Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Reruntuhan Ratu Tiran



Disinilah aku. Kembali seorang diri, dengan segala kegelapan dan butiran salju yang menyelimutiku. Lentera yang penjaga tua itu berikan mulai padam, aku menelusuri tempat misterius yang dulunya pernah berdiri megah.


Memang atmosfir disini membuat leher belakangku bergidik ngeri. Bagaimana tidak, berjalan di tengah lorong hutan lebat tanpa ada cahaya setitikpun, membuatku selalu berpikiran hal-hal yang buruk saja.


Aku semakin waswas dengan sekitar, bahkan dengan suara gesekan ranting patah pun bisa membuatku melompat dan lari terbirit-birit. Aku mulai menyesali diriku sendiri. Seharusnya aku datang saat hari masih cerah-cerahnya saja.


Kugoyangkan tongkat sihirku, seketika terpicu sebuah api kecil di ujung tongkat. Dengan begitu aku bisa melihat lebih jelas sekelilingku. Sambil menerangi peta yang kubawa, aku mengikuti sepanjang jalur yang sudah samar dengan alam ini. Hanya saja tidak sesulit dengan jalur hutan dekat rumahku.


Aku menerka-nerka apa yang ada dibalik pepohonan atau yang mengintai dalam bayang-bayang bulan. Makhluk buas atau sekelompok bandit bisa saja muncul tiba-tiba di depan mataku. Mungkin saja hantu salju menampakkan dirinya dan terbang menembus tubuhku, seperti ibu.


Jika benar ada hantu salju disini, maka hariku akan menjadi lebih buruk lagi. Hantu salju dan ibu memiliki ciri yang sama, yaitu tak bisa kusentuh tapi mereka tetap bisa membuatku menderita. Maka dari itu bisa kukategorikan mereka sebagai makhluk yang tak boleh dan tak akan pernah kuganggu. Aku lebih memilih mati daripada berhadapan dengan sesuatu yang tak bisa kusentuh. Seolah-olah sudah menjadi trauma dalam diriku.


Aku terlalu memikirkan ketakutanku terhadap hantu salju, hingga aku mendapati sebuah cahaya lain yang bergoyang-goyang dalam kegelapan. Cahaya itu berbeda dengan cahaya api dari tongkatku. Berwarna biru dan bergerak-gerak seolah-olah hidup. Sebelumnya, aku belum pernah melihat api biru, mungkin saja aku salah lihat karena kondisi lingkungan yang sukar. Tak lama kemudian, cahaya itu melesat lebih jauh ke dalam hutan.


“Siapa disana!?” teriakku spontan saat cahaya itu bergerak.


Meski gemetaran, kuarahkan tongkatku ke kegelapan di ujung sana. Kupaksa kedua kakiku yang terpaku dalam salju untuk bergerak.


“Semoga bukan hantu salju. Semoga bukan hantu salju. Semoga bukan hantu salju,” kuucapkan terus menerus, seperti sebuah doa pengusiran.


Ketika aku semakin mendekatinya, cahaya itu menambah jarak di antaraku dan terus seperti itu. Lalu, cahaya itu berhenti. Ternyata itu bukan cahaya api, itu seorang manusia transparan yang bercahaya berwarna biru. Jantungku serasa ingin meledak saat wujud itu semakin jelas. Aku ingin segera mencubit pipiku dan bangun dari mimpi buruk ini.


Semakin kupaksa kakiku untuk melarikan diri, semakin tak bisa kubergerak. “Siapapun, tolong aku!” aku melolong, padahal sudah jelas tidak ada siapapun disini selain diriku dan hantu salju itu.


“Kenapa aku disini?”


Aku mendengar suara seseorang. Tak salah lagi, aku benar-benar mendengar suara seseorang. Suara itu berasal dari depanku. Apa hantu salju itu yang berbicara?


“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa disini?” Hantu itu berdiri di depan sebuah puing pilar. Ia menatap lama pilar itu dan bergumam, “Bagaimana ini bisa terjadi? Apa aku sudah gila?”


Apa yang terjadi padanya? Apa dia sebenarnya meminta tolong padaku? Kutarik nafas-nafas dalam-dalam, lalu kuberanikan diri untuk bertanya, “Permisi, apa ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?”


Ia tak menjawabnya.


“Halo, tuan, bapak, apa kau baik-baik saja?” tanyaku lagi. Mungkin aku tampak bodoh karena berbicara pada hantu salju. Tapi, aku penasaran lebih dari takut.


