Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Nivalis, sebuah tetesan salju




Kami mendaki jalan curam dan penuh batu tajam untuk sampai di atas tebing. Salju yang berjatuhan semakin banyak, membuat jalan tanjakan itu menjadi licin. Ini jalan yang selalu kami lalui untuk naik dan turun tebing. Setiap harinya kami harus melewati jalan yang beresiko ini hanya untuk latihan di pantai. Aku harus memperhatikan setiap langkah yang ku ambil, setiap batu yang kuraih agar tidak terpeleset. Beruntungnya, aku tidak pernah terpeleset sama sekali. Semakin aku mendekati permukaan, maka semakin dingin pula suhu yang kurasakan.


Tidak seperti ibu yang tak bisa disentuh, ia tidak bisa tergelincir, tak bisa terluka karena batu tajam, bahkan tak bisa merasakan kedinginan. Di lain sisi kemampuannya itu bisa menguntungkannya juga bisa merugikannya. Apakah itu sebenarnya sebuah berkah atau kutukan?


Padang salju putih menyambut aku yang berhasil lepas dari siksaan jalan curam yang panjang. Butuh setidaknya 30 hingga 45 menit untuk mencapai atas. Hidupku memang dipenuhi hal-hal berbahaya. Aku mengencangkan punggungku yang terasa pegal. Capek lebih terasa dibandingkan rasa dingin. Aku mengeluh diam-diam.


“Kamu masih belum terbiasa dengan jalan curamnya ya.” Ibuku menyadarinya. “Ini menyehatkan lho.” Ia menggodaku dengan seringainya.


“Kata orang yang tidak bisa lelah,” sindirku. “Andaikan Ibu membuat jalannya lebih mulus dan tidak terlalu alami, mungkin aku akan lebih semangat lagi.


Ibu berjalan membelakangiku. “Jika hidupmu selalu mulus, lalu apa usaha yang bisa kamu lakukan? Kamu mungkin akan merasa enak pada awalnya, setelah itu kebosanan akan menghinggapimu.”


Aku mengangkat kedua bahuku. Jika itu yang orang berusia 800 tahun katakan, aku tidak bisa menyangkalnya.


Kami membawa kaki kami ke jalan setapak yang mengarah ke sebuah rumah kayu sederhana tepat di ujung tebing, di ujung negara Bordam, dan di ujung Benua Orelum. Sangat tepat hingga selalu merasa waswas saat ingin berbaring santai. Posisi kami berlatih juga tepat di bawah rumah itu. Jadi, aku tak pernah pergi jauh dari rumah.


Rumah itu dibangun dari kayu cemara berwarna coklat kehitaman. Memberikan kesan nyaman dan hangat. Dibentuk cukup sederhana oleh ibuku dengan segala sihirnya, karena ia tak mau jika terlalu rumit justru membuatku tak nyaman. Pondasinya pas, di setiap sisi-sisinya juga presisi dengan panjang dan ukuran kayu yang sama persis. Atapnya kokoh dan cukup lebar. Posisi ventilasi pun juga diletakkan mengikuti arah angin. Tak ada cacat seinci pun. Bahkan tak ada lubang sekecil apapun untuk hewan liar bisa menyelinap masuk. Rumahku istanaku.


Rumah itu juga dihias dengan bunga-bunga yang tumbuh subur di sekitarnya. Di bagian kanan rumah dengan lahan yang lebih kosong dan luas, terletak kebun bunga yang cantik. Beragam bunga dari beragam ekosistem tumbuh dengan subur dan selalu mekar abadi. Itu karena sihir penciptaan ibuku. Permata Asua yang memberikannya kemampuan untuk menciptakan makhluk hidup, digunakan ibu untuk menciptakan bunga-bunga itu. Bunga yang diciptakan melalui sihir itu tidak sama dengan bunga yang tumbuh secara natural. Bunga itu tidak akan pernah layu dan selalu mekar meskipun dalam badai salju sekalipun. Karena kebun bunga itu sudah ada semenjak aku dibawa ke rumah ibu, kurasa kebun itu memiliki usia yang sama dengannya.


Aku terbangun entah di pagi atau sore hari karena awan kelabu selalu menyembunyikan matahari dariku, seolah-olah aku ini seorang gadis yang ingin merebut matahari untukku sendiri. Awan itu justru memberikan debu es yang membuatku jenuh. Setiap hari, setiap minggunya selalu musim yang sama. Tak ada musim panas atau musim semi disini. Jika saja aku ini ibuku, akan kuhapus awan itu dari langit biru.


