Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Sihir dan Mesin



Dalam sekali ayunan pendek, semua benda-benda bergerak secara tiba-tiba, membuat bentuk dan mempersiapkan posisi seolah mendapatkan perintah langsung dariku sebagai seorang sutradara. Dari benda yang awalnya hanya merupakan sisa-sisa tak penting menjadi suatu tampilan, objek dan karakter yang indah dibalut dengan serbuk cahaya biru dari sihirku. Serbuk cahaya itu membentuk seperti sebuah latar belakang sebuah panggung yang berkilauan.


Aku berdeham, membenarkan suaraku, lalu dengan suara yang tegas, jelas tapi juga lembut aku berkata, “Pada suatu ketika, ada seorang gadis yang tak menemukan tempatnya di dunia ini.” Sebuah cahaya dari atas menyorot ke panggung. Sebuah gadis kecil berambut seputih salju (memang kubuat dari salju) sedang meringkuk dan menangis di tengah hutan. “Betapa malangnya gadis itu. Sendirian di tengah hutan, di tengah bahaya yang mengintai, dan tak tahu harus melakukan apa. Di tengah kesedihannya, dia mengharapkan seseorang muncul dan membawanya ke sebuah surga yang luas dan penuh akan warna.”


Sejenak, aku berhenti dan melirik ke Spelator. Sambil menatap ke pertunjukan, mesin itu terdiam, hanya terdengar bagian dalam mesinnya yang sedang bekerja, dan tak menanyakan soal sihirku, seolah ia sedang menikmati alur ceritanya sebagaimana mestinya penonton. Aku bisa lega dan melanjutkan kembali.


“Kemudian, di malam yang berbadai, sosok besar dengan tubuh berat muncul di hadapannya. Sebuah mesin robot dengan besar seperti gajah dan tinggi seperti pohon. Robot itu menggunakan tubuh besarnya untuk melindungi sang gadis dari badai. Mesin di dalam robot itu membuat suhu tubuh sang gadis tetap hangat.”


Dari sisi lain panggung, aku melayangkan sejumlah batu yang disusun untuk menjadi seperti bentuk mesin raksasa. Kugerakkan figur mesin itu dan kubuat memeluk figur gadis, selagi butiran-butiran es kecil berjatuhan dari atas. Tak lama kemudian, butiran-butiran es yang menggambarkan badai sudah reda. Figur mesin melepaskan pelukannya dan menyalami sang gadis.


“Setelah berkenalan, sang robot merasa kasihan pada nasib gadis itu dan mengajaknya pergi ke negerinya. Di negerti itu, sang robot percaya jika sang gadis akan menemukan tempatnya yang sesungguhnya. Sang gadis setuju dan ikut pergi bersama sang robot.”


Karena tubuh sang gadis begitu mungil dan sang robot begitu besar, sang robot memberikan tangannya sebagai tumpangan untuk gadis tersebut. Perjalanan menuju negeri sang robot akan sangat panjang dan melelahkan. Tubuh sang gadis lemah sementara sang robot tidak. Dengan memberikan tumpangan, gadis tersebut tidak akan kelelahan.


“Setelah perjalanan yang cukup panjang, sampailah mereka di sebuah negeri dengan tembok raksasa lebih tinggi berkali-kali lipat dari sang robot. Setelah melewati temboknya, sang gadis terkagum saat melihat bangunan-bangunan tinggi, warna-warni bunga yang rimbun di tiap sudutnya, para warga kota dan robot-robot baik yang saling bahu-membahu. Warna-warni itu seperti menggambarkan beragam perasaan gadis yang campur aduk saat ini. Matanya memancarkan cahaya kebahagiaan tapi juga meneteskan air mata kesedihan. Dia bersedih karena melihat negeri tersebut sebagai surga impiannya. Kemudian, para warga menyambut sang gadis dengan senyuman yang sangat hangat bagai cahaya mentari yang sudah lama ia tidak rasakan. Langit yang ditopang oleh bangunan-bangunan tinggi menjadi cerah untuk ikut menyambu sang gadis, lalu ada pelangi beraneka warna, balon-balon yang diterbangkan ke udara, dan burung-burung putih yang beterbangan di langit. Gadis itu merasakan sebuah tempat yang sebenarnya ada di dalam hatinya yang kosong. Karena sekarang hatinya telah diisi oleh sukacita, dia tidak akan pernah menangis dan merasa sendiri lagi. Tamat.”


Tidak ada respon atau pun tepuk tangan yang mengakhiri kisahku. Spelator masih diam seperti sebelumnya. Meskipun cerita sudah berakhir, tapi aneh rasanya jika tidak ada yang membicarakannya. Aku menengok, berusaha menebak apa yang ada di dalam pikiran mesin itu saat ini.


“Jadi … itukah yang dinamakan sihir?”


Aku tersenyum. “Benar. Itu sihir.”


“Sihir itu indah, ya.”


