Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Pelajaran melukis



Hasilnya, sangat mengecewakan. Atau setidaknya bagi pelukis seperti Charley. Sejujurnya, aku masih bisa menikmati apa yang kuciptakan di kanvas dengan tanganku sendiri. Itu tidak begitu buruk.


“Memang ada banyak gaya lukisan yang berbeda-beda tiap orang. Tapi, aku tidak tahu gaya apa yang sedang nona pakai. Warna yang nona pakai kurang tebal untuk menunjukkan ketegasan dan kedalaman unsur. Lalu, penggunaan warna yang monoton pada langit dan lautnya membuat kedua hal yang paling krusial itu sulit dibedakan. Teknik goresan yang nona pakai juga tidak memperkuat nilainya. Dan yang paling parah adalah tidak ada esensi kehidupan yang dapat kurasakan dari penggambaran nona soal pemandangan langit ini. Hampa. Tidak bernilai. Ini lebih seperti hasil gambar dari alat foto daripada lukisan. Maaf, nona tidak memiliki bakat sama sekali.”


Daun telingaku menjadi panas dan merah. Lelaki itu benar-benar tidak bisa menahan ucapannya. Terus-terusan digempur oleh fakta yang dia berikan, membuatku ingin meninggalkan dunia ini. “Sudah cukup. Tidak usah teruskan lagi.” Aku menghela kesal campur sedih. “Memangnya sejelek itu ya? Ibuku bahkan tidak sampai mengkritikku sedetil itu.”


Kulihat lagi lukisan yang dianggap buruk oleh Charley tersebut. Langit malam yang biru dengan laut yang disinari oleh bulan. Lukisan ini menggambarkan keindahan yang tersembunyi dibalik kesunyian malam. Ini pemandangan yang sering kulihat saat di Tebing Harapan. Saat tak bisa tidur, biasanya aku membuka jendela kamarku atau duduk di pinggir tebing sambil memandangi malam dengan segala kilau bintangnya. Posisi bintang dan bulannya, warnanya, sensasi sunyinya, dan terpaan angin malam yang menggerayangi tubuhku sudah aku ingat betul. Aku beranggapan melukis sesuatu yang kuingat akan membuat lukisan itu semakin tampak nyata. Maka dari itu, aku merasa percaya diri dengan lukisanku—sebelum Charley mennunjukkan sifat terus terangnya di hadapanku.


“Bagiku, jelek dan bagus itu adalah hal yang terlihat jelas di mataku. Aku tak bisa berkata karya tersebut bagus padahal mataku menilainya jelek, dan aku tak bisa menganggap karya tersebut jelek jika mataku telah termanjakan. Seperti dirimu, nona. Kau cantik, maka aku harus bilang cantik. Apapun tanggapan orang lain.”


Kutatap wajah rata-rata lelaki itu yang datar seolah tak menunjukkan belas kasihan. “Tidak baik untuk menjadi terlalu jujur. Kau bisa dimanfaatkan oleh orang lain.”


Charley mengambil palet cat dan kuas dari tanganku lalu meletakkannya di rak di mana barang yang berkaitan dengan seni lukis disimpan. Ada banyak palet yang ditumpuk dalam jumlah yang banyak dan kuas yang di kumpulkan dalam satu tempat. Itu menunjukkan betapa seriusnya dia mencurahkan seluruh hatinya pada bidang ini.


“Kau benar, nona. Tapi, jujur adalah sikap yang harus dimiliki oleh seorang pelukis.” Dia mengambil satu palet warna dan satu kuas yang bersih, lalu duduk di depan kertas kanvas miliknya. “Kau harus jujur bahwa itu hasil dari tangan, hati, dan pikiranmu. Bukan dari hasil meniru karya orang lain. Kau harus jujur bahwa apa yang kau tuang ke dalam lukisanmu bukan sekedar goresan dan warna acak. Kau harus jujur pada dirimu sendiri bahwa yang sedang kau lakukan bukanlah imitasi dari dunia, tapi hasil apa yang kau rasakan sendiri.”


Dia membelakangi jendela besar yang menghadap ke luar. Cahaya dari pagi hari yang dingin, masuk dan memberikan suasana seperti lampu latar. Aku tak bisa melihat laki-laki itu karena tertutup kanvasnya, tapi aku bisa mendengar kuasnya yang menyapu kesana kemari dan meninggalkan jejak cat.


“Melukis bukan hanya sekedar membuat pemandangan alam atau objek dengan kuas dan warna yang kau miliki. Kami, para pelukis, menganggap lukisan sama sakralnya dengan sihir. Anggap saja begini—gambar adalah bagaimana caramu melihat dunia, sedangkan lukisan adalah apa yang kau rasakan terhadap dunia. Warna, teknik, garis, bahkan titik harus memberikan rasa pada orang yang melihatnya. Lukisanmu jelek karena tak memiliki rasa. Kau melihat langit dengan warna biru, lalu melukiskannya dengan warna biru. Kau membuat bulan berwarna putih polos karena hanya itu saja bulan bagimu. Kau harus membuat langit itu memiliki rasa. Lembut dan dingin, indah dan gelap, kosong dan jauh. Ketika kau mendapatkan rasa dari lukisan, saat itulah kau akan mengetahui lukisan tersebut bagus.”


