
Dari luar dinding, terdengar para pemburu yang memanggilku dan meneriakiku dengan penuh amarah, menyuruhku untuk keluar dan memberikan Naga Batu pada mereka. Suara amukan dan gedoran tembok semakin menjadi-jadi.
“Oi, keluar kau, penyihir! Berikan naga itu pada kami!”
Aku merasakan kumpulan para pemburu sudah mengelilingi dinding es ini. Mereka tidak terlihat akan berhenti dan berusaha mencoba menghancurkan dinding esku dengan senjata mereka. Namun, apa yang mereka lakukan hanyalah sia-sia saja. Tembok itu cukup tebal dan cukup tinggi, jadi menghancurkan dan memanjat pohon untuk mencapai bagian atasnya akan cukup sulit, kecuali mereka adalah seorang penyihir.
“Mereka benar-benar marah, ya. Apakah mereka sebegitu putus asanya untuk mendapatkan uang?” respon Aeron. “Mungkinkah karena kehidupan di Ujung Garis Beku cukup keras?”
“Mungkin …,” jawabku dengan datar.
Aku mengabaikan kemarahan mereka dan secara alami suara mereka menjadi redup, seolah-olah ada penyumbat suara di telingaku.
Di dalam dinding, aku menemani sang naga yang kini tertidur pulas, juga mengabaikan suara orang-orang. Aku duduk di sebelahnya sambil mengelus kepalanya yang besar. Kulitnya hangat dan kasar. Nafasnya berat, disertai dengkurannya yang keras. Namun, begitu lelap tidurnya seperti anak kecil polos yang tertidur setelah asyik bermain. Dari dekat, moncongnya terlihat seperti buaya, namun lebih pendek dan lebar.
Aku tidak merasa takut saat melihatnya yang sedang tertidur. Entah mengapa, rasanya seperti ia sedang tersenyum gembira. Kemarahan dan kebuasannya sesaat yang lalu seakan lenyap dalam mimpinya. Sekarang, mimpinya pasti adalah mimpi yang sempurna bagi seekor naga kecil sepertinya. Lagipula, ia tetaplah makhluk hidup.
Aku mengangkat tangan kananku setinggi wajahku. Telapakku, yang kini berwarna merah agak gelap, terasa perih dan kaku saat aku mencoba untuk mengepalkannya. Dalam beberapa detik setelahnya, aku menyadari adanya gejala gemetaran. Sensasi panas menjalar ketika cairan berwarna merah kental dan pekat muncul dari telapakku.
“Niva, tanganmu!” Aeron yang kutaruh di tanah bersama tongkat sihir mulai terdengar panik. Sementara aku menatap kosong pada sebuah lubang mengerikan di telapak tanganku.
Lubang yang terbentuk karena aku tak sengaja meletakkan tanganku dekat rahang sang naga saat menangkapnya. Dari lubang itu, darah kental mengalir cukup deras. Noda-noda merah tercipta dari darahku yang terjatuh dan membentuk pola rumit di tanah salju. Warna merahnya menjadi sangat kontras dengan warna putih salju yang menyerapnya.
“Bagaimana kau bisa tenang dengan tanganmu yang terluka parah seperti itu?”
Aku meresponnya dengan senyuman lembut. “Luka seperti ini sudah biasa bagiku. Lagipula, aku punya permata sihir, ingat?” Seolah merespon senyumanku, cahaya kebiruan muncul dari dalam bajuku—dari permata. Munculnya cahaya itu, diikuti dengan perasaan sejuk yang merambat dari dada menuju lengan dan melawan rasa perih di sumbernya, lalu memusatkan kekuatannya untuk mengembalikan tanganku ke kondisi yang tidak berlubang.
“Lihat? Aku baik-baik saja, kan?” Kali ini, aku tersenyum lebar sambil membuka tutup telapak tangan kananku.
“Kau benar-benar ….” Tanpa melanjutkan ucapannya, Aeron menghela nafas cukup panjang seolah-olah dia yang kesusahan.
Ketika cahaya itu pudar dan menghilang sepenuhnya, rasa dingin yang menusuk langsung masuk ke dadaku untuk menggantikannya. Namun, aku sudah terbiasa dengan rasa itu, dan bahkan sampai menikmatinya. Dan aku yakin, naga yang sedang tertidur itu juga bisa merasakannya.
Saat aku saling berhadapan dengan sang naga sebelum ia tertidur, entah mengapa aku bisa melihat kemarahan dan kesedihan dari matanya. Itu seperti tatapan sedang menahan rasa sakit. Bahkan makhluk buas sekalipun juga dapat menunjukkan emosi selayaknya manusia. Emosi tersebutlah yang membuatku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang menggerogoti makhluk itu dari dalam tubuhnya.
