Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Kompas Perak



Pemburu membukakan pintunya dan terkejut saat melihat luka lebar di telapak tanganku. Ia langsung membawaku ke kursi dan membawakanku seember air yang hangat. Rasanya tidak sesakit saat tulangku bergeser, tapi aku tetap tak bisa menahannya. Aku mencengkeram pergelangan tangan kananku berharap rasa perihnya segera hilang.


 


Pemburu itu lalu mencelupkan kain ke dalam air hangat dan mengoleskannya pada lukaku agar mencegah infeksi. Ia kemudian mengambil kain kering lainnya dan membalut tanganku dengan kain tersebut.


 


“Apa yang terjadi?” Ia bertanya padaku sembari memijat telapak tanganku secara perlahan agar tak terasa sakit.


 


“Aku terjatuh.”


 


“Bukankah kau penyihir? Kenapa tidak menggunakan sihir untuk menyembuhkan lukamu sendiri?”


 


“Kau kan bilang aku tak boleh menggunakan sihir.”


 


“Lalu, bagaimana kau bisa terjatuh? Apa kau berlarian di hutan? Sudah kubilang untuk hati-hati pada sekitarmu,” ucapnya khawatir, seperti orang tua yang mengkhawatirkan anak kandungnya sendiri.


 


“Berhentilah memberiku pertanyaan. Aku bisa tertekan karena pertanyaan-pertanyaanmu,” balasku tak senang. “Saat aku mengikuti jejak rusa seperti yang kau suruh, aku tersandung ini.” Kukeluarkan kompas yang kuambil saat di hutan.


 


“Ini … kompas?” Pria itu dengan seksama mengamati kompas berlapis perak. Ia lalu membuka penutupnya. “Penunjuknya masih berfungsi dan tak ada karatan satupun. Kurasa kompas ini tak lama ditinggalkan pemiliknya. Kau boleh memilikinya.”


 


Aku mengambil kembali kompas itu dengan tangan kananku yang bebas, “Kurasa aku tak begitu membutuhkannya. Aku punya peta.” Kuletakkan kembali kompas itu dalam tasku.


 


“Lebih baik kau membawanya daripada tidak sama sekali.”


 


“Baiklah,” jawabku pelan.


 


Pria itu berjongkok lalu menatapku yang merunduk layu. “Kau tak apa-apa? Apa masih sakit?” Aku terkejut karena wajahnya melunak sekarang. Aku menggeleng bahkan saat rasa sakitnya benar-benar menyiksaku. “Lebih baik besok kau istirahat saja.”


 


Aku mengangguk senang. Pemburu itu bangkit dan mengacak-ngacak rambutku. Segera setelahnya, ia menuju dapur, kembali membawa susu hangat untukku. Kurasa tak baik aku berlama-lama disini, pemburu itu terlalu sering membantuku. Setelah aku menyelesaikan latihanku, aku akan segera melanjutkan perjalananku.


 


Hari-hari berikutnya, aku pun memulai untuk pemburuan pertamaku. Kali ini, pria itu menemaniku. Kami kembali ke tempat terakhir kalinya aku menemukan jejak rusa yang kuikuti. Sayangnya, jejaknya sudah terhapus oleh salju.


 


Kami harus segera menemukan jejak yang masih baru sebelum tersesat lebih jauh atau badai salju datang. Aku mulai panik saat tak menemukan satupun jejak selama hampir satu jam, asap timbul dari napasku yang semakin tak teratur.


 


“Tenanglah. Rusa itu mungkin masih di sekitar sini, bagaimana kalau kita berpencar?” ujar pemburu itu.


 


Aku sebenarnya tak ingin, tapi kurasa tak ada pilihan lain. Aku mengiyakannya.


