
Disinilah aku. Menghadang badai salju yang berusaha menghambat perjalananku. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan kalah dalam badai seperti ini. Amarah ibu justru lebih menakutkan.
Aku tahu kalau topi dan jubahku dilapisi sihir ibu agar tak mudah terlepas, tapi aku tetap menahan topiku. Aku tak bisa melihat dengan jelas sekelilingku, aku juga belum membuka petaku sejak meninggalkan Elifhiar. Tampaknya aku tersesat.
Langit tak bisa kulihat saking padatnya salju yang turun. Aku juga tak mendengar suara apapun selain terpaan badai salju tersebut. Tiba-tiba saja, sesuatu yang keras menabrakku. Dalam sekejap mata, tubuhku terlempar di udara. Waktu seolah melambat saat aku di udara, bisa kulihat seekor rusa yang berlari dan figur lainnya yang sedang mengejarnya. Seorang pria. Waktu berjalan normal, dan aku pun menghantam tanah dengan sangat keras.
Mataku terbuka, dan rasa sakit meledak-ledak saat aku bangkit dengan tak sabar. Aku merintih kesakitan saat pinggang belakangku seakan ingin patah dan hancur.
“Sebaiknya jangan bergerak dulu? Tulang pinggangmu bergeser.” Aku sibuk menahan rasa sakitku, tapi pria itu tiba-tiba membalikkan tubuhku dan membuatku tengkurap di kasur. Wajah bingungku terbenam dalam bantal yang empuk.
“Hei! Apa yang kau lakukan!?” Pria itu tak berhenti, ia menarik bagian bawah bajuku yang kuselipkan dalam rok, lalu membukanya cukup lebar hingga angin dingin bisa meraba bagian bawah punggungku. “Tidak sopan! Kubilang hentikan!” Aku berusaha memberontak tapi lengan pria itu cukup kuat untuk menekan tubuhku.
“Diamlah. Aku akan membenarkan tulangmu.”
Tangan kasar pria itu menekan pinggangku dengan sangat kuat, hingga terdengar bunyi kertakan yang sangat jelas. Aku tak henti-hentinya berteriak sangat keras. Rasa sakit yang tak akan pernah bisa kubayangkan itu membuatku hampir tak bisa bernafas. Kucengkeram seprai dengan sangat kuat seperti macan, serta tendangan kakiku membuat kasur itu bergoyang hebat. Bantal yang meredam wajah merahku basah karena tangisan penderitaanku.
Aku berusaha mengatur nafasku saat rasa sakit itu perlahan mereda. Aku mencoba bangkit tapi tak bisa, semua tubuhku tak kuat untuk bergerak.
“Beristirahatlah sebentar.”
Itu suara seorang pria. Lancang sekali ia melakukan tindakan memalukan seperti itu. Tak bisa kumaafkan. Aku memaksa tubuhku bangkit dengan sangat susah payah. Lalu, kutodongkan sebuah tongkat sihir padanya. “Tak bisa dipercaya. Kau tiba-tiba saja membuka bajuku. Karena itu aku harus menghapus ingatanmu.”
“Oh, kau penyihir? Kau bisa menghapus ingatan orang dengan sihirmu?” Pria dengan rambut gondrong dan jenggot tipis itu duduk di kursi tua sembari menatapku dingin.
Aku baru teringat kalau aku tak bisa melakukannya. Ibu tak pernah mengajariku sihir semacam itu. Lagipula, jika sihir semacam itu ada, maka tak ada gunanya Permata Sihir milik Ratu Selenia, bukan?
Pria itu mendengus, “Tulangmu bergeser dan aku memperbaikinya, apa kau masih memikirkan rasa malumu?”
Aku merapatkan bibirku sembari mengusap pinggangku yang sudah tak terlalu sakit lagi. Tapi, rasa nyerinya masih menyebar seperti racun. Saat aku duduk kembali di kasur, baru kusadari kalau ruangan ini tak memiliki satupun jendela, lampu lilin menjadi satu-satunya penerangan disini. “Bagaimana aku bisa disini?” tanyaku melengos. Aku masih kesal soal tadi.
Masih dengan gaya bicaranya yang tenang dan suaranya yang berat, pria itu mulai menjelaskan kejadiannya, “Aku sedang berburu rusa di hutan, sayangnya rusa itu berhasil melarikan diri dan secara kebetulan menabrakmu dengan sangat keras. Kau seketika pingsan dan aku membawamu ke rumahku.”
“Karena itu tulangku bergeser?” aku memastikan.
“Ya. Padahal jelas-jelas aku melihat rusa itu mengarahkan tanduknya ke arahmu, tapi tak ada bekas luka satupun. Tulangmu yang bergeser juga tidak terlalu parah, bahkan kau bisa dengan cepat bangkit dan menodongkan tongkat padaku setelahnya. Kau gadis yang cukup hebat, juga beruntung.”
“Mungkin karena jubahku.” Aku melepaskan kaitan jubahku lalu menyerahkannya ke pria itu. “Ibuku memberikan sihir pada jubah itu.”
