
Dunia ini awalnya hanya sebuah butiran debu kecil saja. Seiring berjalannya waktu, butiran-butiran debu lainnya saling berkumpul dan menyatu menjadi butiran debu yang lebih besar. Semakin lama membentuk bola padat hingga ukurannya sudah sangat masif.
Karena sudah menjadi bentuk yang sempurna, debu-debu lain yang tertinggal dan tidak sempat menyatu memilih untuk menjadi bentuk lain. Sebuah keberadaan yang hidup. Keberadaan hidup itu tidak melupakan tujuan mereka saat menjadi debu. Tujuan hidup itu ikut terbawa setelah mereka berevolusi.
Mereka menciptakan dunia mereka masing-masing di dalam satu dunia besar. Ada dunia dimana hanya berisi kebahagiaan, ada yang hanya berisi kesempurnaan pikiran, ada dunia yang ambisius, ada juga dunia yang selalu bersembunyi dari dunia lainnya. Mereka menciptakan dunia berdasarkan ideologi dan mimpi mereka masing-masing. Semua hidup dalam damai di dunia mereka tanpa mengurusi dunia yang lain. Hingga suatu ketika, ada dunia yang memiliki pola pikir sangat maju daripada dunia manapun. Saking majunya, dunia itu terasa sangat asing di mata dunia lainnya.
Salah satu dunia, mengirim seorang mata-mata untuk mengawasi dunia maju tersebut. Sang mata-mata melancarkan tugasnya dengan berpura-pura menjadi bagian dari dunia maju tersebut. Ia menyadari sesuatu yang terasa sangat berbeda saat pertama kali masuk ke dunia tersebut. Sesuatu yang asing, indah, menakjubkan, dan mengerikan. Ia mengumpamakan perasaannya sama seperti ketika bertemu dengan entitas yang lebih tinggi, seorang dewa. Padahal, jauh di dalam pikiran dan hatinya, ia yakin dewa tidak akan berbentuk seperti itu. Ia hanya merasa tunduk, harus tunduk dihadapan dunia tersebut.
Pemimpin dunia maju, menyadari tujuan mata-mata tersebut datang ke dunianya. Sudah menjadi tugas seorang pemimpin untuk menghukum siapa saja yang menentang atau berusaha mencoba merusak kedamaian dunianya. Akan tetapi, sang pemimpin mengurungkan niatnya untuk menghukum sang mata-mata, karena ia tahu bahwa sang mata-mata bukan lagi seorang mata-mata dari dunia asing. Sang mata-mata jatuh tunduk dibawah kuasa dunia maju dan memutuskan untuk menjadi abdi setia dunia tersebut.
Sang mata-mata yang mengkhianati negaranya karena telah melihat sesuatu yang diluar nalarnya. Sebuah rahasia yang tersembunyi di balik dinding tak tertembus. Sebuah senjata maha dahsyat yang menjadi pencipta kiamat seperti yang dikatakan dalam kitab suci.
Sedalam apapun harta karun dikubur, pasti akan selalu ada orang yang berhasil mendapatkannya. Sesuai dengan peribahasa tersebut, rahasia dari dunia yang misterius itu akhirnya terkuak. Kegemparan terjadi tidak hanya pada satu dunia saja, tapi seluruh dunia. Ada dunia yang tidak percaya, ada dunia yang terlalu percaya diri, dan ada dunia yang ketakutan setengah mati setelah mendengar rahasia tersebut. Sementara dunia maju itu untuk merespon kabar yang telah beredar, memutuskan untuk mengumumkannya sendiri.
Dunia itu membuka persembunyiannya. Dunia itu melepaskan tembok pelindung, dan membiarkan cahaya matahari menyinari dunianya setelah sekian lama hidup dalam cahaya buatan. Sang pemimpin berkata melalui sebuah alat yang membuat suaranya dapat didengar hingga ke seluruh dunia.
“Kami adalah dunia maju! Setelah berbagai pertimbangan, kami ingin membenarkan sesuatu tentang kabar yang sudah beredar ini. Itu benar! Kami memiliki senjata seperti yang kalian takutkan. Kami bisa saja menggunakan senjata kami jika kalian berani bermacam-macam dengan dunia kami. Kami hanya ingin dunia kami damai dan menjalani kehidupan tanpa gangguan. Tapi, jika kalian berniat buruk pada kami, kami tidak akan segan untuk menunjukkan kekuatan kami! Kami tidak akan segan untuk menjadi dewa yang membawa kehancuran bagi dunia kalian! Kami harap kalian mengerti.”