 


Kami lalu berpisah, aku ke kiri dan pria itu ke kanan. Kubuka mataku lebar-lebar untuk mencari setiap detil kecil yang kutemukan. Goresan di batang pohon, ranting patah, bulu-bulu yang tersangkut di semak-semak, dan bau amis dari air seni seekor hewan. Sayangnya aku tak menemukan petunjuk-petunjuk tersebut. Aku pun membuang napas panjang.


 


“Hei.”


 


Aku mendengar suatu suara dari dalam tasku, tapi aku tak yakin. Mungkin saja itu suara si pemburu atau orang lain di hutan ini. “Siapa?” teriakku ke sekitar. Aku bersiap-siap menodongkan tongkatku jika terjadi sesuatu yang buruk. Hutan ini benar-benar sunyi, seolah-olah tak ada tanda-tanda makhluk hidup. Aku hanya bisa mendengar ranting saling bergesek dan degupan jantungku yang kian terpacu.


 


“Aku disini, bodoh!” Suara itu muncul kembali dari dalam tasku. Suara seorang lelaki yang kurasa memiliki umur yang sama dengan Edras.


 


Aku menyadari kalau suara itu berasal dari kompas yang kutemukan. “Kompas yang bisa bicara!?” dengapku.


 


“Memangnya kenapa kalau kompas bisa berbicara?” Kompas itu berbicara meskipun tak memiliki mulut.


 


“Apa kau sungguh bisa berbicara?” Aku memastikan.


 


“Lalu, kau bicara pada siapa?” ia melempar pertanyaanku.


 


Ibuku memang pernah berkata bahwa ada beberapa artefak sihir yang memiliki kesadarannya sendiri. Bahkan, ada artefak yang mampu membuat kekacauan dengan sendirinya. Akan tetapi, aku masih tak percaya bisa melihatnya secara langsung.


 


“Apa kau salah satu artifak sihir yang bisa berbicara?”


 


“Ya, begitulah.”


 


Aku mungkin tak lagi panik sekarang, tapi sedikit bingung dan lebih banyak penasaran tentang kompas itu. “Bagaimana kau bisa berbicara meskipun tak memiliki mulut?” Aku membolak-balikkan kompas itu.


 


“Tentu saja sihir, gadis bodoh! Kau kan seorang penyihir, seharusnya kau paham dengan hal seperti ini,” cela kompas itu.


 


“Bagaimana kau tahu kalau aku penyihir?” aku terkesiap.


 


 


“Jadi begitu,” kepalaku beranggut seperti kepala burung pelatuk. “Lalu, kenapa kau tidak berbicara waktu itu?”


“Aku tak tertarik bicara dengan orang lain. Aku hanya berbicara ke pemilikku saja. Dengan kata lain, aku akan bicara saat pemilikku, yaitu kau, sedang tidak berada disekitar orang lain.”


 


“Kenapa?”


 


“Trauma masa lalu,” jawabnya cepat.


 


Aku terdiam memandangi jarum penunjuk kompas yang menunjuk arah utara tersebut. Aku tak mengira jika sebuah kompas sebesar genggaman tanganku mempunyai cerita sedihnya sendiri.


 


“Kenapa diam saja? Bukankah kau memiliki tugas yang harus dikerjakan?” kejutnya mengalihkanku dari kesedihan.


 


“Kau benar, tapi masalahnya, aku kehilangan jejak buruanku dan aku tak bisa menemukan petunjuk lainnya.”


 


“Kalau begitu, aku bisa membantumu. Aku tidak seperti kompas lainnya yang selalu menunjuk arah utara, tapi aku menunjuk pada hal yang paling kau inginkan,” ucapnya dipenuhi nada kesombongan.


 


“Menunjuk hal yang paling kuinginkan?”


 


“Ya, genggam diriku kuat-kuat lalu bayangkan hal yang paling kau inginkan. Fokus pada keinginanmu tersebut seolah-olah tak ada hal lainnya yang kau pedulikan di dunia ini, maka jarum penunjuk akan menunjukkannya jalannya kepadamu.”