“Benarkah?” Tanpa basa-basi, pria itu lalu meletakkan jubahku di lantai kayu. Ia mengambil sebuah pisau dan menusukkannya pada jubah.
Tak ada robekan di jubahku. Meski pria itu sudah menusuknya dengan kuat atau mengirisnya dengan cepat, jubah itu tak tergores sedikitpun. Terima kasih, ibu. Kau memang yang terbaik.
“Sepertinya kau tidak berbohong. Jubah ini melindungimu dari tanduk rusa, tapi tidak dengan efek benturannya. Alat yang luar biasa,” ucapnya. “Omong-omong, apa yang gadis sepertimu lakukan di luar saat badai salju seperti ini?”
“Aku berkelana. Kenapa?” jawabku sinis. Sebenarnya aku sudah tak merasa kesal lagi soal tadi, tapi entah kenapa aku ingin melakukannya.
“Meskipun kau sudah tua dan berpengalaman dariku, bukan berarti kau bisa meremehkan mimpiku seenakmu. Memangnya kenapa kalau aku berkelana?”
Pria itu mendengus lagi, tapi kali ini ia menatapku serius. “Tidak ada. Hanya saja, kau kurang persiapan. Makanan yang kau bawa kurang, kau juga hanya membawa satu minuman saja. Sementara benda-benda lainnya tidak berguna. Kau kurang persiapan, nona penyihir.”
Aku terkejut mendengar ucapannya. “Apa kau baru saja melihat isi tasku?” Aku dengan cepat segera mengambil tasku tak jauh di kasur. Lalu, memeriksa barangnya kembali satu per satu. Aku merasa lega setelah tidak ada barang yang hilang, termasuk uangku semuanya masih berada dalam jumlah yang normal. “Apa tidak ada sopan santun dalam dirimu? Kau tak boleh seenaknya saja memeriksa tas orang lain!”
Pria itu tiba-tiba merebut tasku. “Itulah kenapa kau dengan bodohnya berjalan saat badai. Kau juga tidak memperhatikan sekitarmu sehingga rusa itu menabrakmu. Kau itu tidak serius menanggapi hal-hal berkelana ini.”
“Ya, saat itu aku hanya tak menyadarinya saja. Tapi, lain kali bukan masalah lagi. Aku penyihir, kau tahu? Aku memiliki sihir untuk melindungi diriku sendiri,” jawabku tegas.
“Bagaimana jika sihir hilang dari dunia? Sihir hanya pinjaman dari para dewa. Jika tak ada sihir, apa yang kau bisa lakukan? Tidak ada,” ia membalasku dengan ketus.
“Lalu, kenapa? Apa kau merasa terugikan karena aku tak bisa apa-apa selain sihir?” tanyaku.
“Tidak. Tapi, bagaimana dengan ibumu? Apa ibumu tak akan bersedih jika kamu terluka, atau mengalami hal yang lebih buruk selama perjalanan bahagiamu karena tak bisa apa-apa?” ia berbalik bertanya padaku.
Aku terdiam seperti pihak yang kalah dalam sebuah pertarungan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan lagi untuk membalasnya. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Kenapa dia seenaknya saja melakukan semua hal yang dia ingin kepadaku?
“Istirahatlah. Di luar masih badai.” Pria itu membuka pintu kamar dan meninggalkanku yang tak berkata-kata.
Mungkinkah ibu berbohong padaku soal diriku yang kuat? Apa ibu mengizinkanku untuk berkelana karena sebenarnya dia tak sayang lagi padaku, dan ingin secepat mungkin melepaskanku? Apakah seperti itu yang ibu pikirkan?
Kupandangi kalung permata yang ibu berikan padaku. Begitu jernih, hingga bisa kulihat sendiri pantulan diriku. Kulihat sosok yang lemah dan tak berdaya. Hanya bisa menangis seperti anak kecil. Siapakah sosok itu? Permata itu memantulkan realita apa yang sesungguhnya tampak dalam diriku.
Aku meringkuk dalam jubah hitam. Penari merah pada panggung putih terus bergoyang-goyang hingga panggungnya perlahan takluk, penari itu pun tak bercahaya seterang sebelumnya. Kuharap lilin tak akan pernah padam untuk malam ini.
Badai salju sudah reda, tak ada lagi alasan untukku berlama-lama disini. Setelah bersiap-siap, aku keluar dari kamar dan menuju pintu luar.
“Mau kemana kau?” Pria itu menghentikan langkahku dengan suaranya yang berat.
Aku berbalik dan menatapnya seperti hal biasa terjadi, “Sudah waktunya untukku pergi. Terima kasih telah menyembuhkanku dan menyediakan kamar untukku.”
“Aku tak bilang padamu boleh pergi.”
“Apa maksudmu? Apa kau memaksaku tinggal disini?”
“Kau boleh pergi hanya saat kau sudah siap.”
“Aku akan siap dengan sendirinya di tengah perjalananku.”
“Jika kau mau, aku bisa membantumu.”