Setelah kuperhatikan lagi, naga itu bukanlah jenis yang normal ditemukan di Ujung Garis Beku. Jika tahu makhluk yang bukan berasal dari sini telah mengancam keselamatan warga kota, cukup aneh jika hanya diperintahkan untuk menangkap makhluk itu saja daripada membunuhnya.
Setelah kupikirkan lagi, semua ini memang tak masuk akal jika makhluk itu dikatakan sudah meneror warga kota sejak lama dan tidak ada yang berhasil memburunya sampai harus diadakan sayembara dengan hadiah besar.
Walaupun aku tahu itu hanya kegelisahan sementara dari perasaanku saja, tetapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Saat aku menyentuh dan meraba kulit sang naga, kepulan asap keluar dari hidungnya seperti embusan sihir. Lalu, ia terbangun.
Aku dengan cepat-cepat meraih tongkatku, bersiap-siap.
Akan tetapi, naga itu hanya mengangkat kepalanya untuk diam menatapku saja. “Manusia? Seorang gadis? Bau yang familiar … Penyihir, ya? Siapakah kau yang tidak kenal takut ini?”
Dengan menyipitkan mata kuningnya yang memiliki pupil berbentuk bulat, naga itu memandangiku seolah marah. Geraman suaranya yang besar terdengar begitu mengancam. Tetapi, aku menjawabnya seperti biasa.
“Aku Niva. Dan kompasku bernama Aeron.”
“Begitu, ya. Jadi, kaulah yang berbaik hati menolongku. Akhirnya, aku tidak lagi merasakan kutukan mengalir di dalam tubuhku. Aku merasa tenang dan damai sekarang. Terima kasih, Niva sang Penyihir.”
Makhluk itu ternyata tidak sebuas dan seagresif sebelumnya. Ia mendorongkan hidungnya yang dilapisi tanduk besar ke dadaku seolah caranya untuk berterima kasih. Tidak terasa sakit karena rasanya mirip seperti anjing yang menggesekkan moncongnya ke tubuh majikannya.
Menerimanya, aku memeluk dan mengusap tanduk hidungnya yang terbuat dari lapisan sel padat dan keras yang kaya akan protein disebut keratin.
“Apa maksudmu dengan kutukan?” Aku mengangkat kepalaku sambil melonggarkan pelukanku, membiarkan naga itu mundur untuk kembali menatapku.
“Itu adalah penderitaan tanpa akhir. Kutukan itu telah menggerogoti jantung dan jiwaku, meremasnya tanpa ampun seperti daun musim gugur yang rapuh. Racun mengalir dalam nadiku, bercampur dengan darah dan air liur yang menciptakaan kegilaan— menjadikanku makhluk buas yang tidak dapat dihentikan.”
“Aku tidak mengerti. Apa yang telah aku perbuat pada mereka hingga aku layak mendapatkan hal seperti ini? Aku tidak pernah mengutuk, menyiksa atau menjadikan mereka sebagai hiburan, tapi mereka melakukannya dengan senang hati, bahkan bangga akan hal tersebut. Terutama penyihir bermata hitam yang menanamkan sihir kutukan padaku. Aku membenci mereka semua!”
Aku tidak tahan. Aku segera memeluk kepalanya dengan erat dan mengusapnya dengan penuh perhatian. “Tenanglah. Kau sudah baik-baik saja sekarang.”
Sekarang, aku tahu apa arti dari matanya yang memantulkan kemarahan. Makhluk ini sebenarnya bukanlah makhluk yang buas dan keji. Namun, karena kutukan yang ia derita selama ini memaksanya untuk mengeluarkan sifat buasnya. Sifat buas yang bukan sifat sejati makhluk ini.
Dari awal, kisah teror naga itu mungkin saja sengaja diciptakan untuk mendapatkan perhatian orang banyak. Begitu orang-orang tahu ada sebuah sayembara berhadiah besar dengan kisah latar belakang yang menarik, orang-orang pasti tertarik untuk datang. Ketika orang-orang berkata mereka diserang dan ternak mereka dibantai oleh Naga Batu, kurasa itu bukanlah keinginan dari sang naga. Ia terpaksa melakukannya. Pada akhirnya, karena adanya “ancaman yang dibuat-buat” tersebut, maka dibuatlah sayembara ini.
“Mereka telah berbuat kejam padamu, ya? Kau hebat sudah bertahan selama ini.”
Ganti geramannya, naga itu mendengkur selayaknya anak kucing dalam pangkuan. “Manusia yang mengasihi naga … itu sudah lama tidak terjadi.”
Kutukan tersebut benar-benar menyakitinya selama ini, bahkan semua yang ia derita dapat terlihat jelas hanya melalui matanya saja. Membayangkan pikiran dan tubuhnya terus terkorosi, aku hanya bisa membelainya seolah-olah aku sedang membersihkan rasa sakit itu.
Walaupun tujuanku sebelumnya hanyalah untuk membuatnya tertidur supaya tidak terus mengamuk, namun entah bagaimana, tampaknya sihirku secara tidak sengaja menghilangkan kutukan tersebut. Itu bukan sesuatu yang aku duga, tetapi aku bersyukur telah melakukannya.
