Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Obrolan Hangat



Setelah itu, malam menjadi sangat hening. Hanya suara api daru perapian yang bekertak-kertak yang meramaikan malam ini. Hening seperti kuburan dan kami adalah mayatnya.


“Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak tahu banyak hal tentangmu?" Sambil berbaring di dalam selimut, aku menoleh ke Vestia dan bertanya.


Ia menatapku cukup lama seperti sedang curiga, tapi akhirnya dia menghela nafas menyerah. “Beritahukan dulu namamu."


“Namaku Nivalis,” jawabku sambil tersenyum. “Kau bisa memanggilku Niva.”


Vestia tidak membalas lagi. Matanya kembali tenggelam dalam liuk api hangat. Ia terlihat seperti tidak tertarik untuk melanjutkan percakapan.


“Bagaimana denganmu?” tanyaku melanjutkan percakapan. “Darimana kau berasal? Kau jelas bukan orang sini, kan?”


“Aku tinggal di benua tengah, di kota bernama Eiden atau nama lainnya Edina. Di sana, aku mendirikan kantor investigasiku.”


“Aku penasaran dengan bagaimana kau bisa menjadi seorang investigator. Kau juga bisa sihir dan berpedang.” Tahu-tahu aku menjadi semakin menggebu-gebu untuk terus mendengar kisah darinya.


Vestia menatapku dengan dingin, lalu melanjutkan kembali. “Tidak ada yang istimewa. Aku belajar sihir di Akademi Evernia, tapi tidak sampai lulus. Di tahun ketiga, aku keluar dan melamar di Biro Ksatria Penjaga untuk mendapatkan pengalaman. Di sanalah aku mendapatkan ilmu berpedangku. Awalnya aku hanya ksatria magang saja, tidak bekerja di lapangan. Lalu, perlahan-perlahan aku dipromosikan dan bergabung ke bagian investigasi. Aku menyadari bahwa aku bukan tipe orang yang suka bekerja diatur oleh orang lain. Aku lagi-lagi mengeluarkan diri.”


“Lalu, bagaimana kau bisa berakhir mendirikan kantor investigasimu sendiri?”


“Setelah aku mengundurkan diri, biro tidak bisa sepenuhnya merelakanku karena potensiku yang luar biasa, kata mereka. Mereka memberiku sebuah kontrak. Dimana aku diperbolehkan mendirikan kantorku sendiri tapi aku tetap didaftarkan sebagai anggota resmi biro. Tentu saja aku menerimanya. Aku bebas bekerja sendiri dan mereka akan memanggilku jika butuh bantuan. Mereka berjanji tidak akan mengaturku dan aku diberikan hak untuk menyelidiki kasus bahkan karena masih dibawah nama biro aku mendapatkan akses ke berbagai hal, termasuk mendapatkan sumber daya. Saat itulah aku bekerja sebagai unit baru mereka yaitu Unit Investigasi Khusus untuk Fenomena Sihir.”


Pantas saja dia terlihat sangat profesional. Dia bukan investigator abal-abal. Lencana itu sungguhan dan nyata. Sesungguhnya, dia sangat tahu apa yang sedang dia lakukan. Hanya saja, cara berpikirku dengannya yang sedikit berbeda menimbulkan kesalahpahaman yang berakibat fatal.


“Dan bagaimana dengan kemajuanmu di unit yang baru?” Aku memberinya rentetan pertanyaan seperti sedang menginterogasi seseorang.


“Sangat jarang. Sekalinya ada, pasti tidak jauh dari seputar mencari barang hilang, hewan peliharaan hilang, membantu menyelesaikan masalah percintaan. Kasus berkaitan dengan sihir sangat jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari.”


“Jadi, alasanmu untuk menjadi seorang investigator adalah untuk menegakkan keadilan?”


Sejenak kami terdiam, api seenaknya mengganggu momen kami dengan bunyi kertakannya yang terus meliar seolah-olah sengaja melakukannya.


“Tidak hanya itu saja.” Akhirnya Vestia memadamkan bunyi api yang mengganggu dengan menjawab pertanyaanku. “Aku menjadi seorang investigator untuk menciptakan keadilan dan kedamaian bagi seluruh dunia. Aku menginginkan dunia yang benar-benar damai sampai kata kejahatan terhapus di dunia.”


Mimpinya mulia, tapi .... “Bukankah itu mimpi yang terlalu berat? Kedamaian itu mustahil. Aku belum pernah melihat dunia, tapi aku menyadari itu. Banyak orang berkata dan mempercayai bahwa sekarang adalah masa-masa damai. Tapi, sebenarnya, kedamaian tidak pernah benar-benar terjadi di masa kapanpun, bahkan sekarang masih saja ada yang berbuat kejahatan meskipun itu kejahatan kecil.”


