Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Kota di ujung dunia



Padahal, beberapa saat yang lalu, aku sempat berpikir jika perjalananku akan menjadi jauh lebih buruk lagi. Tetapi, kenyataannya tidak. Aku bertemu dengan teman pertamaku, namanya Edras. Meskipun kita baru pertama kali bertemu, tapi dia sangat baik padaku. Dalam semalam, kita sudah menjadi sangat dekat.


Kami banyak bercengkerama selama perjalanan yang gelap ini. Ia bercerita kalau dirinya sering menjual dagangannya di kota-kota. Dagangan yang ia jual biasanya berupa buah-buahan, kayu, atau kulit hewan. Kadang ia juga mengantarkan obat-obatan dan barang kebutuhan lainnya. Kebetulan lelaki itu ingin pergi ke kota, jadi dia menawariku sebuah tumpangan.


Aku juga menceritakan padanya bagaimana aku ditemukan ibu di dalam es, bagaimana aku dirawatnya, bagaimana aku tak kan pernah bisa merasakan sentuhan ibu, dan bagaimana aku merasakan betapa sendiriannya aku di tebing itu.


Ia lalu tertawa saat aku menceritakan betapa susahnya aku mengalahkan ibuku dalam latihan rutinku. “Jadi, jika ibumu tak mengganti latihanmu dengan melempar batu, kamu tak akan bisa menang seumur hidup. Dengan kata lain, kamu tak akan pernah bisa mewujudkan mimpimu, begitu?” ia masih tertawa.


“Tolong jangan tertawa. Aku tak suka kemenangan seperti itu,” gerutuku.


“Lihat sisi baiknya, sekarang mimpimu bisa jadi kenyataan, bukan,” ucapan lelaki itu benar. Suka atau tidak, aku sekarang sudah jauh dari rumah.


Pembicaraan panjang ini membuatku mengantuk. Ia menyadariku yang mulai menguap dan menyuruhku untuk tidur di dalam kereta yang berisi kotak-kotak dagangannya. Katanya, di dalam cukup hangat dan ada cukup ruangan untukku menjulurkan kaki.


Tentu saja aku tak bisa menolaknya, mataku sudah sangat berat seperti ditarik oleh gravitasi itu sendiri. Aku lalu beranjak ke dalam kereta. Kotak-kotak kayu yang tampaknya cukup berat itu tersusun di sisi sebelah kanan kereta, sementara sisi kirinya cukup kosong. Aku membaringkan tubuhku dan meringkuk.


Aku menggunakan lenganku sebagai pengganti bantal. Kereta ini juga tak seempuk kasur nyamanku. Tapi, aku tak begitu mempedulikannya, aku sekarang benar-benar sangat mengantuk sekali. Aku juga tak perlu khawatir dengan Edras, ia lelaki yang baik, jadi aku bisa tidur dengan tenang. Satu-satunya yang perlu kukhawatirkan adalah guncangan-guncangan ini yang bergemuruh seperti ombak.


Disinilah aku. Terbangun dengan sekujur tubuh sakit di sebuah kereta dagang milik seorang pemuda desa. Pagi hari menyapaku dengan sejuk. Hutan semakin menipis di kedua sisi jalan. Aku bahkan melupakan semua mimpi panjangku saat kulihat sebuah kota berdiri di ujung dunia.


“Selamat pagi, Niva,” sapa lelaki itu yang masih tak banyak berubah semenjak kutinggal tidur. Lelaki itu hebat, bisa menahan rasa kantuknya sepanjang malam dan terus membawa kami hingga sampai di tujuan.


“Jadi, itu yang namanya kota?” aku tercengang melihat kota itu untuk pertama kalinya.


“Tepat. Kita sudah sampai di Kota Pondorian.”


Lelaki itu membawa kami tepat di depan gerbang. Di sebuah rumah jaga, seorang pria dengan memakai zirah lengkap menghentikan kami. Tampaknya pria itu adalah penjaga yang bertugas menginspeksi orang-orang yang keluar-masuk.


“Tunggu disini, aku hanya harus berbicara ke penjaga sebentar,” kata Edras padaku. Ia turun lalu menghampiri penjaga itu. Saat penjaga itu melirik ke arahku, Edras berkata, “Gadis ini bersamaku.” Setelahnya, kulihat Edras menyerahkan sebuah kantung kecil ke penjaga itu.


