
“Suatu ketika, tuanku … mendapatkan sinyal frekuensi dari perangkat pelacaknya. Segera diketahui, bahwa sinyal itu … berasal dari Inti Suci Tetrahedron. Inti Suci Tetrahedron … adalah perangkat penyimpanan canggih yang terdiri dari sistem jaringan luar biasa kompleks … dan dapat aktif tanpa menggunakan sumber daya apapun, karena perangkat itu sendiri yang merupakan sumber dayanya. Di dalamnya terdiri dari jutaan komponen berukuran kecil hingga mikro. Membutuhkan waktu … ratusan tahun untuk menciptakannya. Perangkat tersebut hanya satu-satunya. Tuanku mengatakan … bahwa orang-orang pintar di negeri menciptakan perangkat yang mampu memberikan sumber energi tak terbatas dan memiliki kapasitas menyimpan data yang tak terhingga. Perangkat itu … dulunya dipasang di puncak menara tertinggi. Inti … suci juga dapat memancarkan cahaya yang sangat … terang sehingga tampak seperti … matahari buatan saat dipasang di menara tertinggi. Perangkat itulah … yang menjadi simbol dari percikan ilahi.
“Inti Suci Tetrahedron memancarkan semacam gelombang frekuensi sangat rendah yang berhasil ditangkap … tuanku dengan alatnya. Karena Inti … Suci Tetrahedron tidak akan pernah mati, tuanku merasa optimis saat … mendapatkan sinyalnya. Tapi, meskipun kami berhasil menemukan lokasi dari inti suci, kami tidak bisa mengambilnya … dan membawanya pulang. Sudah berbagai macam … cara kami lakukan termasuk menghancurkan … dinding es. Cara itu … sangat beresiko tinggi menghancurkan kami semua … termasuk inti suci. Kami akhirnya … tidak melanjutkannya. Tuanku dan aku … akhirnya terjebak di sini bersama kebuntuan untuk membawa inti sucinya. Dan seperti yang Niva tahu, tuanku … meninggal setelah dua bulan lamanya terjebak dan kehabisan pasokan makanan. Padahal, inti suci … sudah ada di depan mata kami, tapi kami … tidak berhasil mendapatkannya. Misi kami berakhir … gagal, seperti keturunan lainnya yang sudah menyerah dan menjalani hidup.”
“Tunggu sebentar!” Aku tersontak hampir lompat saat Aeron tiba-tiba bersuara. Aku terlalu fokus pada cerita negara maju dan inti suci ini hingga aku lupa tentang keberadaan Aeron. Segera, aku mengeluarkan Aeron dari saku rokku. “Kau bilang ada sebuah negeri maju yang telah hancur ratusan tahun yang lalu?”
“Siapa … yang berbicara?” Spelator berjalan ke arahku dengan langkah yang agak cepat. Kurasa ia juga terkejut sepertiku. “Aku mendengar suara manusia, tapi aku … tak bisa melihat wujudnya.”
Aku lalu mengangkat kompas setinggi kepala Spelator. “Aku yang berbicara. Aku kompas. Namaku Aeron.”
“Sebuah kompas ... yang bisa berbicara. Ini … teknologi yang belum … kulihat. Apakah kau juga … memakai sistem pengolah suara yang sama se … sepertiku? Siapa … yang menciptakanmu?”
“Tidak. Aku bukan mesin sepertimu. Aku memang bisa berbicara karena sihir yang membuatku seperti ini,” balas Aeron sekaligus menjelaskan.
“Sihir adalah … tipuan. Tidak ada ilmu yang dikategorikan sebagai … sihir. Kompas sejatinya juga adalah mesin. Mesin … yang lebih sederhana untuk menentukan suatu arah.”
“Dia benar, Spelator. Tidak ada teknologi sepertimu di kompas ini. Dia bisa berbicara karena sihir. Aku tahu itu karena aku juga seorang penyihir. Aku bisa melakukan sihir,” tambahku meyakinkan Spelator.