“Karena itulah menjadi sangat layak untuk diperjuangkan, bukan?”


Kedengarannya memang egois. Namun, itulah diriku. Aku bukan orang seperti Vestia yang hidup untuk orang lain. Di luar sini, aku tak memiliki apa-apa selain diriku sendiri. Aku tak bisa mengutamakan orang lain terlebih dulu disaat aku tidak bisa menghidupi diriku sendiri. Aku tidak punya jiwa seperti itu. Mimpi yang terus melekat dalam diriku hanya perjalananku mengelilingi dunia saja. Itu saja sudah cukup bagiku.


“Memang benar kedamaian tidak akan pernah bertahan dalam waktu yang lama. Ketika aku mati nanti, aku tidak akan berputus asa. Aku percaya akan ada seseorang sepertiku yang mewarisi tekad yang sama untuk membangun kembali kedamaian. Tekad itu terus diturunkan setiap generasinya, sehingga kedamaian akan tetap kembali seberapapun kedamaian sering pergi,” balas gadis itu.


Sekilas, entah karena panas api yang mengaburkan cahaya, atau serangga lewat, tapi bisa kulihat dia sedang tersenyum. Senyumannya itu selembut selimut yang menutupi tubuhku saat ini. Bunyi kertakan api menjadi kabur di telingaku karena senyumannya.


Keinginannya untuk menciptakan dunia yang damai itu begitu murni, sama seperti keinginan murniku untuk menjelajahi seluruh dunia. Itu membuatku seperti melihat diriku sendiri. Manusia yang memiliki mimpi murni itu entah kenapa bersinar lebih terang. Seolah para dewa sedang memberikan berkahnya secara langsung.


“Kau itu orang yang sangat baik, ya. Aku iri padamu. Kau bahkan bisa menggunakan pedang. Ibuku tidak pernah mengajarkan berpedang padaku. Jika saja saat itu, kau menggunakan pedangmu saat melawanku, kau pasti sudah menangkapku."


“Tidak juga. Kau juga hebat bisa menggunakan sihir tanpa tongkat. Apalagi skala sihir yang kau keluarkan juga begitu besar. Sihir penyembuhanmu berada dalam tingkatan yang tidak masuk akal. Dalam bidang sihir, aku kalah jauh darimu. Aku mengakui kekuatanmu.”


“Begitu, ya. Terima kasih, kurasa."


Tanpa sadar, kami mengobrol biasa selayaknya teman. Kami juga sudah melupakan perdebatan dan suasana canggung sebelumnya. Walaupun dia memang terlihat sulit untuk didekati tapi bisa mengobrol seperti ini dengannya mungkin menjadi salah satu alasan aku bersyukur melakukan perjalanan.


“Kau sebenarnya adalah gadis yang luar biasa, Niva. Aku minta maaf karena telah membuatmu tidak nyaman sebelumnya. Sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman, aku harus lebih bijak dan menghormatimu.”


“Lebih tua dan berpengalaman? Kau bicara seperti orang tua saja.” Aku terkekeh mendengar kalimat terakhir darinya.


“Kamu enam belas, kan? Maka, aku lebih tua tiga tahun darimu.”


“Kau lebih tua dariku tapi tinggimu sama sepertiku,” ejekku.


“Walau tinggi kita sama tapi tetap aku ini peringkat satu di akademi, lho. Seharusnya kau juga harus memperlakukanku dengan hormat dan jujur, dan memanggilku senior,” balasnya tersenyum sombong.


“Kalau kau peringkat satu, maka peringkatku lebih tinggi darimu.” Aku tak mau mengalah.


“Tidak ada peringkat yang lebih tinggi daripada satu, dasar bodoh.” Vestia melemparkan bantalnya ke wajahku. Aku melempar balik bantal miliknya.


Tahu-tahu kami berdebat lagi. Kami berdebat, padahal tidak lama kami sudah saling memuji. Tapi, bukan berdebat untuk menjatuhkan lawan dan mempertahankan argumen masing-masing. Kami berdebat dengan lebih menyenangkan. Kami memperdebatkan siapa yang paling kuat di antara kami. Itu tidak jauh dari debat sebelumnya, tapi entah kenapa sekarang lebih terasa hangat dan seru. Kami tidak saling memberikan tatapan persaingan, kami menatap dengan penuh candaan.


Kami tertawa puas di saat malam semakin malam dan bulan semakin meninggi di puncaknya. Api menciut mendengar kebahagiaan kami. Dan walaupun si kompas tidak ikut tertawa bersama kami, tapi aku tahu dia menikmati malam yang hangat ini.


Keesokan harinya, kami pun berpisah karena Vestia harus kembali ke kotanya dan aku masih harus melanjutkan perjalananku.