Aku bertanya-tanya, apa yang sedang mereka lakukan? Apakah itu cara yang harus dilakukan untuk masuk ke kota? Kurasa kantung itu berisikan sejumlah Pengrium. Jadi, apakah kita harus membayar untuk masuk sebuah kota?


Edras lalu kembali tak lama setelah ia menyerahkan sekantung Pengrium nya. Penjaga di depan menyingkir lalu menyilahkan kami masuk.


“Hei, apa tadi itu cara untuk masuk ke sebuah kota?” tanyaku penasaran.


“Ya, semacam itu,” jawab lelaki itu ringan.


Akan kuingat-ingat tip yang penting itu. Aku sebelumnya tidak memikirkan bagaimana caraku masuk ke tiap-tiap kota yang akan kukunjungi. Aku tak mau menjadi pengelana yang linglung dan tidak tahu apa-apa. Sebuah informasi kecil akan sangat berguna untuk nantinya.


Aku terkagum-kagum saat mulai memasuki kota. Kulihat orang-orang berjalan kian-kemari, kuda-kuda menarik sebuah kereta, dan bangunan-bangunan yang tampak lebih besar dari rumahku tersususn rapi.


“Apa semua itu rumah warga?” tunjukku ke bangunan besar itu.


“Tidak semua, ada berbagai macam toko, ada penginapan, banyak.”


Aku hanya menganggut-nganggut sembari memuaskan kedua mataku dengan mengamati kota kecil itu.


Jalanan di kota itu tampak lebar, cukup untuk dilewati 2-4 kereta kuda. Lampu jalan menghiasi sepanjang sisi jalanan. Lampu itu menggunakan sejenis batuan, jika aku tidak salah, itu adalah bijih Ausor. Batuan yang memancarkan cahaya seperti bintang. Tidak seperti lilin, lampu yang menggunakan Ausor lebih praktis dalam hal penggunaan tapi mahal. Dari buku yang kubaca, bijih Ausor banyak ditemukan di gua-gua dan tambang gunung di Benua Livadia.


“Baiklah, aku harus membereskan barang daganganku dulu. Puaskan dirimu untuk mengelilingi kota, jika sudah puas, temui aku di penginapan ini dan kita akan melanjutkan perjalanan.”


Lelaki itu menurunkanku di pinggir jalan, tepat di sebelah sebuah penginapan dengan papan bergambar kuda yang tertidur. Aku melambaikan tangan saat lelaki itu memacu kudanya pergi.


Aku berdebar-debar memikirkan bagaimana harus memulainya ini. Apakah mengelilingi semua sudut kota? Apakah aku harus memasuki semua bangunan disini? Aku berpikir keras dan akhirnya memutuskan, aku akan memesan kamar untuk menginap terlebih dahulu.


Aku memasuki penginapan itu dan langsung menuju ke arah seorang wanita muda yang tampaknya pemilik penginapan itu. Aku berpikir begitu, karena ia langsung tersenyum padaku begitu aku masuk. Penginapan ini cukup hangat dengan dekorasi yang tidak terlalu ramai. Ada sejumlah bunga tiruan di setiap sudut ruangan, lalu ada lukisan-lukisan dan sebuah papan yang aku tidak ketahui untuk apa.


Edras bilang jika ia akan menungguku di penginapan ini. Jadi, tak ada salahnya jika aku yang akan membayar kamar sebagai rasa terima kasihku, bukan?


“Kalau begitu, apa ada kamar untuk 2 orang?” tanyaku.


“Apa dengan suami nona? Jika iya, ada kamar khusus untuk pasangan suami istri.”


“Oh, bukan!” aku langsung menyergahnya. “Kami bukan suami istri, kami hanya berteman saja,” jawabku malu. Bisa kurasakan pipiku memerah.


“Sesuai dengan peraturan kami disini, kami tidak memperbolehkan yang bukan pasangan secara sah untuk satu kamar.”


“Kalau begitu, 2 kamar, tolong.”


Kenapa aku malah ingin sekamar dengannya? Aku terlalu bersemangat menjawab segala pertanyaan. Tentu saja hal itu tak diperbolehkan, hubungan kami tidak sedekat itu. Aku sudah tahu hubungan semacam itu dari penjelasan buku dan ibu.


