bukan karena tidak sengaja. Kami memang … sedang menuju ke sini. Tempat ini adalah tu … juan kami yang sebenarnya.”


“Jadi, kalian sedang melakukan perjalanan? Perjalanan apa yang membuat kalian menuju ke sini?” tanyaku sambil berusaha melirik ke jalanan di depan melalui celah-celah kaki dan lengan Spelator.


“Perjalanan untuk memulihkan kembali negeri kami.”


Negeri?


Spelator berhenti. Aku mengintip dan menemukan sebuah ruangan gua buntu yang luasnya lebih dari guaku sebelumnya. Kami sampai di sebuah gua es lainnya yang tampaknya menjadi tujuan Spelator membawaku. Di pinggir gua itu ada banyak benda-benda manusia seperti piring, tas rusak, pakaian lusuh, dan buku-buku. Rasa penasaranku lagi-lagi membuat mataku terkunci ke sebuah objek-objek putih yang disusun di sebelah tumpukan barang-barang tersebut di salah satu sudut gua. Di atas tumpukan itu ada bentuk yang lebih bulat dengan dua tiga lubang. Itu adalah tengkorak manusia yang disusun di atas tumpukan tulang-belulang manusia.


“Itu adalah tulang kerangka … milik tuanku. Di sinilah aku menyisakan waktu sebelum … Niva datang.”


Bagian gua ini tampak lebih aman daripada lorong sebelumnya. Tidak ada stalaktit yang menggantung di langit, permukaannya lebih rata dan tidak terlalu licin, cocok untuk dijadikan sebagai alas tidur. Spelator mengambil sebuah tulang berukuran sebesar ranting lalu meletakannya kembali di tumpukan tulang belulang dengan hati-hati. Aku yang berdiri di ambang pintu masuk gua tidak segera masuk ke dalam seolah menunggu tuan rumah mempersilahkanku masuk. Tapi sebenarnya, aku hanya sedang menjaga jarak saja.


“Tidak perlu takut, Niva. Bukan aku yang membunuh tuanku sendiri. Itu … karena ajalnya sudah datang. Kami … terjebak di sini selama dua bulan. Jika … aku ingin membunuh tuanku, seharusnya sudah kulakukan … sejak awal,” jelas Spelator tanpa membalikkan tubuh bagian atasnya menghadapku. “Aku adalah unit yang diciptakan untuk melindungi siapapun yang diperintahkan. Melindungi tuanku adalah … tugas yang sudah dirancang dalam sistemku. Aku … bukan unit pembunuh, karena itu … aku tidak akan membunuh Niva. Niva tidak perlu khawatir.”


Mungkin terlalu mewaspadai sesuatu juga tidak baik. Ia benar, tapi aku juga merasa tidak salah. Aku putuskan untuk melupakan semua kegelisahanku dan masuk ke dalam gua, berdiri di samping Spelator sambil memandangi sisa-sisa dari tuannya.


Suhu dingin di gua ini membuat tulang-tulang itu menjadi terlihat awet dan segar, seperti tulang baru kemarin. Seharusnya jika seseorang meninggal di tempat dingin, seluruh kondisi tubuhnya tetap terjaga, tapi yang didepanku sekarang hanyalah tulang-tulangnya saja. Aku bukan ahli biologi, tapi daging yang diletakkan di dalam lemari es adalah contoh yang tepat, bukan? Suhu dingin seharusnya mencegah pembusukan mayatnya. Kemungkinan yang bisa kupikirkan adalah ada hewan liar yang memangsa mayatnya atau bisa jadi ulah mesin itu sendiri. Inilah kenapa aku ragu untuk masuk ke dalam gua. Akan tetapi, yang sudah mati biarkanlah beristirahat dengan tenang, aku tidak akan mengurusi masalah ini lagi.


Di sebelah tumpukan tulang-belulang, ada lima buku tebal yang disusun rapi. Ketebalan semua buku itu sama, tebalnya dua kali lipat daripada buku catatan perjalananku. Sampul semua buku berwarna hitam legam seperti jelaga. Ada logo emas di sampulnya, bentukannya seperti sebuah perisai dengan sayap, dan sebuah segitiga terbalik di tengah perisai.


