Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Perjumpaan tak terduga



Sebuah monumen pahatan es berbentuk menara kecil di tengah persimpangan menjadi tanda bahwa aku berada di pusat kota sekarang. Jalanan utama dari gerbang memiliki persimpangan besar di tengah kota. Aku mengambil persimpangan kiri yang membawaku langsung keluar ke gerbang utara.


Setelah keluar dari gerbang, aku harus menuruni jalan setapak yang cukup panjang untuk sampai di garis pantai. Jalanan yang terus menurun ini memang dirawat dan dibersihkan setiap saatnya sehingga salju tidak menebal. Jadinya aku tidak harus susah-susah menyeret kakiku di salju tebal lagi. Salju disingkirkan dan menumpuk di pinggir jalan sehingga terlihat seperti bukit salju yang tinggi. Ada banyak lampu-lampu lilin yang menghias sepanjang jalan masih belum dimatikan. Entah aku yang kepagian atau orang yang bertugas mematikannya kelupaan.


Sekiranya sepuluh menit aku berjalan sendiri, akhirnya aku sampai di tujuan. Aku baru samapi, tapi pandanganku langsung terkunci pada sebuah menara dengan es-es runcing. Itu adalah menara mercusuar yang berdiri di dermaga pantai. Es-es yang sama seperti di kota menyelubungi menara itu seolah-olah dibekukan. Ujung esnya meruncing ke arah utara dan bagian-bagian kecil ada di sekeliling menara seolah mengurungnya agar tak dimasukin. Menara mercusuar itu sendiri terlihat sudah kosong. Tak ada cahaya yang beroperasi. Bahkan aku ragu kalau menara itu masih dipakai sedangkan ada es-es tajam menyelebungi seluruh badan menara.


Dermaga di pantai juga tak ada kegiatan yang ramai pada umumnya. Dermaga ini sudah tinggalkan para warga, tapi masih menyisakan beberapa kotak kayu dan perahu kecil yang diikat. Di sekitar dermaga juga ditemukan es-es yang menjulang ke atas. Beberapa es ada di pantai dan pinggir tebing dengan ukuran yang beragam, beberapa juga ada yang muncul ujungnya dari dasar laut dangkal.


“Bagaimana menurutmu?” tanyaku pada si kompas yang baru kukeluarin saat aku sudah menginjak pantai.


“Ini, sih, bukan alami lagi, juga bukan punggung naga. Tidak mungkin orang-orang membangun mercusuar di tengah bongkahan es lalu membiarkannya begitu saja. Sudah pasti es ini sengaja diciptakan,” tuturnya. Aku tak menyangka ia langsung sepaham dengan pikiranku.


Memang benar es-es ini terlalu sulit untuk dianggap sebagai ciptaan alam. Saat aku mendekat ke mercusuar dan menyentuh tekstur esnya, aku merasakan perasaan yang berbeda daripada saat aku menyentuh air laut yang menjadi es. Seperti saat membedakan lukisan asli dan lukisan palsu. Walaupun sama-sama lukisan tapi tetap ada yang membuatnya berbeda. Itulah yang coba aku cari tahu saat ini.


Kemudian mataku, hatiku dan pikiranku selaras menjadi satu dalam kesimpulan yang sama. Bahwa es di mercusuar ini terlihat seperti cipratan air yang langsung membeku menjadi es seperti yang kulihat sekarang. Itu berarti mercusuar ini awalnya adalah bangunan biasa sebelum ada cipratan air raksasa yang membuatnya berhenti beroperasi karena air tersebut membeku menjadi es yang mengurung mercusuar.


“Omong-omong, kau bisa membekukan sesuatu dengan sihirmu, kan? Bagaimana jika kau mencoba meniru es ini untuk membuktikan apakah es ini bisa diciptakan oleh manusia atau tidak?”


Aeron memberiku ide yang tidak buruk. Menambah duri es satu saja juga tidak akan berpengaruh besar bagi para penduduk.


