
Aku yang terdorong ke belakang melihat Vestia menghindari pedang yang terayun ke bawah lalu menendang patung itu hingga jatuh ke lantai.
Patung es di sisi kiri Vestia juga bergerak. Ia menghunuskan pedangnya dan menuju ke arah Vestia yang tidak menyadarinya. Aku mengambil tongkat sihirku yang muncul sekejap di udara lalu menembakkan sebuah kristal es yang menembus armor es ksatria. Dadanya berlubang, tapi tak menunjukkan kekalahan. Patung itu sekarang menatap dan mengincarku. Patung ksatria yang terjatuh bangkit kembali.
Aku menciptakan kristal es yang lebih besar di ujung tongkat sihir. Ketika kutembakkan, tidak hanya berlubang, patung es itu hancur seketika menerima serangan kristalku. Pecahan es berhamburan di lantai seperti pecahan pada bongkahan es yang sedang dipahat untuk menjadi patung.
Sementara Vestia sudah melelehkan patung yang dihadapinya dengan sihirnya. Uap membumbung dari genangan air es yang mencair di bawah kakinya. Dia melemparkan tatapan tajamnya kepadaku lagi.
“Bukan aku,” jawabku cepat.
“Lalu siapa—?” Seketika, dia tersentak. Seperti mendapatkan sesuatu di dalam pikirannya. “Penjahat itu… Penjahat itu sepertinya tahu akan kedatangan kita dan menjebak kita di sini. Aku tahu itu! Siapapun orangnya, pasti ada di sekitar sini.”
“Kau yakin bukan karena kau yang merusak singgasananya?” celetuk Aeron.
Sisa sepuluh patung lainnya yang berada di ruangan ini akhirnya ikut bergerak. Vestia benar. Ini bukan ruangan singgasana, ini ruangan jebakan yang disiapkan khusus untuk seseorang.
Patung-patung itu mengeliling kami. Ini situasi hidup atau mati. Terlepas dari insiden sebelumnya di antara kami berdua, kami mau tidak mau harus saling bekerja sama untuk keluar dari situasi ini. Vestia yang memunggungiku sepertinya sadar akan hal itu. Kami singkirkan dulu pertanyaan kenapa patung es itu bisa bergerak dan menyerang kami.
Patung-patung yang membentuk formasi lingkaran itu semakin mendekat. Aku menembak satu patung di depanku. Berlari ke arahnya dan mengisi posisinya yang kosong. Sambil menunduk menghindari pedang yang berayun di atasku, kulepaskan proyektil es ke arah patung di kiri yang terus menembus ke dua patung di belakangnya. Kulepaskan proyektil lainnya ke atas, ke sebuah pedang yang berusaha memotong bahuku dari atas. Pedang esnya hancur berkeping-keping sama seperti pemegangnya di belakangku yang menabrak tembok saat kuberi dorongan angin kencang.
Sambil mengatur sirkulasi udara di paru-paruku, kuperhitungkan lagi situasinya. Kucari tahu celah, arah gerakan, dan jumlah patung yang tersisa. Dua patung sedang dihadapi oleh Vestia, satu patung menatapku tapi belum bergerak dan satu patung lainnya berada sangat jauh sedang berlari ke arahku. Gerakan mereka berat dan kaku karena materi es padat yang membentuk mereka. Ditambah mereka sejatinya tetaplah patung es. Mereka mudah dihancurkan atau dilelehkan menggunakan panas api seperti yang dilakukan Vestia. Kami bisa mengatasinya dengan mudah, tapi tetap saja kesulitan jika jumlahnya bertambah.
Kudengar suara langkah kaki berat di lantai bawah. Patung-patung di bawah juga mulai hidup untuk menghabisi kami. Jika kami terus mengurusi patung di ruang singgasana, patung di lantai bawah akan naik dan mengepung kami dengan jumlahnya yang besar di ruang yang terbatas ini. Aku harus membawa pertarungan ini ke arah yang lebih menguntungkanku dengan membawa mereka ke luar atau menghancurkan mereka sekaligus.