Tiba-tiba, ia menghilang dalam sekejap. Bersamaan dengan cahaya tongkatku yang padam. Angin yang lewat membuatku merinding dan kaku. Saat, mataku melilingi hutan, tepat di belakangku muncul cahaya kecil berwarna biru yang sama. Lalu, semakin besar dan mendekatiku. Cahaya itu … tidak, itu hantu salju yang sama, ia menembus tubuhku dan berhenti di depan puing pilar lagi.


“Apa barusan aku menembus tubuhnya?” lirihku tak percaya. Tangan yang kutengadahkan, bergetar tak karuan.


Aku masih mengingat jelas wajah hantu itu dalam sekejap sebelum menembusku. Ia seorang pria dewasa dengan wajah kaku dan tatapan kosong. Berjalan kikuk seperti baru pertama mencoba berjalan. Tapi, ucapannya penuh kegelisahan.


“Kenapa aku disini?” ia mulai berbicara lagi.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Apa aku sudah gila?”


Sekarang aku baru teringat, hantu itu, atau pria itu sebenarnya adalah ilusi saja. Ilusi dari masa lalu yang terjebak dalam suatu siklus sihir. Siklus itu merekam apa yang terjadi di masa lalu, kemudian memutarnya kembali menjadi sebuah ilusi yang terus berulang. Tak ada akhir dan tak ada awal. Fenomena ini akan terus terjadi hingga waktu pun akhirnya berhenti.


Kuabaikan saja pria itu, lagipula aku juga tak bisa melakukan apapun padanya. Seakan-akan kami berada di dunia yang berbeda. Dia tidak menyadariku, aku menyadari dia tapi tak bisa melakukan kontak dengannya. Mungkin dia akan terjebak dalam perputaran itu terus menerus hingga hari akhir. Ilusi kian bertambah banyak, seiring aku melangkah maju menuju pusat dari Elifhiar.


Kerajaan ini menjadi satu-satunya kerajaan manusia pada Era Kegelapan Kedua yang dipimpin oleh seorang ratu, namanya Selenia. Sayangnya dia adalah seorang wanita, karenanya para warga meremehkannya dan tak ingin mematuhinya. Selenia pun meminta bantuan Sang Penyihir Agung untuk mengatasi masalah tersebut. Sang Penyihir Agung memberikannya sebuah permata sihir seperti milik ibu, yang mampu mengendalikan pikiran orang. Ratu Selenia menggunakan kekuatan permata itu untuk mengontrol rakyatnya agar terus mematuhinya.


Seperti pria tadi, dia secara tak sadar berjalan ke sebuah tempat, karena pikirannya saat itu sedang dikendalikan. Saat ia terlepas dari kekuatan Ratu Selenia, ia bingung dengan apa yang terjadi dan justru menganggap dirinya sudah gila.


Negeri ini hidup diatas kendali sang ratu. Tak ada noda buruk sekecil apapun, jika pun ada ratu akan segera menghapusnya. Semua kehidupan disini diatur olehnya. Bangun, makan, bekerja, berdagang, bermain bahkan tak melakukan apapun juga perintahnya. Mimpi dan keceriaan adalah sebatas kepalsuan yang ratu utak-atik seperti sebuah permainan papan. Mereka tak boleh keluar kota, juga tak boleh berhubungan erat dengan orang luar. Benar-benar seperti dalam sebuah penjara. Tapi karenanya, tak ada kecacatan, tak ada perilaku yang menyimpang di setiap gerakan para warga. Sangat sempurna, hingga negeri ini menjadi salah satu yang terkenal pada masanya.


Namun, dibalik kesempurnaan itu, tetap ada yang merasa tak setuju dengan sang ratu. Raja dari Kerajaan Tiranria saat itu menyadari keanehan ini. Ketika kenyataan menghantamnya seperti sebuah longsor, ia geram. Ia marah akan perbuatan sang ratu yang tak meletakkan kebebasan pada kehidupan rakyatnya. Cinta yang ratu berikan itu juga sama palsunya dengan kehidupan yang ia berikan. Sebagai seorang raja, ia beranggapan bahwa negeri tanpa sebuah kebebasan dan hanya kekangan adalah suatu kesalahan. Penyerangan pun terjadi, dan akhirnya ratu tewas. Kekang sang ratu pun terlepas dan warga bebas melakukan apapun yang mereka inginkan.