“Buku-buku itu adalah catatan milik … tuanku. Jika Niva ingin membacanya … silahkan saja.” Baru sebentar aku melirik dan secara diam-diam, tapi ternyata Spelator menyadarinya. Karena sudah diizinkan, tentu aku tidak akan menolaknya.


Kuambil buku yang paling atas lalu duduk menekuk lutut di sebelah tumpukan buku sambil bersandar pada dinding gua. Aku terkejut saat membuka buku itu karena ternyata halaman pertama, kedua dan ketiga kosong. Aku membuka semua halamannya dan semuanya juga kosong, lalu aku berhenti di halaman terakhir. Ada sebuah catatan satu paragraf pendek di bagian bawah halaman terakhir. Tulisannya terbalik, jadi aku harus membalik buku agar bisa membacanya.


[Aku sudah tidak kuat lagi. Perutku terasa sangat sakit seperti ditusuk oleh pedang yang baru dipanaskan dalam api. Sudah seminggu ini aku kesulitan untuk tidur, bahkan tiga hari aku tidak tidur sama sekali. Aku sudah tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Seluruh inderaku benar-benar tak berfungsi. Kakiku sulit digerakkan. Berbaring pun terasa sangat menyakitkan. Aku hanya bisa membuang nafasku lemah sambil memandangi langit-langit gua yang cantik. Spelator tidak ada disebelahku saat ini, padahal tuannya sedang sekarat. Aku memberinya tugas untuk membuat jalan keluar, tapi dia belum kembali sejam atau dua jam yang lalu. Jika saja ini memang akhirku, aku ingin dimakamkan selayaknya leluhurku. Aku akan memerintahkan ia untuk mengurus mayatku saat sudah kembali nanti. Sial! Tujuanku, tujuan kami … padahal tinggal sedikit lagi. Jika aku bisa bertahan sedikit lagi, kejayaan tanah airku akan ada di genggamanku. Negeri … akan … kem … ba …]


Aku meletakkan buku tersebut di sebelah kiriku, lalu mengambil buku berikutnya. Tidak seperti sebelumnya, buku ini berisi catatan penuh sepanjang halaman buku. Benar-benar penuh dan sesak dari atas hingga ke bawah, tidak ada ruang sedikitpun untuk beristirahat dari membaca. Saking penuhnya, aku merasa cukup kesulitan untuk menikmati membaca. Tapi, aku mendapatkan beberapa poin pentingnya, seperti catatan persediaan makanan yang hanya tersisa untuk beberapa hari ke depan, sirkuit daya Spelator yang rusak, munculnya gejala hipotermia, lalu cerita kehidupan sang penulis sebelum terjebak di gua dan laporan terkini mengenai sejauh mana proses mendapatkan benda yang disebut sebagai Inti Suci Tetrahedron. Ada satu fakta yang mengejutkan mengenai penulis, bahwa dia sedang dalam misi untuk mencari sebuah artefak kuno. Artefak itu dipercayai akan memulihkan negerinya yang telah runtuh.


“Negeri apa sebenarnya?” tanyaku pada Spelator yang masih berdiri kokoh di depan makam tuannya.


“Negeri tercinta kami. Negeri … damai yang sangat maju, dipenuhi oleh kebahagiaan dan … tawa para penduduknya. Tuanku berkata negeri itu selalu … memberikan yang terbaik untuk semua orang, bahkan … orang asing sekalipun. Rakyatnya … hidup bersama dengan para Unit Mesin Humanoid lainnya. Walaupun … hanya … sebatas mesin, tapi para manusia menganggap … kami sebagai teman dan saling tolong-menolong. Kami diciptakan … oleh para manusia untuk membantu membangun … kualitas atmosfer kehidupan yang terbaik. Karena itu … negeri kami adalah utopia. Sebuah … surga yang sesungguhnya.”


Aku menutup buku saat Unit Mesin Humanoid itu sedang menjelaskan. Kuraba sampul yang bertekstur kasar itu, lalu logo emasnya. Aku memperhatikan tiap detil logonya seolah berusaha mencari kebenaran dibalik tinta emas kering, dan yang kutemukan hanyalah sebuah logo biasa yang belum pernah aku lihat di catatan manapun. Logo itu bukan sesuatu yang spesial di mataku, walaupun aku percaya logo ini spesial bagi sang penulis, Spelator, atau rakyat negeri yang Spelator sebut. Aku mendongak kembali, menatap ke arah Spelator untuk menyimak kembali lanjutan dari kisahnya.