Semua rasa lelahku setelah berlatih terlepas setelah aku meregangkan lengan rampingku. Bunyi tulang dan sendi yang bekertak menjadi senandung yang membelai telingaku. Aku lalu memutar kunci dan mendorong jendela ke samping yang mengarah langsung ke laut lepas. Indah tapi menyeramkan, seperti ibu.


Salju yang lembut membelai wajahku saat aku mendongak. Jumlahnya lebih banyak dari kemarin dan terus bertambah. Aku segera menutup jendela sebelum kamarku dipenuhi dengan warna putih.


Aku beranjak ke pintu kamarku yang terukir sebuah gambar bunga tetes salju, Nivalis. Namaku memang berasal dari bunga itu. Ibu berkata kalau aku adalah sebuah tetesan salju di tengah kekosongan. Setetes harapan dalam badai di hatinya. Bunga Nivalis sebenarnya memiliki makna kemurnian. Murni akan segalanya. Setiap sikap dan ucapan. Aku tak tahu apakah aku memiliki nama asli sebelum ditemukan oleh ibu, tapi aku sangat menyukai nama Nivalis yang murni.


Air disini sangat dingin. Biasanya ibu akan selalu menyiapkan air hangat untukku, tapi sesekali aku juga harus mandi dengan air dingin. Kata ibu, mandi air dingin mampu memperhalus rambut dan kulitku, serta dapat menurunkan berat badan yang merupakan hal penting bagi seorang gadis. Mandi air dingin juga sangat dianjurkan sehabis berlatih, karena dapat mengurangi rasa nyeri otot.


Meskipun dingin, aku cukup menyukai sensasi menggigil ketika air membasuh dan menjamah setiap inci tubuhku. Sensasi dingin yang menyusuri setiap helai rambut putihku hingga sela-sela jemari kakiku ini selalu membuat jantungku berdebar. Mungkinkah seperti ini rasanya jatuh cinta? Sayang sekali ibu tak bisa merasakan ini.


Aroma masakan lezat sang penyihir sudah menyergapku yang masih sibuk dengan tubuhku. Aku segera menyelesaikan mandiku dan berlari ke meja makan, di mana terletak sup krim jamur dan roti madu. “Makanan favoritku!”


Hangat dan harum. Jika aku melewatkannya sedikit saja, udara di sini akan dengan cepat melenyapkan kenikmatannya. Aku melirik ke pintu dapur yang berada di sebelah kananku. Kulihat ibu masih sibuk melakukan sesuatu disana.


“Ibu! Aku duluan ya…,” teriakku yang tak sabar menyantap kedua mahakarya ini.


“Tunggu sebentar!” Ibu menyelaku yang hampir saja sesuap sup masuk ke mulutku.


“Cepatlah!”


Secangkir susu terbang dari dapur dan mendarat di meja. Diikuti ibu yang berjalan pelan. Langkahnya ringan dibalik rok setumitnya. Dengan langkah tanpa suaranya itu, ibu bisa saja menakutkan orang-orang dengan berpura-pura menjadi hantu salju.


Saat melewatiku, aroma mawar birunya semerbak penuh keanggunan. Dan sedikit sensasi lautan yang lembut menggambarkan tiap gerakannya. Alisnya panjang dan bentuk bibirnya juga seindah bunga mawar yang mekar. Rambut cokelat panjangnya bergelombang seperti ombak yang tenang. Aku bisa saja menyebutkan seribu hal yang menggambarkan kesempurnaan sosok ibuku satu persatu, tapi sup hangat tidak akan menungguku selesai.


Setelah ibu duduk di kursi dengan bantuan sihir, aku mengambil sesuap sup dan menuangkannya di dalam mulutku yang sudah penuh akan liur. Aku menyantap dengan perlahan sesuai dengan yang ibu ajarkan. Sangat penting untuk menikmati setiap rasa yang tercampur dengan tenang dalam satu suapan makanan. Rasanya begitu lezat. Aku bahkan tak bisa berhenti menggoyangkan tubuhku ke kiri dan ke kanan seperti pendulum jam yang berdetik di dinding belakangku.


Roti berwarna keemasan itu juga tidak bisa kubiarkan menunggu. Aku sangat menyukai uap panas dan aroma harum yang menyembul keluar saat menyobek roti yang lembut. Rasanya sangat memuaskan.


“Bagaimana?” tanya ibu yang melihatku begitu menikmati.


“Sempurna!” Kutodongkan sebuah jempol untuk sang pembuat mahakarya ini. “Tetap lezat seperti biasanya.”


