
Melalui Charley, aku mengetahui banyak hal soal lukisan dan kota ini. Seperti pelajaran sejarah, para penduduk di kota ini dituntut untuk menghormati dan mengingat kembali dengan sejarah kota ini. Ada banyak sekali sejarah panjang yang Charley ceritakan padaku sembari melukis. Seperti sejarah tentang pertikaian panjang antar gaya lukisan, masuknya aliran seni era revolusi, kemudian kasus penjiplakan seni terbesar yang mempengaruhi seluruh seni di dunia, dan masih banyak lagi yang diceritakan. Namun, yang membuatku tertarik tetaplah sejarah berdirinya kota ini.
Diceritakan dulu, negeri-negeri di sepanjang Ujung Garis Beku memiliki kehidupan yang sangat keras dan monoton. Lingkungan yang hanya berisi es dan salju saja membuat pola hidup mereka terasa hampa, khususnya untuk para pendatang baru. Kalau bukan pekerjaan mereka berfokus pada es dan salju, ya mereka harus berlindung di dalam rumah sampai badai pergi. Benar-benar berbeda dengan sebutan sebagai benua tempat peradaban pertama.
Saat itulah seorang pria bernama Mervan mengubah segalanya. Di awali saat dia pertama kali menemukan Pohon Mapel Putih. Kagum akan keindahannya, pria itu langsung melukisnya pada sebuah kulit binatang dan menggunakan abu dari api unggunnya dan salju sebagai tintanya. Dia melukisnya bermaksud untuk saat kembali ke tempat tinggalnya dan bisa menunjukkan pada teman-temannya sebuah keindahan yang bisa ditemukan di tempat yang bahkan dapat membekukan tulang. Karena hal itu, orang-orang kemudian tertarik untuk melihatnya secara langsung dan ikut melukiskan pemandangan tersebut sama seperti yang dilakukan oleh Mervan. Seiring berjalannya waktu, pohon itu kini dikelilingi oleh bangunan-bangunan milik para pelukis yang mengagumi keindahan sang pohon.
Sungguh hebat. Sebuah lukisan sederhana saja mampu memberikan harapan baru dan membangun kehidupan bagi mereka. Sayangnya, aku terlambat 70 tahun untuk melihat lukisan bersejarah tersebut.
Yah, apa yang sudah terjadi, terjadilah. Sekarang aku hanya harus fokus pada apa yang kulakukan sekarang. Menjadi model untuk seorang pelukis ternyata tidak semudah perkiraanku. Jika Charley tidak puas dengan hasilnya, maka dimulai lagi dari awal. Aku harus berpose sedemikian rupa dan menahannya untuk waktu yang lama. Berganti pose itu melelahkan. Apalagi, terkadang aku kehabisan pose dan mati gaya. Membuatku terlihat sangat kaku.
Aku sudah berulang kali menyuruh pelukis itu memakai lukisan wajahku untuk diserahkan ke panitia lomba, tapi dia juga berulang kali menolaknya dan berkata jika lukisan itu saja masih kurang. Astaga, harus sesempurna apa lagi? benakku yang ikut kelelahan.
Tidak ada yang kurang dari lukisan tersebut. Hanya saja lelaki itu ingin melukis sesuatu yang lebih luas lagi daripada potret wajah seorang gadis penyihir. Kurasa dia menginginkan lukisan dimana ada diriku dan dunia di dalam kanvasnya. Dia menganggap lukisan yang seperti itu adalah mahakarya.
Setelah beberapa hari menghasilkan karya yang gagal, akhirnya kami berhenti di pinggir tebing. Pemandangan Laut Beku ini menjadi taruhan terakhir kami karena besok adalah hari penentuan.
Aku berdiri di pinggir tebing yang menghadap ke laut. Ujung sepatu botku hampir melewati pinggiran tebing. Persis di bawah adalah es dan laut yang tercampur. Jika aku tergelincir sedikit saja, mungkin akan menjadi akhir perjalananku. Tapi, pemandangan ini membuatku tak begitu mengkhawatirkannya. Dia masih sibuk melukisku, sementara aku hanya berdiri saja di tempat yang sangat berbahaya.
“Tidak masalah.” Begitu kataku setiap pelukis itu berhenti menggerakkan kuasnya, lalu mengintip dari balik kanvasnya dan mencemaskanku.
“Nona benar-benar orang yang berani sekali. Penuh tekad,” ucapnya seraya melanjutkan lukisannya.
“Begitukah menurutmu? Kurasa itu tidak buruk.”
Meskipun dingin dan salju terus menghujani dengan lembut, tapi tidak ada di antara kami berdua yang merasa terganggu akan hal tersebut. Kami kokoh seperti batu.
