Snow Witch'S Journey

Snow Witch'S Journey
Obsesi



Aku buru-buru berdiri di posisi di mana gadis itu akan jatuh. Memusatkan kembali sihirku di kedua kakiku untuk menambah tenaga lompatanku. Dalam sekali lompatan, angin bertiup kencang menyapu pasir pantai dan salju di sekitar. Aku terus melaju ke atas melawan gravitasi sementara gadis itu terus turun ke bawah mengikuti gravitasi. Saat dekat, aku langsung menangkapnya. Menggendongnya di depan bak putri, sementara sang putri yang ketakutan melingkarkan lengannya di leherku sangat kuat sampai membuatku merasa tercekik. Jubahku menggembung tertiup angin hingga tampak seperti balon, memperlambat jatuhku dengan sihir. Topiku pun juga begitu—tak bisa lepas karena kupasang sihir perekat.


Kami berdua melayang turun di langit sangat pelan hingga sempat merasakan tiupan angin di atas langit. Dari atas, bisa kulihat atap-atap kota yang lengkap dengan duri-duri esnya. Di samping kananku ada lautan yang luas dan semakin terlihat luas jika dilihat dari atas. Sejujurnya ini pertama kalinya aku setinggi ini berada di udara. Karena aku tak bisa memakai sapu sihir, aku jadi takut untuk mencoba di ketinggian dengan cara apapun. Tapi, pemandangan atas langit yang sedang kurasakan ini benar-benar tampak luar biasa. Aku merasa bisa melihat hampir separuh dunia di mataku.


Aku sekarang berada di perbatasan antara bumi dan surga di atas langit. Angin lembut menyambutku dengan membelai pipiku dan meniup rambutku. Asap-asap tipis awan kulewati dan bisa kurasakan kesegarannya yang murni. Sementara bumi tampak begitu sangat jauh di bawah kakiku seolah-olah kebalikan dari langit itu sendiri. Dalam hatiku, aku terus berucap, “Aku masih ingin melihat pemandangan ini.”


“A-apa yang terjadi?” Suara yang mungil dan lemah terdengar dari seorang gadis yang ketakutan di tanganku.


Meskipun gadis itu memakai pakaian tebal, tapi sebenarnya dia sangat ringan. Entah karena kami berada di langit atau tubuh gadis itu memang sangat ringan. Ia memejamkan matanya sambil meringkuk dalam gendonganku. Aroma mawarnya tercium sangat kuat berkat tiupan angin. Bisa kulihat bagian samping rambut merahnya dikepang dan diikat kebelakang bersama rambut tengahnya oleh pita merah gelap berbentuk seperti kupu-kupu. Jubahnya terbuka, memperlihatkan baju lengan panjang putih dan rok hitam selutut dengan celana stoking gelap. Aku juga menemukan pedang tergantung di pinggangnya dan sebuah tas selempang. Lencananya kini semakin terlihat jelas. Tulisan yang tertulis di bawahnya adalah, “Vestia”. Kurasa itu namanya.


Melihat gadis itu meringkuk ketakutan seperti anak kucing membuat hatiku melunak karena rasa iba. Padahal sebelumnya, sikap dia sangat menjengkelkan lengkap dengan otaknya yang sekokoh batu dan dia sendiri yang tiba-tiba melabrakku, tapi entah mengapa, aku justru merasa kasihan padanya sekarang.


“Kau ini tak bisa memakai sapu sihir ….” Aku melembutkan suaraku seperti angin yang bertiup agar dia merasa tenang. “… atau sebenarnya kau takut dengan ketinggian?” Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya di leherku. Kurasa yang terakhir adalah jawabannya.


Tak terasa, tinggal beberapa meter lagi kami akan kembali ke bumi. Aku menggoyangkan tubuhnya untuk memberitahunya agar tidak perlu takut lagi.