Aku kembali beralih dan memandangi sebuah ilustrasi yang melayang di depanku. Sebuah negeri dari bahan-bahan receh, yang bertabur kilau debu es, dan dipercantik dengan cahaya sihirku menghidupkan negeri tersebut seperti aslinya. Ada orang-orang yang berkeliaran di jalanan, langit yang ramai dengan robot terbang dan burung-burung, serta paduan warna yang saling mengisi kekosongan. Pertunjukan berakhir dengan ditandai sebuah tirai yang ditutup. Debu salju tebal turun dari langit dan menutup seluruh sudut pertunjukan hingga akhirnya lepas dari pandangan penonton, kembali menjadi barang recehan yang tak berarti saja.


“Apakah negeri itu Wisendier?”


“Benar,” anggukku agar ia melihatnya seperti itu. “Aku membuatnya berdasarkan penjelasan tuanmu.”


“Walaupun Niva … sudah menunjukkannya padaku, aku masih tidak mengerti. Ilmu pengetahuan … tidak pernah bisa sejalan dengan sihir. Selalu menimbulkan perselisihan … dan kekacauan. Seperti minyak … dan air. Sekarang semuanya jelas, negeri kami … hancur karena kami menolak … percaya sihir dan meremehkannya, dan bangsa yang menggunakan ilmu sihir … tidak senang hingga berujung benci dengan teknologi kami. Aku tidak pernah paham … dengan sihir dan Niva juga tidak … pernah paham akan teknologi. Selalu seperti itu. Hingga kini-”


“Kau salah. Dunia sekarang, sihir dan teknologi ada dalam garis yang sama. Kedua hal tersebut menjadi pegangan bagi seluruh manusia untuk semakin berkembang. Sama seperti negerimu, robot dan manusia bisa saling bekerja sama, sihir dan teknologi juga hidup berdampingan. Itu ada di dunia nyata, dan karena itu juga aku melakukan perjalanan.”


“Niva sedang melakukan perjalanan?”


Aku mengangguk lagi. “Aku tinggal di bagian paling ujung dan paling dingin sebuah benua. Di tempat terpencil dan terisolasi seperti itu, aku selalu membayangkan seperti apa rupa dunia luar. Apakah indah? Apakah luar biasa? Mengerikan? Jelek? Atau ternyata biasa saja dan tidak ada apa-apa di luar sana? Ketika aku memikirkannya, dadaku selalu berdebar-debar dan memompa rasa semangat yang berusaha untuk membawaku keluar dari sini. Melihat dan merasakan langsung seperti apa rupa dunia, meskipun tidak sesuai ekspetasimu, bukankah itu menyenangkan?”


Aku menyadari suatu kesamaan diriku dengan mesin itu. Aku memiliki seorang ibu—tidak berhubungan darah, dan Spelator memiliki seorang tuan yang sekaligus manusia penciptanya. Ibuku berkata padaku jika dia memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya, sebuah misi menemukan “Ujung Dunia” untuk dirinya sendiri. Tuannya Spelator juga seperti itu, memiliki misi suci demi negerinya. Namun, suatu keadaan membuat mereka berhenti melanjutkan misi tersebut. Disitulah aku dan Spelator ada untuk mewarisi tekad tersebut. Secara kebetulan, kami dipertemukan di tempat yang sama.


“Melihat … dan merasakan langsung seperti apa rupa dunia? Jadi, itukah … mimpi Niva? Aku tidak mengerti … pe … perasaan manusia, tapi yang aku … me … mengerti bahwa … ma … manusia tidak akan pernah menyerah jika … su … sudah menemukan mimpi mereka.”


Aku sudah berpikir. Tidak ada salahnya menambah teman bicara baru selama perjalanan. Jika ada satu orang lagi yang menemani perjalananku, aku tidak akan pernah bosan lagi dan tidak perlu merasa kesal lagi karena ucapan kasar Aeron. Itu akan menjadi perjalanan yang sangat menarik. Tapi, sebelum itu, aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini terlebih dulu.


“Hei, bagaimana jika-”


Tiba-tiba, terdengar bunyi retakan keras diikuti dengan benturan benda-benda jatuh. Di lorong yang menghubungkan gua, retakan kian memanjang dan menjatuhkan langit-langit beserta stalaktitnya. Retakan itu terus menyebar dengan sangat cepat seperti kanker tidak hanya langit, tapi juga di dinding. Aku tidak mengerti kenapa retakan itu sudah sampai separah ini. Aku bergegas bangkit dan menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari cara untuk mengatasi hal ini. Aku buru-buru memasukkan kompas ke dalam tasku lalu mengangkat tongkat sihir ke atas sebelum langit yang berguncang akan runtuh. Bayangan raksasa tiba-tiba menutupiku. Spelator, dengan tubuh besarnya membungkusku.


“Apa yang kau lakukan?”


“Aku melindungi … Niva, seperti yang dilakukan robot dalam kisahmu.”


“Jangan! Aku bisa menggunakan sihirku untuk melindungi kita.”