 


Tanpa berpikir panjang, aku pun mengikuti apa yang kompas itu katakan. Aku tak bisa kembali dengan tangan kosong, menyelesaikan tugas ini berarti membuktikan bahwa diriku sudah berkembang dan lebih siap dari sebelumnya.


 


Aku memejamkan mataku dan mulai membayangkan. Awalnya aku membayangkan ibuku yang datang untuk memelukku, lalu dengan cepat-cepat kuganti. Sebuah bayangan seekor rusa tercipta di kegelapan pikiranku. Saat kubuka lagi mataku, jarum penunjuk sudah menunjuk ke arah timur.


 


“Apa berhasil?” tanyaku ke kompas.


 


“Kalau kau tak percaya, ikuti saja jarum penunjuknya.”


 


Setelah berjalan selama 30 menit, kompas itu benar, aku menemukan seekor rusa jantan sedang mengasah tanduknya di batang pohon. “Kau benar! Aku menemukan rusanya!”


 


“Tentu saja!”


 


Aku lalu membuat suar dari tongkat sihirku untuk memberitahu lokasiku pada si pemburu. Selagi aku menunggunya datang, aku menyempatkan diri untuk berbincang pada kompasku sembari mengawasi rusa itu.


 


“Kompas ajaib, terima kasih telah membantuku.”


 


Kompas itu sejenak terdiam, lalu berkata, “Tak masalah, sudah kewajibanku untuk membantu pemilikku. Omong-omong, namaku Aeron.”


 


“Namaku Nivalis. Jadi, jangan panggil aku gadis bodoh lagi,” aku merengut membalasnya.


 


Si pemburu muncul, kedatangannya membuatku terkejut dan hampir membuat rusa itu waspada. “Kau menemukannya?” Nafasnya terengah-engah, pasti ia berlari segera setelah aku menembakkan sihirku.


 


“Iya.” Aku tak bisa mengatakan padanya, jika aku menemukan rusa itu dengan kompas ajaib yang bisa berbicara. Aku meletakkan kompasku kembali ke tasku sesaat pria itu datang.


 


“Kerja bagus,” ucapnya senang. Ia lalu mengusap kepalaku sebelum menyerahkan padaku sebuah busur dan anak panahnya.


 


Sebelumnya, aku sudah diajari dasar-dasar cara memanah olehnya, jadi aku paham apa yang harus dilakukan. Pemburu itu membantuku mengarahkannya lebih tepat, menegakkan lenganku, membusungkan dadaku dan menahan nafasku selama memosisikan anak panahku pada sasaran.


 


Aku diberitahu untuk tak boleh tergesa-gesa, bersabarlah seakan dunia bergerak sangat lambat. Mata panahku sudah mengunci target, aku pun melepaskannya dan anak panah itu melesat dengan sangat cepat, tepat mengenai bagian jantung rusa yang membuatnya tewas seketika.


 


Entah mengapa, rasanya berbeda dengan membunuh Vulkoliak. Ada perasaan tak tega dan sedih yang menusuk-nusuk hatiku seperti anak panah yang menembus jantung rusa. Aku tahu kalau berburu itu memang seperti ini, tapi tetap saja aku masih bersikap naif soal ini. Jika aku ingin bertahan hidup, aku harus membuang perasaan ini, begitulah yang pemburu itu ajarkan padaku.


 


“Apa kau baik saja-saja?” tanya pria itu yang menyadari kegelisahanku.


 


“Maaf.”


 


“Tak apa. Karena ini pertama kalinya, jadi aku bisa memaklumimu. Suatu saat nanti, kau akan terbiasa. Kau akan selalu berhadapan dengan hal semacam ini di alam liar, memburu atau diburu. Paham?”


 


Aku mengangguk seperti anak kecil yang dimarahi. “Dengan begini, apakah aku sudah siap?” aku mendongak menatap ke mata pria itu.


 


Lalu, aku melihat hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat, yaitu senyuman pria itu. “Sekarang kau sudah lebih siap dari apapun.”