Dua patung es sudah berada di depanku saat mataku beralih ke bawah tadi. Patung tersebut menghalangi Vestia dari pandanganku.
“Sial!”
Aku membungkuk dan melesat cepat melewati celah lengan dan kaki keduanya. Seolah angin masuk melalui jendela dan membantu menambah kecepatanku, aku terus berlari menuju Vestia. Kuraih tangannya, lalu kutarik ke arah yang sama saat aku datang.
“Tunggu! Apa yang kau lakukan!?” Vestia berhasil kembali mengatur keseimbangannya dan mengatur kecepatannya agar selaras denganku.
“Ikuti saja aku.”
Setelah menyingkirkan dua patung yang menghalangi pintu dengan sihir, aku menggenggam sangat erat tangan Vestia. Kugenggam sungguh-sungguh sampai seperti aku ingin meremuknya. Kami terus berlari sampai keluar dari pintu gading. Patung-patung masih mengejar kami di belakang.
“Lompat!” teriakku.
“Apa?”
Sekuat tenaga kukumpulkan kekuatan di kakiku. Sambil menarik bagian belakang kerah baju Vestia seperti mengangkat kucing, kulepaskan seluruh kekuatan di kaki dan melompat setinggi mungkin melewati pagar es. Lantai es yang keras dan dipenuhi para patung ksatria es menyambut kami jauh di bawah.
“Uwaaahhh!”
Seolah mengejek jeritan Vestia, jubahku terbuka dan membuat kami melayang di udara. Vestia langsung memegang lenganku kuat-kuat setelah kami tidak lagi menginjak permukaan. Dia terus berteriak, “Turunkan aku! Turunkan aku!” sambil meremas lenganku.
Dengan bantuan jubah sihirku, kami perlahan melayang maju melewati gerombolan patung hingga sampai memijak di atas lampu gantung es. Lampu tersebut cukup kuat untuk menopang kami berdua. Patung-patung yang sebelumnya mengejar kami, menabrak pagar pembatas dan terjatuh ke lantai bawah. Beberapa masih utuh dan beberapa langsung hancur—mengurangi bebanku.
“Dasar gila!” bentaknya sambil menutup seluruh wajahnya dengan tangannya. “Kau tahu aku takut ketinggian, tapi tetap saja membawaku ke sini. Kau memang penjahat!”
Kakiku bertahan di lapisan terluar tempat lilin sementara kakiku lainnya berpijak pada lapisan dalam yang lebih rendah. Lampu lilin itu membentuk piramida lingkaran ke bawah sementara Vestia berada pada platform tengah yang menyambungkan semua lapisan dan lebih padat.
Aku menjulurkan kepalaku sedikit ke arah bawah. Patung-patung ksatria terlihat berkumpul tepat di bawah lampu lilin, bergerak berdesakan terus ke tengah meskipun sudah tidak ada ruang lagi karena saking penuhnya. Mereka juga tak peduli sudah menabrak rekan-rekannya, kepedulian mereka hanya tertuju padaku yang berada di atas mereka. Aku merasa seperti sosok tinggi di singgasanaku yang sedang melihat makhluk rendahan di bawah kakiku.
“Bersiaplah.”
“Bersiap apa?” Suara Vestia terdengar gemetaran.
Kutarik senyum di wajahku, merespon pertanyaannya. “Tentu saja untuk turun. Itu yang kau inginkan, bukan?”
Kuhancurkan kerangka-kerangka es yang menghubungkan lapisan lampu es dengan platform tengah. Setelah tidak terhubung lagi, lampu lilin itu jatuh bersama diriku yang masih berdiri tegak seperti seorang penguasa yang tak kenal takut saat turun dari singgasananya ke medan perang. Aku turun dengan begitu elegannya, hingga sosok para ksatria membeku kagum memandangku dari bawah.