Aku menghadap ke lautan yang tenang. Angin dingin mengibas pelan rambutku dan mengembus di telingaku seolah berbisik memberiku izin. Kusodorkan tongkatku ke depan, seperti menunjuk ke arah ujung dunia. Lalu, dengan sihir yang sudah bergumul tak sabaran di ujung tongkat sihir, kulepaskan ke arah lautan kosong. Setitik es terbentuk di permukaan air. Seiring aku mengeluarkan energi sihirku, semakin es itu melebar dan tumbuh selayaknya tanaman. Kubentuk duri es dengan ujung runcing yang terus semakin tinggi seolah tak memiliki batasan. Seperti memantik api, aku tiba-tiba berhenti menumbuhkan es karena menyadari sesuatu.


“Ada apa?” Aeron heran melihat tindakanku.


Aku merasakan sebuah hembusan angin tak di undang datang dari belakang dan menggerayangi punggungku, memaksa diriku untuk berbalik dan melihat. Ada satu kehadiran di belakangku. Bisa kurasakan tatapannya yang mengarah padaku meskipun aku tak melihatnya. Angin yang datang dari belakang berlawanan angin dari arah laut, saling dorong-mendorong, lalu hilang, menyisakan kami berdua. Tak ada angin untuk melindungiku dan tak ada angin untuk menyembunyikanku. Aku berbalik karena hanya itu yang bisa kulakukan.


“Sudah kuduga.” Aku menatap tajam ke arah gadis berambut merah yang berdiri di pantai. Sementara dia menatap lebih tajam ke arahku yang berdiri di ujung dermaga.


Langit kelabu seolah muram melihat tatapan kami berdua yang tampak saling membenci. Langit berharap tidak perlu ada kebencian satu sama lain, saling memaafkan, dan mendamaikan kedua hati, dengan begitu langit akan cerah. Sayangnya, itu tidak mungkin. Dan langit tidak akan menjadi cerah meskipun aku dan dia sudah berdamai.


“Sudah kuduga itu kau.” Gadis itu mengulangi ucapannya.


“Apa maksudmu?”


Aku membalas balik tatapan tajamnya karena aku merasa dia begitu membenciku sampai ingin membunuhku saat ini juga. Itulah aura yang kurasakan darinya saat ini.


“Aku sudah mencarimu, kriminal!”


“Jangan bercanda!” Ia membentak. “Pelanggaran yang kau perbuat sudah tak terhitung banyaknya tersebar di seluruh negeri. Ada ratusan laporan yang telah tercatat secara resmi akibat ulahmu dan ratusan lainnya yang belum tercatat karena beberapa kondisi. Asalkan kau tahu, kau tercatat sebagai penyihir terjahat yang pernah ada.”


Pikiranku benar-benar kosong saat ini. “Hei, sepertinya kau salah orang.” Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Seberapa keras aku berpikir, aku sama sekali tak mengingat telah melakukan tindak kejahatan. Aku baru pergi dari rumah lebih dari sebulan dan aku belum mengunjungi hampir dari setengah benua. Bagaimana bisa aku melakukan kejahatan yang tidak kuingat? Mungkin gadis itu masih salah paham. “Aku memang seorang penyihir, tapi aku bukan penjahat. Dan aku tidak akan melakukan satu kejahatan pun. Aku bisa menjamin itu.”


“Berbohong di depan kebenaran adalah sia-sia! Bukti itu nyata dan sudah tersebar dimana-mana, salah satunya adalah tempat ini.”


“Tapi, aku baru sampai ke sini tadi malam. Kau sendiri sudah bertemu denganku sebelumnya saat di kolam, kan?”


Wajah gadis itu tiba-tiba memerah. “Ti-tidak usah kau beritahu aku juga masih ingat!”


“Lalu?” Aku menunggu.