“Niva seorang penyihir? Aku … tidak percaya itu. Aku tidak percaya sihir. Tuanku juga. Kami semua tidak percaya yang namanya … sihir. Semua fenomena di dunia ini dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Semua fenomena di dunia terjadi secara alami. Sihir … hanyalah istilah untuk menggambarkan ketakutan orang-orang pada hal yang tidak diketahui. Jadi, kompas itu bukan sihir … itu adalah teknologi umum yang dapat diciptakan dengan pengetahuan manusia."
“Tapi, kau sendiri bilang, negerimu hancur karena sihir, kan?”
“Seperti yang kubilang, sihir hanyalah kata yang digunakan jika suatu fenomena belum dapat dijelaskan. Bangsa yang menyerang negeri kami bukan memakai sihir, tapi memakai ilmu pengetahuan baru yang kami tidak ketahui,” ucap Spelator kekeh. Keras kepala sesuai dengan kepalanya yang memang logam keras.
Sebagai seorang penyihir dan putri dari seorang penyihir terkuat, aku merasa tersinggung. Aku bisa memakluminya, karena mungkin negeri tersebut sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Memilih untuk tidak menjawab dan meneruskan bukan berarti aku mengakui sihir tidak ada, tapi aku hanya membiarkan Spelator tetap percaya dengan apa yang sudah diajarkan oleh tuannya.
“Lupakan itu sejenak, tapi ada yang ingin kutanyakan padamu. Apakah negerimu itu bernama Wisendier?” tanya Aeron.
Buru-buru aku langsung menarik dan menatap Aeron di depan mukaku yang merengut tak percaya. “Apa kau sungguh tahu?”
“Kau tahu. Apa kau … juga peninggalan dari negeri?” Spelator tidak membantah yang berarti nama tersebut benar.
“Tidak. Aku hanya memikirkannya cukup lama dari tadi dan akhirnya berhasil mengingatnya kembali. Sebenarnya, pemilikku sebelum Niva adalah seorang pemburu artefak atau harta karun dan semacamnya. Karena kemampuanku untuk menunjukkan suatu hal yang diinginkan, tentunya aku menjadi benda paling berharta baginya. Dia membawaku keliling dunia untuk mencari benda-benda peninggalan bersejarah yang tersebar. Dan mimpinya adalah mencari sisa-sisa dari peradaban maju bernama Wisendier. Sayangnya, dia tidak berhasil melakukannya. Dia diserang oleh bandit dan menyembunyikanku di tumpukan salju agar para bandit tidak mencurinya. Kemudian, disitulah Niva muncul dan menemukanku,” jelas Aeron. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu tentang negerimu, tuan robot. Mungkin dia menemukan dan menculik salah satu keturunan, lalu menginterogasinya untuk mendapatkan informasi. Aku hanya ingin memastikan apakah benar ini adalah negeri yang diimpikan pemilikku sebelumnya atau bukan. Jika benar, maka itu berarti aku berhasil mewujudkan mimpinya walaupun tidak bersamanya.”
Sungguh aku tidak tahu cerita itu. Memang benar Aeron jarang membicarakan masa lalunya padaku. Dia terus mengejekku dan berkata kasar padaku. Ketika dia berbicara terbuka seperti ini, dia seperti sosok kompas yang berbeda. Ini seperti aku sedang membaca novel horor tiba-tiba berubah drastis menjadi romansa di halaman selanjutnya. Aku benar-benar tidak tahu bahwa dia memiliki sisi lembut seperti ini. Kini, di mataku dia terlihat lebih manusiawi dari sebelumnya.
Cahaya dari inti Spelator lebih redup dari sebelumnya. Tanganku yang kuletakkan di atas lututku menjadi cerah karena cahaya tersebut, sementara wajahku yang dibayangi topiku gelap seperti langit mendung. Aku duduk menekuk lutut dan bersandar pada dinding gua. Sambil mendengarkan percakapan Aeron dan Spelator, aku memainkan jari-jariku di atas lututku. Di sebelahku, mesin itu duduk selayaknya manusia, kedua kaki besarnya diselonjorkan ke depan seolah dia sedang meregangkan otot-ototnya. Lucu rasanya melihat bagaimana mesin itu meniru gaya duduk manusia.