“Ti … tidak perlu, Niva. Gunakan saja sihirmu … untuk keluar dari reruntuhan setelah ini. Lagipula, sejak awal da … dayaku sudah mencapai batas. Percuma saja kau menyelamatkanku … karena aku pada akhirnya a … akan mati di luar sana. Di luar sana, tidak ada yang bisa … memperbaikiku dan … tidak boleh ada yang memanfaatkan mesinku. Itu juga keinginan tu … tuanku. Akan lebih baik jika aku berakhir … di sini, ber … beristirahat bersama tuanku. Itu juga bagian … dari mi … misiku. Se … lamat tinggal, Ni … Niva. A … aku senang … berte … mu dan ber … berte … man de … dengan … mu.”


Aku bisa merasakan bongkahan es yang sangat besar menghujani tubuh Spelantor yang melindungiku. Bunyi benturan logamnya dengan es terus memekakan telingaku seperti badai salju yang menerjang kaca jendela kamarku. Di dalam naungan tubuh Spelantor, aku hanya bisa duduk lemas sambil menunggu badai berhenti. Di sini gelap, aku tidak bisa melihat apapun. Mendadak, cahaya inti Spelator menyala di atas kepalaku. Tidak hanya melindungiku, ia juga memberiku sebuah penerangan sekaligus kehangatan dari suhu mesinnya yang kian terdengar lemah. Kini hanya ada aku, cahaya kuning, dan bunyi deru-deruan dari luar yang seolah ingin memaksa masuk dan menarikku keluar. Langit terus berguncang. Duniaku terus berguncang. Hingga aku memejamkan mataku dan semuanya kembali tenang.


“Sedikit … lagi. Ayolah! Tinggal sedikit lagi dan ….”


Energi biru terus melesat ke atas dari tongkat sihirku. Aku bisa melihat cahaya kecil menyelinap masuk dari bongkahan es padat. Berhasil! Aku tidak berhenti dan terus menembakkan sihirku hingga akhirnya udara luar masuk dari es yang telah hancur. Kesegaran dunia luar bisa kurasakan kembali. Masih sama segarnya seperti sebelumnya. Udara itu masuk ke dalam reruntuhan bersama dengan cahaya biru gelap dari malam. Sekuat tenaga aku menarik tubuhku dan mengambil tiap pijakan untuk mencapai lubang yang telah kubuat. Aku sudah tidak peduli lagi dengan bajuku yang kotor atau robek, udara dingin dan bongkahan-bongkahan tajam yang membuat kulitku lecet. Di depan sana aku bisa menggapai langit luar. Semakin dekat semakin silau mataku.


“Fuahhh …. Akhirnyaaa bisa bebas juga.” Aku meregangkan lenganku lebar-lebar dan menghirup nafas sedalam-dalamnya. Salju-salju kecil masih turun dari langit seperti biasanya. Hembusan angin dingin tertiup dari dahan-dahan pohon cemara. Di atas sana, bulan utuh keluar dari awan seolah menyambutku dengan senyumannya yang cerah. Aku bermandikan cahaya bulan dan salju.


Aku berpijak di atas sebuah reruntuhan es. Permukaan berada tinggi di atasku. Sementara aku berada lima meter di bawah permukaan yang sesungguhnya. Sebelumnya, tempat ini sama seperti permukaan lainnya, namun ambles dan menciptakan cekungan di tengah hutan. Aku menemukan turunan yang membawaku naik ke atas, ke permukaan yang sebenarnya.


Kubuka tangan kiriku, ada sebuah benda padat yang sedari tadi terus kugenggam. Benda ini adalah pecahan dari inti daya milik Spelator. Ia memberikannya padaku sebagai kenang-kenangan. Ia berkata padaku kalau aku boleh menjualnya karena benda itu bernilai sangat tinggi dan pasti akan membantu keuanganku. Tapi, tidak. Benda ini tidak akan kujual. Ini adalah peninggalan terakhir dan satu-satunya yang masih ada. Peninggalan lainnya sudah terkubur oleh reruntuhan gua bahkan mungkin sudah hancur. Biarkan peninggalan itu terkubur di bawah sana dan tanpa diketahui satu orang pun. Aku ingin reruntuhan ini menjadi reruntuhan biasa, tanpa ada sesuatu yang spesial di bawahnya. Sementara pecahan ini, akan kujaga dan kusimpan dengan baik-baik.


“Baiklah. Sekarang aku harus melanjutkan perjalananku lagi.”


“Padahal barusan saja kau mengalami hal sulit tapi kau tidak merasa lelah sedikitpun.” Kumasukkan pecahan inti daya ke dalam tasku, lalu mengeluarkan si kompas.


“Aku akan istirahat saat nanti sampai di kota,” ucapku penuh semangat.


“Omong-omong, cerita tadi … su-sungguh menarik. Aku menyukainya. Maksudku … kau tahu, kan, aku sudah lama terjebak di sini setelah ditinggalkan pemilikku. Tapi, setelah melihat … pertunjukan itu, aku tidak bisa berhenti berpikir. Jadi, bi-bisakah kau menceritakan kisah lainnya padaku?”


Tanpa kusadari, aku sudah tersenyum duluan. “Tentu saja. Akan kuceritakan selama perjalanan.”