
Sambil menyesuaikan posisi kompasku yang sudah menunjuk satu arah, aku terbang menaiki sapu sihirku melewati hutan menuju ke arah yang ditunjuk kompas. Makhluk itu sekarang berada sedikit melenceng dari jejak-jejaknya yang kutemukan di tempatku tak sadarkan diri. Kaki-kaki makhluk itu meninggalkan jejak pada salju, dan tubuhnya yang besar merobohkan semua pepohonan yang menghalangi jalannya. Berkatnya, jalanan menjadi terbuka lebar untukku.
Di bagian hutan yang kulalui ini, jejak kaki semakin banyak kutemukan. Jejak kaki para manusia, para pemburu yang mengejar makhluk yang dijadikan sebagai sasaran dalam sayembara ini. Tampaknya, para pemburu itu sudah cukup dekat dari sini.
“Mereka semua terlalu berambisi untuk cepat-cepat memenangkan sayembara ini. Mereka langsung buta dan haus akan kemenangan begitu dijanjikan sebuah hadiah. Padahal, mereka sendiri bilang kalau makhluk itu sudah berkeliaran dan meneror kota ini cukup lama.” Aeron mengomel seolah-olah ia adalah tetangga yang suka mengomentari rumput rumah lain.
“Jika begitu, aku tidak akan menyalahkan mereka. Soalnya aku juga sama berambisinya untuk menang dan mendapatkan hadiah,” kataku, yang membuat Aeron hanya mendesah kecil saja.
“Berhentilah berpandangan baik terhadap orang lain, Niva. Itu tidak akan membuatmu menjadi lebih baik,” ucapnya.
Aku tidak memiliki jawaban untuk itu. Aku memutuskan untuk diam dan fokus ke depan.
Terdengar suara auman yang keras seperti genderang raksasa yang mengejutkanku. Di atas kanopi pohon, cabang-cabang pohon bergetar. Saat guncangan di tanah mulai terasa, aku tahu kalau makhluk itu sudah dekat denganku.
Dengan mengikuti suara itu, aku mendapati monster itu ada di depanku bersama sejumlah pemburu yang mengepungnya.
“Jangan biarkan makhluk itu kabur!”
“Cepat, tangkap!”
Para pemburu itu menodongkan senjata ke arah seekor makhluk besar yang terpojok. Sambil berjaga jarak, mereka mengayunkan pedang mereka di udara secara acak, tanpa peduli kena atau tidak, yang terpenting tidak memberikan makhluk itu kesempatan untuk mendekat. Pepohonan di belakang makhluk itu memiliki ukuran yang besar dan jarak yang rapat, sehingga makhluk sebesar itu tak akan bisa lewat. Salah satu pemburu melemparkan tombak ke arah makhluk itu, namun langsung terpental begitu mengenai sebuah lapisan keras punggung makhluk itu.
Itu adalah seekor reptil raksasa dengan ukuran dua kali lipat lebih besar daripada bison dewasa. Besar dan gemuk, seperti itulah bentuknya. Sisiknya didominasi oleh warna cokelat, namun yang paling menonjol darinya adalah lapisan zirah tebal pada punggungnya. Perisai tulang tebal dengan bentuk runcing melindungi tubuhnya yang pendek, dari ujung hidung hingga ke ekornya. Saking keras dan tebalnya, senjata para pemburu tidak bisa menembus perisai itu; tombak tidak akan bisa menembusnya dan anak panah akan terpental begitu saja. Karena perisai tulangnya yang keras dan tajam seperti formasi batu, orang-orang menyebut makhluk itu sebagai Naga Batu.
Makhluk itu menggeram dan menunjukkan deretan gigi-giginya yang runcing terhadap para pemburu yang mengepungnya. Walaupun tak ada yang bisa melukainya, makhluk itu tampaknya tersudutkan oleh jumlah para pemburu yang cukup banyak.
Kemudian, salah satu pemburu menyadariku dan menoleh. Ia terkejut tak percaya saat melihatku sampai matanya melotot seperti melihat hantu. “Kau? Bagaimana kau masih hidup?”
“Aku melihatmu terbaring berlumuran darah. Mustahil kau baik-baik saja!”
