Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Api vs Salju



Tangan kanannya seperti menangkap sesuatu di udara, muncul tongkat sihir di tangannya. Bola api besar tercipta dari ujung tongkatnya dan diluncurkan ke arahku. Aku menepisnya dengan tongkat sihir yang membuat bola api itu terpantul ke arah bongkahan es yang kuciptakan. Bongkahan es hancur bersamaan dengan bola api.


“Jadi itu kau yang menyerangku di luar gerbang!?”


“Ah, itu? Aku hanya ingin mengujimu sekaligus membuatmu mati tak bersisa tanpa diketahui orang lain seolah-olah kau mati tanpa sebab. Tapi, tak kusangka kau berhasil menggagalkannya dengan mudah.”


“Dasar, perempuan gil—" Ia melemparkan bola api lagi padaku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.


“Ya ampun.”


Di ujung tongkat yang kutodong ke depan, aku membuat sebuah lapisan es berbentuk segitiga dengan kerucut yang sangat tajam. Aku menembakan kerucut es yang kubuat sedingin, sepadat, dan setajam mungkin hingga berhasil memotong bola api menjadi dua bagian. Kerucut es terus melesat. Gadis itu melompat ke samping untuk menghindari seranganku.


“Reputasimu sebagai penyihir terjahat memang tak perlu diragukan.”


Kami berdiri berhadapan dengan jarak setidaknya lima meter. Dia di pantai dan aku di dermaga membelakangi menara mercusuar. Pertarungan ini seharusnya tidak perlu dilanjutkan lagi karena semuanya hanyalah kesalah pahaman saja. Hanya saja, gadis berambut merah itu terlalu keras kepala untuk diberitahu kebenarannya. Aku sebenarnya tak mau berakhir bertarung satu sama lain, tapi aku juga tak mau kalah begitu saja dan menjadi korban salah tangkap.


Aku tak tahu seberapa keras kepalanya, sampai-sampai dia memberikan serangan bola api yang sama terus-menerus padaku. Setidaknya sudah delapan bola api yang dia lepaskan. Semuanya berakhir sia-sia.


“Hentikan saja—"


Kini dia memegang tongkat sihirnya dengan kedua tangannya sambil memasang kuda-kuda yang kuat. Cahaya merah terang menyala tidak hanya di tongkatnya tapi di sekelilingnya. Berangsur-angsur dari udara yang kosong, muncul percikan api yang tumbuh dan memanjang. Dia meninggikan suhu di sekitarnya dengan sihir. Lalu, terciptalah kobaran api di udara yang mengalir seperti air. Sejumlah aliran api merambat dengan cepat ke arahku seperti makhluk yang memiliki insting. Apinya menjilat udara dan menambah aliran api lainnya yang semakin banyak. Terhitung ada lima kobaran api di berbagai sudut depanku.


Dari sela-sela selimut salju, kulihat gadis itu menarik kakinya ke belakang, membentuk setengah lingkaran. Gesekan kakinya di pasir pantai yang tak bersalju menciptakan sebuah kobaran api besar. Ia tak berniat untuk berhenti. Ia memutar tongkat sihirnya di kobaran api hingga api tersebut menyatu dan menyelimuti seluruh tongkat sihir menjadi pusaran api. Lalu, dalam sekali tusukan ke depan, kobaran api barusan yang diperkuat dengan sihir dilepaskan menjadi sangat besar bak lautan api yang menerjang ke arahku. Aku langsung merunduk sampai tengkurap untuk menghindari terjangan api. Aku menunggu api itu lewat sambil menarik topiku agar tidak terbakar. Api membakar dan melelehkan es di mercusuar hingga mencair kembali ke lautan—selimut saljuku pun jelas tak mampu menahannya.


Aku terlalu meremehkannya karena otaknya yang bodoh dan serangan bola api monotonnya. Gadis itu bukan sembarang penyihir. Dia memahami betul teknik sihirnya dan memanfaatkanya untuk mencapai potensi terbesarnya.


Lautan api yang membentang di atasku sudah lenyap, aku langsung bangun. Tiba-tiba, tongkat sihirku terlepas dari tanganku. Terbang menjauh lalu ditangkap oleh tangan yang bersarung tangan tebal. Penyihir itu mengambil tongkat sihirku agar aku tak bisa berkutik.


“Dengan begini, kau sudah kalah. Menyerahlah!” Ia menyimpan tongkat sihirku di dalam jubah tebalnya.


“Menyerah?” Seringaiku keluar dengan sendirinya. “Ibuku tidak pernah mengajariku menyerah.” Aku memenuhi paru-paruku dengan udara—meskipun ada sedikit aroma gosong—sambil menekan kaki kananku ke belakang sekuat mungkin. “Asalkan kau tahu, Nona Investigator, seorang penyihir sejati tidak akan pernah menyerah.”


Kukumpulkan energi sihir di kedua telapak tangan dan kaki kananku. Setelah terasa penuh, kudorong kaki kananku yang sudah diperkuat dengan sihir, memberikan lompatan yang kuat sehingga aku melesat sangat cepat di depan gadis itu. Sudah pasti ia terkejut, sampai ia hampir jatuh kehilangan keseimbangannya. Tapi sebelum itu, dengan kedua tanganku yang dipenuhi kumpulan angin, aku mengarahkannya ke perut gadis itu. Saat kulepaskan energi yang sudah tertahan, angin kencang langsung bergejolak menciptakan dorongan kuat yang melempar gadis itu jauh tinggi di langit melebih tinggi menara mercusuar.


Teriakan ketakutannya merambat di langit bagai burung yang memekik keras karena kehilangan sayapnya. “Ups, sepertinya aku berlebihan.”


Ketika sudah mencapai puncaknya, gadis itu melambat, lalu perlahan turun dan langsung terjun bebas seperti ditarik oleh energi yang sangat kuat dari bawah. Gadis yang sebelumnya hanya bisa berwajah tajam dan bernada kasar sekarang berteriak ketakutan setengah mati ketika di langit sana dia tidak bisa apa-apa selain jatuh. Jubahnya terbuka dan tertiup ke atas, topinya sudah lepas dari kepalanya


Aku merasa ada yang aneh saat melihat gadis itu terus jatuh ke bawah. Baru aku tersadar, dia tidak memanggil sapu terbangnya. Aku ikut panik. Jika aku tidak menyelamatkannya, dia pasti akan menghantam tanah dan mati, begitu pikirku. Aku juga tak ingin menjadi pembunuh seorang penegak hukum.