“Tetap saja. Pelanggaran adalah pelanggaran. Kau harus ditahan dan menjalani hukuman yang setara dengan semua kejahatan yang telah kau perbuat. Hukuman atas seluruh kejahatanmu akan disesuaikan dengan nilai hukum dan masyarakat.” Penyihir itu berjalan mendekatiku. “Apapun yang kau katakan bisa digunakan di pengadilan. Tapi, jangan harap keadilan akan mengampunimu, penyihir jahat!”


Ia mendekat dengan penuh amarah di tiap langkahnya, tapi tidak membuat langkahnya semakin cepat justru berat dan tajam. Jejaknya penuh tekad dan mata merahnya menatap sangat yakin. Dia tidak berbohong soal ucapannya dan aku tidak merasakan kebohongan darinya. Semua itu murni dari kata hatinya.


“Tunggu sebentar!” cegahku sebelum dia semakin dekat. “Kau berkata seolah kau mengenalku, sedangkan aku sendiri tidak mengenalmu sejak pertemuan pertama di kolam. Sebenarnya, siapa kau ini?”


“Aku seorang investigator. Investigator Khusus Sihir.” Gadis itu membuka jubahnya yang tebal dan menunjukkan sebuah lencana berlapis emas di dadanya. Lencana itu berbentuk lingkaran dengan sebuah bulu yang terbakar api di tengah lingkaran. Ada huruf-huruf di bagian bawahnya yang tidak bisa kulihat saking kecilnya. “Aku menangani segala macam kasus yang melibatkan penyihir kriminal sepertimu. Dari skala nasional maupun internasional.”


Ia cepat-cepat menutup kembali jubahnya entah karena merasa kedinginan atau karena aku terlalu lama menatap lencananya. Dari yang kulihat, lencana itu tampak resmi dan tidak terlihat seperti mainan. Jadi, kurasa dia memang seorang penegak hukum legal yang sedang melaksanakan tugasnya.


“Salah satu kejahatanmu di negeri ini adalah perusakan fasilitas kota dan membahayakan keselamatan para warga dengan menciptakan es di tengah kota tanpa adanya prosedur keamanan. Sebagai seorang yang berdiri di sisi hukum, aku tidak bisa membiarkanmu bebas begitu saja. Aku sampai rela pergi ke tempat dingin ini demi menangkapmu. Dan akhirnya, aku berhasil menemukan jejakmu. Apa kau ingat para bandit yang kau bekukan dalam es di hutan daerah barat? Kalau tidak salah, mereka menyebutmu sebagai Penyihir Es.”


Rupanya begitu. Dia mengira aku lah penyebab es-es di kota ini karena menemukan para bandit yang kubekukan. Memang sedikit masuk akal jika dikaitkan, tapi tetap, percaya pada bandit yang mencuri suratku adalah tindakan bodoh, apalagi bagi seorang penegak hukum sepertinya. Dan itu juga berarti dia hanya mendapatkan informasi tentang kejelekanku dari bandit dan tidak tentang reputasiku dari warga kota. Ditambah, aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku Penyihir Salju bukan es. Benar-benar merepotkan.


“Setelah menemukanmu disini, dan melihat tempat ini serta es yang barusan kau ciptakan, tidak salah lagi kau adalah kriminal yang sedang kucari.”


“Atas dasar apa kau mengaitkanku dengan es-es ini? Aku baru pertama kali ke sini dan terkagum dengan es-es ini. Aku bahkan tidak pernah melakukan kejahatan apapun sejauh yang kaukatakan. Entah bagaimana seorang penegak hukum bisa main tuduh seenaknya, itu tak masuk akal bagiku. Aku menolak untuk ditangkap. Aku bukan seorang penjahat.”


Bayangan topinya menutupi raut wajahnya. Tangan gadis itu mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Bisa kurasakan kemarahannya seperti aura panas yang membakar apapun di sekeliling api. “Itu yang semua penjahat katakan, bukan?”


“Kenapa kau keras kepala sekali—"


“Jika kau tak ingin menurut, aku akan membawamu dengan paksa!” tuturnya memotong keherananku. “Aku adalah keadilan! Aku sendiri yang akan memberikan hukuman padamu, kriminal!”