“Tuanku … menjelaskan: Sebuah negeri … yang dikelilingi oleh tembok baja tak tertembus. Tembok akan membuka jalannya sendiri … bagi siapapun yang datang. Jika ada badai … tembok akan aktif dan membuat penutup … kubah untuk melindungi para warga. Sebuah negeri … dengan empat menara yang menjulang tinggi … bagai pilar menopang langit. Empat menara … menyimbolkan empat kekuatan: Menara di timur menyimbolkan rakyat, menara di selatan adalah aliansi, menara di utara bersimbol mimpi, dan terakhir … yaitu percikan ilahi di menara tertinggi yang berada di tengah-tengah. Ketiga … menara saling memberikan energi … secara berkala kepada menara tengah. Lalu … saat api di langit tengah menyala, maka … kebahagiaan sejati telah tercapai.”


Sebuah negeri yang dikelilingi tembok baja?


“Namun sayangnya … tidak semua manusia bisa menerima kebahagiaan sejati. Tidak … semua manusia ingin berbagi kebahagiaan sejati … ke manusia yang lainnya. Bangsa manusia … dari negeri lain percaya kebahagiaan di negeri kami bukanlah sesuatu yang pantas dirayakan, juga bukan hal yang layak untuk eksis di dunia ini. Maka, mereka … yang tidak suka, mereka yang menolak, mereka yang takut pada kami, pada kebahagiaan yang kami raih dengan teknologi kami menjadi murka dan menghunuskan pedang mereka pada kami. Mereka … mengibarkan bendera perang. Peradaban terbesar dan terkuat saat itu, mengepung … negeri kami. Menggunakan … segala cara untuk menembus … tembok kami, bahkan menggunakan … sebuah ilmu tak masuk akal yang dinamakan … sihir. Pada akhirnya, mereka … berhasil menembus tembok dan membantai seluruh penduduk dengan api dan pedang. Negeri kami … akhirnya runtuh, takluk pada kekuatan sebuah bangsa … yang dikaruniai cahaya emas. Kami … mengaku kalah. Tidak ada lagi … bagian dari negeri kami yang tersisa karena semuanya hangus oleh api kebencian.”


Tidak bisa kupercaya. Cerita ini mirip dengan cerita dongeng yang biasa ibuku ceritakan padaku sebelum tidur. Apakah ini sungguhan? Tapi, ibu selalu berkata jika dongeng itu hanyalah dongeng fiktif belaka yang ditujukan agar anak-anak tidak rakus akan pengetahuan dan jangan saling membenci hanya karena tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Aku percaya pada ibuku karena buku-buku juga mengatakan hal yang sama. Tidak ada catatan sejarah mengenai negeri tersebut. Ditambah senjata yang ada dalam dongeng dikatakan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat bahkan dapat menyebabkan kiamat. Itu jelas-jelas karangan seseorang yang memiliki imajinasi tinggi. Jika senjata itu ada, masa kini akan jauh tampak berbeda. Mungkin tidak ada masa depan, atau bahkan mungkin aku tidak akan lahir. Senjata seperti itu pantas saja menimbulkan perang, dan itu bukan perang yang remeh. Jika perang seperti itu pernah terjadi, seharusnya ada rekaman catatannya.


Aku yang terlarut dalam pikiran, mengalihkan mataku dari lututku ke Spelator yang belum berpindah sejak tadi. Bagaimana pun aku berpikir menganggap cerita itu hanyalah dongeng biasa, tetap tak ada yang bisa dijadikan alasan mengenai keberadaan mesin hidup itu. Apakah Spelator bukti nyata dari peradaban modern yang telah hancur? Anggap saja cerita itu benar dan negeri itu memang ada, lalu kenapa ibu tak jujur saja padaku? Apakah ibu takut untuk membicarakan kebenarannya? Apakah ibu hanya ingin menjaga fantasi masa kecilku yang sekaligus menjaga nilai moralku agar tidak menuju ke arah yang salah? Kalau begitu, memberikan cerita asli bukankah juga akan memberikan ketakutan yang nyata? Kurasa, ibu sama seperti para pendongeng. Mengubah cerita yang asli dan menambahkan bumbu racikan sendiri agar menjadi lebih atraktif dan lebih mudah diterima oleh khalayak umum daripada cerita aslinya yang lebih berbobot.