Wanita itu lalu mengantarku menaiki tangga, menuju ke kamar yang tersedia. Kamar itu lebih kecil dari kamarku di rumah. Ada satu kasur, kursi dan meja, lemari, juga kamar mandi. Aku tidak berharap banyak, karena harganya cukup terjangkau. Ada sebuah kasur saja sudah sangat cukup bagiku.


“Kamar satunya tepat berada di depan kamar nona, ini kuncinya,” ia menyerahkan sebuah kunci padaku. “Jika ada yang nona perlukan, saya ada dibawah.”


“Terima kasih.”


Segera setelah wanita itu pergi, aku melemparkan topiku di kursi, begitu juga tubuhku di kasur. Ini kasur pertamaku di tempat selain rumah. Tubuhku sangat menikmati setiap kelembutan dan sensasi yang familiar itu. Aku bisa saja tertidur lagi, karena tidurku di kereta masih kurang puas.


Aku teringat sesuatu setelah kuselesai mandi. Aku memikirkan bagaimana Edras tahu, jika aku membayar sebuah kamar untuknya. Lelaki itu bisa saja menyewa kamar lagi, saat aku pergi berkeliling. Jadi, aku memutuskan untuk menunggunya pulang. Lalu, akan kuajak dia untuk berkeliling kota bersama.


Detik berganti detik, menit berganti menit, dan jam berganti jam. Aku melihat dari jendela kamarku yang ada di lantai dua, menunggu lelaki itu dengan sabar. Sesekali, aku celingak-celinguk di luar, menanti kedatangannya.


Kuhabiskan waktuku dengan membongkar semua isi tasku untuk memeriksa ulang, lalu kuletakkan lagi. Dan saat itulah, aku tak sengaja melihatnya masuk ke penginapan dari jendela. Aku langsung berlari menuruni anak tangga.


“Kamu kembali!” seruku dengan senang seolah-olah aku menyapa ibu.


“Hei, bagaimana? Sudah puas berkelilingnya?”


“Sebenarnya, aku belum berjalan-jalan di kota.” Aku lalu meraih tangannya dan menariknya ke lantai atas. Tak lupa kuberikan juga kunci pintunya. “Ini kamarmu. Aku yang membayarnya sebagai ucapan terima kasihku.”


“Tak perlu repot-repot, tapi terima kasih.”


“Hei, bagaimana kalau kita berkeliling kota bersama?” ajakku tanpa basa-basi.


Kulihat wajah lelaki itu senang, tapi dengan cepat berganti muram. “Maaf, bukan berarti aku tak mau, hanya saja aku sibuk malam ini. Aku masih harus merawat kereta kudaku di istal.”


“Kalau begitu besok saja!”


“Jangan menungguku, Niva. Jika aku tak bisa, kamu masih bisa melakukannya sendiri. Mimpimu ingin melihat dunia, bukan? Jadi, aku tak ingin mimpimu sirna gara-gara aku.”


“Baiklah … tapi, kita masih bisa berkeliling dunia bersama kan?”


“Apa? Tidak, aku tak bisa. Aku hanya mengatakan akan memberi tumpangan ke tujuanmu selanjutnya, ingat? Kita hanya berhenti disini untuk sementara saja.”


Ia benar. Aku yang terlalu berharap banyak padanya. Ini mimpiku sendiri dan ini jalan yang kuambil sendiri. Aku tak bisa melibatkan orang lain dalam perjalanan. Sama seperti kata ibu, aku tak bisa selalu bergantung pada orang lain, aku harus bisa sendiri.


Lelaki itu mendekatiku dan menepuk kepalaku. “Jangan bersedih. Jika kamu bahagia, aku pun juga merasa bahagia. Bersenang-senanglah!”


Sekarang aku tahu, Edras seperti ibuku. Ia ramah dan lembut. Kata-kata yang keluar dari bibirnya selalu membuatku nyaman. Sikapnya lah yang membuatku selalu merasa ingin bersamanya. Karena itu, aku merasa familiar dengan perasaan ini. Aku merasa tak sabar saat menunggunya pulang seperti menunggu ibu, dan menyapanya saat kembali. Tapi, perasaan familiar ini, suatu saat nanti akan menghambatku jika aku tak segera melepaskannya.


“Kamu juga, semangatlah!”