Ketakutan di antara dunia semakin menjadi-jadi. Seluruh dunia benar-benar takut terhadap satu dunia. Perlahan ketakutan itu tumbuh menjadi kebencian. Kebencian menjadi amarah. Amarah menjadi tindakan perlawanan. Seluruh dunia bersatu dibawah ketakutan untuk menjatuhkan dunia maju. Mereka juga tak ingin hidup dalam ketakutan. Mereka juga menginginkan kedamaian. Bagi mereka, kedamaian akan didapatkan saat membabat habis akar dari ketakutan mereka.
Perang akhirnya berkecamuk di satu dunia yang awalnya damai sentosa ini. Jutaan tentara manusia menghadapi sebuah kekuatan yang tidak mereka ketahui. Sesuai janji, jika ada yang menganggu, maka pemimpin dunia maju terpaksa harus menunjukkan ketakutan sejati pada mereka.
Di luar tembok tak tertembus, para manusia kecil melihat di atas mereka ada sebuah benda raksasa yang seperti mengumpulkan sinar di salah satu ujungnya. Mereka tidak tahu bahwa cahaya itu bukanlah matahari. Namun, kekuatan setara dewa yang dikatakan mampu menciptakan kiamat itu sendiri. Pada akhirnya, mereka telat menyadari. Sinar raksasa yang lewat telah menghanguskan seluruh pasukan gabungan dalam kedipan mata. Tak ada teriakan, tangisan atau ampunan yang tersisa dari pasukan tersebut. Perang selesai dalam hitungan detik. Semuanya lenyap seperti dilakukan oleh sihir. Akan tetapi, dunia itu tidak akan menganggap itu sihir. Itu adalah ilmu pengetahuan yang merupakan puncak pencapaian otak manusia biasa. Sekarang, menyisakan satu dunia sebagai pemenang, saksi sekaligus penguasa atas seluruh dunia di generasi selanjutnya yang tunduk pada mereka.
Jika yang dihadapanku ini manusia, mungkin aku masih bisa menebak niatnya, tapi kalau mesin itu lain cerita. Sementara dia membuka tangannya lebar-lebar, aku justru menodongkan tongkat sihirku. Aku sendiri tidak yakin. Sementara makhluk atau benda itu sama sekali tidak merespon tindakan waspadaku. Aku rasa ia benar-benar hanya ingin bersalaman. Kuturunkan tongkat sihirku perlahan-lahan. Kemudian menjulurkan tanganku dan menggapai salah satu jari raksasa itu. Jarinya sangat dingin dan besar. Saking besarnya, itu hampir membuat tanganku kesulitan menggenggamnya. Aku lalu berusaha mengayunkan lenganku, meskipun mustahil karena lengan mesin itu tidak terayun sedikitpun.
“Tangan manusia … kecil. Aku suka. Aku mendengar suara dan aku bergegas ke sini. Tak kusangka … yang aku temukan adalah seorang … manusia.”
Suara mekanik yang mirip manusia terdengar darinya. Aku hampir berpikir jika ada manusia di dalam mesin itu. Dilihat bagaimanapun juga, tidak ada lubang atau penutup khusus di tubuhnya. Kemungkinan memang tidak ada siapapun di dalamnya. Mesin itu bergerak dan berbicara dengan sendirinya.
“Sebenarnya apa kau ini?” tanyaku berhati-hati. Aku bangkit dan menempel ke dinding, bersiap-siap mengangkat tongkat sihirku jika terjadi sesuatu.
“Aku adalah Unit Mesin Humanoid Penjaga Khusus … Nomor seri DCC-S. Sebutan untuk manusia adalah … robot atau mesin golem. Tapi, tuanku memanggilku Spelator.”
“Unit Mesin Humanoid—? Aku tidak mengerti, tapi intinya kau adalah mesin hidup, kan?”
“Jika hidup maksudmu adalah bergerak bebas, maka itu benar.”
Aku kehabisan kata-kata. Aku tahu dunia saat ini sudah tidak sekuno dunia pada masa lampau, tapi aku tidak tahu pencapaian dunia sudah sampai di titik ini. Ini begitu mengagumkan, tapi juga mengejutkan di saat yang bersamaan. Apakah seperti ini rasanya saat sang mata-mata melihat rahasia dari dunia maju? Respon seperti apa yang dia berikan saat melihatnya?