Aku terdiam cukup lama untuk mendengar perkataannya, atau mungkin karena aku sedang menunggu lukisan apa yang sedang dia buat.


“Lukisan itu ada dengan banyak fungsinya. Bagiku, fungsi lukisan adalah mengingatkan kembali kita—sebagai seorang manusia fana—akan apa yang dunia berikan pada kita dan apa yang kita berikan pada dunia. Dan juga sebagai pembuktian untuk mereka yang pernah menutup mataku.”


Entah mengapa, ada nada kesedihan di akhir kalimatnya.


Karena ibu sudah hidup lama sekali, mungkinkah dia pernah bertemu dengan Mervan? Aku sangat penasaran.


“Ingatan menjadi tindakan, tindakan menjadi goresan, goresan menjadi bentuk, bentuk menjadi lukisan, lukisan kembali ke dalam ingatan kita. Dikenang, dibanggakan, dan dicurahkan. Begitulah kehidupan para pelukis.”


Charley lalu berhenti berbicara. Dia diam tak menggerakkan kuasnya lagi, begitu pula aku yang tidak tahu harus membalas apa pada semua ucapannya barusan. Aku diam tak memikirkan apapun. Hanya diam saja seperti saat menunggu badai salju reda.


Kemudian, Charley berdiri dan menatapku dengan wajah datar sama seperti sebelumnya. Aku mencoba menerka apa maksudnya, tapi sia-sia. Matanya yang bulat bagaikan bulan yang kugambar dengan polos itu seolah mencoba memaksaku membalas tatapannya. Apa dia sedang marah karena lukisanku atau karena aku meremehkan pandangannya? Atau karena aku yang diam, tak memberikan respon?


Tiba-tiba, dia mengangkat kanvasnya dan menyerahkannya padaku yang membuat tatapan canggung dan kosong kami menjadi teralihkan. Saat kulihat apa yang sebenarnya dia lukis, aku langsung diam membeku dengan mata melotot.


Aku melihat sebuah wajah seorang gadis yang matanya menatap balik ke arahku. Bisa kulihat dan kurasakan kulitnya yang sangat lembut hanya dari paduan warnanya saja. Wajah mudanya sangat cantik dengan tidak ada bagian yang kurang ataupun berlebihan—bisa dibilang sempurna. Rambutnya lurus panjang berwarna perak dan memakai jepit rambut lucu, bukannya topi runcing. Bahkan, aku bisa mencium aroma rambutnya hanya dengan menggunakan mataku saja. Kemudian matanya. Aspek yang paling membuatku bertanya-tanya. Saat aku mengamati kedua mata yang memiliki pancaran ungu pucat, aku bisa melihat kepolosan yang murni, rasa ingin tahu yang sangat kuat, dan kepercayaan diri yang melampaui batas. Ya! Gadis itu adalah aku.


Aku tercengang dengan lukisan wajahku sendiri. Apa benar ini diriku?


“Itu adalah lukisan seorang gadis penyihir bernama Nivalis. Melalui lukisan itu, kau bisa merasakan gadis seperti apa dia. Rambutnya, kulitnya, aromanya, bahkan sifatnya. Inilah yang dinamakan lukisan, nona.”


Lukisan ini tampak berbeda saat aku melihat pantulan diriku sendiri di cermin. Seperti melihat sosok lain, tapi juga melihat bagian dari diriku sendiri ada di dalam lukisan tersebut. Aku tidak mengerti sebelumnya, tentang ucapannya dan ucapan ibuku yang menjadi di sebuah badai penghalang dalam hatiku. Kini aku mengerti, kenapa lukisanku selalu dianggap jelek dan tak bisa sebanding dengan lukisan ibuku. Waktu itu, aku terlalu berfokus untuk mencapai titik yang sama dicapai oleh ibuku. Aku berjuang untuk menjadi seperti ibuku sendiri.


Aku sadar mencapai hal yang sama bukanlah membawaku menjadi lebih baik. Karena itu, ibu berhenti mengajariku yang terus-terusan mencoba menirunya. Dia melihat bahwa aku tidak berkembang. Dan aku semakin mengerti sekarang saat sampai di kota unik ini dan melihat sebuah karya yang kutatap dengan takjub, bahwasannya aku masih berenang di perairan yang dangkal—mengira bahwa aku sudah mencapai dasar samudera.


Sungguh, pemikiran seorang seniman sangatlah unik.