Gadis bernama Vestia itu perlahan-lahan menggerakkan kepalanya. Sekuat tenaga dia memberanikan diri membuka matanya. Begitu matanya terbuka, ia langsung terdiam. “Kau baik-baik saja?” tanyaku sambil tersenyum lembut, mencoba terlihat ramah sekaligus sebagai permintaan maaf karena terlalu berlebihan.


Vestia membeku saat menatapku lekat-lekat. Mata bulatnya yang berwarna merah seperti kobaran api kecil terperangkap dalam lapisan kaca lentera. Bisa kurasakan lengannya menjadi lebih rileks dan tubuhnya tak lagi gemetaran. Wajah pucatnya menjadi memerah seperti dia sedang dipanaskan. Wajahnya yang galak itu kini terlihat polos seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat salju turun. Bahkan sampai kakiku sudah kembali menyentuh tanah, dia tetap tak berkedip sekalipun.


“Maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan.” Kuucapkan duluan sebelum dia kembali sadar.


Gadis itu tiba-tiba tersentak seperti baru kembali dari tidurnya. Kini, tak hanya pipinya yang merah, tapi seluruh wajahnya dan telinganya seperti mendidih. “A-apa yang kau lakukan!?” Ia kembali panik. Tangan, badan dan kakinya berontak ke segala arah seperti ikan dalam jaring yang berusaha untuk melepaskan diri. Aku segera melepasnya, Vestia langsung jatuh di pasir dengan punggung duluan.


“Dasar penjahat! Kau sengaja melakukannya, kan?”


Kupikir semuanya akan kembali tenang, nyatanya tidak.


“Tenang dulu. Kau harus berpikir tenang, kalau tidak, aku bisa melemparmu lagi ke atas dan tidak menangkapmu lagi,” ancamku.


Bahu gadis itu langsung roboh—pasrah dan menyerah.


Aku mengambil sebuah topi runcing yang terjatuh di pasir pantai dekat dermaga. Kutepuk topi itu dari debunya dan kutiup. Setelah itu, aku langsung meletakkan topi itu pada kepala seorang gadis yang tertunduk malu. “Dengar, ya. Jika aku penjahat, aku sudah pasti membiarkanmu mati jatuh dari ketinggian atau membunuhmu langsung sejak awal kita bertemu. Aku bukan penjahat yang kau cari. Aku memang membekukan para bandit tapi itu karena mereka mencuri surat identitasku. Jadi, itu adalah pembelaan diriku, bukan niat untuk mencelakai orang. Yang kedua, aku tidak ada hubungannya sama pencipta es-es di kota ini. Jika kau masih ngeyel, aku bisa menunjukkan isi tasku padamu, catatan harianku, atau kau bisa bertanya langsung pada Ibuku.”


Aku bisa merasakan ia seperti sulit untuk menerima pernyataanku. Ia berkata sudah mencari seorang kriminal sampai sejauh ini dan malahan salah mengira aku ini seorang kriminal. Pastinya gadis itu merasa capek dan kecewa karena semua perjuangan dan pencariannya sia-sia. Jika logikanya masih normal, memang ia harus menerima fakta ini sungguh-sungguh dan terus berusaha mencari cara lain.


“Kau bilang kau seorang investigator, tapi bagaimana bisa kau salah dan menganggapku seorang kriminal? Apa selama ini kau mencari seorang penjahat yang kau sendiri tidak tahu seperti apa rupanya?”


“Bagaimana caramu menentukan kejahatan mana yang penjahat itu lakukan jika semua kejahatannya terasa berbeda? Aneh sekali sampai kau bisa menyimpulkan bahwa es-es ini adalah perbuatan jahat dari orang yang kau maksud.”


“Sejujurnya, aku tidak tahu apakah es-es ini adalah perbuatannya atau tidak.”


Jawabannya membuatku semakin terheran-heran.


