
Sebentar lagi, aku akan sampai di tujuanku yang selanjutnya. Rasanya baru kemarin aku meninggalkan rumah dan sekarang aku berada bermil-mil jauhnya dari kasur nyamanku di ujung tebing.
Tujuanku selanjutnya adalah Negara Elifhiar. Tak ada perayaan yang meriah dan hangat dari tempat ini, aku hanya penasaran dengan reruntuhan yang tersebar. Mungkin ada pesan masa lalu yang tersimpan dibalik artifak dan peninggalan di tempat tersebut. Aku penasaran karenanya.
Edras memberhentikan kudanya saat tiba di rumah jaga kecil. Di kelilingi pohon-pohon besar dan semak belukar, rumah jaga itu tampak reyot dan terbengkalai, tapi karena ada cahaya yang menyala, pasti ada orang disana. Cahaya lentera di rumah jaga itu remang-remang begitu pula senyum penjaga tua yang muncul dari dalam dan menyapa kami. “Ada yang bisa saya bantu, tuan dan nona?” Aku bahkan tak tahu, bagaimana bisa di negeri kosong ini masih ada penjaganya?
Edras menatapku dengan bingung. “Kamu tidak turun?”
“Oh, ya, aku lupa. Maaf, aku barusan melamun.” Aku pun melompat turun dari kereta itu. “Tunggu sebentar,” teriakku ke penjaga tua itu.
“Hei, apa kamu baik-baik saja?” tanya lelaki itu cemas. Aku pun juga sama cemasnya pada diriku sendiri.
“Sulit rasanya meninggalkan tempat yang nyaman. Ini kedua kalinya aku merasa seperti itu semenjak meninggalkan rumah,” ungkapku.
“Selama perjalananmu nanti, kamu juga akan merasakan hal yang sama. Karena itu, kamu harus tahan.”
“Kumohon, ikutlah denganku,” lirihku
“Maaf, aku ingin tapi aku tak bisa. Aku harus menemani ayahku di sini.”
“Kalau begitu, bisakah kita bertemu lagi?”
“Ya! Tentu saja! Aku ada disini untuk menyambutmu pulang.”
“Saat kamu menemui ibuku, katakan padanya aku baik-baik saja. Katanya padanya kalau kamu teman pertamaku, dan aku membantu warga kota mengadakan perayaan. Warga kota sangat baik padaku, jadi ibu tak perlu khawatir. Lalu, akhirnya aku berhasil membuat surat pertamaku. Katakan padanya kalau aku masih merindukan ia. Bisakah kamu katakan itu pada ibuku?”
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum lembut. “Tunggu sebentar. Aku punya satu hadiah lagi untukmu.” Edras mengambil sesuatu dari kantung celananya. Sebuah bros kecil berbentuk bintang. “Ini, agar kamu bisa mengingatku dan mengingat warga kota.”
“Aku akan selalu menunggumu.”
Aku pun melambaikan tanganku dan melemparkan senyumku saat kuda itu menarik kereta menjauh dariku. Mataku membengkak dan air mata serasa ingin pecah membanjiri wajahku. Rasanya seperti meninggalkan ibuku untuk yang kedua kalinya. Aku akan merindukan mereka semua.
Ya ampun … aku lupa lagi untuk berterima kasih pada Edras atas semua yang dia lakukan padaku. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan lelaki sebaik dia. Aku telah banyak merepotkannya seharusnya aku bisa memberikan hadiah yang setimpal padanya. Aku benar-benar payah.
Ia telah pergi. Dua orang terbaik dalam hidupku, menjauh dariku dan akan semakin jauh. Sekarang hanya tinggal aku dan penjaga yang sereyot rumah jaga itu. Wajah penjaga itu tampak sangat berkeriput, apalagi saat ia tersenyum padaku dan memperlihatkan gigi ompongnya.
“Ada yang bisa saya bantu nona?” suara pria itu terdengar seperti suara pintu tua yang engselnya berkarat.
“Aku tak tahu kalau masih ada orang disini? Bukankah tempat ini sudah lama tak berpenghuni,” aku langsung mengajukan pertanyaanku yang sedari tadi membuatku penasaran.
“Walaupun tanah ini kosong, bukan berarti tidak ada yang menjaganya,” tegasnya.
“Ya sudah.” Tanpa memikirkannya lebih jauh lagi, aku pun menunjukkan surat-suratku dengan bangga. “Aku ingin mengunjungi Elifhiar!”
“Mengunjungi? Sudah lama Elifhiar tak ada yang mengunjungi, bahkan sebelum aku lahir. Ada urusan apa kalau saya boleh tahu?”
“Tidak ada, aku hanya ingin melihat-lihat saja lalu pergi ke negeri selanjutnya.”
“Baiklah, tapi ingat nona, Elifhiar bukan tempat untuk berwisata apalagi untuk seorang gadis sepertimu.” Penjaga itu lalu menyerahkan kembali surat-surat yang bahkan tak ia lihat sedikitpun itu.
Hiraukan saja, Niva. Karena aku akan segera menemui dunia yang baru.