Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Pertemuan misterius di tengah hutan



Rasa dingin itu luas; bisa membuatku menggigil, bisa membuatku bosan, bisa membuatku tenang, bisa membuatku nyaman, dan bisa memberiku kehangatan yang berbeda. Rasa dingin itu sensasi yang bisa kuterima positif dan negatifnya sekaligus.


Aku seseorang yang tinggal di negeri dingin. Rasa dingin sudah menjadi seperti oksigen yang selalu kuhirup sepanjang tahun. Itu bisa membuatku bosan tapi sekaligus membuatku merasa hidup. Setiap kali aku membiarkan perasaan dingin merasuki tubuhku, aku selalu merasa getaran dari luar dan dalam. Aku merasa merinding dan nostalgia di saat yang bersamaan, seolah-olah aku adalah bagian dari salju dan es yang sudah menyelimuti tanah selama dunia itu eksis.


Ketika rasa dingin itu sudah menjadi bagian dari tubuhku, bagian dari jiwaku, aku hanya bisa bertanya kapan rasa dingin ini akan bertahan? Apakah harus menunggu hingga sebuah percikan api hangat melelehkanku? Ataukah api itu justru menambah rasa dingin padaku dengan kehadirannya saja? Aku tidak tahu.


Aku terlalu sibuk berendam di kolam es yang baru kutemukan saat menyusuri hutan. Waktunya pas sekali. Aku sudah lama tidak berendam air es semenjak meninggalkan rumah. Rasanya benar-benar menyegarkan saat air dingin ini menyelimuti seluruh tubuhku hingga ke sela-selanya. Serasa seperti lahir kembali. Sesekali kubasuh mukaku dengan air di tanganku.


“Kau bilang dirimu kebal dingin, lalu untuk apa berendam di air yang tak bisa kau rasakan?”


“Kebal dingin, maksudku tahan rasa dingin, bodoh! Bukan berarti aku tak bisa merasakan dingin. Aku tetap bisa merasakannya. Karena itu aku menikmatinya,” balasku.


Aku menyandarkan punggungku pada pinggir kolam selagi ujung kaki hingga leherku tenggelam dalam dinginnya kolam. Berendam di kolam dingin selalu menjadi yang terbaik bagiku, daripada mandi air hangat atau air apapun. Di Tebing Penyihir, selagi aku menunggu ibuku pulang, aku akan menghabiskan waktu dengan berendam di pinggir laut atau mencari kolam es yang terdekat. Awalnya, aku tak bisa bertahan lama-lama, tapi setelah aku sering melakukannya, aku jadi ingin selamanya berendam di air es.


Bukan karena aku lahir dari bongkahan es, tapi karena saat aku berendam di air es, itu membuatku teringat waktuku sendiri yang kuhabiskan untuk menunggu ibu. Dan membuatku teringat saat aku memandangi langit kelabu yang menjatuhkan bulir salju di kulitku, aku terbayangkan betapa kecilnya aku di hadapan luasnya langit yang membentang dari ujung ke ujung.


“Tapi, kau lagi di luar, tahu.” Suara kompas itu terdengar kecil karena kumasukkan dalam tasku, tapi masih terdengar jelas di hutan sunyi ini. Di belakangku persis, kuletakkan tas selempang tak jauh dariku, lalu kutumpuk lagi baju, rok, pakaian dalam, jubah, dan topi runcingku di atasnya sehingga menutupi tas selempang.


“Sekarang kita di dalam hutan yang jauh dari pemukiman. Tidak ada orang yang akan lewat sini. Makanya, aku berani saja berendam di sini. Satu-satunya yang perlu kukhawatirkan adalah kau, kompas! Jangan mengintip, ya.”


“Bagaimana aku bisa mengintip jika yang kulihat hanya warna hitam saja?”


“Berarti kau memang berniat mengintip?” curigaku.


Suara salju terinjak membangkitkan kewaspadaanku. Aku menajamkan mata saat tampak siluet hitam di antara bayang-bayang pohon tak terlalu jauh di depan. Wujudnya tinggi seukuran manusia dengan sesuatu yang runcing di atasnya, bergerak dengan perlahan menuju kesini. Tanganku sudah bersiap-siap memanggil tongkat sihir jika sesuatu berjalan tidak beres.


Perlahan wujud itu semakin jelas di mataku. Seseorang dengan topi runcing seperti milikku. Seperti secercah api yang berkilau di kegelapan, rambut merahnya begitu mencolok. Seorang penyihir muncul di depanku. Aku memutuskan memilih aman dengan diam-diam membuat hilang barang-barangku dengan sihirku.