“Bagaimana denganmu?”
“Eh ….” Aku baru sadar kalau aku sedang melamun. Aku kebingungan saat Aeron bertanya padaku. “Bagaimana apanya?” tanyaku seperti orang lupa ingatan.
“Aku dan Aeron sedang … membahas warna favorit. Warna favoritku sama seperti warna favorit … tuanku, yaitu merah. Warna … favorit Aeron adalah cokelat,” jelas Spelator. “Warna favorit Niva … apa?”
Tak kusangka pembicaraan berat sebelumnya berubah drastis menjadi pembicaraan sepele dengan cepat. “Aku biru,” jawabku, tak ingin mengecewakan pertanyaan mereka.
“Bagaimana dengan … makanan favorit?” Spelator menambahkan pertanyaan ringan lainnya.
Aku menengadah sambil mengetukkan jari telunjukku pada bibirku. “Mungkin … sup krim jamur buatan Ibuku.”
“Itu bukan pertanyaan untukku.” Nada Aeron terdengar kesal. “Lagipula, kau kan juga mesin, kenapa membahas tentang makanan?” Aeron bertanya dengan heran ke Spelator.
“Makanan favorit tuanku juga makanan favoritku. Tuanku … menyukai kue cokelat yang dilapisi madu. Kata tuanku, tidak ada … makanan manis manapun yang bisa menandingi rasa manisnya.”
Spelator begitu menyayangi tuannya dan mengingat semua yang tuannya ucapkan. Sama sepertiku yang mengagumi ibuku, Spelator juga menganggap tuannya adalah sosok yang luar biasa di matanya. Aku jadi semakin penasaran dengan sosok tuannya.
“Kau sangat menyukai tuanmu, ya. Kau mengingat tiap ucapannya, kau meniru kesukaannya, dan bahkan sekarang kau masih tidak pergi jauh dari tuanmu. Bisakah kau menjelaskan pada kami seperti apa tuanmu? Kami ingin mengenalnya lebih dekat.”
“Kalian pasti … akan menyukainya. Tuanku … adalah orang yang sangat baik. Dia tidak membenci bangsa … yang telah menghancurkan negerinya. Dia menganggap semua sama, termasuk … aku. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan sangat besar. Begitu juga mimpinya. Tuanku ingin membangun kembali … negeri yang bisa menyatukan semuanya, menjadi teman dan saling berbagi … kasih. Aku menyukai tuanku karena dia memberiku banyak hal baru selama perjalanan menyelesaikan misi. Percakapan … seperti ini yang diinginkan tuanku. Ketika kita saling berbincang dan … bertanya, itu menyenangkan. Walaupun aku dan tuanku ada … setelah Wisendier hancur dan tidak pernah melihat seperti apa bentukannya secara langsung, tapi kami membayangkan … seperti inilah suasana di negeri tersebut. Penuh … tawa dan kehangatan.”
“Apa kau ingin melihat negeri itu?” tanyaku.
“Tentu saja. Itu impianku … dan tuanku.”
“Kalau begitu ….” Kuambil tongkat sihir dari tasku, lalu kuketuk udara. Ujung tongkat sihir menyala seperti perut kunang-kunang. Setelahnya, pecahan dan butiran es melayang di udara. Ranting-ranting, batu, dan dedauan yang ikut terjatuh bersamaku dan kusimpan dalam tas berurutan melayang seperti baris-berbaris, lalu berkumpul bersama di depanku. “Aku akan memperlihatkanmu sebuah pertunjukan.”
“Apa yang … sebenarnya terjadi ini? Niva … apa yang sedang kau … lakukan?” Aku bisa merasakan kalau mesin itu sedang terkejut.
Aku membuat senyum tipis di wajahku. “Inilah yang dinamakan sihir.”
“Sihir? Tidak … mungkin! Sihir itu tidak ada!"
“Tak perlu dipikirkan. Anggap saja aku sedang melakukan sebuah pertunjukan seni di panggung. Duduklah dengan tenang dan selamat menikmati.”