Begitu sadar, tidak ada lagi suara-suara gedoran dari luar dinding. Kesunyian mulai mengambil alih. Aku menyingkirkan Kembali tembok es yang mengurung(melindungi) kami dan menemukan tidak adanya para pemburu di sekitar.
“Oh, sepertinya mereka sudah menyerah,” ucap Aeron.
“Baguslah, kalau begitu. Mereka tidak mungkin terus menunggu lama di sini hanya untuk kedinginan saja,” kataku.
Sementara dingin masih ada, tanduk naga itu menghangatkanku. Keras, tetapi rasanya seperti meringkuk di dalam selimut. Aku bisa memeluknya dengan sangat kuat tanpa takut tanduk itu akan hancur.
“Jika aku bukan naga, aku masih ingin tinggal di sini.” Tiba-tiba, naga itu bangkit, melepaskan pelukanku darinya. “Akan tetapi, aku harus pergi untuk melakukan satu hal. Waktu tidak akan sebaik dirimu hanya untuk menungguku saja.”
“Pergi?”
Ia menggoyangkan tubuhnya untuk membuang salju-salju yang terkumpul di punggungnya. Lalu, mata bulatnya kembali menatapku seolah ia ingin menunjukkan sesuatu. Dari matanya, aku bisa melihat pantulan itu muncul kembali. Emosi mengancam yang kuduga sudah hilang, terpantulkan dengan begitu ngerinya sembari ia mendengus dan menggeram.
“Aku tidak bisa membiarkan mereka lepas begitu saja setelah semua hal buruk yang telah mereka lakukan padaku. Mereka itu pantas dihukum agar mereka sadar bahwa mereka bukanlah makhluk yang terkuat di sini.”
“Tunggu, kau tidak bisa melakukan itu!” Sontak, aku berdiri.
Aku menegang karena syok begitu melihat kemarahan sang naga muncul kembali.
“Kenapa? Apa kau berusaha melindungi mereka yang telah menyiksaku?”
“Bukan seperti itu. Aku tahu kau membenci mereka, tapi aku tidak bisa membiarkan hal yang buruk terjadi. Jika kau menyerang orang-orang, maka kau akan menjadi monster yang sesungguhnya dan aku mau tidak mau harus menghentikanmu.”
Aku sadar akan kekesalan naga itu dan aku merasa tidak boleh membiarkannya pergi. Sebagai orang yang telah membebaskannya, itu adalah tanggung jawab yang harus aku lakukan. Tanggung jawab yang Ibu ajarkan.
“Kau anak yang baik. Sihirmu mengingatkanku akan kekuatan lembut yang menyelimuti Eiarmoar—tanah para naga. Kalau kau hanya menginginkan uang, maka ….” Naga itu tiba-tiba menutup mulutnya kuat-kuat sembari tubuhnya menegang. Tak lama, ia meludahkan sebuah gigi taring yang dipenuhi air liur dan darah ke tanah. “Ambillah gigiku. Gigi naga seharusnya menjadi barang yang mahal bagi para manusia.”
“Tidak, aku tidak mengingi—”
“Tidak perlu membohongi dirimu sendiri. Manusia itu butuh uang untuk bertahan hidup, bukan? Tujuanmu menangkapku memang hanya untuk uang, tapi kebaikanmu terasa murni. Kau tidak menangkapku dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan. Itulah hatimu yang sebenarnya. Kau telah menyelamatkanku, maka aku harus memberikanmu balasan yang setimpal. Dan jika keinginan penyelamatku adalah untuk tidak menyakiti orang-orang, maka aku akan melakukannya.”
Setelah berucap demikian, naga itu mengucapkan selamat tinggal sembari terus berjalan pergi menjauhiku. Ia menuju ke kedalaman hutan yang gelap dan dalam guyuran salju yang tidak berhenti. Setelah itu, keberadaannya tidak kuketahui lagi. Satu-satunya yang menjadi bukti akan keberadaannya adalah gigi taringnya yang sebesar kepalan tanganku.
Gigi senilai 10 Pengrium emas itu hampir bersih saat kuambil dari tanah bersalju. Aroma darah masih tercium kuat darinya.
Ucapan sang naga harus kuakui memang benar adanya. Inilah yang paling kubutuhkan saat ini. Lebih tepatnya, uang yang bisa memenuhi kebutuhan perjalananku selama beberapa bulan ke depan. Ini adalah kunci penting untuk aku bisa meneruskan perjalananku atau tidak. Karena jika aku membutuhkan tempat untuk beristirahat, makan, dan membayar biaya masuk negara, aku sangat membutuhkan uang-uang ini.
Jika aku memikirkannya, sebenarnya uang ini tidak layak untuk kupakai. Tetapi, itu jika aku memikirkannya.