“Tuanku … adalah keturunan dari warga yang masih … selamat dan bertahan hidup dalam … bayang-bayang persembunyian. Mereka … takut dan tidak mempercayai siapapun di dunia luar, kecuali … sesama keturunan yang masih selamat. Sambil menghindari bangsa-bangsa lain yang masih menyimpan ketakutan, mereka … memiliki misi untuk … membangkitkan kembali negeri mereka. Misi tersebut … berjalan sudah sangat lama, bahkan sejak 500 tahun yang lalu. Banyak yang menyerah … dan mencoba memulai kehidupan baru di dunia yang asing … bagi mereka, tapi ada juga yang masih … memiliki api semangat untuk menyelesaikan misi, salah satunya adalah … tuanku. Tuanku menciptakan aku … dengan komponen dan cetak biru yang masih tersisa, lalu digabungkan dengan teknologi … sekarang. Karena itu, aku tampak berbeda … daripada unit sejenisku di masa lampau. Dengan tenaga … dan material seadanya, aku menjadi unit yang kaku … dan gampang rusak. Meskipun begitu, aku tetap membantu tuanku … untuk mencari sebuah artefak penting yang menyimpan … segala informasi pengetahuan, catatan sejarah lengkap, dan ilmu kuno. Sebuah benda … berbentuk kristal segitiga berwarna kuning yang dinamakan … Inti Suci Tetrahedron.” Tubuh atas Spelator berputar dan tangannya menunjuk ke satu arah.


Mataku mengikuti ke arah mana Spelator menunjuk. Aku menemukan sebuah objek yang dimaksud jauh di dalam dinding es yang tebal. Sebuah objek berbentuk segitiga terbalik yang berwarna kuning yang sama seperti inti milik Spelator. Entah bagaimana ceritanya benda itu bisa berada di dalam es. Benda itu dikatakan menyimpan semua catatan penting mengenai bangsa maju tersebut. Bahkan, tuannya Spelator sampai mati di tempat seperti ini, itu berarti benda itu sangatlah berharga sekali bagi mereka, lebih dari nyawa mereka. Jika benda itu adalah bukti sekaligus sebuah nyawa bagi negeri maju, maka ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah umat manusia. Relik penting yang menyimpan satu peradaban. Tidak ada nilai manapun yang setara dengan benda itu, apalagi nyawa. Tidak mengherankan jika pengorbanan sisa-sisa dari negara maju sangatlah gila.


Aku berdiri dan menghampiri benda itu. Dinding es yang memisahkanku dengan benda tersebut terlihat penuh pecahan, retakan dan penyokan, tanda adanya semacam upaya untuk mengambil benda itu dengan kekuatan dari Spelator. Mau seberapa banyak retakan dan penyokan tapi tetap tidak dapat mendekati benda yang berada sangat jauh di dalam es itu. Saat ini, aku tidak bisa memikirkan satu sihir pun untuk dapat mengambil benda itu tanpa perlu memberikan dampak kerusakan yang besar. Terlalu banyak informasi yang bisa kudapatkan hanya karena benda seukuran apel tersebut.


Di depan mataku ada sebuah harta tak ternilai. Di sini, ada catatan mengenai orang terakhir dari suatu peradaban, bahkan ada juga tulang-belulangnya, ada sebuah mesin canggih yang masih aktif, dan ada sebuah benda segitiga. Tempat ini adalah museum, atau bisa dibilang aku berdiri di sebuah gua harta karun. Sebenarnya dengan kata-kata yang pantas sulit untuk menggambarkan kondisiku sekarang ini. Aku hanya bisa menghela nafas selayaknya manusia normal yang menyadari batas kemampuannya saat bertindak, berpikir, menyimpulkan, dan memutuskan sesuatu yang “lebih”.


Jika aku adalah ibuku, apa yang akan ibuku lakukan sekarang?