“Siapa?” tanyaku waspada.


Penyihir itu tak menjawabku. Penyihir itu berdiri di seberang kolam dengan memalingkan mukanya dariku. Aku tersadar dan langsung menarik lututku agar bagian depan tubuhku tertutupi.


Sambil mengamatinya, aku terus menunggunya menjawab pertanyaanku. Tapi, dia diam seperti orang bisu yang merengut.


“Kau tak mau menjawab?”


“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Dia berbalik tanya padaku. Nadanya terdengar tajam dan kasar, seperti orang yang sedang kesal. “Kenapa kau berendam di tempat seperti ini?”


Merasa aku tak melakukan kesalahan satu pun, “Karena aku suka dan kupikir tidak akan ada siapapun yang lewat di tengah hutan ini,” kujawab saja dengan jujur.


Gadis penyihir itu memakai syal berbulu tebal yang melilit penuh lehernya. Dia tampak begitu besar dengan syal dan jubah yang sama tebalnya menutup seluruh tubuhnya hingga ke kakinya. Dia juga memakai sarung tangan. Entah kenapa saat melihatnya secara kesuluruhan aku langsung terpikirkan sebuah lilin hitam karena rambut merah dan jubah hitamnya. Dari cara berpakaiannya, jelas sekali bahwa gadis itu bukan dari sekitar sini. Dia tidak tahan dingin, karena itu dia menggunakan kain tebal untuk menghangatkan tubuhnya.


Apa yang seorang penyihir dari luar datang ke tempat dingin, kosong, dan sepi seperti di sini? Ujung Garis Beku bukan tempat yang layak dikunjungi untuk bersenang-senang karena iklimnya. Kehidupan di sini sangat keras, kecuali memang ingin mencari tantangan. Hutan ini juga bukan tempat yang akan didatangi orang kecuali orang itu tersesat, atau berpikiran sama sepertiku, yaitu menikmati kolam es pribadi.


Ini pertama kalinya aku bertemu penyihir lain di luar sini, apalagi yang seumuran denganku. Ibuku berkata penyihir itu ada banyak jenisnya. Ada yang baik dan ada juga yang jahat. Menunjukan identitas masing-masing ke sesama penyihir itu wajar saja. Tetapi, untuk berjaga-jaga, sebaiknya kurahasiakan diriku yang merupakan seorang penyihir.


“Apa kau sedang tersesat?”


“Bukan urusanmu.” Dia memandangku sinis. Padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya. “Kau manusia bukan hewan. Kusarankan, jangan mandi sembarangan karena pasti ada orang yang memanfaatkan ini demi kepuasan pribadi.” Setelah mengucapkan itu dengan wajah juteknya, dia pergi begitu saja melewatiku ke arah pepohonan di belakangku.


Wangi aromanya bertabur mawar merah dengan sensasi gosong. Semakin jauh dariku, kulihat warna merah itu memudar seperti kobaran api yang sedikit demi sedikit padam karena ditelah oleh kegelapan yang lebih kuat daripada cahayanya. Dia memberiku kesan yang unik. Dia memberiku cahaya unik yang tak hanya hangat tapi juga panas luar dan dalam. Dia seperti api yang bisa memberi kehangatan sekaligus rasa sakit. Kedua matanya cantik dilengkapi corak merah amber memberiku kesan seperti sedang menatap ke dalam api cantik yang sedang menari-nari dengan lincahnya di udara. Tapi, mata itu juga bisa memberikan perasaan yang tak nyaman saat aku semakin menatap ke dalam cahaya merahnya.


Dia cantik dan berbahaya. Ekspresi juteknya yang tidak bersahabat itu seperti penggambaran sesungguhnya dari api. Kata-katanya yang bernada tajam keluar dari lidah api yang bisa melukai siapapun, bahkan termasuk aku.


Kami saling tak menjawab. Dia muncul dan pergi begitu saja. Sementara aku, sibuk berendam dengan tubuh telanjang sambil merahasiakan identitasku sendiri.


Pertemuan kami diibaratkan sebagai kerlipan api yang cahayanya tidak abadi, tapi memberikan kesan singkat dan rasa penasaran. Namun sayangnya, api itu kini lenyap ke dalam kegelapan tak terjangkau, jauh dari cahaya yang sesungguhnya dan belum bertemu secara langsung dengan salju abadi. Dan sekarang, aku hanya bisa merasakan percikan api yang sengatannya membekas di kulitku seperti gigitan semut.