Ibu tidak makan karena memang ia tidak memerlukannya. Wanita itu lebih suka menopang dagunya dan memandangiku makan. “Mau kuajarkan?” tawarnya.


“Kalau begitu, ibu pergi dulu.” Wanita itu beranjak dari kursi dan menuju ke pintu luar.


“Ke mana?” tanyaku dengan sendok yang masih terjepit dalam mulut.


“Bahan makanan sudah habis, Ibu akan mencarinya di desa. Ngomong-ngomong, jangan keluar terlebih dulu, salju akan turun lebat hari ini.” Ibu menutup pintunya dan membiarkanku sendiri bersama sup yang telah mendingin.


Hanya ibu yang boleh keluar karena tak ada dapat yang menyakitinya, sementara aku tidak. Lagipula, memang tak ada hal yang bisa kulakukan di luar. Hari ini pun tidak ada latihan dan nampaknya juga untuk seterusnya. Aku sudah menang. Mungkin aku bisa meminta hadiahku saat ibu pulang nanti, benakku.


Setelah menyelesaikan hingga ke suapan terakhir, aku mencuci bersih piring, mangkok, sendok dan cangkir untuk meringankan tugas ibuku. Setelah itu … aku masih belum memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Haaaaahhh … apakah hidupku akan lebih cepat membosankan?


Aku membaringkan tubuhku di ranjang kamarku. Membaca buku-buku yang sudah ke berapa kalinya kubaca. Aku tak ingat. Tapi, aku ingat betul setiap paragraf, setiap dialog, setiap narasi yang muncul setelahnya. Apakah aku harus tidur untuk menghabiskan waktu?


Mungkin duduk di halaman dan menikmati pemandangan di luar akan menyegarkan diriku. Saat kubuka pintu, kabut salju lebat hanya yang bisa kulihat sejauh mata memandang. Tak ada pemandangan yang menarik. Pakaianku juga terlalu tipis untuk di luar sana. Tidak seperti ibuku yang mau memakai pakaian apapun tidak akan berpengaruh padanya.


Lebih baik aku berdiam diri di rumah yang hangat bahkan meskipun tanpa sebuah perapian. Jawabannya adalah ibuku. Ya. Ibuku meletakkan berbagai simbol sihir di setiap sudut ruangan. Ketika simbol itu aktif, rumah seketika menjadi hangat seperti berjemur di pantai. Bukan pantai yang membeku di utara Orelum.


Aku sesekali beralih dari sofa di ruang utama ke jendela depan untuk menutupi rasa jenuh sedikit demi sedikit. Salju yang turun begitu lebat, menutupi jalan setapak dari hutan. Hutan cemara yang menopang salju di dahannya itu menyembunyikan dunia luar dariku. Ibu melarangku untuk melewati hutan. Ia berkata jika aku masih belum siap untuk menghadapi apapun di luar sana.


Jika itu seekor serigala salju atau naga salju atau beruang salju, apapun yang berbau salju, aku pasti bisa menghadapinya. Aku diijinkan keluar sana hanya ketika aku berhasil mengalahkan ibuku dalam latihan dan mendapatkan jati diriku sebagai seorang penyihir sejati. Itu mimpiku sejak lama. Dan ketika hari itu datang, aku sudah siap.


Selagi aku menghitung bola salju yang menghujani halaman rumah, sesuatu yang kecil bergerak dan melompat dengan lincah, menarik perhatian mata ungu pucatku. Telinganya panjang dan bulunya bisa kurasakan sangat halus dengan melihatnya saja. Makhluk berbulu putih itu melompat kecil ke depan pintu rumah.


“Seorang teman!” seruku begitu bersemangat. Aku membuka pintu rumah lagi dan menemukan seekor kelinci berwarna putih yang cantik sedang mengendus keset di depan pintu.


Telinga panjangnya berputar ke depan dan kepalanya menegak saat aku perlahan berjongkok di depannya. Hidung mungilnya berkedut-kedut. Ia tampak waspada kepadaku.


“Tenanglah, kelinci kecil, aku hanya ingin mengelusmu,” ucapku menirukan suara kecil dan imut. Kujulurkan tanganku mendekati sisi tubuhnya. Kelinci itu dengan cepat melompat pergi sebelum aku mencengkeram tubuh bulatnya. “Sayang sekali,” desahku.


Usahaku untuk mendapatkan seorang teman, gagal. Sekarang aku kembali menjadi seorang gadis yang kesepian di ujung tebing yang bersalju. Menunggu salju reda sama seperti menunggu kelinci itu kembali dari hutan. Kecil kemungkinannya.