Salah satu pemburu ikut berbalik dan berkata sambil mengerutkan keningnya. “Ah, kau penyihir yang baru datang itu, ya. Aku tidak tahu trik sihir apa yang kau lakukan sampai tidak terluka sama sekali, tapi kusarankan kau kembalilah ke kota. Naga itu sudah menjadi milik kami!”
Padahal rekan-rekannya sibuk menghadapi naga itu, bisa-bisanya pemburu yang satu ini malah mengurusiku. Ia sungguh tidak tahu siapa penyihir yang ada di depannya.
“Enak saja menyuruhku pergi. Dari awal, makhluk itu sudah menjadi milikku. Aku yang menemukannya sebelum kalian, tahu!”
Diliputi rasa semangat, aku pun memutar tongkatku lalu mengentakkan ujung bawahnya yang lancip ke tanah dengan keras. Aku berseru, “Aeska!” Seketika, sebuah cahaya kebiruan muncul di pusat kepala tongkatku yang berbentuk kait. Bersamaan dengan itu, tanah bergetar, lalu sebuah tembok dari lapisan es tebal tumbuh tinggi dari tanah membentuk lingkaran yang memisahkan para pemburu dengan naga itu yang terkurung di dalamnya.
Setelah itu, aku mengangkat tongkatku ke atas, dan tongkat tersebut yang keras dan kokoh tiba-tiba memanjang lalu melilit pada sebuah dahan pohon seperti tali. Tongkatku menarikku ke atas dengan sangat cepat. Aku berayun memanfaatkan momen tersebut untuk berputar ke atas dan mendarat di dahan. Tongkatku kembali menyusut ke ukuran semula.
“Hei, apa yang kau lakukan!?” teriak salah satu pemburu tersebut yang berusaha menangkapku namun gagal.
Tembok es itu terbuka bagian atasnya sehingga terlihat makhluk itu yang terkurung di dalam dinding es. Dari atas sini, bagian atas punggungnya yang dilapisi perisai batu terlihat semua dengan jelas, dan benar-benar terlihat seperti formasi bebatuan yang lancip dan cukup berbahaya jika tergelincir jatuh ke sana. Leher makhluk itu pendek dan dilapisi zirah juga, sehingga ia hanya bisa menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi tak bisa mendongak ke atas untuk melihatku. Melihat tidak ada jalan untuk keluar, makhluk itu berusaha menghantam dan menghancurkan dinding es. Untungnya, aku sudah membuat lapisan esnya setebal mungkin sehingga akan butuh waktu lama untuk menghancurkannya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Aeron.
Sekaligus menjawab pertanyaan Aeron, aku langsung lompat dari dahan pohon ke bagian dalam tembok es melalui atapnya yang terbuka. Jubahku seketika mengembang yang membuatku melayang turun dengan pelan di udara, lalu aku mendarat seperti salju yang turun ke tanah dengan lembut. Begitu aku berbalik, makhluk itu sudah memandangku dengan mata kuningnya yang tajam, lalu menggeram. Kini hanya ada aku dan naga itu yang terkurung di dalam tembok es.
Dengan keempat kakinya yang pendek dan gemuk, makhluk itu berlari ke arahku sambil menundukkan kepalanya, memamerkan lapisan keras seperti tanduk di kepalanya. Makhluk itu berusaha menyerudukku selayaknya banteng. Entah mengapa, ia terlihat begitu kesal padaku sampai berusaha berlari secepat mungkin meskipun tubuh besarnya tidak mendukungnya sama sekali.
Saat ia menuju kemari, aku segera mengibaskan tongkatku dengan gesit di udara. Sebuah kepulan asap berwarna ungu seperti debu kristal berkerlap-kerlip di depanku. Lalu, saat makhluk itu sudah cukup dekat, aku berbisik, “Tidurlah!” dan meniupkan asap ungu itu ke mukanya yang dipenuhi amarah. Dalam waktu yang singkat, makhluk itu melemas setelah mengenai asap tersebut, langsung tak sadarkan diri. Aku berhasil menangkap kepalanya yang besar dengan kedua tanganku, namun tubuhnya yang masih merosot membuatku terdorong ke belakang hingga aku terjepit ke dinding es.
Akhirnya, makhluk itu tertidur dengan tenang sekarang. Seolah bebannya terbawa dalam mimpi indahnya, kepalanya terasa begitu ringan saat kupeluk dan kuturunkan dengan perlahan.