“Karena tidak adanya bukti yang cukup kuat, aku hanya menyelidiki fenomena-fenomena aneh yang berkaitan dengan sihir di kota ini yang kupercayai berkaitan dengan penjahat tersebut.” Vestia mendongak ke arah pucuk es di dalam dinding kota. “Jika aku menyelidikinya dan tetap tidak menemukan jawaban mengenai si penjahat, aku tidak masalah. Setidaknya aku berhasil menyelesaikan satu masalah lainnya.”


Dengan kata lain, ia yang mengaku sebagai investigator telah menyelidiki seorang penjahat hanya bisa menebak-nebak saja dan berjalan tak terarah. Aku jadi semakin ragu apakah dia investigor asli atau gadungan.


“Apapun itu ….” Aku mengembalikan percakapan ke inti permasalahanku. “Sekarang, kau tidak memiliki bukti untuk menuduhku, kan? Kalau begitu, masalah ini sudah selesai. Aku hanya ingin mengembara dengan tenang tanpa terlibat urusan hukum atau apapun itu.”


Vestia mendecak kesal, tangannya mengepal erat seolah menahan semua amarahnya agar tak keluar. “Sialan! Padahal tinggal sedikit lagi!” geramnya.


Apanya yang tinggal sedikit lagi, bodoh?


Gadis itu harus berhenti sekarang juga. Pikirannya dan cara bertindaknya yang sembrono menurutku tidak cocok sebagai orang yang bekerja atas nama keamanan dan kedamaian. Jika dia terus melakukan ini, atau sifatnya terus seperti ini sampai salah menghukum orang yang tak ada kaitannya, yang jadi penjahatnya justru bukan orang lain, tapi dia sendiri adalah penjahatnya.


“Kau sangat terobsesinya dengan penjahat itu, ya?” Aku menyimpulkan hal tersebut melihat dari tindakan langsung serangnya tanpa pikir panjang dan ucapannya yang mengarah ke kebencian daripada demi kedamaian.


Sambil menatap ke kakinya sendiri, ia menjawab. “Tentu saja. Keadilan di dunia sudah tidak mampu menopang kehidupan lagi. Aparat sudah lepas tangan dan hukum menolak kejujuran tapi menerima untungnya saja. Ketika hukum sudah kacau, maka rakyatlah yang turun tangan. Aku tak bisa menolerir perbuatan apapun yang melanggar hukum, apapun alasan yang mendasarinya. Karena itu aku akan terus mengejar penjahat itu, sejauh manapun dan selama apapun waktu yang kubutuhkan. Semua ini demi hukum yang adil.”


Itu jawaban yang cukup serius dan berani. Maksudku, dia sendiri berkata kalau dia juga bergerak atas nama hukum, tapi dia juga mengkritik hukum itu sendiri.


Tanpa melihat ke arahku, Vestia berbalik lalu berjalan menjauhiku. “Baiklah, aku akan melepaskanmu, tapi hanya untuk saat ini saja. Setelah aku selesai dengan urusanku, aku akan kembali untuk menyelidikimu, Penyihir Es!” tuturnya seolah-olah kami akan bertemu lagi.


Akhirnya, ada udara yang bisa membuatku bernafas lega. Aku melihat gadis itu sekarang sedang menaiki jalanan menanjak ke arah kota. “Mau ke mana?” tanyaku dengan berteriak.


“Sudah kubilang aku akan menyelidiki kota ini!” balasnya ikut berteriak sambil meneruskan jalan tanpa menoleh sedikitpun. “Dan satu hal lagi ….” Dia berhenti. “Pertarungan tadi, aku ingin kau melupakannya.” Dia lanjut berjalan kembali.


Setidaknya semua dapat dijelaskan baik-baik tanpa ada yang terluka dan masalah akhirnya selesai. Kuharap ini benar-benar selesai. Tidak hanya aku saja sebagai orang yang terlibat yang merasa lega, tapi yang tidak terlibat seperti Aeron juga.


“Ralat, sepertinya kau tidak akan bisa berteman dengannya,” celetuk Aeron dari dalam tas selempangku.