Bisa kulihat pria itu membungkukkan badannya ke api unggun. Di sana, ada sebuah air dalam panci yang di masak. Tapi, bukan untuk minum atau mandi. Charley menggunakan air hangat itu untuk melelehkan catnya yang membeku serta kuasnya. Dia merendam paletnya untuk beberapa saat lalu mengangkatnya lagi begitu catnya menjadi cair. Dengan begitu, dia bisa menggunakan catnya meskipun di tempat beku sekalipun dan lanjut melukis. Setelah dioleskan ke dalam kanvas, cat basah tersebut akan langsung mengering. Sangat praktis.
“Pelukis sepertiku dan pengembara seperti nona sebenarnya tidak jauh berbeda. Pengembara berani mengambil risiko dan mempertaruhkan nyawanya demi tempat yang ingin dicapai. Pelukis juga seperti itu, kok. Hanya saja kami bisa menggunakan pemandangan yang sama berulang kali dan melukisnya menjadi berbeda tiap saatnya. Kami puas hanya dengan satu tempat saja seperti kota ini.” Dia menoleh ke arah kiri dimana kotanya yang hangat terlihat.
“Nona benar.” Charley meletakkan kuasnya di panci dan mengambil kuas baru dengan ujung seperti sikat. Kurasa dia sudah mulai menyebar warna untuk lanskap yang luas. “Jika boleh tahu, apa yang membuat nona ingin melakukan perjalanan?”
“Sederhana saja. Aku hanya ingin melihat dan merasakan dunia secara langsung.” Aku tersenyum lebar saat menjawabnya.
Alasan yang sederhana tapi tulus sebenarnya adalah alasan yang kuat. Alasannya datang dari hati. Hati yang berisi sebuah mimpi yang selama ini kugenggam sejak kecil dan tak akan pernah berubah sampai sekarang. Terkadang alasan dan mimpi yang sederhana tersebut lebih indah dan lebih murni. Aku menyukai mimpi yang seperti itu.
“Begitu, ya. Nona memang hebat. Tidak hanya indah dari luar, tapi juga indah di dalam. Sayang sekali nona tidak bisa menetap di sini dalam waktu yang lama. Aku ingin terus melukis nona seumur hidupku, tapi nona masih harus terus melanjutkan perjalanan."
Aku mengangguk. Tapi, itu juga berarti permintaan maaf secara tidak langsung. Aku tahu, di kota ini, melukis seumur hidup itu tidak hanya berarti soal melukis saja, tapi sebuah ungkapan tulus di momen yang sangat spesial. Karena itu aku cukup menganggukkan kepalaku saja, dan dia memang sudah mengetahui jawabannya.
“Jadi, selanjutnya nona akan ke mana?”
“Aku akan terus ke timur. Setelah aku mengelilingi benua dingin ini, aku akan lanjut ke benua lainnya.”
“Timur, ya. Kudengar di daerah sana terjadi gempa akhir-akhir ini. Berhati-hatilah, nona,” ucapnya memperingatkanku.
“Aku akan berhati-hati.”
Sudah beberapa menit yang lalu terlewat sejak terakhir kali kami berbicara. Aku sudah tidak menghitung waktunya lagi. Kakiku sekarang terasa kesemutan dan topiku sudah terlalu berat karena tumpukan salju. Tepat saat itu juga, Charley berdiri dari kursinya dan tersenyum padaku. Dari raut wajahnya, bisa kulihat kali ini dia sangat puas dengan hasilnya. Aku langsung buru-buru tuk melihatnya dan memang senyumannya tidak salah.
“Aku menamai lukisan ini “Kelembutan di Dunia Penuh Bahaya”. Sesuai denganmu, nona.”
Dua hari setelahnya, aku sedang berkemas-kemas di kamarku. Sudah waktunya untukku meninggalkan kota unik ini dan melanjutkan ke tempat unik lainnya. Aku ingin membeli cendera mata khas kota ini, tapi tampaknya itu tidak memungkinkan membawanya di tas selempangku. Satu-satunya barang dari kota ini yang bisa kubawa adalah sebuah kantung berisi 25 Pengrium emas. Merasakan beratnya dan mendengar bunyi gemerincingnya saja sudah membuatku tersenyum dengan sendirinya.
“Apa kau puas dengan kota ini?” tanya si kompas yang kugenggam erat setelah melewati gerbang Kota Pelukis.
Aku terus menapaki jalanan bersalju. Meninggalkan jejak kakiku yang sangat dalam sejak meninggalkan kota tersebut. Cahaya hangat yang sebelumnya menyambutku tiap berkunjung ke kota, berangsur-angsur hilang dalam salju ini. Sambil menatap ke depan tanpa sekalipun menengok ke belakang, aku menjawab pertanyaan kompas dengan senyuman yang lebar, “Aku tidak pernah kecewa dengan semua tempat yang pernah kulalui.”