Aku mengarahkan kedua tanganku ke bawah seperti sedang mendorong angin. Begitu mencapai lantai, dorongan kuat suatu energi terpancar dari tanganku yang menyentuh lantai menciptakan dampak jatuh yang lebih besar. Dentuman besar menyebabkan lantai hancur dan dinding kastil bergetar. Tekanan angin kuat terlepas ke sekelilingku dan langsung menghancurkan para patung seperti boneka rapuh. Debu tertiup lenyap. Lampu lilin yang kupijak hancur berkeping-keping bersama patung-patung es yang tertindih di bawah, ikut hancur tak bersisa. Tumpukan kepingan es tajam memenuhi lantai bawah, terdiri dari pecahan armor, pedang, dan anggota tubuh patung.
Retakan merambat dari lantai pijakanku terus merambat ke dinding di depanku, lalu berhenti. Sunyi kembali bersamaan getaran yang sudah berhenti.
Nafas lega keluar dari mulutku. “Untung saja kastil ini tidak ikut hancur.”
Pecahan kecil es tiba-tiba jatuh di topiku. Terdengar bunyi retakan di atasku. Dalam sekejap, Vestia langsung mendarat dan berdiri dengan tegak di sebelahku. Wajahnya menunjukkan keseriusan selayaknya seseorang yang sudah melewati masa terburuk dalam hidupnya. Kulihat platform gantung yang menopang Vestia retak dan pecahannya berjatuhan.
“Sudah tidak takut ketinggian lagi?” tanyaku pada gadis yang sudah tidak menutup matanya lagi.
“Kalau segini saja aku tidak takut. Yang tadi itu hanya spontan saja,” ucapnya berlagak kuat, padahal kakinya gemetaran.
Setelah pertarungan selesai, kami lalu meninggalkan kastil dengan keluar melalui jendela yang sama saat kami masuk. Tidak ada yang bisa kami temukan di antara pecahan-pecahan es yang berkaitan dengan kebangkitan para patung tersebut. Vestia terlihat yang paling kecewa karena lagi-lagi dia gagal mendapatkan petunjuk.
Kami memutari kastil melewati hutan. Terdengar suara derap langkah kaki cepat dan gesekan armor yang kelihatan lebih hidup daripada langkah kaki para patung. Kami bersembunyi di balik semak liar di pinggir jalan setinggi perut. Vestia menggunakan batang pohon besar untuk menutupi tubuhnya. Sementara aku menunduk di semak lebat. Bayangan hutan mengaburkan hawa keberadaan kami. Seorang prajurit berlari tergesa-gesa dari jalan setapak menemui dua prajurit yang menjaga kastil es. Prajurit yang baru muncul itu terlihat panik saat berbicara pada dua penjaga sambil menunjuk ke arah ia datang. Kemudian, dua penjaga langsung meninggalkan posisinya dan berlari mengikuti prajurit tersebut melalui jalan setapak.
Aku dan Vestia saling melempar pandangan. “Patung es di kota!” seru kami berdua.
“Para warga dalam bahaya. Kau, kerahkan tenagamu sekali lagi dan bantu aku. Aku membutuhkan bantuanmu.”
Ia menatap serius kepadaku. Tetapi, tidak tajam dan menyakitkan. Ia dengan tegas memohon padaku. Tidak ada keraguan dalam ucapan dan niatnya. Seperti seorang penegak keadilan yang langsung bergerak ketika melihat seseorang membutuhkan bantuannya.
“Jika kau membantuku, aku akan membantumu juga. Aku kenal orang-orang dari ordo. Aku bisa membantumu mengurus semua surat-surat yang dibutuhkan. Karena itu, kumohon….”
Aku bukan orang jahat. Aku tetap akan pergi ke kota, meskipun kau tidak memberiku apa-apa. Namun justru sekarang aku tahu satu hal tentangnya. Bahwa gadis di depanku yang menatapku dengan mata seriusnya adalah orang yang rela melakukan apapun, termasuk membujukku hanya demi membantu orang-orang yang lemah. Ucapannya memang kasar dan tajam, tapi hatinya sangat baik.
Aku bukan orang jahat. Aku juga akan berusaha semampuku jika ada orang yang benar-benar membutuhkan bantuanku. Dan di depanku sekarang, ada gadis yang sedang membutuhkan bantuanku. Bagaimana bisa kubilang tidak?
“Aku akan membantu.”