Kenyataan berikutnya justru akan membuat negeri ini menjadi hancur. Setelah kematian sang ratu, tak ada satupun orang yang mampu dan mau mengambil posisinya yang kosong. Tiranria dan kerajaan lain juga tak tertarik dengan negeri kecil yang hanya ada es dan salju saja. Setelah mengalahkan sang ratu, Raja Tiranria membiarkannya begitu saja. Ia tak bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi setelah penyerangan. Alhasil, Elifhiar menjadi seperti yang sekarang kulihat. Sebuah reruntuhan masa lalu.


Bangunan-bangunan yang dulunya milik para warga telah menjadi satu dengan ibu alam. Beberapa bangunan tak berbentuk, membuatku sulit untuk menebak bentuk sebelumnya. Terlihat juga tembok yang sudah runtuh dan puing-puing yang berserakan di mana-mana. Para hewan liar seperti rusa dan kelinci memanfaatkan reruntuhan ini untuk menjadi tempat bernaung mereka dari badai salju.


“Pencuri!” teriak salah seorang warga-yang menjadi ilusi. Pria itu menunjuk ke seorang anak kecil yang mendekap sekantung roti. Ia berlari sangat cepat ke arahku.


Sesaat setelah menembus tubuhku, anak kecil itu berbalik dan berjalan kaku. Tatapannya kosong sama seperti pria sebelumnya. Dengan senyuman anehnya, anak itu menyerahkan kembali roti yang ia berikan ke pria yang tampaknya seorang penjual roti. Dan terjadi lagi, anak itu mengambil sekantung roti dan berlari lagi untuk berbalik kemudian, lalu menyerahkan kembali rotinya.


Di sebuah jalan yang sekarang sudah tertutup salju dan pohon lebat, kulihat ada dua orang yang saling bertengkar. Saat aku mendekatinya, mereka seketika saling berbalik dan berjalan ke arah yang berbeda. Mengabaikan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tak lama, mereka kembali dan kejadian terus berulang.


Sementara di sebuah gang-gang kota yang tersudut dan temaram, aku tampak sepasang remaja yang membicarakan sesuatu. Mereka bercahaya seperti lampu dan langsung menarik perhatianku saat melewatinya.


“Hei, kau tahu rumor tentang ratu yang beredar? Katanya ratu menjalin kontrak dengan iblis agar dirinya mendapatkan kekuatan.”


“Iblis? Dasar ratu yang gila! Sudah baik kita masih ingin tinggal disini. Tapi wanita itu malah ingin menarik kita ke masalahnya sendiri. Ia berniat untuk menghancurkan kehidupan kita.”


“Memang gila. Katanya iblis itu juga yang membuat ratu senantiasa tampak cantik tanpa kerutan di wajahnya, padahal ratu lebih tua dari kakekku.”


“Bagaimana jika kita pergi saja dari sini? Tempat ini sudah tidak bisa menjamin kehidupan kita. Ratu dengan iblisnya bisa saja menumbalkan kita untuk kecantikan semata.”


“Kau benar ….” Tiba-tiba orang itu terdiam dan bola matanya melebar, seolah terkejut tapi yang sebenarnya tak ada yang ia tatap. “Maaf, aku pergi dulu.” Kedua orang itu seketika saja pergi setelah dengan asyiknya menggosipkan ratu mereka sendiri. Seperti yang lainnya, mereka pun mengulanginya lagi.


Semua warga tampaknya tak menyukai ratu mereka. Mereka mengatakan semua hal yang buruk tentang ratu lalu menyebarkannya dengan cepat, entah itu benar atau palsu. Lebih parahnya lagi, mereka senang mengatai-ngatainya. Ucapan seperti ‘wanita iblis’, ‘kecantikan palsu’, atau ‘seorang wanita tidak cocok menjadi pemimpin’ keluar dari mulut mereka yang penuh kebanggaan. Seolah mereka akan mendapatkan penghargaan atas ucapan paling mengerikan yang telah mereka lontarkan.


Kata-kata itu sudah sangat jelas bukan karena kendali sang ratu. Memangnya apa alasan ratu mengendalikan rakyatnya hanya untuk menjelek-jelekkan namanya sendiri? Mereka benar-benar tulus mengatakannya. Tak ada kebohongan di setiap nada dan tatapan mereka. Mungkin hal itu satu-satunya yang asli di negara penuh kepalsuan ini.