Aku bisa merasakan pipiku menggembung saat makhluk polos itu lenyap ke dalam hutan. “Enaknya jadi seekor kelinci, bisa melompat dan berlari bahkan ke hutan yang belum pernah kumasuki,” aku menggerutu.


Aku ingin seperti kelinci itu yang tak kenal takut berjingkrak dalam badai. Bulunya putih, begitu juga rambutku. Gigi serinya putih, apalagi gigiku. Mataku juga memancarkan rasa penasaran seperti telinga lucu kelinci itu yang berputar kemanapun suara mengejutkannya. Lalu, apa yang tak kupunya untuk bisa seperti kelinci itu yang menghadapi dunia luar dengan tubuh mungilnya. Jawabannya mungkin dari jejak kaki sang kelinci yang tertinggal.


Dengan pakaian tipis yang kukenakan, aku pun melangkahkan kaki ke dalam salju yang menghiasi langit. Kupejamkan mata dan aku bisa merasakan dengan jelas detak jantungku yang semakin kencang. Di luar ternyata tidak seperti yang kuduga. Dingin sudah pasti, tapi entah kenapa tubuhku menolak menggigil. Aku berputar-putar di tanah bersalju seperti pusaran air yang menarik semua kebahagiaan ke pusat diriku. Kebahagiaan yang terbawa dalam tiap butiran kecil air yang membeku dan langsung meleleh ketika menyentuh tubuhku yang hangat.


Rasa dingin menyatu dengan mimpi yang ingin kurasakan. Mimpi dimana aku bisa melihat ke luar sana. Ke tempat yang ingin digapai ibuku. Aku melompat-lompat seperti seekor kelinci putih. Berlarian kesana-kesini tanpa tahu tujuan, hanya ingin memberi rasa untuk telapak yang semakin mati rasa oleh kayu hangat.


Semak dan pagar kulompati. Lompatanku sangat tinggi hingga aku merasakan seperti apa rasanya terbang dengan sapu sihir dalam sejenak. Aku sekarang berada di luar halaman rumahku. Aku tertawa dengan sendirinya bersama suara deruan bunyi bersisik pasir, jatuh dari awan yang bermuram. Cemburu karena aku juga bisa bahagia meskipun tak ada matahari, meskipun ibuku tak ada disini.


Aku mengayunkan tangan di udara. Seketika tongkat sihir seukuran kuas lukis muncul di genggamanku. Tongkat sihir kesayanganku ini terbuat dari kayu pohon birch perak. Hanya pohon biasa tapi cukup nyaman digenggam. Kenyamanan adalah hal penting bagi penyihir agar dapat berkonsentrasi penuh dengan sihirnya. Jika tongkat itu kasar atau memberikan rasa gatal, proses penggunaan sihir akan terganggu.


Aku mengalirkan sihirku melalui tongkat dan mengarahkannya ke langit. Hujan salju yang turun ke bawah mendadak berbelok mengelilingku. Berputar di udara mengikuti gerak tubuhku seperti seekor bangau putih menari dengan anggun. Salju yang berputar-putar itu menggantikan bintang malam yang bekerlapan di langit. Begitu indah namun tak bertahan lama. Kembali menghujaniku begitu deras layaknya bintang jatuh. Aku bukan anak kecil lagi yang akan menangis ketika dihantam salju, aku justru tertawa. Aku menikmati rasa sakit itu yang menimbun kepalaku dengan tumpukan salju.


Kuharap hujan salju masih terus berlangsung karena aku belum puas. Aku mengedarkan pandangan dan yang kudapati hanyalah hutan yang ibu larang. Memang bahaya macam apa yang membuatku tak berdaya? Lagipula, kelinci kecil saja dapat masuk ke dalam hutan itu. Hutan itu pasti penuh akan kelinci-kelinci yang lucu.


Tak ada salahnya mencoba, ibu juga belum datang. Aku melangkahkan kakiku yang tiba-tiba saja terasa sangat berat. Padahal kaki kecilku tidak tenggelam dalam salju tapi kenapa aku begitu kesulitan berjalan?


Dalam beberapa langkah berat lagi, aku akan mencapai pintu hutan. Sebuah siluet mendadak muncul dan membuat langkahku terhenti. Ibu muncul di antara pepohonan dan semakin dekat. Kali ini, aku berhasil dibekukan seperti patung.


“Niva! Apa yang kamu lakukan di luar sini dengan pakaian setipis itu!?” Ibu mengangkat gaunnya dan berlari ke arahku dengan panik.


“Aku ….”


Wajah ibu tampak kesal. “Jelaskan saja di dalam.”